Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 65 - Dua Detik Terakhir

Pertanyaan itu tidaklah lahir dari sekadar rasa ingin tahu. Saljiva tidak ingin Cakra berakhir sebagai objek, apa pun hasil analisisnya nanti. Ia masih menyimpan harapan tipis bahwa Raja Rumoino dan pusat kekuasaan yang dipimpin Perdana Menteri Kilatuilom akan menolak rencana Rumsun mentah-mentah.

Mynhemeni tidak langsung menjawab. Ia memalingkan wajah, menatap dinding bercahaya putih yang berkilau lembut, seperti lapisan mutiara raksasa.

“Kakak sudah memikirkan itu,” katanya akhirnya.

“Kalau memang kenyataannya seperti itu, Kakak akan langsung menteleportasi anak itu ke tempat asalnya. Rencana itu sudah ada jauh sebelum Kakak mengetahui niat Rumsun. Saat ini, rencana itu justru menjadi solusi paling masuk akal. Untungnya, sejak awal tugas ini dilimpahkan pada Kakak. Kalian tahu artinya, kan?” Ia menoleh pada Saljiva, lalu pada Georu. Tak perlu penjelasan lebih lanjut. Keduanya segera mengerti.

Itu berarti sanvar tahanan yang dikenakan Cakra sepenuhnya berada di bawah kendali Mynhemeni. Ia bebas mengutak-atik sistemnya tanpa perlu menautkannya kembali ke Nivar Sanvar Cakra yang berada di Alpam khusus, di dalam gedung pusat pemerintahan Distrik Nor.

“Banyak manusia darat yang mencarinya. Orang tuanya…” Suaranya sedikit melunak.

“Mereka terlihat sangat menderita. Kakak melihatnya sendiri. Kalian juga menyaksikannya.” Ia menarik napas pelan sebelum melanjutkan.

“Sejak saat itu, Kakak mulai menyusun rencana. Jika Cakra terbukti bukan ancaman, Kakak akan mengembalikannya ke daratan. Ia akan ditemukan secara alami, muncul di dalam gua palung tak jauh dari tempat ia pertama kali tersangkut. Gua itu akan Kakak buat menanjak. Mereka akan menemukannya di sana.”

Nada suaranya mengeras perlahan.

“Kakak tidak menyangka rencana itu justru harus digunakan karena niat Rumsun terhadapnya. Anak itu harus pulang ke rumahnya. Ada orang-orang di daratan yang menunggunya.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang kini sepenuhnya tegas, tanpa sisa keraguan.

“Itulah salah satu alasan Kakak menentang rencana Rumsun sejak awal.”

Mynhemeni kembali berhenti. Menoleh sekali lagi pada Saljiva dan Georu. Perlahan.

“Setelah itu, Kakak akan menghapus ingatannya.”

Keheningan jatuh di antara mereka, berat namun terkendali. Mynhemeni melanjutkan, suaranya stabil, seolah sedang menyusun sesuatu yang sudah lama dipikirkan.

“Bukan hanya ingatan Cakra. Ingatan kita tentang proses teleportasi itu juga akan kakak hapus. Sanvar tahanan tetap akan berada di tubuhnya. Sengaja.”

Georu mengernyit tipis, tapi tidak menyela.

“Mode penyamaran akan Kakak aktifkan,” lanjut Mynhemeni.

“Agar bangsa kita tidak bisa menemukannya. Fungsi lain akan kakak nonaktifkan. Dia tidak akan sadar bahwa dia masih menggunakan Sanvar tahanan. Dan bangsa kita,” ia menegaskan, “tidak akan pernah bisa melacaknya.”

“Oke,” ujar Georu akhirnya.

“Aku setuju. Semoga saja kita tidak mendapat masalah besar karena menyembunyikannya.”

Mynhemeni tersenyum tipis.

“Masalah pasti ada. Paling-paling kita akan terus diinterogasi sampai Rumsun lelah sendiri.” Ia mengangkat bahu ringan.

“Dan pada akhirnya, terpaksa merelakan anak itu pergi.”

