Bab 62 - Uluran Tangan
“Kak… ini komponen yang kalian butuhkan.” Suara Georu tidak terdengar di udara, melainkan langsung bergema di kepala Mynhemeni. Ia muncul begitu saja di ruang kerja pribadi milik orang tua Saljiva, seolah dilahirkan dari cahaya biru kehijauan yang memenuhi ruangan itu.
Dinding berkilau lembut seperti bagian dalam cangkang mutiara, memantulkan sinar yang bergerak pelan, menyerupai arus laut yang tak pernah benar-benar diam. Georu tetap berbicara melalui Svalin, menjaga agar suaranya tak sampai ke telinga Cakra.
Remaja itu, yang semula duduk di atas kapsul transparan yang kini telah berubah bentuk menjadi kursi goyang, langsung tersentak. Matanya melebar. Napasnya terhenti sesaat ketika sosok yang paling ia kenali dalam ingatan buruknya muncul begitu saja di ruangan supercanggih itu. Sosok yang beberapa jam lalu menyiksanya, saat ia pertama kali sadar setelah dihantam ombak Parangtritis.
Tanpa berpikir panjang, Cakra melompat turun dan berdiri tepat di depan Mynhemeni dan Saljiva. Tubuhnya bergerak lebih cepat dari pikirannya, membentuk posisi menghadang secara naluriah. Kedua tangannya mengepal, bahunya menegang, seluruh sikapnya menyiratkan kesiapan untuk melindungi mereka dari Georu yang terus melangkah mendekat.
Ia bahkan tidak menyadari bahwa kursi yang semula menopang tubuhnya telah lenyap seketika, seolah keberadaannya tak lagi dianggap penting dibanding ancaman di hadapan mereka.
“Tenang,” ucap Mynhemeni cepat, suaranya tegas namun menenangkan.
“Dia adikku.”
Cakra membeku.
Sebaliknya, Georu justru berhenti melangkah. Alis peraknya terangkat, matanya meneliti Cakra dengan rasa ingin tahu yang terang-terangan. Ada kekaguman di sana. Bukan kagum yang berlebihan, melainkan sesuatu yang tulus, seperti seorang prajurit melihat keberanian mentah yang belum diasah.
Dengan santai, Georu mengacungkan jempol kirinya ke arah Cakra. Tangan kanannya menyerahkan komponen yang dibawanya. Benda itu melayang sendiri, berkilau singkat, lalu melesat masuk ke salah satu tabung transparan yang mengambang di sisi kiri Saljiva. Gerakan jari kiri Georu sedikit berputar, seolah memberi isyarat bahwa aksi Cakra barusan cukup heroik. Wajahnya ikut berbicara. Alis peraknya yang tebal bergerak naik turun, diakhiri senyum puas yang nyaris jahil.
“Adikmu?” tanya Cakra pelan, nyaris tak percaya.
Ketegangan di wajahnya mulai runtuh. Tatapan bertahan itu bergeser menjadi bingung. Lalu, tanpa alasan yang benar-benar ia pahami, Cakra turut tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Ia sendiri tak tahu kenapa. Mungkin, pikirnya, ini memang cara bangsa Porkah saling menyapa.
“Maaf,” ucap Georu, kali ini dengan suara yang terdengar jelas.
“Aku harus membuatmu pingsan waktu itu.” Ia melangkah lebih dekat dan merentangkan tangan ke arah Cakra.
“Aku Georu. Salam kenal.”
Di saat yang sama, Mynhemeni dan Saljiva sudah kembali tenggelam dalam pekerjaan mereka, bertukar data dan cahaya holografis, meninggalkan Cakra sendirian dengan kebingungannya.
Cakra melirik tangan yang terulur itu, lalu menatap wajah Georu. Wajah yang cantik dengan cara yang asing baginya. Wajah orang yang pertama kali menyakitinya, tepat setelah ia terbangun dari bencana ombak yang menyeretnya dari dunia manusia ke negeri bawah laut ini.
“Aku kira tadi kamu mengacungkan jempol karena mau ngajak kenalan,” ucap Cakra ragu, membiarkan tangan Georu tetap melayang di udara.
