Bab 66 - Jejak Yang Dihapus
“Komandan Mynhemeni telah menteleportasi subjek, Wakil Ketua,” lapor Olhuioruik dengan suara yang sengaja dikeraskan. Kalimat itu dilempar seperti api ke tengah ruangan.
“Komandan Mynhemeni!” Thungsiruv membentak. Amarahnya akhirnya pecah.
“Apa yang sudah Anda lakukan?” Ia melangkah maju, napasnya berat, tatapannya bergetar antara marah dan tak percaya. Anak perempuannya. Komandan terbaiknya. Telah bertindak sejauh ini tanpa satu kata pun padanya.
Tanpa diskusi.
Tanpa izin.
Namun di balik kemarahannya, ada keraguan yang menggerogoti. Beberapa detik terakhir terus berputar di kepalanya. Tidak masuk akal jika Mynhemeni dikendalikan anak manusia darat itu. Tidak mungkin ia mengkhianati Porkah. Tidak mungkin ia mempertaruhkan bangsanya demi makhluk yang bahkan statusnya belum jelas.
“Maaf, Ketua.” Suara Mynhemeni tenang, terlalu tenang untuk situasi setegang ini.
“Saya harus melakukannya. Demi melindungi Kerajaan Porkah.” Ia berdiri tegak, menatap satu per satu wajah yang kini memandangnya seperti orang asing.
“Kami sudah menganalisis anak itu. Tidak ada detektor. Tidak ada ancaman. Tidak ada satu pun indikasi yang membahayakan bangsa kita.”
Bisik-bisik langsung menyebar, cepat dan tajam.
“Karena dia bukan ancaman,” lanjut Mynhemeni.
“Maka saya mengembalikannya ke tempat asalnya. Sesuai prosedur standar Kerajaan Porkah. Dipulangkan ke daratan. Ingatannya tentang kita dihapus. Selesai. Tidak ada lagi yang perlu ditakutkan.” Ia melangkah mendekati Thungsiruv. Seketika pasukan di sekeliling Ketua bergerak serempak, membentuk barisan pelindung. Senjata aktif. Sistem pertahanan menyala. Mereka bersiaga, seolah Mynhemeni adalah bahaya yang harus dijatuhkan saat itu juga.
Melihat pemandangan itu, Mynhemeni tertawa pendek. Bukan tawa gembira. Lebih mirip napas pahit yang lolos tanpa bisa ditahan.
Georu dan Saljiva tetap berdiri di tempat mereka. Tubuh kaku. Pikiran kosong. Bahkan untuk sekadar berkomunikasi tanpa suara pun mereka tak berani. Apa pun yang terjadi selanjutnya, berada di luar kendali mereka.
“Kalian,” suara Mynhemeni merendah, matanya menyapu pasukan yang mengarah padanya.
“Menganggapku ancaman?” Pertanyaan itu melayang di udara, berat, dan tak seorang pun langsung menjawab.
“Baiklah. Kalau begitu, saksikan sendiri hasilnya,” kata Mynhemeni. Ia menutup mata sejenak, lalu mengedipkannya sekali.
Udara di ruangan itu bergetar halus, seperti permukaan air yang disentuh ujung jari. Cahaya putih muncul di hadapannya. Lebih besar dari apa pun yang pernah ia proyeksikan sebelumnya. Bola cahaya itu berdenyut, memancarkan kilau bersih yang membuat bayangan di dinding berlapis kristal tampak berlipat-lipat. Lalu, tanpa suara ledakan, cahaya itu pecah.
Bukan hancur, melainkan terurai.
Ratusan serpihan cahaya melesat ke segala arah, terbang lurus dan presisi, menembus ruang tanpa hambatan. Setiap serpihan menempel di dahi para pasukan, Rumsun, dan Thungsiruv. Seketika tubuh-tubuh itu menegang, mata mereka kosong, napas tertahan. Data mengalir masuk, kasar dan jujur, tanpa penyaring emosi.
Hanya dua orang yang luput.
