Satu - Kebetulan Yang Disengaja?
Pukul dua lima puluh lima sore, selalu punya caranya sendiri memijit urat lelah manusia. Udara yang perlahan mendingin memberi ruang napas bagi para pekerja yang sedari pagi menekuk wajah demi sesuap nasi. Di sana-sini wajah lelah mencoba tersenyum. Menyingkirkan nestapa yang menumpuk sejak mentari menyambut. Mungkin karena tahu waktu pulang hampir tiba. Atau setidaknya, itu yang mereka yakini.
Tapi tidak bagi Sekar.
Ia sudah tak berdaya untuk sekedar menarik bibirnya.
Setelah hampir dua puluh dua jam terjaga.
Sejak awal ia tahu risiko profesi yang diidam-idamkannya ini: tak ada lagi definisi pagi atau malam yang baku, tak ada pekan yang selalu lapang. Esok hari, waktu yang sama bisa saja tiba baru di kantor. Lusa malam mungkin baru bersiap kerja. Atau saat sekarang ini, mayoritas orang dalam radius dua ratus kilometer dalam keadaan dengan segar, menyambut pulang kerja. Sekar justru menapaki taraf terendah sebagai manusia, lebih mirip zombie. Bukan zombie haus darah yang mengincar manusia bernapas, melainkan mayat hidup yang hanya ingin memangsa kasur empat kaki berseprai putih, bersembunyi di balik kain lembut.
Sekar bahkan tak peduli teriakan tetangga kosnya yang kesal saat pagar tidak ia tutup. Atau, pada mochi, kucing kampung yang sedikit terpapar ras asing, mendesis saat ekornya diinjak zombie imitasi tersebut. Atau saat mendapati hordennya masih tersingkap, membuat matahari tak segan menampar wajahnya. Atau bahkan, ketika meteor jatuh di atap kosnya. Sekar acuh, metabolisme tubuhnya sudah malas memproduksi energi tambahan.
Yang penting baginya sampai kasur, yang berjarak tiga meter lagi.
Ia juga tidak peduli pada pintu kamarnya yang tidak tertutup rapat. Lagipula, siapa yang akan berbuat jahat padanya? Rumah kos itu terlalu menyedihkan. Bahkan pencuri pun mungkin akan melewatkannya, tak sanggup menambah duka.
Begitu tubuhnya rebah, sekilas tampak garis senyum mengambang, hampir menenggelamkan bibir tipis atasnya yang bergelombang . Dalam hati ia merasa sudah merdeka. Baru saja hendak menggapai tahap dua non-REM, seketika dadanya tiba-tiba berdenyut cepat. Memompa darah liar sampai ke pelipis.
Matanya terbuka lebar. Wajahnya menegang, kepalanya bergerak kecil, putar kanan, putar kiri, putar kanan lagi. Tak beraturan. Setidaknya selama tiga detik, disusul jeda. Lalu, Sekar menutup mata kembali. Menyadari kesadarannya sekonyon-konyong terpanggil.
Ponselnya terlalu santun untuk sekadar bergetar, gawai itu menjerit lantang di ujung ranjang. Akan tetapi, keinginan Sekar tak sampai untuk meraih dan membunuh akar pengusik tidurya. Ia memilih menjadi tuli. Sugesti pada otaknya: sunyi, tak ada dering. Tapi usaha itu percuma. Tubuhnya masih terpasung di tepi sadar, dan ponselnya terus meraung, makin pongah.
Dengan setengah putus asa, disusul tarikkan napas panjang dan helaan berat, Sekar mengait ransel coklat di dekat paha kirinya, menggunakan kaki kirinya pula. Setelah beberapa kali menendang dan menyeret, barulah tas itu teraih. Tangannya masuk, meraba dalam gelap. Ia sungguh tidak dapat membuka mata sampai menemukan si biang ribut. Sedikit memicing, Sekar menemukan nama “Si Bos” terpampang jelas di layar.
Ia menjawab dengan napas tak beraturan, siap mendengar kabar apa lagi yang datang. “Sorry... tapi ini mendesak banget. Kamu sekarang juga ke Polda! Tersangka kasus pembunuhannya Sherly ketangkep!” Seketika adrenalinnya menari. Mayat hidup itu pun seolah disulap kembali bernyawa. Matanya melotot, senyumnya tercetak. Zombie itu musnah
“Aku udah share loc. Cuma kamu yang bisa ke sana. Si Baim masih sakit, Dian sama Ipul lagi fokus sama perampokan massal di Sampit. Roni OTW ke sana. Kamu buruan, kalo bisa nanti on cam ya!”