Tiba-tiba, sebuah suara memecah percakapan.

“Hei… apakah aku harus begini terus?” Cakra menggerakkan kepalanya sedikit. Ia sudah lama berbaring, tidak merasakan apa pun, tidak sakit, tidak kebas, hanya kosong.

Ia bahkan sudah bersiap jika tubuhnya kembali kaku seperti sebelumnya. Suaranya yang tiba-tiba itu membuat mereka semua tersentak, seolah gelombang tak terduga menghantam ruang hening tersebut.

“Sebentar lagi,” jawab Saljiva sambil mengedipkan mata. Dari balik kelopak matanya, muncul bola kecil berwarna hijau yang melayang pelan sebelum menyatu ke dalam komponen transparan yang dibawa Georu.

Permukaannya berdenyut halus, seperti organisme hidup yang baru saja terbangun.

“Oh. Kirain sudah mulai,” gerutu Cakra. “Kalian dari tadi cuma diam.”

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sejak beberapa saat lalu, nasibnya sedang dibahas tanpa satu kata pun terucap. Percakapan itu mengalir sunyi lewat svalin, cepat dan padat, tepat di atas kepalanya.

“Kamu sudah siap?” tanya Saljiva, tetap fokus, sama sekali tidak menanggapi rengekan itu.

“Siap,” jawab Cakra singkat. Ia kembali berbaring, menatap langit-langit kapsul yang berkilau seperti cangkang mutiara raksasa.

Penutup kapsul kembali terbuka, dan cahaya menghujaninya sekali lagi. Kali ini bukan biru. Sinar hijau kekuningan memancar turun, warnanya menyerupai bola tenis yang terlalu lama terendam air laut. Begitu cahaya itu menyentuh mata Cakra, tubuhnya langsung menegang.

Rasa sakitnya datang tanpa aba-aba.

Bukan sekadar panas atau dingin, melainkan sensasi seperti ribuan jarum tipis yang menyusup bersamaan ke setiap pori kulitnya. Wajahnya seketika pucat. Napasnya tersendat. Ia ingin berteriak, ingin menggeliat, tapi tubuhnya terkunci rapat. Rahangnya tak bisa bergerak. Bahkan kelopak matanya terasa seolah dijahit oleh cahaya itu sendiri.

Rasa ini jauh lebih kejam dibanding sinar biru sebelumnya.

Anehnya, meski sorotan itu hanya bertahan kurang dari dua detik, waktu terasa memanjang dengan cara yang kejam. Setiap detik seperti diperas, dipelintir, lalu dipaksa lewat tubuhnya perlahan.

Begitu cahaya itu padam, Saljiva hampir melompat dari tempatnya.

“Kak. Anak itu aman,” ungkapnya dengan nada yang nyaris bergetar karena lega.

“Tidak ada ancaman apa pun di dalam dirinya.”

Ia menahan diri dengan sempurna, tetap mengirimkan kalimat itu lewat jalur komunikasi antisadap, langsung ke Mynhemeni dan Georu. Tidak ada satu pun kata yang lolos ke udara.

“Syukurlah,” balas Mynhemeni cepat. Kelegaan itu terasa bahkan tanpa suara.

“Transfer semua hasilnya ke aku dan Georu.” Cakra menarik napas panjang begitu kendali atas tubuhnya kembali. Ia bangkit setengah duduk, tangannya refleks menyentuh wajah sendiri, memastikan semuanya masih utuh.

“Sumpah,” katanya dengan suara serak, “yang ini lebih sakit dari tadi. Apa sudah selesai?”

“Untuk tahap ini, iya,” jawab Mynhemeni sambil memberi isyarat agar Cakra kembali berbaring. Nada suaranya tetap tenang, namun sorot matanya dipenuhi perhitungan.

“Selanjutnya, kami akan menganalisis kekuatanmu.”

Cakra menelan ludah, lalu menurut. Di dalam kapsul bercahaya itu, ia tak menyadari bahwa satu jawaban sederhana baru saja telah menggeser arah hidupnya sepenuhnya.