Georu dan Saljiva tetap berdiri tanpa tersentuh cahaya. Wajah mereka tegang, rahang mengeras. Mereka sudah tahu apa yang akan muncul. Mereka telah hidup bersama data itu jauh sebelum mereka. Di benak setiap yang menerima proyeksi, rangkaian anatomi Cakra terbuka. Struktur tubuhnya. Aliran energinya. Setiap lapisan diperlihatkan tanpa celah. Tidak ada sinyal asing. Tidak ada pemancar tersembunyi. Tidak ada pola yang mengarah pada ancaman eksternal. Tidak ada apa pun yang bisa diklasifikasikan sebagai bahaya bagi Porkah.
Kesunyian menyebar.
Di tengah sunyi itu, suara Saljiva muncul, bergetar, bergema langsung di benak Mynhemeni dan Georu. “Kak… sekarang kita harus bagaimana? Mereka akan percaya, kan?”
Kekhawatiran itu jujur. Tak disembunyikan. Rasa takut yang manusiawi, meski mereka bukan manusia. Mynhemeni menarik napas pelan. Ia tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan.
“Tenang,” jawabnya melalui sambungan batin.
“Mereka tidak punya alasan untuk menangkap kita.” Nada suaranya mantap, nyaris keras kepala.
“Ini alat ciptaanmu. Data ini lengkap. Bersih. Dan kamu tahu itu.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, lebih pelan namun penuh keyakinan.
“Teknologi kita tidak bisa dimanipulasi.”
“Lalu kenapa anak itu bisa bernapas di dalam air?” suara Rumsun memotong keheningan.
“Dan kenapa dia memiliki kekuatan seperti itu?” Ia melangkah maju, satu langkah penuh tekanan.
Kristal lantai di bawah kakinya berkilau samar, seperti menahan getaran amarahnya. Setiap langkahnya diikuti pasukan pengawal yang langsung merapat, membentuk lapisan pelindung di sekeliling Wakil Ketua Distrik Nor itu. Formasi mereka rapat dan kaku, seolah Mynhemeni adalah pusat bahaya berikutnya.
Mynhemeni tidak bergerak.
“Andai kalian datang dua detik lebih lambat,” katanya santai, “kami mungkin sudah menemukan jawabannya.” Nada suaranya ringan, nyaris sembrono.
Tidak ada tanda gentar. Tidak ada upaya meredakan situasi. Ia berdiri tegak, bahu lurus, tatapan stabil, seolah yang berdiri di hadapannya bukan penguasa distrik, melainkan rekan diskusi yang terlambat rapat.
Rumsun mendecakkan lidah. “Kamu memutuskan semuanya sendiri,” katanya lebih keras.
“Ini urusan Distrik Nor. Itu berarti berada di bawah kewenanganku.” Suaranya meninggi, bukan sekadar marah, melainkan ingin menegaskan posisi.
Ia ingin Mynhemeni tahu bahwa langkah yang diambilnya bukan keberanian, melainkan pelanggaran. Mynhemeni hanya menatapnya.
Tidak mundur. Tidak membalas.
Rahang Rumsun mengeras.
“Atuyju,” bentaknya tiba-tiba.
Seorang pemimpin pertahanan nasional langsung menegakkan tubuh.
“Pergi ke kantor Keamanan Manusia Darat Distrik Nor. Temui Oprang. Minta dia mengerahkan seluruh pasukan untuk mencari anak itu di daratan.”
Ia menekankan kata terakhir, seolah memaku perintah itu ke udara.
“Sekarang.”
Di balik ketenangannya, niat Rumsun jelas dan dingin. Anak itu harus ditemukan. Apa pun caranya.
Semua itu justru membuat Mynhemeni ingin tertawa.
Ia sempat menghardik Rumsun dengan tenang, hampir mengejek, bahwa mencari Cakra bukan perkara sederhana. Sanvar tahanan yang masih melekat di tubuh anak itu telah ia atur untuk memancarkan penyamaran hingga radius seratus kilometer. Dalam jarak seluas itu, setiap pergerakan, setiap kepanikan manusia darat, setiap teriakan dan hiruk-pikuk pencarian, akan runtuh menjadi ilusi yang jinak dan tak berarti.