Tak perlu menunggu jawaban.
Sekar langsung bangkit, menyambar tas, tak peduli rambut panjangnya makin mengembang acak—tiga hari tak kena sampo. Wajah kusamnya memperlihatkan garis-garis usia yang seharusnya belum dia miliki. Bibir merahnya sudah nyaris hilang, digantikan debu putih entah bekas apa, di pinggir mulut. Matanya besar, alis tebalnya menukik; kantung matanya jelas menandakan dia sudah terlalu lama terjaga.
Sekar memarkir motor matic-nya tepat saat rombongan mobil patroli masuk halaman Polda. Sekar memicingkan mata. Pohon Tanjung itu, dengan tajuknya yang bertumpuk seperti payung, rupanya tak sanggup menahan cahaya matahari yang masih tekun menyala lembut di ujung barat langit.
Pandangan Sekar beralih, saat gerombolan haus cerita menyerbu mobil patroli. Mesin-mesin kamera hidup, suara perekam mengaum. Langkah kaki serentak tak beraturan menggema. Sekar menyesap adrenalin itu. Denyut kecil yang selalu membuatnya hidup. Ia melihat Roni di antara kerumunan, barisan paling belakang, tergopoh menyodorkan kamera. Sekar langsung menarik lengannya, mendorong maju hingga berada paling depan, tepat saat pintu mobil terbuka dan suara teriakan mulai pecah.
Semua terjadi singkat.
Wawancara kilat, jumpa pers kecil, tangkap-tangkap gambar. Secepat itu, ia bahkan tidak sadar akan prosesnya. Ia hanya sadar tubuhnya terlanjur segar, tapi pikirannya terlalu riuh untuk berada sendirian di kamar kos. Setelah serangkaian kasus Sherly, kamarnya terasa kurang bersahabat. Kamar kos yang seharusnya menjadi sarang paling aman bagi seorang perantau, malah menjadi terror baru bagi Sekar.
Maka ia singgah di kafe favoritnya, menepi di dekat jendela kaca besar. Bersandar di sofa empuk dengan sandaran sampai kepala. Menggenggam secangkir Americano panas dengan kedua tangan. Sudah cukup untuk meremajakan psikisnya. Dari situ, matanya lekat memandang jalan bersapal yang sepi, tak ada satu pun sinar lampu dari kendaraan lewat sejak ia duduk. Hanya pantulan sinar temaram lampu kota, di ujung aspal. Di baliknya, ujung rumput berupaya intip, ingin menarik pehatikan Sekar. Ia pun terpaku padanya. Lagi-lagi memikirikan Sherly, sebagian tubuhnya ditemukan ditepi lintasan.
“Hey!” Suara mengiris hening seperti pisau tipis, membawa Sekar dari lamunan. Ia mengangkat wajah, sedikit mengernyit, menatap laki-laki seusianya—begitu pikirnya—berdiri di samping meja. Tangan kiri Sekar lepas dari cangkir, mengarah ke dadanya, sementara tangan kanan masih menggengamnya.
“Iya, aku Arya,” ujar laki-laki itu santai, mencondongkan badan dan mengulurkan tangan. Tak tahu kehadirannya tak diharapkan.
“Maaf, saya sedang tidak ingin diganggu,” Sekar menimpali cepat, membuang muka.
“Hmmm... oke, maaf kalau ganggu.” Arya mundur beberapa langkah. Membalikkan badan, melangak jauh tanpa menolah. Semenit berikutnya, keheningan kembali memeluk Sekar, dan ia pun larut lagi dalam aliran kafein. Menatap tepi jalan, mencari pucuk rumput.
Berusaha menyingkirkan bayangan Sherly.
***
Kabar gembira bagi Sekar menyambut bulan baru. Kasus Sherly akhirnya ditutup. Terdakwa divonis penjara seumur hidup. Sekar melaporkan langsung di depan kamera, menutup kalimatnya dengan senyum lega yang tak benar-benar sampai ke mata. Ia yakin, Sherly masih ingin hidup.
“...atas pembunuhan tersebut terdakwa dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Sekar Diajeng Wardani melaporkan!”