Sementara di Anap, satu misteri akhirnya menemukan ujungnya. Namun jawaban itu tidak berhenti di sana. Di Distrik Nor, misteri lain menunggu untuk disingkap, kali ini di hadapan mereka yang berkuasa.

Tak lama setelah seluruh pasukan keamanan tingkat tinggi berkumpul, Thungsiruv dan Rumsun muncul di balai pertemuan utama melalui teleportasi. Cahaya menyerupai air yang terlipat membuka diri sejenak, lalu menutup kembali, meninggalkan keduanya berdiri di tengah ruangan. Mereka datang setelah memastikan Huji telah kembali ke Istana ibu kota Porkah.

Waktu mereka terbatas. Anak itu harus dikurung kembali, dan semakin cepat, semakin baik.

“Tolong rahasiakan ini dari Raja dan pusat,” ujar Thungsiruv, nadanya terjaga namun tegang.

“Kami akan melaporkan secara resmi setelah status anak itu dipastikan.” Huji sempat hendak menolak. Mustahil menyembunyikan sesuatu sebesar ini dari suaminya, terlebih ia adalah Raja bangsa Porkah. Namun sebelum ia sempat berbicara, Rumsun mengangkat tangan sedikit. Sebuah isyarat kecil, nyaris tak terlihat, namun cukup jelas baginya.

Sang Ratu terdiam. Lalu mengangguk pelan.

Rumsun tersenyum. Dalam pikirannya, rencana itu jauh lebih rapi jika Raja mengetahui semuanya langsung darinya. Bukan sekarang. Belum.

“Seperti yang kalian lihat,” kata Thungsiruv kepada seluruh pasukan yang telah memenuhi ruangan.

“Anak itu berada di Anap. Kita akan berteleportasi bersama-sama.”

Ia mengaktifkan layar data di udara, menampilkan koordinat dan identitas target.

“Kami sudah menghubungi Wakil Ketua Distrik Anap, Juyhok. Beliau menyetujui kedatangan kita secara serentak di kediamannya.”

Thungsiruv bahkan sempat menghubungi besannya secara pribadi, meminta izin untuk melakukan penyergapan paksa. Penolakan awal langsung menguap begitu panggilan itu diambil alih oleh Ratu. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada penundaan. Mereka hanya diminta melanjutkan pekerjaan di Saturnus, seolah rumah mereka akan tetap utuh saat kembali.

“Kita teleportasi bersama,” ujar Thungsiruv.

Suaranya mengeras.

“Sekarang.”

Tubuhnya menghilang lebih dulu, larut ke dalam lipatan cahaya. Satu per satu, seluruh pasukan mengikuti. Ruang balai pertemuan utama kosong kembali dalam hitungan detik.

Rumsun adalah yang terakhir menghilang.

Senyum lebarnya tertinggal sepersekian detik lebih lama dari yang lain.

Ia sudah bisa membayangkannya.

Cakra, sepenuhnya berada dalam genggamannya.

Dalam sekejap, mereka semua sudah berpindah tempat.

Seandainya Thungsiruv dan pasukannya tiba dua detik lebih lambat. Hanya dua detik saja. Mungkin asal-usul kekuatan Cakra sudah terbuka sepenuhnya, tersusun rapi sebelum kebenaran itu kembali terkubur.

Namun waktu tidak pernah memberi kelonggaran.

Saat Thungsiruv mengeluarkan perintah penyergapan serempak di balai utama Gedung Pusat Pemerintahan Distrik Nor, di tempat lain, di ruang kerja pribadi Ketua dan Wakil Ketua Distrik Anap, segalanya justru bergerak sesuai rencana awal.

Mynhemeni memberi isyarat agar Cakra kembali berbaring. Permukaan kapsul analisis berkilau lembut, seperti lantai batu putih yang diterpa cahaya matahari di daratan, meski di sekelilingnya arus laut bergerak tenang tanpa suara.

“Proses tahap berikutnya akan segera dimulai,” ucapnya pelan.

Begitu Cakra kembali ke posisinya, Mynhemeni menatapnya lekat. Tatapan seorang komandan yang tahu ia sedang mempertaruhkan segalanya.