“Bukannya itu cara kalian memberi tahu seseorang kalau dia kelihatan keren?” balas Georu ringan.
Tangannya sedikit diayun, sabar, menunggu.
“Oh.” Cakra terkekeh kecil, canggung.
“Aku Cakra.” Ia akhirnya menerima uluran itu. Jemarinya bertaut dengan tangan Georu yang hangat dan nyata, seolah menegaskan bahwa ia masih ada di dunia ini. Untuk sesaat, ingatan tentang rasa sakit dan ketakutan mereda. Bahkan sengatan listrik yang beberapa jam lalu dilepaskan sosok di hadapannya terasa menjauh, seperti gema yang perlahan ditelan keheningan.
Cakra masih menggenggam tangan Georu beberapa detik lebih lama dari yang ia sadari. Pandangannya menelusuri setiap guratan di wajah pria itu, dari garis rahang yang tegas hingga mata yang berkilau pucat seperti cahaya yang menembus air laut dalam. Baru saat itulah ia benar-benar menyadari kemiripan yang tak mungkin kebetulan. Georu dan Mynhemeni serupa bayangan yang dipisahkan waktu. Wajah mereka bagai pinang dibelah dua.
Perbedaannya baru terlihat ketika Cakra mengamatinya lebih saksama. Di bagian tengah kerongkongan Georu, jakun itu menonjol jelas, memberi kesan maskulin yang kasar dan tak disamarkan. Lengan dan bahunya lebar, pahatan ototnya tegas meski terbungkus sanvar yang melekat rapat seperti kulit kedua. Rambut peraknya dibiarkan panjang dan tergerai, bergerak perlahan mengikuti arus halus yang nyaris tak terasa. Seluruh kombinasi itu membentuk sosok yang sulit didefinisikan. Georu tampak cantik dengan cara yang tak lazim, keras dan lembut berpadu dalam satu tarikan napas.
“Kalian mirip banget,” kata Cakra spontan.
“Kembar, ya?” Ia melepaskan genggaman setelah Georu memberi isyarat ringan, nyaris tak kentara.
“Bukan... Usia kami terpaut jauh,” jawab Georu cepat. Ia melirik Mynhemeni sekilas, senyumnya melebar nakal.
“Tapi banyak yang salah kira. Yang jelas, dia bakal menua lebih cepat daripada aku.” Mynhemeni mendengus, tapi tak membalas. Georu sudah lebih dulu menjatuhkan tubuhnya ke belakang. Ia membiarkan dirinya jatuh bebas, dan tepat sebelum menyentuh lantai, sebuah kursi melayang muncul dari cahaya tipis. Tubuhnya mendarat empuk di atasnya. Cakra refleks menoleh ke belakang. Kursi yang tadi ia duduki sudah tak ada. Ia ragu sepersekian detik, lalu meniru Georu. Tubuhnya jatuh, dan kursi lain muncul tepat waktu, menahan punggungnya. Sensasinya aneh, seperti duduk di atas udara yang memutuskan untuk menjadi padat.
Kini mereka berdua duduk melayang, berhadapan, dengan jarak aman yang terasa semakin manusiawi.
“Jadi, kamu setuju bekerja sama dengan kami?” tanya Georu sambil menyilangkan kaki. Cakra mengangguk tanpa ragu.
“Kenapa?” Georu tidak menekan, tapi jelas ingin tahu lebih dalam. Cakra menatap tangannya sendiri. Membuka, lalu mengepal. Ototnya bergerak mulus, terlalu sempurna untuk tubuh yang ia kenal sejak kecil.
“Aku mau tahu kenapa aku bisa bernapas di dalam laut. Kenapa lukaku sembuh sendiri. Kenapa aku bisa sekuat ini,” katanya pelan. Ia mengangkat pandangan, matanya serius.
“Aku belum pernah seperti ini sebelumnya.” Lalu, seolah teringat sesuatu yang jauh lebih penting, ekspresinya berubah. Ia tersenyum kecil dan mengangkat betis kaki kanannya.
“Dan aku juga mau tahu,” lanjutnya, sedikit lebih cerah, “kenapa bekas lukaku hilang.”
Ia menunjuk kulit yang mulus tanpa cela.
“Harusnya, di sini ada bekas luka yang keren banget.”