Usai siaran, ia berjalan menuju Roni. Namun langkahnya terhenti saat seseorang menabraknya ringan. Ketika ia ingin menegur, orang itu cepat-cepat menunduk, mengangguk kecil sebagai permintaan maaf, lalu menghilang ke arah parkiran.
“Kamu nggak papa?” tanya Roni. Sekar hanya menggeleng, pandangan matanya belum lepas dari punggung lelaki itu. “Kamu kenal?” lanjutnya, tangannya sibuk merapikan perkakas siaran, wajahnya sesekali berpaling ke arah Sekar yang berjalan ke arahnya, tetapi pandangannya bertolak.
“Itu cowok yang kemarin aku cerita,” bisiknya.
Saat Roni mengintip, pria itu sudah hilang dari pandangan, “Yang ngajak kenalan di Dacha?” Sekar mengangguk, pelan.
“Cakep lho Dan! Tapi ya... percuma lah, paling juga bakalan nyerah sama kamu.” Roni terkikik, memasukkan tripodnya, perkakas terakhir.
“Aaaasem... udah dibilang —”
“Bukan kamu yang bermasalah, tapi mereka aja yang nggak tahu diri... Iya iya, tauk! Udah yuk cabut.”
Mereka meninggalkan gedung pengadilan. Kasus Sherly resmi tinggal sejarah.
***
Kalau ada yang paling sulit dari tinggal sendiri, bagi Sekar, itu bukan soal kesepian. Bukan juga rasa takut. Tapi rasa malas. Malas memikirkan apa pun selain tugasnya sebagai reporter. Malas merawat diri. Malas memesan makan. Malas mencuci. Malas beres-beres. Namun semalas-malasnya Sekar, ia tak mau lagi ditolak masuk kantor hanya karena lupa mencuci seragam. Hari Senin adalah hari seragam. Tak patuh berarti tak boleh menjejakkan kaki di kantor—potong gaji, reputasi tercoreng.
Ia pernah mengalaminya.
Seragamnya belum siap, meski sudah lewat empat hari saat ia datang ke tempat laundry andalannya, padahal janjinya dua hari. Sejak itu, ia memaksakan satu kebiasaan dalam hidupnya yang kacau: setiap hari Minggu, bagaimanapun caranya, harus ke laundry self-service 24 jam. Jam berapapun itu. Itulah satu-satunya pegangan rutinitas yang ia miliki, supaya masih bisa merasa normal.
Seperti malam ini, atau lebih tepatnya dini hari pukul dua. Sekar melaju dengan motor, di bawah cahaya bulan yang menumpuk bersama lampu jalan. Menuju tempat laundry self-service 24 jam yang sudah seperti sahabatnya sendiri. Selalu ia datangi, pada jam tak tentu di hari Minggu.
Begitu masuk, Sekar langsung membuka mesin, menjejalkan pakaian kotor, menempelkan kartunya, mesin pun bekerja. Cukup menguntungkan datang di pagi buta seperti ini, ia tak perlu antre. Hanya ada satu mesin cuci, selain yang dipakai Sekar, yang ikut bergadang.
Angka digital memintanya menunggu tiga puluh menit. Sekar berjalan mundur menuju bangku, tak jauh di hadapan mesin cuci. Hanya berjarak sepuluh langkah. Tercium aroma deterjen di setiap langkahnya.
Menyengat, namun candu.
Sekar menyukai aroma sahabatnya itu, sampai-sampai ia tak menyadari. Sedari ia masuk, sepasang mata mengamatinya. Hingga ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi panjang, mata itu tak juga berpaling. Sampai akhirnya Sekar merasa ada yang aneh.
Tangan kanannya berhenti, saat berhasil masuk ke dalam kantong jaketnya. Sudah menyentuh ponsel. Tapi tidak jadi, justru bergerak keluar tanpanya. Ia menoleh, pandangan mereka bertemu. Ada jeda sunyi, Sekar hanya memiringkan kepala, bingung.
“Ketemu lagi,” suara familiar baginya, terdengar sedikit semangat. Sekar hanya mengernyitkan dahi, menyipitkan mata. “Aku sempet nggak yakin kalau itu kamu,” lanjut Arya, memperbaiki duduk hanya berjarak satu bangku kosong dari Sekar. Tak terusik akan pancaran mata Sekar yang curiga. Sedangkan gadis itu, refleks ikut mengatur posisi duduk. Membiarkan jarak tetap terbentang. Ia memperhatikan lelaki itu dengan hati-hati.