“Kamu sudah siap mengetahui dari mana kekuatanmu berasal?”

Cakra tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang dan dalam, membiarkan dadanya mengembang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia menenangkan diri, menanamkan keyakinan bahwa semua ini perlu. Bahwa ini aman. Bahwa ini adalah harga kecil demi dunia yang lebih besar. Wajah kedua orang tuanya melintas di benaknya. Aneh rasanya, tidak ada lagi rasa perih. Yang ada justru kehangatan. Ia yakin mereka akan bangga.

“Bagaimana?” suara Mynhemeni terdengar lagi. Lebih lembut, tapi tak kalah mendesak.

“Kamu siap?”

“Siap,” jawab Cakra mantap. Tidak ada keraguan dalam suaranya.

Mynhemeni menoleh ke arah Saljiva. Isyarat itu jelas. Namun tepat saat Saljiva hendak memulai pembedahan analisis, ruangan itu seketika berubah.

Pasukan Distrik Nor muncul dari segala arah. Seragam tempur bercahaya memenuhi ruang kerja yang sebelumnya hening. Rumsun berdiri di barisan depan, di samping Thungsiruv, wajah mereka dingin dan penuh kendali.

Semua membeku.

Saljiva tersentak. Georu refleks memeluk kapsul analisis tempat Cakra berbaring. Kebingungan terpancar jelas dari wajahnya. Mynhemeni hanya mengedipkan mata sekali. Tidak lebih.

Perintah itu langsung mengalir ke Sanvarnya.

Cakra yang baru saja hendak bangkit dari kapsul seketika lenyap. Tidak ada kilatan besar. Tidak ada suara. Ia menghilang begitu saja, seolah ruangan itu tak pernah menampung keberadaannya.

Dalam satu detik yang sama, Cakra telah berpindah. Kembali ke daratan. Kembali ke Parangtritis. Ke dunia yang menganggapnya telah mati.

Bersamaan dengan itu, ingatan Mynhemeni tentang tindakannya sendiri terhapus. Hilang tanpa sisa. Ingatan Saljiva dan Georu tentang teleportasi itu ikut lenyap, bahkan sebelum sempat dipahami. Kenangan tentang pertemuan Cakra dengan orang tuanya pun lenyap dari benak mereka, menyisakan hanya potongan peristiwa tak berarti selama perjalanan di dalam jet anti sadap.

Namun pengorbanan itu tidak berhenti di situ.

Mynhemeni juga telah menghapus seluruh ingatan Cakra tentang negeri Porkah. Tentang bangsa bawah laut. Tentang pelarian, pertarungan, dan kebenaran yang nyaris terungkap. Bahkan bayangan Kapten Rihum saat tubuhnya terombang-ambing di lautan ikut terkikis dari pikirannya.

Kini, di dunia manusia, lokasi hanyutnya Cakra sedang gempar. Mynhemeni telah menempatkannya tepat di titik yang ia inginkan, tak jauh dari tempat ombak pertama kali menyeretnya. Sanvar tahanan di tubuh Cakra aktif, mengaktifkan mode penyamaran dalam radius seratus kilometer. Sistem itu langsung bekerja setiap kali keberadaan bangsa Porkah terdeteksi.

Tak satu pun dari mereka akan menemukannya dengan mudah.

“Ke mana anak itu pergi?” suara Rumsun pecah, kaget, ketika matanya tertuju pada kapsul kosong yang beberapa detik lalu masih berisi Cakra.

Tak ada yang menjawab. Dan di saat itulah, takdir memilih jalannya sendiri.

Other Stories
Kau Bisa Bahagia

Airin Septiana terlahir sebagai wanita penyandang disabilitas. Meski keadaannya demikian, ...

Losmen Kembang Kuning

Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...

Don't Touch Me

Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...

Hikayat Cinta

Irna tumbuh dalam keyakinan bahwa cinta adalah sesuatu yang harus ditemukan—pada seseora ...

O

o ...

Cinta Dibalik Rasa

Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...

Download Titik & Koma