Georu mengikuti arah pandang itu. Ia menunduk, memeriksa betis Cakra dengan saksama. Tidak ada goresan. Tidak ada bekas jahitan. Tidak ada tanda apa pun yang membuktikan bahwa kulit itu pernah sobek. Saat ia kembali menatap Cakra, sorot matanya berubah.
Sedikit redup. Sedikit sedih.
“Sayang sekali, pasti itu luka yang bersejarah buatmu,” ucapnya tulus. Cakra terdiam sejenak. Lalu ia tersenyum, senyum kecil yang hangat dan nyaris rapuh.
“Iya,” katanya pelan. Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di negeri Porkah, ada seseorang yang memahami kehilangan itu. Bukan kehilangan kebebasan, bukan kehilangan rumah, tapi kehilangan sesuatu yang ia banggakan sejak kecil. Dan entah kenapa, pengakuan sederhana itu membuat dadanya terasa lebih ringan.
Keheningan sempat menyelimuti mereka, tipis namun canggung. Cakra menatap lurus ke depan, lalu menarik napas pendek, seolah menimbang keberaniannya sendiri.
“Tapi… kenapa waktu itu kamu menyiksaku?” tanyanya akhirnya. Suaranya tenang, tapi ada sisa nyeri yang belum sepenuhnya sembuh. Ingatan tentang tangan-tangan besi yang menahannya, tekanan yang memaksa tubuhnya menyerah, kembali menyeruak.
Georu tidak langsung menjawab. Bahunya sedikit menegang sebelum ia menghela napas.
“Kami terpaksa,” katanya pelan.
“Aku belum pernah bertemu manusia darat sepertimu. Dalam sejarah kami, itu… mustahil. Kami harus waspada terhadap segala kemungkinan ancaman.” Cakra mendengus kecil, bukan marah, lebih seperti lelah.
“Iya, iya. Ancaman lagi,” ujarnya.
“Aku paham.” Ia lalu menoleh, menatap Georu lurus-lurus. Kali ini tanpa kebencian.
“Makanya aku mau bekerja sama. Aku ingin kalian tahu, bahwa aku bukan ancaman.” Tatapannya hangat, terbuka, nyaris polos. Ketulusan itu terasa nyata, bahkan di antara kilau cahaya laut yang memantul di dinding ruang transport mereka. Georu bisa merasakannya, seperti arus lembut yang tak memaksa tapi sulit diabaikan.
“Aku juga ingin tinggal di sini. Kalau… kalian mengizinkan,” lanjut Cakra. Georu terdiam sejenak sebelum menjawab.
“Kamu bisa tinggal,” katanya hati-hati.
“Tapi ada konsekuensinya.” Ia melirik Cakra sekilas.
“Kamu tidak akan bisa kembali ke duniamu,” kata Georu.
“Apa yang akan kamu katakan pada orang-orang di sana? Pada keluargamu? Mereka tak akan pernah bisa mengunjungi tempat tinggalmu yang baru.” Nadanya bukan ancaman, melainkan ujian. Di dalam hati, Georu berharap Cakra memilih tinggal. Jika anak itu menetap di Porkah, banyak persoalan akan terselesaikan. Mereka tak perlu berhadapan langsung dengan Rumsun, tak perlu pula menarik perhatian yang lebih berbahaya.
Diam-diam, harapan lain ikut tumbuh. Meski tak pernah terucap, Georu berharap Cakra bersedia mengikuti rencana Rumsun untuk diteliti. Jauh di lubuk hatinya, ia mengakui satu hal yang sulit diterima. Penelitian itu mungkin diperlukan demi keberlangsungan hidup dan teknologi bangsa Porkah yang nyaris tak bergerak maju.
Cakra menggaruk tengkuknya, tersenyum kecil.
“Nah… itu dia masalahnya. Aku nggak bisa,” katanya jujur. Ia mengangkat bahu.
“Jadi aku putuskan, kalau aku dinyatakan aman dan bukan ancaman, aku mau sesekali berkunjung. Boleh, kan?”
Georu langsung tersenyum lebar.
“Tentu saja boleh!” katanya cepat.