Di benak mereka, Pantai Parangtritis tampak seperti hari biasa.
Ombak datang dan pergi dengan ritme yang ramah. Beberapa proyeksi manusia darat terlihat berjalan santai, tertawa bersama keluarga, duduk menikmati angin laut, atau bermain pasir tanpa rasa curiga. Tidak ada kapal penyelamat. Tidak ada sorot lampu. Tidak ada sorak terkejut karena seorang remaja tiba-tiba muncul dari laut.
Semua itu Mynhemeni ciptakan dengan sengaja.
Sanvar tahanan Cakra memproyeksikan realitas palsu itu, menutup kenyataan yang sesungguhnya. Atau, jika dilihat dari sudut lain, justru menutupi upaya pencarian Cakra yang masih dianggap hanyut dan belum ditemukan. Dengan begitu, pasukan yang diutus Oprang akan pulang membawa kesimpulan yang sama.
Cakra tidak diteleportasi ke Parangtritis.
Mynhemeni bahkan menggiring spekulasi yang lebih jauh. Bahwa ia mungkin telah mengirim anak itu kembali ke kediamannya. Sebuah asumsi yang rapi, namun kosong. Tak satu pun dari mereka tahu di mana rumah Cakra berada. Mynhemeni pun tidak. Seluruh data tentang kehidupan anak itu di daratan telah terhapus dari sanvarnya sendiri.
Jejak Cakra lenyap.
Dan bersama itu, peluang bangsa Porkah untuk menemukannya kembali ikut tenggelam.
Setelah menerima perintah Rumsun, Atuyju tidak membuang waktu. Sosok pemimpin pertahanan nasional Distrik Nor itu menghilang dalam satu kedipan cahaya. Berteleportasi langsung menuju kantor Keamanan Manusia Darat Distrik Nor, tempat Oprang berada.
Keheningan sesaat menyelimuti ruangan.
Lalu Rumsun memecahnya.
“Kalian sudah melewati batas,” katanya dingin.
“Atas dasar itu, aku menetapkan kalian sebagai tahanan. Sanvar kalian akan dibekukan.”
Thungsiruv terperanjat. Dadanya terasa berat. Ia ingin berbicara, ingin menghentikan semua ini, namun kata-kata itu tak pernah sampai ke bibirnya. Rumsun tidak sepenuhnya salah. Ia hanya bisa berdiri kaku saat kedua anaknya, serta anak dari besannya, ikut membeku di tempat.
Dari balik telinga mereka, svalin melesat keluar. Alat komunikasi anti-sadap itu melayang sebentar sebelum lenyap. Disusul bola-bola kecil bercahaya yang keluar dari busana mereka, satu demi satu, seperti serpihan bintang yang tercerabut paksa. Triliunan materi itu adalah inti sanvar. Sistem pertahanan, senjata, teleportasi, komunikasi, pusat data, dunia virtual, dan kecerdasan buatan yang hidup bersama mereka.
Semua itu bergerak menuju Rumsun.
Begitu seluruh bola cahaya menyatu dengan tubuhnya, Rumsun mengaktifkan mode tahanan. Seketika, sanvar mereka berubah menjadi sekadar pakaian biasa. Masih menopang hidup. Masih menjaga fungsi dasar tubuh. Namun tanpa kekuatan. Tanpa akses. Tanpa perlindungan.
Persis seperti sanvar tahanan yang pernah dikenakan Cakra.
“Kalian akan mengikuti sidang,” perintah Rumsun.
“Seret mereka ke kantor pengadilan utama Distrik Nor.” Dalam sekejap, ruangan itu lenyap dari pandangan mereka. Teleportasi massal membawa seluruh pasukan menuju pengadilan utama yang berjarak ribuan kilometer.
Namun ketegangan tidak berhenti di bawah laut.
Di daratan, segalanya justru mencapai puncaknya.