“Wah, nggak nyangka kita ketemu di sini. Pertemuan pertama, memang aku sengaja nyamperin kamu," senyuman Arya mengiringi setiap kata yang terucap. "Tapi ini? Kita dipertemukan. Kalau sampai ketemu lagi tanpa sengaja, berarti kita jodoh nih.” kepala Arya megangguk tegas, meyakinan Sekar.
Sekar mendecak kecil. “Kamu yakin ini pertemuan kedua?” Kedua tangannya menyilang di dada. Tak suka dirinya terganggu. Menoleh padanya tajam. Tak teryakinkan.
“Lho? Emang ada lagi?” senyuman cerah membalut wajah Arya hilang. Alis membentuk segitiga canggung terangkat tinggi. Tubuhnya bergerak lembut, menutupi hatinya yang gelisah.
“Kamu... beberapa hari lalu... Di pengadilan... Ah sudahlah,” Sekar meracau, berpaling kembali ke mesin cucinya. Arya mengerutkan alis, lalu seolah lampu menyala di kepalanya.
“Oooh iya! Baru ngeh! Wah, fix ini mah jodoh.” Ia mencodongkan badan, senyumnya melebar, nada suaranya dibuat setengah serius tapi setengah menggoda.
Sekar menoleh pad Arya, menarik bibir kirinya, melebarkan matanya, “Mas-nya, nge-Drakor?” gumam Sekar hambar. Matanya menyipit menahan geli, cenderung ilfeel. Kemudian, membuang muka.
Arya tak mundur. Ia menyandarkan satu tangan ke atas bangku, posturnya santai, sok dramatis. “Bisa banget! Plotnya random, tapi karena kamu, jadi makin hidup..” Nadanya ringan, tapi matanya jelas menantang. Seolah menikmati betul ketusnya Sekar.
Sekar mendesah, berat, seperti menahan tumpukan kesabaran yang mulai rontok.
“Begini, Mister...?” Ia menoleh lagi pada Arya.
“Arya,” ucapnya penuh percaya diri. Yakin namanya sudah cukup mewakilkan segala pesona.
“Oh iya, Mister Arya!" Sekar kembali tertuju pada mesin cucinya. "Pertama, kita tinggal di kota yang sama, jadi peluang untuk bertemu sesekali itu wajar. Kedua, saya tidak percaya dengan yang namanya jodoh tanpa adanya proses. Apalagi sama orang yang tidak saling kenal.” Ujung matanya memancarkan pertahanan diri.
“Makanya kenalan. Arya Alvaro.” Tangannya terulur ke depan mata Sekar. Menggantung di udara, goyah menunggu disambut.
Sekar menatapnya malas. “Saya nggak ada alasan kenalan sama Anda.”
“Lho, apa salahnya? Nambah kenalan, kan nambah peluang jodoh!” Tangannya tumbang juga. Bola mata Sekar menari, kemudian melirik layar mesin cuci.
Angka dua puluh tujuh tertera.
“Kamu ngikutin aku ya?” serang Sekar tak memedulikan argumen Arya.
“Hah? Ngikutin kamu?”
“Lumayan langka lho. Bisa ketemu orang yang sama di tempat beda, waktu berdekatan, kota segede ini.” Arya cuma menunjuk ke mesin cuci lainnya. Dua deret dari mesin cuci Sekar. Angka enam belas di layarnya berkedip.
“Oke! Kenapa tiba-tiba ngomongin jodoh? Mas-nya kebelet nikah ya?”
Arya malah tertawa lepas. “Jodoh tuh nggak mesti tentang asmara. Bisa aja tepat dijadikan teman, sahabat, relasi. Lagian aku tadi cuma becanda.”
“Trus?”
“Menurutku, kenalan sama orang asing tuh nambah pengalaman, wawasan, link." Arya kembali bergerak, alisnya terangkat, bibirnya ditarik. Merasa teorinya keren. Setelah jeda, ia melanjutkan, "Tau nggak, peluang dapat kerja atau proyek dari relasi itu lebih gede daripada nyari sendiri?”
Sekar mengangguk, sorot matanya tak menolak kenyataan. “Hmmm... kamu ada benarnya.”
“So...” Arya kembali mengulurkan tangan. Sekar meliriknya sejenak, sebelum akhirnya menyambut.
“Dani.”
“Dani...?”
“Sekar Diajeng Wardani.”
Arya tersenyum, menyingkap gigi rapi, bibirnya menebal, rahangnya sedikit oval. Sekar buru-buru menarik tangannya lagi.