“Aku bahkan akan jadi pemandu tur-mu.” Ia menunjuk dadanya sendiri, penuh percaya diri.
“Kamu nggak bakal nemuin pemandu yang lebih hebat dariku.”
“Oh ya?” Cakra menyeringai.
“Menurutku kakakmu justru pemandu terbaik.”
Ekspresi Georu langsung berubah masam.
“Apa?” protesnya, pura-pura tersinggung. Ia menggerakkan kursinya dan menabrakkan sisi kursi Cakra dengan tenaga ringan, cukup membuat kursi itu bergetar. Cakra terkejut, lalu tertawa. Tanpa ragu, ia membalas dorongan kecil itu. Dalam sekejap, mereka seperti dua anak laki-laki yang sedang bermain adu tabrak mobil mainan, kursi mereka saling mendekat dan menjauh, melayang halus di atas lantai. Cahaya laut berkilau di sekeliling.
Mereka tertawa lepas tanpa memedulikan dua wanita lain yang bersama mereka di ruangan itu. Mynhemeni dan Saljiva masih tenggelam dalam analisis, berusaha memecahkan misteri terbesar tentang siapa dan apa sebenarnya Cakra.
“Bagaimana, Shiva? Kira-kira sudah bisa kamu—”
“Sudah, Kak. Suruh Cakra kembali ke tempatnya,” potong Saljiva cepat, nyaris tak menyembunyikan antusiasmenya. Tangannya masih sibuk di udara, jemarinya menari di antara cahaya transparan antarmuka, dan ia bahkan tidak menoleh pada Mynhemeni yang melayang sejajar di sebelah kanannya.
“Oke!” jawab Mynhemeni tanpa ragu. Plitannya bergetar halus, merespons niatnya sebelum ia sempat bergerak. Tubuhnya melayang ringan, siap melesat menghampiri Cakra yang sedang duduk santai di kejauhan, mengapung tanpa sandaran, kaki terayun seperti anak kecil yang bosan menunggu. Georu masih di dekatnya. Keduanya tampak tertawa setelah balapan kecil yang baru saja mereka lakukan.
Beberapa saat lalu, mereka menjatuhkan diri dari atap ruangan setinggi sepuluh meter. Meluncur bebas menembus udara yang terasa padat namun ringan, lalu berhenti mendadak hanya beberapa sentimeter dari lantai. Tantangan itu datang dari Cakra sendiri. Siapa yang paling cepat mencapai dasar, dialah pemenangnya.
Georu menyambut tantangan itu dengan semangat, meski diam-diam ia mengendurkan kecepatannya. Ia membiarkan Cakra menang, tanpa sedikit pun memberi tanda bahwa kemenangan itu disengaja.
“Tapi, Kak…” suara Saljiva menyela. Ia berputar cepat, melayang mendekat, lalu meraih ujung jari kanan Mynhemeni sebelum kakak iparnya itu benar-benar menjauh.
“Kenapa?” tanya Mynhemeni. Plitannya berhenti dan berbelok, membuat tubuhnya berputar menghadap Saljiva. Gadis itu melirik ke arah Cakra sekilas, memastikan jarak mereka cukup aman, lalu mendekat dan berbisik pelan di telinga kiri Mynhemeni.
“Aku harus pakai Svalin,” katanya lirih.
“Ada sesuatu yang perlu aku sampaikan ke kalian.” Ia mundur setengah langkah, memberi ruang di antara mereka, lalu menatap Mynhemeni dengan ekspresi yang kali ini jauh lebih serius.
“Baik, aku ambilkan,” jawab Mynhemeni. Tanpa menunggu balasan, plitannya kembali berdenyut dan tubuhnya melesat naik. Ia melayang cepat ke arah Cakra, yang kini sudah berada tepat di bawah langit-langit ruangan, bersiap menjatuhkan diri sekali lagi.
“Cakra!”
Panggilan itu membuat Cakra refleks menghentikan geraknya. Tubuhnya tersentak, lalu terpental ringan sebelum akhirnya kembali stabil, mengapung dengan kikuk di udara. Ia terkesiap kecil, lalu tertawa canggung.
Sesaat ia lupa.
Di Negeri Porkah, ia tidak akan pernah jatuh. Ia terbang.