Mata bunda Cakra menatap lurus ke arah laut, kosong, nyaris tanpa kedipan. Tidak ada air mata yang jatuh. Tidak ada isak yang pecah. Seolah seluruh harapan di dadanya telah terkikis sedikit demi sedikit, bersamaan dengan mundurnya ombak yang tak pernah membawa apa pun kembali. Di hadapannya, panorama Pantai Parangtritis dipenuhi manusia dari berbagai penjuru dunia. Seragam berbeda, bahasa berbeda, teknologi berbeda. Namun satu demi satu, mereka mulai menyerah pada kemungkinan yang tak ingin disebutkan dengan suara keras.
Seluruh area yang mungkin dilalui tubuh anaknya telah disisir. Dari titik awal Cakra terseret ombak hingga garis pantai yang lebih jauh. Radius pencarian terus diperlebar, satu kilometer, lima, hingga sepuluh kilometer ke arah laut lepas. Helikopter, kapal cepat, kapal selam, drone udara, drone bawah air, hingga robot pencari dengan sensor termutakhir dikerahkan. Amerika, China, Rusia, semuanya menurunkan teknologi terbaik yang mereka miliki. Namun laut tetap sunyi. Tidak ada tanda. Tidak ada tubuh. Tidak ada serpihan yang bisa disebut sebagai jejak Cakra.
Padahal, biasanya laut tak pernah sepelit ini.
Korban tenggelam hampir selalu ditemukan. Cepat atau lambat. Utuh atau tidak. Hidup atau tak bernyawa. Bahkan di tengah samudra sekalipun, tubuh manusia biasanya akan muncul ke permukaan, terseret arus, atau tersangkut di dasar. Apalagi ini pantai. Bukan laut dalam. Titik hanyutnya jelas. Seharusnya pencarian menjadi lebih mudah, bukan sebaliknya.
Namun waktu terus berjalan.
Hampir dua belas jam sejak Cakra terseret ombak, tak satu pun bagian tubuh remaja itu ditemukan. Tidak sehelai pakaian. Tidak setetes darah. Tidak ada apa pun. Kebingungan mulai merayap di antara para penyelamat. Seolah-olah mereka tidak sedang mencari seseorang yang hanyut, melainkan seseorang yang tidak pernah benar-benar ada di laut itu.
Beberapa potongan tubuh memang sempat ditemukan. Namun setiap kali dianalisis, hasilnya selalu sama. Bukan milik Cakra. Bentuk fisiknya tak cocok. Struktur jaringan tak sesuai. Dan dari pemeriksaan cepat, jelas terlihat bahwa potongan-potongan itu telah berada di laut lebih dari dua puluh empat jam. Bukan korban hari ini.
Satu per satu, jasad dan potongan tubuh itu diamankan oleh TNI Angkatan Laut untuk proses identifikasi lanjutan.
Sementara di tepi pantai, bunda Cakra tetap duduk lemas di tempatnya.
Menatap laut yang sama.
Menunggu sesuatu yang tak kunjung datang.
Hingga detik-detik terakhir ketika harapan nyaris benar-benar padam, salah satu robot bawah laut milik tim Rusia menangkap sesuatu yang ganjil di layar sonar. Bukan sinyal besar. Bukan bentuk mencolok. Hanya sebuah ketidakteraturan kecil di sisi palung dangkal, tak jauh dari titik terakhir Cakra diduga terseret arus. Sebuah celah sempit, nyaris seperti kesalahan pembacaan. Kedalamannya berada di kisaran empat puluh meter di bawah permukaan laut, masih dalam batas aman bagi robot pencarian dan penyelaman teknis.
Celah itu hampir saja diabaikan.
Namun setelah pemindaian ulang, bentuknya perlahan menguat. Menyerupai mulut gua kecil yang tersembunyi di antara lipatan batu kapur yang telah lama digerus arus. Dalam catatan awal, struktur tersebut tampak wajar. Retakan alami khas kawasan pesisir berkarang seperti Parangtritis. Tidak ada jejak runtuhan besar. Tidak ada bekas ledakan. Tidak ada tanda campur tangan manusia. Segalanya terlihat seperti hasil kerja waktu dan air asin semata.
Robot itu kemudian meluncur masuk. Meluncur dengan harapan, membawa satu kemungkinan yang selama ini mereka tunggu.