“Salam kenal Dani. Semoga kita berjodoh, dalam arti apa pun,” katanya.
Tapi tidak bagi Sekar.
Ia sudah tak berdaya untuk sekedar menarik bibirnya.
Setelah hampir dua puluh dua jam terjaga.
Sejak awal ia tahu risiko profesi yang diidam-idamkannya ini: tak ada lagi definisi pagi atau malam yang baku, tak ada pekan yang selalu lapang. Esok hari, waktu yang sama bisa saja tiba baru di kantor. Lusa malam mungkin baru bersiap kerja. Atau saat sekarang ini, mayoritas orang dalam radius dua ratus kilometer dalam keadaan dengan segar, menyambut pulang kerja. Sekar justru menapaki taraf terendah sebagai manusia, lebih mirip zombie. Bukan zombie haus darah yang mengincar manusia bernapas, melainkan mayat hidup yang hanya ingin memangsa kasur empat kaki berseprai putih, bersembunyi di balik kain lembut.
Sekar bahkan tak peduli teriakan tetangga kosnya yang kesal saat pagar tidak ia tutup. Atau, pada mochi, kucing kampung yang sedikit terpapar ras asing, mendesis saat ekornya diinjak zombie imitasi tersebut. Atau saat mendapati hordennya masih tersingkap, membuat matahari tak segan menampar wajahnya. Atau bahkan, ketika meteor jatuh di atap kosnya. Sekar acuh, metabolisme tubuhnya sudah malas memproduksi energi tambahan.
Yang penting baginya sampai kasur, yang berjarak tiga meter lagi.
Ia juga tidak peduli pada pintu kamarnya yang tidak tertutup rapat. Lagipula, siapa yang akan berbuat jahat padanya? Rumah kos itu terlalu menyedihkan. Bahkan pencuri pun mungkin akan melewatkannya, tak sanggup menambah duka.
Begitu tubuhnya rebah, sekilas tampak garis senyum mengambang, hampir menenggelamkan bibir tipis atasnya yang bergelombang . Dalam hati ia merasa sudah merdeka. Baru saja hendak menggapai tahap dua non-REM, seketika dadanya tiba-tiba berdenyut cepat. Memompa darah liar sampai ke pelipis.
Matanya terbuka lebar. Wajahnya menegang, kepalanya bergerak kecil, putar kanan, putar kiri, putar kanan lagi. Tak beraturan. Setidaknya selama tiga detik, disusul jeda. Lalu, Sekar menutup mata kembali. Menyadari kesadarannya sekonyon-konyong terpanggil.
Ponselnya terlalu santun untuk sekadar bergetar, gawai itu menjerit lantang di ujung ranjang. Akan tetapi, keinginan Sekar tak sampai untuk meraih dan membunuh akar pengusik tidurya. Ia memilih menjadi tuli. Sugesti pada otaknya: sunyi, tak ada dering. Tapi usaha itu percuma. Tubuhnya masih terpasung di tepi sadar, dan ponselnya terus meraung, makin pongah.
Dengan setengah putus asa, disusul tarikkan napas panjang dan helaan berat, Sekar mengait ransel coklat di dekat paha kirinya, menggunakan kaki kirinya pula. Setelah beberapa kali menendang dan menyeret, barulah tas itu teraih. Tangannya masuk, meraba dalam gelap. Ia sungguh tidak dapat membuka mata sampai menemukan si biang ribut. Sedikit memicing, Sekar menemukan nama “Si Bos” terpampang jelas di layar.
Ia menjawab dengan napas tak beraturan, siap mendengar kabar apa lagi yang datang. “Sorry... tapi ini mendesak banget. Kamu sekarang juga ke Polda! Tersangka kasus pembunuhannya Sherly ketangkep!” Seketika adrenalinnya menari. Mayat hidup itu pun seolah disulap kembali bernyawa. Matanya melotot, senyumnya tercetak. Zombie itu musnah
“Aku udah share loc. Cuma kamu yang bisa ke sana. Si Baim masih sakit, Dian sama Ipul lagi fokus sama perampokan massal di Sampit. Roni OTW ke sana. Kamu buruan, kalo bisa nanti on cam ya!”
Tak perlu menunggu jawaban.