Bukan terbang! Melainkan mengambang.
Dinding berkilau lembut seperti bagian dalam cangkang mutiara, memantulkan sinar yang bergerak pelan, menyerupai arus laut yang tak pernah benar-benar diam. Georu tetap berbicara melalui Svalin, menjaga agar suaranya tak sampai ke telinga Cakra.
Remaja itu, yang semula duduk di atas kapsul transparan yang kini telah berubah bentuk menjadi kursi goyang, langsung tersentak. Matanya melebar. Napasnya terhenti sesaat ketika sosok yang paling ia kenali dalam ingatan buruknya muncul begitu saja di ruangan supercanggih itu. Sosok yang beberapa jam lalu menyiksanya, saat ia pertama kali sadar setelah dihantam ombak Parangtritis.
Tanpa berpikir panjang, Cakra melompat turun dan berdiri tepat di depan Mynhemeni dan Saljiva. Tubuhnya bergerak lebih cepat dari pikirannya, membentuk posisi menghadang secara naluriah. Kedua tangannya mengepal, bahunya menegang, seluruh sikapnya menyiratkan kesiapan untuk melindungi mereka dari Georu yang terus melangkah mendekat.
Ia bahkan tidak menyadari bahwa kursi yang semula menopang tubuhnya telah lenyap seketika, seolah keberadaannya tak lagi dianggap penting dibanding ancaman di hadapan mereka.
“Tenang,” ucap Mynhemeni cepat, suaranya tegas namun menenangkan.
“Dia adikku.”
Cakra membeku.
Sebaliknya, Georu justru berhenti melangkah. Alis peraknya terangkat, matanya meneliti Cakra dengan rasa ingin tahu yang terang-terangan. Ada kekaguman di sana. Bukan kagum yang berlebihan, melainkan sesuatu yang tulus, seperti seorang prajurit melihat keberanian mentah yang belum diasah.
Dengan santai, Georu mengacungkan jempol kirinya ke arah Cakra. Tangan kanannya menyerahkan komponen yang dibawanya. Benda itu melayang sendiri, berkilau singkat, lalu melesat masuk ke salah satu tabung transparan yang mengambang di sisi kiri Saljiva. Gerakan jari kiri Georu sedikit berputar, seolah memberi isyarat bahwa aksi Cakra barusan cukup heroik. Wajahnya ikut berbicara. Alis peraknya yang tebal bergerak naik turun, diakhiri senyum puas yang nyaris jahil.
“Adikmu?” tanya Cakra pelan, nyaris tak percaya.
Ketegangan di wajahnya mulai runtuh. Tatapan bertahan itu bergeser menjadi bingung. Lalu, tanpa alasan yang benar-benar ia pahami, Cakra turut tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Ia sendiri tak tahu kenapa. Mungkin, pikirnya, ini memang cara bangsa Porkah saling menyapa.
“Maaf,” ucap Georu, kali ini dengan suara yang terdengar jelas.
“Aku harus membuatmu pingsan waktu itu.” Ia melangkah lebih dekat dan merentangkan tangan ke arah Cakra.
“Aku Georu. Salam kenal.”
Di saat yang sama, Mynhemeni dan Saljiva sudah kembali tenggelam dalam pekerjaan mereka, bertukar data dan cahaya holografis, meninggalkan Cakra sendirian dengan kebingungannya.
Cakra melirik tangan yang terulur itu, lalu menatap wajah Georu. Wajah yang cantik dengan cara yang asing baginya. Wajah orang yang pertama kali menyakitinya, tepat setelah ia terbangun dari bencana ombak yang menyeretnya dari dunia manusia ke negeri bawah laut ini.
“Aku kira tadi kamu mengacungkan jempol karena mau ngajak kenalan,” ucap Cakra ragu, membiarkan tangan Georu tetap melayang di udara.
“Bukannya itu cara kalian memberi tahu seseorang kalau dia kelihatan keren?” balas Georu ringan.
Tangannya sedikit diayun, sabar, menunggu.
“Oh.” Cakra terkekeh kecil, canggung.