Bahwa Cakra, akhirnya, telah ditemukan.
“Komandan Mynhemeni!” Thungsiruv membentak. Amarahnya akhirnya pecah.
“Apa yang sudah Anda lakukan?” Ia melangkah maju, napasnya berat, tatapannya bergetar antara marah dan tak percaya. Anak perempuannya. Komandan terbaiknya. Telah bertindak sejauh ini tanpa satu kata pun padanya.
Tanpa diskusi.
Tanpa izin.
Namun di balik kemarahannya, ada keraguan yang menggerogoti. Beberapa detik terakhir terus berputar di kepalanya. Tidak masuk akal jika Mynhemeni dikendalikan anak manusia darat itu. Tidak mungkin ia mengkhianati Porkah. Tidak mungkin ia mempertaruhkan bangsanya demi makhluk yang bahkan statusnya belum jelas.
“Maaf, Ketua.” Suara Mynhemeni tenang, terlalu tenang untuk situasi setegang ini.
“Saya harus melakukannya. Demi melindungi Kerajaan Porkah.” Ia berdiri tegak, menatap satu per satu wajah yang kini memandangnya seperti orang asing.
“Kami sudah menganalisis anak itu. Tidak ada detektor. Tidak ada ancaman. Tidak ada satu pun indikasi yang membahayakan bangsa kita.”
Bisik-bisik langsung menyebar, cepat dan tajam.
“Karena dia bukan ancaman,” lanjut Mynhemeni.
“Maka saya mengembalikannya ke tempat asalnya. Sesuai prosedur standar Kerajaan Porkah. Dipulangkan ke daratan. Ingatannya tentang kita dihapus. Selesai. Tidak ada lagi yang perlu ditakutkan.” Ia melangkah mendekati Thungsiruv. Seketika pasukan di sekeliling Ketua bergerak serempak, membentuk barisan pelindung. Senjata aktif. Sistem pertahanan menyala. Mereka bersiaga, seolah Mynhemeni adalah bahaya yang harus dijatuhkan saat itu juga.
Melihat pemandangan itu, Mynhemeni tertawa pendek. Bukan tawa gembira. Lebih mirip napas pahit yang lolos tanpa bisa ditahan.
Georu dan Saljiva tetap berdiri di tempat mereka. Tubuh kaku. Pikiran kosong. Bahkan untuk sekadar berkomunikasi tanpa suara pun mereka tak berani. Apa pun yang terjadi selanjutnya, berada di luar kendali mereka.
“Kalian,” suara Mynhemeni merendah, matanya menyapu pasukan yang mengarah padanya.
“Menganggapku ancaman?” Pertanyaan itu melayang di udara, berat, dan tak seorang pun langsung menjawab.
“Baiklah. Kalau begitu, saksikan sendiri hasilnya,” kata Mynhemeni. Ia menutup mata sejenak, lalu mengedipkannya sekali.
Udara di ruangan itu bergetar halus, seperti permukaan air yang disentuh ujung jari. Cahaya putih muncul di hadapannya. Lebih besar dari apa pun yang pernah ia proyeksikan sebelumnya. Bola cahaya itu berdenyut, memancarkan kilau bersih yang membuat bayangan di dinding berlapis kristal tampak berlipat-lipat. Lalu, tanpa suara ledakan, cahaya itu pecah.
Bukan hancur, melainkan terurai.
Ratusan serpihan cahaya melesat ke segala arah, terbang lurus dan presisi, menembus ruang tanpa hambatan. Setiap serpihan menempel di dahi para pasukan, Rumsun, dan Thungsiruv. Seketika tubuh-tubuh itu menegang, mata mereka kosong, napas tertahan. Data mengalir masuk, kasar dan jujur, tanpa penyaring emosi.
Hanya dua orang yang luput.