Sekar langsung bangkit, menyambar tas, tak peduli rambut panjangnya makin mengembang acak—tiga hari tak kena sampo. Wajah kusamnya memperlihatkan garis-garis usia yang seharusnya belum dia miliki. Bibir merahnya sudah nyaris hilang, digantikan debu putih entah bekas apa, di pinggir mulut. Matanya besar, alis tebalnya menukik; kantung matanya jelas menandakan dia sudah terlalu lama terjaga.
Sekar memarkir motor matic-nya tepat saat rombongan mobil patroli masuk halaman Polda. Sekar memicingkan mata. Pohon Tanjung itu, dengan tajuknya yang bertumpuk seperti payung, rupanya tak sanggup menahan cahaya matahari yang masih tekun menyala lembut di ujung barat langit.
Pandangan Sekar beralih, saat gerombolan haus cerita menyerbu mobil patroli. Mesin-mesin kamera hidup, suara perekam mengaum. Langkah kaki serentak tak beraturan menggema. Sekar menyesap adrenalin itu. Denyut kecil yang selalu membuatnya hidup. Ia melihat Roni di antara kerumunan, barisan paling belakang, tergopoh menyodorkan kamera. Sekar langsung menarik lengannya, mendorong maju hingga berada paling depan, tepat saat pintu mobil terbuka dan suara teriakan mulai pecah.
Semua terjadi singkat.
Wawancara kilat, jumpa pers kecil, tangkap-tangkap gambar. Secepat itu, ia bahkan tidak sadar akan prosesnya. Ia hanya sadar tubuhnya terlanjur segar, tapi pikirannya terlalu riuh untuk berada sendirian di kamar kos. Setelah serangkaian kasus Sherly, kamarnya terasa kurang bersahabat. Kamar kos yang seharusnya menjadi sarang paling aman bagi seorang perantau, malah menjadi terror baru bagi Sekar.
Maka ia singgah di kafe favoritnya, menepi di dekat jendela kaca besar. Bersandar di sofa empuk dengan sandaran sampai kepala. Menggenggam secangkir Americano panas dengan kedua tangan. Sudah cukup untuk meremajakan psikisnya. Dari situ, matanya lekat memandang jalan bersapal yang sepi, tak ada satu pun sinar lampu dari kendaraan lewat sejak ia duduk. Hanya pantulan sinar temaram lampu kota, di ujung aspal. Di baliknya, ujung rumput berupaya intip, ingin menarik pehatikan Sekar. Ia pun terpaku padanya. Lagi-lagi memikirikan Sherly, sebagian tubuhnya ditemukan ditepi lintasan.
“Hey!” Suara mengiris hening seperti pisau tipis, membawa Sekar dari lamunan. Ia mengangkat wajah, sedikit mengernyit, menatap laki-laki seusianya—begitu pikirnya—berdiri di samping meja. Tangan kiri Sekar lepas dari cangkir, mengarah ke dadanya, sementara tangan kanan masih menggengamnya.
“Iya, aku Arya,” ujar laki-laki itu santai, mencondongkan badan dan mengulurkan tangan. Tak tahu kehadirannya tak diharapkan.
“Maaf, saya sedang tidak ingin diganggu,” Sekar menimpali cepat, membuang muka.
“Hmmm... oke, maaf kalau ganggu.” Arya mundur beberapa langkah. Membalikkan badan, melangak jauh tanpa menolah. Semenit berikutnya, keheningan kembali memeluk Sekar, dan ia pun larut lagi dalam aliran kafein. Menatap tepi jalan, mencari pucuk rumput.
Berusaha menyingkirkan bayangan Sherly.
***
Kabar gembira bagi Sekar menyambut bulan baru. Kasus Sherly akhirnya ditutup. Terdakwa divonis penjara seumur hidup. Sekar melaporkan langsung di depan kamera, menutup kalimatnya dengan senyum lega yang tak benar-benar sampai ke mata. Ia yakin, Sherly masih ingin hidup.
“...atas pembunuhan tersebut terdakwa dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Sekar Diajeng Wardani melaporkan!”
Usai siaran, ia berjalan menuju Roni. Namun langkahnya terhenti saat seseorang menabraknya ringan. Ketika ia ingin menegur, orang itu cepat-cepat menunduk, mengangguk kecil sebagai permintaan maaf, lalu menghilang ke arah parkiran.
“Kamu nggak papa?” tanya Roni. Sekar hanya menggeleng, pandangan matanya belum lepas dari punggung lelaki itu. “Kamu kenal?” lanjutnya, tangannya sibuk merapikan perkakas siaran, wajahnya sesekali berpaling ke arah Sekar yang berjalan ke arahnya, tetapi pandangannya bertolak.