“Aku Cakra.” Ia akhirnya menerima uluran itu. Jemarinya bertaut dengan tangan Georu yang hangat dan nyata, seolah menegaskan bahwa ia masih ada di dunia ini. Untuk sesaat, ingatan tentang rasa sakit dan ketakutan mereda. Bahkan sengatan listrik yang beberapa jam lalu dilepaskan sosok di hadapannya terasa menjauh, seperti gema yang perlahan ditelan keheningan.
Cakra masih menggenggam tangan Georu beberapa detik lebih lama dari yang ia sadari. Pandangannya menelusuri setiap guratan di wajah pria itu, dari garis rahang yang tegas hingga mata yang berkilau pucat seperti cahaya yang menembus air laut dalam. Baru saat itulah ia benar-benar menyadari kemiripan yang tak mungkin kebetulan. Georu dan Mynhemeni serupa bayangan yang dipisahkan waktu. Wajah mereka bagai pinang dibelah dua.
Perbedaannya baru terlihat ketika Cakra mengamatinya lebih saksama. Di bagian tengah kerongkongan Georu, jakun itu menonjol jelas, memberi kesan maskulin yang kasar dan tak disamarkan. Lengan dan bahunya lebar, pahatan ototnya tegas meski terbungkus sanvar yang melekat rapat seperti kulit kedua. Rambut peraknya dibiarkan panjang dan tergerai, bergerak perlahan mengikuti arus halus yang nyaris tak terasa. Seluruh kombinasi itu membentuk sosok yang sulit didefinisikan. Georu tampak cantik dengan cara yang tak lazim, keras dan lembut berpadu dalam satu tarikan napas.
“Kalian mirip banget,” kata Cakra spontan.
“Kembar, ya?” Ia melepaskan genggaman setelah Georu memberi isyarat ringan, nyaris tak kentara.
“Bukan... Usia kami terpaut jauh,” jawab Georu cepat. Ia melirik Mynhemeni sekilas, senyumnya melebar nakal.
“Tapi banyak yang salah kira. Yang jelas, dia bakal menua lebih cepat daripada aku.” Mynhemeni mendengus, tapi tak membalas. Georu sudah lebih dulu menjatuhkan tubuhnya ke belakang. Ia membiarkan dirinya jatuh bebas, dan tepat sebelum menyentuh lantai, sebuah kursi melayang muncul dari cahaya tipis. Tubuhnya mendarat empuk di atasnya. Cakra refleks menoleh ke belakang. Kursi yang tadi ia duduki sudah tak ada. Ia ragu sepersekian detik, lalu meniru Georu. Tubuhnya jatuh, dan kursi lain muncul tepat waktu, menahan punggungnya. Sensasinya aneh, seperti duduk di atas udara yang memutuskan untuk menjadi padat.
Kini mereka berdua duduk melayang, berhadapan, dengan jarak aman yang terasa semakin manusiawi.
“Jadi, kamu setuju bekerja sama dengan kami?” tanya Georu sambil menyilangkan kaki. Cakra mengangguk tanpa ragu.
“Kenapa?” Georu tidak menekan, tapi jelas ingin tahu lebih dalam. Cakra menatap tangannya sendiri. Membuka, lalu mengepal. Ototnya bergerak mulus, terlalu sempurna untuk tubuh yang ia kenal sejak kecil.
“Aku mau tahu kenapa aku bisa bernapas di dalam laut. Kenapa lukaku sembuh sendiri. Kenapa aku bisa sekuat ini,” katanya pelan. Ia mengangkat pandangan, matanya serius.
“Aku belum pernah seperti ini sebelumnya.” Lalu, seolah teringat sesuatu yang jauh lebih penting, ekspresinya berubah. Ia tersenyum kecil dan mengangkat betis kaki kanannya.
“Dan aku juga mau tahu,” lanjutnya, sedikit lebih cerah, “kenapa bekas lukaku hilang.”
Ia menunjuk kulit yang mulus tanpa cela.
“Harusnya, di sini ada bekas luka yang keren banget.”
Georu mengikuti arah pandang itu. Ia menunduk, memeriksa betis Cakra dengan saksama. Tidak ada goresan. Tidak ada bekas jahitan. Tidak ada tanda apa pun yang membuktikan bahwa kulit itu pernah sobek. Saat ia kembali menatap Cakra, sorot matanya berubah.