Georu dan Saljiva tetap berdiri tanpa tersentuh cahaya. Wajah mereka tegang, rahang mengeras. Mereka sudah tahu apa yang akan muncul. Mereka telah hidup bersama data itu jauh sebelum mereka. Di benak setiap yang menerima proyeksi, rangkaian anatomi Cakra terbuka. Struktur tubuhnya. Aliran energinya. Setiap lapisan diperlihatkan tanpa celah. Tidak ada sinyal asing. Tidak ada pemancar tersembunyi. Tidak ada pola yang mengarah pada ancaman eksternal. Tidak ada apa pun yang bisa diklasifikasikan sebagai bahaya bagi Porkah.
Kesunyian menyebar.
Di tengah sunyi itu, suara Saljiva muncul, bergetar, bergema langsung di benak Mynhemeni dan Georu. “Kak… sekarang kita harus bagaimana? Mereka akan percaya, kan?”
Kekhawatiran itu jujur. Tak disembunyikan. Rasa takut yang manusiawi, meski mereka bukan manusia. Mynhemeni menarik napas pelan. Ia tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan.
“Tenang,” jawabnya melalui sambungan batin.
“Mereka tidak punya alasan untuk menangkap kita.” Nada suaranya mantap, nyaris keras kepala.
“Ini alat ciptaanmu. Data ini lengkap. Bersih. Dan kamu tahu itu.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, lebih pelan namun penuh keyakinan.
“Teknologi kita tidak bisa dimanipulasi.”
“Lalu kenapa anak itu bisa bernapas di dalam air?” suara Rumsun memotong keheningan.
“Dan kenapa dia memiliki kekuatan seperti itu?” Ia melangkah maju, satu langkah penuh tekanan.
Kristal lantai di bawah kakinya berkilau samar, seperti menahan getaran amarahnya. Setiap langkahnya diikuti pasukan pengawal yang langsung merapat, membentuk lapisan pelindung di sekeliling Wakil Ketua Distrik Nor itu. Formasi mereka rapat dan kaku, seolah Mynhemeni adalah pusat bahaya berikutnya.
Mynhemeni tidak bergerak.
“Andai kalian datang dua detik lebih lambat,” katanya santai, “kami mungkin sudah menemukan jawabannya.” Nada suaranya ringan, nyaris sembrono.
Tidak ada tanda gentar. Tidak ada upaya meredakan situasi. Ia berdiri tegak, bahu lurus, tatapan stabil, seolah yang berdiri di hadapannya bukan penguasa distrik, melainkan rekan diskusi yang terlambat rapat.
Rumsun mendecakkan lidah. “Kamu memutuskan semuanya sendiri,” katanya lebih keras.
“Ini urusan Distrik Nor. Itu berarti berada di bawah kewenanganku.” Suaranya meninggi, bukan sekadar marah, melainkan ingin menegaskan posisi.
Ia ingin Mynhemeni tahu bahwa langkah yang diambilnya bukan keberanian, melainkan pelanggaran. Mynhemeni hanya menatapnya.
Tidak mundur. Tidak membalas.
Rahang Rumsun mengeras.
“Atuyju,” bentaknya tiba-tiba.
Seorang pemimpin pertahanan nasional langsung menegakkan tubuh.
“Pergi ke kantor Keamanan Manusia Darat Distrik Nor. Temui Oprang. Minta dia mengerahkan seluruh pasukan untuk mencari anak itu di daratan.”
Ia menekankan kata terakhir, seolah memaku perintah itu ke udara.
“Sekarang.”
Di balik ketenangannya, niat Rumsun jelas dan dingin. Anak itu harus ditemukan. Apa pun caranya.
Semua itu justru membuat Mynhemeni ingin tertawa.
Ia sempat menghardik Rumsun dengan tenang, hampir mengejek, bahwa mencari Cakra bukan perkara sederhana. Sanvar tahanan yang masih melekat di tubuh anak itu telah ia atur untuk memancarkan penyamaran hingga radius seratus kilometer. Dalam jarak seluas itu, setiap pergerakan, setiap kepanikan manusia darat, setiap teriakan dan hiruk-pikuk pencarian, akan runtuh menjadi ilusi yang jinak dan tak berarti.
Di benak mereka, Pantai Parangtritis tampak seperti hari biasa.