“Itu cowok yang kemarin aku cerita,” bisiknya.
Saat Roni mengintip, pria itu sudah hilang dari pandangan, “Yang ngajak kenalan di Dacha?” Sekar mengangguk, pelan.
“Cakep lho Dan! Tapi ya... percuma lah, paling juga bakalan nyerah sama kamu.” Roni terkikik, memasukkan tripodnya, perkakas terakhir.
“Aaaasem... udah dibilang —”
“Bukan kamu yang bermasalah, tapi mereka aja yang nggak tahu diri... Iya iya, tauk! Udah yuk cabut.”
Mereka meninggalkan gedung pengadilan. Kasus Sherly resmi tinggal sejarah.
***
Kalau ada yang paling sulit dari tinggal sendiri, bagi Sekar, itu bukan soal kesepian. Bukan juga rasa takut. Tapi rasa malas. Malas memikirkan apa pun selain tugasnya sebagai reporter. Malas merawat diri. Malas memesan makan. Malas mencuci. Malas beres-beres. Namun semalas-malasnya Sekar, ia tak mau lagi ditolak masuk kantor hanya karena lupa mencuci seragam. Hari Senin adalah hari seragam. Tak patuh berarti tak boleh menjejakkan kaki di kantor—potong gaji, reputasi tercoreng.
Ia pernah mengalaminya.
Seragamnya belum siap, meski sudah lewat empat hari saat ia datang ke tempat laundry andalannya, padahal janjinya dua hari. Sejak itu, ia memaksakan satu kebiasaan dalam hidupnya yang kacau: setiap hari Minggu, bagaimanapun caranya, harus ke laundry self-service 24 jam. Jam berapapun itu. Itulah satu-satunya pegangan rutinitas yang ia miliki, supaya masih bisa merasa normal.
Seperti malam ini, atau lebih tepatnya dini hari pukul dua. Sekar melaju dengan motor, di bawah cahaya bulan yang menumpuk bersama lampu jalan. Menuju tempat laundry self-service 24 jam yang sudah seperti sahabatnya sendiri. Selalu ia datangi, pada jam tak tentu di hari Minggu.
Begitu masuk, Sekar langsung membuka mesin, menjejalkan pakaian kotor, menempelkan kartunya, mesin pun bekerja. Cukup menguntungkan datang di pagi buta seperti ini, ia tak perlu antre. Hanya ada satu mesin cuci, selain yang dipakai Sekar, yang ikut bergadang.
Angka digital memintanya menunggu tiga puluh menit. Sekar berjalan mundur menuju bangku, tak jauh di hadapan mesin cuci. Hanya berjarak sepuluh langkah. Tercium aroma deterjen di setiap langkahnya.
Menyengat, namun candu.
Sekar menyukai aroma sahabatnya itu, sampai-sampai ia tak menyadari. Sedari ia masuk, sepasang mata mengamatinya. Hingga ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi panjang, mata itu tak juga berpaling. Sampai akhirnya Sekar merasa ada yang aneh.
Tangan kanannya berhenti, saat berhasil masuk ke dalam kantong jaketnya. Sudah menyentuh ponsel. Tapi tidak jadi, justru bergerak keluar tanpanya. Ia menoleh, pandangan mereka bertemu. Ada jeda sunyi, Sekar hanya memiringkan kepala, bingung.
“Ketemu lagi,” suara familiar baginya, terdengar sedikit semangat. Sekar hanya mengernyitkan dahi, menyipitkan mata. “Aku sempet nggak yakin kalau itu kamu,” lanjut Arya, memperbaiki duduk hanya berjarak satu bangku kosong dari Sekar. Tak terusik akan pancaran mata Sekar yang curiga. Sedangkan gadis itu, refleks ikut mengatur posisi duduk. Membiarkan jarak tetap terbentang. Ia memperhatikan lelaki itu dengan hati-hati.
“Wah, nggak nyangka kita ketemu di sini. Pertemuan pertama, memang aku sengaja nyamperin kamu," senyuman Arya mengiringi setiap kata yang terucap. "Tapi ini? Kita dipertemukan. Kalau sampai ketemu lagi tanpa sengaja, berarti kita jodoh nih.” kepala Arya megangguk tegas, meyakinan Sekar.