Sedikit redup. Sedikit sedih.
“Sayang sekali, pasti itu luka yang bersejarah buatmu,” ucapnya tulus. Cakra terdiam sejenak. Lalu ia tersenyum, senyum kecil yang hangat dan nyaris rapuh.
“Iya,” katanya pelan. Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di negeri Porkah, ada seseorang yang memahami kehilangan itu. Bukan kehilangan kebebasan, bukan kehilangan rumah, tapi kehilangan sesuatu yang ia banggakan sejak kecil. Dan entah kenapa, pengakuan sederhana itu membuat dadanya terasa lebih ringan.
Keheningan sempat menyelimuti mereka, tipis namun canggung. Cakra menatap lurus ke depan, lalu menarik napas pendek, seolah menimbang keberaniannya sendiri.
“Tapi… kenapa waktu itu kamu menyiksaku?” tanyanya akhirnya. Suaranya tenang, tapi ada sisa nyeri yang belum sepenuhnya sembuh. Ingatan tentang tangan-tangan besi yang menahannya, tekanan yang memaksa tubuhnya menyerah, kembali menyeruak.
Georu tidak langsung menjawab. Bahunya sedikit menegang sebelum ia menghela napas.
“Kami terpaksa,” katanya pelan.
“Aku belum pernah bertemu manusia darat sepertimu. Dalam sejarah kami, itu… mustahil. Kami harus waspada terhadap segala kemungkinan ancaman.” Cakra mendengus kecil, bukan marah, lebih seperti lelah.
“Iya, iya. Ancaman lagi,” ujarnya.
“Aku paham.” Ia lalu menoleh, menatap Georu lurus-lurus. Kali ini tanpa kebencian.
“Makanya aku mau bekerja sama. Aku ingin kalian tahu, bahwa aku bukan ancaman.” Tatapannya hangat, terbuka, nyaris polos. Ketulusan itu terasa nyata, bahkan di antara kilau cahaya laut yang memantul di dinding ruang transport mereka. Georu bisa merasakannya, seperti arus lembut yang tak memaksa tapi sulit diabaikan.
“Aku juga ingin tinggal di sini. Kalau… kalian mengizinkan,” lanjut Cakra. Georu terdiam sejenak sebelum menjawab.
“Kamu bisa tinggal,” katanya hati-hati.
“Tapi ada konsekuensinya.” Ia melirik Cakra sekilas.
“Kamu tidak akan bisa kembali ke duniamu,” kata Georu.
“Apa yang akan kamu katakan pada orang-orang di sana? Pada keluargamu? Mereka tak akan pernah bisa mengunjungi tempat tinggalmu yang baru.” Nadanya bukan ancaman, melainkan ujian. Di dalam hati, Georu berharap Cakra memilih tinggal. Jika anak itu menetap di Porkah, banyak persoalan akan terselesaikan. Mereka tak perlu berhadapan langsung dengan Rumsun, tak perlu pula menarik perhatian yang lebih berbahaya.
Diam-diam, harapan lain ikut tumbuh. Meski tak pernah terucap, Georu berharap Cakra bersedia mengikuti rencana Rumsun untuk diteliti. Jauh di lubuk hatinya, ia mengakui satu hal yang sulit diterima. Penelitian itu mungkin diperlukan demi keberlangsungan hidup dan teknologi bangsa Porkah yang nyaris tak bergerak maju.
Cakra menggaruk tengkuknya, tersenyum kecil.
“Nah… itu dia masalahnya. Aku nggak bisa,” katanya jujur. Ia mengangkat bahu.
“Jadi aku putuskan, kalau aku dinyatakan aman dan bukan ancaman, aku mau sesekali berkunjung. Boleh, kan?”
Georu langsung tersenyum lebar.
“Tentu saja boleh!” katanya cepat.
“Aku bahkan akan jadi pemandu tur-mu.” Ia menunjuk dadanya sendiri, penuh percaya diri.
“Kamu nggak bakal nemuin pemandu yang lebih hebat dariku.”
“Oh ya?” Cakra menyeringai.
“Menurutku kakakmu justru pemandu terbaik.”
Ekspresi Georu langsung berubah masam.