Ombak datang dan pergi dengan ritme yang ramah. Beberapa proyeksi manusia darat terlihat berjalan santai, tertawa bersama keluarga, duduk menikmati angin laut, atau bermain pasir tanpa rasa curiga. Tidak ada kapal penyelamat. Tidak ada sorot lampu. Tidak ada sorak terkejut karena seorang remaja tiba-tiba muncul dari laut.
Semua itu Mynhemeni ciptakan dengan sengaja.
Sanvar tahanan Cakra memproyeksikan realitas palsu itu, menutup kenyataan yang sesungguhnya. Atau, jika dilihat dari sudut lain, justru menutupi upaya pencarian Cakra yang masih dianggap hanyut dan belum ditemukan. Dengan begitu, pasukan yang diutus Oprang akan pulang membawa kesimpulan yang sama.
Cakra tidak diteleportasi ke Parangtritis.
Mynhemeni bahkan menggiring spekulasi yang lebih jauh. Bahwa ia mungkin telah mengirim anak itu kembali ke kediamannya. Sebuah asumsi yang rapi, namun kosong. Tak satu pun dari mereka tahu di mana rumah Cakra berada. Mynhemeni pun tidak. Seluruh data tentang kehidupan anak itu di daratan telah terhapus dari sanvarnya sendiri.
Jejak Cakra lenyap.
Dan bersama itu, peluang bangsa Porkah untuk menemukannya kembali ikut tenggelam.
Setelah menerima perintah Rumsun, Atuyju tidak membuang waktu. Sosok pemimpin pertahanan nasional Distrik Nor itu menghilang dalam satu kedipan cahaya. Berteleportasi langsung menuju kantor Keamanan Manusia Darat Distrik Nor, tempat Oprang berada.
Keheningan sesaat menyelimuti ruangan.
Lalu Rumsun memecahnya.
“Kalian sudah melewati batas,” katanya dingin.
“Atas dasar itu, aku menetapkan kalian sebagai tahanan. Sanvar kalian akan dibekukan.”
Thungsiruv terperanjat. Dadanya terasa berat. Ia ingin berbicara, ingin menghentikan semua ini, namun kata-kata itu tak pernah sampai ke bibirnya. Rumsun tidak sepenuhnya salah. Ia hanya bisa berdiri kaku saat kedua anaknya, serta anak dari besannya, ikut membeku di tempat.
Dari balik telinga mereka, svalin melesat keluar. Alat komunikasi anti-sadap itu melayang sebentar sebelum lenyap. Disusul bola-bola kecil bercahaya yang keluar dari busana mereka, satu demi satu, seperti serpihan bintang yang tercerabut paksa. Triliunan materi itu adalah inti sanvar. Sistem pertahanan, senjata, teleportasi, komunikasi, pusat data, dunia virtual, dan kecerdasan buatan yang hidup bersama mereka.
Semua itu bergerak menuju Rumsun.
Begitu seluruh bola cahaya menyatu dengan tubuhnya, Rumsun mengaktifkan mode tahanan. Seketika, sanvar mereka berubah menjadi sekadar pakaian biasa. Masih menopang hidup. Masih menjaga fungsi dasar tubuh. Namun tanpa kekuatan. Tanpa akses. Tanpa perlindungan.
Persis seperti sanvar tahanan yang pernah dikenakan Cakra.
“Kalian akan mengikuti sidang,” perintah Rumsun.
“Seret mereka ke kantor pengadilan utama Distrik Nor.” Dalam sekejap, ruangan itu lenyap dari pandangan mereka. Teleportasi massal membawa seluruh pasukan menuju pengadilan utama yang berjarak ribuan kilometer.
Namun ketegangan tidak berhenti di bawah laut.
Di daratan, segalanya justru mencapai puncaknya.
Mata bunda Cakra menatap lurus ke arah laut, kosong, nyaris tanpa kedipan. Tidak ada air mata yang jatuh. Tidak ada isak yang pecah. Seolah seluruh harapan di dadanya telah terkikis sedikit demi sedikit, bersamaan dengan mundurnya ombak yang tak pernah membawa apa pun kembali. Di hadapannya, panorama Pantai Parangtritis dipenuhi manusia dari berbagai penjuru dunia. Seragam berbeda, bahasa berbeda, teknologi berbeda. Namun satu demi satu, mereka mulai menyerah pada kemungkinan yang tak ingin disebutkan dengan suara keras.