Sekar mendecak kecil. “Kamu yakin ini pertemuan kedua?” Kedua tangannya menyilang di dada. Tak suka dirinya terganggu. Menoleh padanya tajam. Tak teryakinkan.
“Lho? Emang ada lagi?” senyuman cerah membalut wajah Arya hilang. Alis membentuk segitiga canggung terangkat tinggi. Tubuhnya bergerak lembut, menutupi hatinya yang gelisah.
“Kamu... beberapa hari lalu... Di pengadilan... Ah sudahlah,” Sekar meracau, berpaling kembali ke mesin cucinya. Arya mengerutkan alis, lalu seolah lampu menyala di kepalanya.
“Oooh iya! Baru ngeh! Wah, fix ini mah jodoh.” Ia mencodongkan badan, senyumnya melebar, nada suaranya dibuat setengah serius tapi setengah menggoda.
Sekar menoleh pad Arya, menarik bibir kirinya, melebarkan matanya, “Mas-nya, nge-Drakor?” gumam Sekar hambar. Matanya menyipit menahan geli, cenderung ilfeel. Kemudian, membuang muka.
Arya tak mundur. Ia menyandarkan satu tangan ke atas bangku, posturnya santai, sok dramatis. “Bisa banget! Plotnya random, tapi karena kamu, jadi makin hidup..” Nadanya ringan, tapi matanya jelas menantang. Seolah menikmati betul ketusnya Sekar.
Sekar mendesah, berat, seperti menahan tumpukan kesabaran yang mulai rontok.
“Begini, Mister...?” Ia menoleh lagi pada Arya.
“Arya,” ucapnya penuh percaya diri. Yakin namanya sudah cukup mewakilkan segala pesona.
“Oh iya, Mister Arya!" Sekar kembali tertuju pada mesin cucinya. "Pertama, kita tinggal di kota yang sama, jadi peluang untuk bertemu sesekali itu wajar. Kedua, saya tidak percaya dengan yang namanya jodoh tanpa adanya proses. Apalagi sama orang yang tidak saling kenal.” Ujung matanya memancarkan pertahanan diri.
“Makanya kenalan. Arya Alvaro.” Tangannya terulur ke depan mata Sekar. Menggantung di udara, goyah menunggu disambut.
Sekar menatapnya malas. “Saya nggak ada alasan kenalan sama Anda.”
“Lho, apa salahnya? Nambah kenalan, kan nambah peluang jodoh!” Tangannya tumbang juga. Bola mata Sekar menari, kemudian melirik layar mesin cuci.
Angka dua puluh tujuh tertera.
“Kamu ngikutin aku ya?” serang Sekar tak memedulikan argumen Arya.
“Hah? Ngikutin kamu?”
“Lumayan langka lho. Bisa ketemu orang yang sama di tempat beda, waktu berdekatan, kota segede ini.” Arya cuma menunjuk ke mesin cuci lainnya. Dua deret dari mesin cuci Sekar. Angka enam belas di layarnya berkedip.
“Oke! Kenapa tiba-tiba ngomongin jodoh? Mas-nya kebelet nikah ya?”
Arya malah tertawa lepas. “Jodoh tuh nggak mesti tentang asmara. Bisa aja tepat dijadikan teman, sahabat, relasi. Lagian aku tadi cuma becanda.”
“Trus?”
“Menurutku, kenalan sama orang asing tuh nambah pengalaman, wawasan, link." Arya kembali bergerak, alisnya terangkat, bibirnya ditarik. Merasa teorinya keren. Setelah jeda, ia melanjutkan, "Tau nggak, peluang dapat kerja atau proyek dari relasi itu lebih gede daripada nyari sendiri?”
Sekar mengangguk, sorot matanya tak menolak kenyataan. “Hmmm... kamu ada benarnya.”
“So...” Arya kembali mengulurkan tangan. Sekar meliriknya sejenak, sebelum akhirnya menyambut.
“Dani.”
“Dani...?”
“Sekar Diajeng Wardani.”
Arya tersenyum, menyingkap gigi rapi, bibirnya menebal, rahangnya sedikit oval. Sekar buru-buru menarik tangannya lagi.
“Salam kenal Dani. Semoga kita berjodoh, dalam arti apa pun,” katanya.
Other Stories
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Melepasmu Untuk Sementara
Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...
Persembahan Cinta
Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...
Kala Cinta Di Dermaga
Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...
Jam Dinding
Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...
Aku Pulang
Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...