“Apa?” protesnya, pura-pura tersinggung. Ia menggerakkan kursinya dan menabrakkan sisi kursi Cakra dengan tenaga ringan, cukup membuat kursi itu bergetar. Cakra terkejut, lalu tertawa. Tanpa ragu, ia membalas dorongan kecil itu. Dalam sekejap, mereka seperti dua anak laki-laki yang sedang bermain adu tabrak mobil mainan, kursi mereka saling mendekat dan menjauh, melayang halus di atas lantai. Cahaya laut berkilau di sekeliling.
Mereka tertawa lepas tanpa memedulikan dua wanita lain yang bersama mereka di ruangan itu. Mynhemeni dan Saljiva masih tenggelam dalam analisis, berusaha memecahkan misteri terbesar tentang siapa dan apa sebenarnya Cakra.
“Bagaimana, Shiva? Kira-kira sudah bisa kamu—”
“Sudah, Kak. Suruh Cakra kembali ke tempatnya,” potong Saljiva cepat, nyaris tak menyembunyikan antusiasmenya. Tangannya masih sibuk di udara, jemarinya menari di antara cahaya transparan antarmuka, dan ia bahkan tidak menoleh pada Mynhemeni yang melayang sejajar di sebelah kanannya.
“Oke!” jawab Mynhemeni tanpa ragu. Plitannya bergetar halus, merespons niatnya sebelum ia sempat bergerak. Tubuhnya melayang ringan, siap melesat menghampiri Cakra yang sedang duduk santai di kejauhan, mengapung tanpa sandaran, kaki terayun seperti anak kecil yang bosan menunggu. Georu masih di dekatnya. Keduanya tampak tertawa setelah balapan kecil yang baru saja mereka lakukan.
Beberapa saat lalu, mereka menjatuhkan diri dari atap ruangan setinggi sepuluh meter. Meluncur bebas menembus udara yang terasa padat namun ringan, lalu berhenti mendadak hanya beberapa sentimeter dari lantai. Tantangan itu datang dari Cakra sendiri. Siapa yang paling cepat mencapai dasar, dialah pemenangnya.
Georu menyambut tantangan itu dengan semangat, meski diam-diam ia mengendurkan kecepatannya. Ia membiarkan Cakra menang, tanpa sedikit pun memberi tanda bahwa kemenangan itu disengaja.
“Tapi, Kak…” suara Saljiva menyela. Ia berputar cepat, melayang mendekat, lalu meraih ujung jari kanan Mynhemeni sebelum kakak iparnya itu benar-benar menjauh.
“Kenapa?” tanya Mynhemeni. Plitannya berhenti dan berbelok, membuat tubuhnya berputar menghadap Saljiva. Gadis itu melirik ke arah Cakra sekilas, memastikan jarak mereka cukup aman, lalu mendekat dan berbisik pelan di telinga kiri Mynhemeni.
“Aku harus pakai Svalin,” katanya lirih.
“Ada sesuatu yang perlu aku sampaikan ke kalian.” Ia mundur setengah langkah, memberi ruang di antara mereka, lalu menatap Mynhemeni dengan ekspresi yang kali ini jauh lebih serius.
“Baik, aku ambilkan,” jawab Mynhemeni. Tanpa menunggu balasan, plitannya kembali berdenyut dan tubuhnya melesat naik. Ia melayang cepat ke arah Cakra, yang kini sudah berada tepat di bawah langit-langit ruangan, bersiap menjatuhkan diri sekali lagi.
“Cakra!”
Panggilan itu membuat Cakra refleks menghentikan geraknya. Tubuhnya tersentak, lalu terpental ringan sebelum akhirnya kembali stabil, mengapung dengan kikuk di udara. Ia terkesiap kecil, lalu tertawa canggung.
Sesaat ia lupa.
Di Negeri Porkah, ia tidak akan pernah jatuh. Ia terbang.
Bukan terbang! Melainkan mengambang.
Other Stories
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...
Akibat Salah Gaul
Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...
Horor
horor ...
Cowok Hujan
Ia selalu terlihat tenang. Tapi setiap kali langit mulai gelap dan angin berhembus kencang ...
Kisah Cinta Super Hero
cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...
Suara Cinta Gadis Bisu
Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...