Seluruh area yang mungkin dilalui tubuh anaknya telah disisir. Dari titik awal Cakra terseret ombak hingga garis pantai yang lebih jauh. Radius pencarian terus diperlebar, satu kilometer, lima, hingga sepuluh kilometer ke arah laut lepas. Helikopter, kapal cepat, kapal selam, drone udara, drone bawah air, hingga robot pencari dengan sensor termutakhir dikerahkan. Amerika, China, Rusia, semuanya menurunkan teknologi terbaik yang mereka miliki. Namun laut tetap sunyi. Tidak ada tanda. Tidak ada tubuh. Tidak ada serpihan yang bisa disebut sebagai jejak Cakra.
Padahal, biasanya laut tak pernah sepelit ini.
Korban tenggelam hampir selalu ditemukan. Cepat atau lambat. Utuh atau tidak. Hidup atau tak bernyawa. Bahkan di tengah samudra sekalipun, tubuh manusia biasanya akan muncul ke permukaan, terseret arus, atau tersangkut di dasar. Apalagi ini pantai. Bukan laut dalam. Titik hanyutnya jelas. Seharusnya pencarian menjadi lebih mudah, bukan sebaliknya.
Namun waktu terus berjalan.
Hampir dua belas jam sejak Cakra terseret ombak, tak satu pun bagian tubuh remaja itu ditemukan. Tidak sehelai pakaian. Tidak setetes darah. Tidak ada apa pun. Kebingungan mulai merayap di antara para penyelamat. Seolah-olah mereka tidak sedang mencari seseorang yang hanyut, melainkan seseorang yang tidak pernah benar-benar ada di laut itu.
Beberapa potongan tubuh memang sempat ditemukan. Namun setiap kali dianalisis, hasilnya selalu sama. Bukan milik Cakra. Bentuk fisiknya tak cocok. Struktur jaringan tak sesuai. Dan dari pemeriksaan cepat, jelas terlihat bahwa potongan-potongan itu telah berada di laut lebih dari dua puluh empat jam. Bukan korban hari ini.
Satu per satu, jasad dan potongan tubuh itu diamankan oleh TNI Angkatan Laut untuk proses identifikasi lanjutan.
Sementara di tepi pantai, bunda Cakra tetap duduk lemas di tempatnya.
Menatap laut yang sama.
Menunggu sesuatu yang tak kunjung datang.
Hingga detik-detik terakhir ketika harapan nyaris benar-benar padam, salah satu robot bawah laut milik tim Rusia menangkap sesuatu yang ganjil di layar sonar. Bukan sinyal besar. Bukan bentuk mencolok. Hanya sebuah ketidakteraturan kecil di sisi palung dangkal, tak jauh dari titik terakhir Cakra diduga terseret arus. Sebuah celah sempit, nyaris seperti kesalahan pembacaan. Kedalamannya berada di kisaran empat puluh meter di bawah permukaan laut, masih dalam batas aman bagi robot pencarian dan penyelaman teknis.
Celah itu hampir saja diabaikan.
Namun setelah pemindaian ulang, bentuknya perlahan menguat. Menyerupai mulut gua kecil yang tersembunyi di antara lipatan batu kapur yang telah lama digerus arus. Dalam catatan awal, struktur tersebut tampak wajar. Retakan alami khas kawasan pesisir berkarang seperti Parangtritis. Tidak ada jejak runtuhan besar. Tidak ada bekas ledakan. Tidak ada tanda campur tangan manusia. Segalanya terlihat seperti hasil kerja waktu dan air asin semata.
Robot itu kemudian meluncur masuk. Meluncur dengan harapan, membawa satu kemungkinan yang selama ini mereka tunggu.
Bahwa Cakra, akhirnya, telah ditemukan.
Other Stories
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
Terlupakan
Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...
Just Open Your Heart
Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...
Osaka Meet You
Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...
Devils Bait
Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...
Nyanyian Hati Seruni
Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...