Kutukan Yang Kupanggil Cinta

Reads
6
Votes
0
Parts
6
Vote
Report
Kutukan yang Kupanggil Cinta
Kutukan Yang Kupanggil Cinta
Penulis Virdytan

Empat - Memulai Permainan

Sekar mulai merasa tak nyaman dengan tatapan Arya. Tatapan itu terlalu lama singgah, seakan hendak menembus lapisan terdalam dirinya. Padahal, di sisi lain, itu mungkin tatapan paling hangat yang pernah ia dapatkan dari seorang pria. Sayangnya, kehangatan itulah yang justru terasa seperti ancaman, menantang ideologi yang selama ini sudah terpaku di benaknya.

Kalaupun hidup harus menyeretnya menjadi pasangan pria ini suatu hari nanti, Sekar bersumpah pada dirinya sendiri: ia akan memastikan lelaki di hadapannya hanyalah penopang. Tak pernah lebih, tak akan jadi perangkap bagi jiwanya yang enggan lapar cinta.

“Terus, berapa hari kemudian…” Arya melanjutkan, masih menatapnya dengan pandangan itu. Hingga akhirnya, sorot matanya meredup, lalu berpaling.

“Untuk kedua kalinya, aku liat kamu pas aku duduk di sana.” Ia menunjuk ke sebelah kanannya, ke arah sudut di mana tiga remaja laki-laki berseragam sekolah tampak larut dalam ponsel masing-masing. Jarak mereka tak jauh, hanya terpaut sudut. Sekar sempat menoleh, melihat jemari-jemari yang sibuk menari di layar.

Samar terdengar sorak rendah dari bibir mereka. Arya sempat melirik, karena suara-suara itu datang dari permainan daring produksi perusahaannya sendiri.

“Kenapa?” Sekar bertanya, heran melihat Arya terpaku menatap ketiganya.

“Nggak papa… cuma keinget kejadian waktu itu.” Bohongnya terdengar ringan, kemudian ia kembali memutar tubuh menghadap Sekar, membawa tatapan itu lagi.

“Waktu itu kamu kelihatan beda. Kaya orang frustrasi.” Nada Arya merendah, seakan ia benar-benar merasakan perih yang pernah Sekar pikul.

“Tapi kamu nggak nampakin banget. Kamu cuma duduk, merem, dua tangan kamu megang cangkir kayak gini.” Arya bahkan menirukan gaya Sekar waktu itu, menahan sesuatu yang tak bisa gadis itu ceritakan. Momen-momen di mana kasus melibatkan perempuan selalu menjadi hantu paling gelap bagi Sekar. Entah mereka korban, atau pelaku — hatinya selalu jungkir balik.

Melihat Arya menirukan gaya depresinya malah membuat Sekar ingin tertawa.

“Bukan gitu juga kali aku megangnya!” sanggahnya cepat.

“Pesananku aja belum dateng, sih! Nanti liat sendiri, peganganku nggak sekaku itu!” lanjut Sekar, mengejek Arya, pura-pura sebal.

“Ya pokoknya kamu gitu lah. Terus aku liat kamu beberapa kali ngehirup cangkir, tapi nggak diminum. Aku sempet mikir, ini orang ritual apa gimana?” Arya menggoda, mencoba membuat mereka lebih santai.

“Ya enggak lah. Emang kalo lagi banyak pikiran… kebiasaanku ya gitu.” Sekar melipat bibirnya. Ia tak mau Arya lebih jauh menginterogasi pikirannya, jadi buru-buru memotong, “Terus?”

Arya tertawa kecil, lalu memutar badan lagi, menunjuk tempat semula. “Terus, yang ketiga kalinya aku liat kamu dari sana lagi. Kamu lagi ketawa-ketawa sendiri liat hape. Lucu aja. Ngingetin aku, ternyata ini ekspresi lain yang kamu punya. Walau ketawamu nggak sekencang pas pertama kali aku liat kamu, tapi tetep ngundang perhatian orang.”

Arya mencondongkan badan, seolah ingin membisikkan gosip.

“Nih ya, waktu itu banyak cowok yang dateng, terus beberapa kali lirikin kamu.” Nada Arya mendadak ringan, menggosip seolah-olah, membuat Sekar tertawa kecil.

Sekar langsung menghela tawa pendek. “Kamu kaya emak-emak, hobinya ngomongin orang.”

“Tapi beneran!” Arya menatapnya serius, lalu berubah menggoda. “Mungkin kamu udah biasa dilirikin banyak cowok. Jujur, aku juga nyuri-nyuri pandang ke kamu waktu itu. Tapi ya kamu nggak nangkep lirikan kita, cowok-cowok yang terpesona.”

“Iya tau. Terus?” Nadanya tinggi, tak ingin Arya lama-lama bermain rayu.

“Terus yang keempat kalinya… ya pas aku nyamperin kamu itu.” Suara Arya kembali melunak, nadanya bergeser menjadi nyaris prihatin

“Kamu balik lagi kaya orang frustrasi.” Wajah Arya menyiratkan keingintahuan yang Sekar pura-pura tak lihat.

“Jujur aja, aku lebih suka liat kamu pas senyum. Aku yakin, cowok-cowok yang lirikin kamu juga mikir gitu.”

“Ngaco deh, ngapain coba, bawa-bawa cowok lain?” Sekar mengalihkan pandangan, dadanya menegang.

“Sorry. Maksudnya, kamu lebih mempesona kalau ceria. Waktu itu, kamu terlihat sedih banget... aku cuma pengen kenalan, sapa tau bisa bikin kamu ketawa. Aku punya banyak jokes lho.” Arya menegaskan dengan percaya diri.

Ada rasa bersalah yang mengintip hati Sekar. Jarang ada yang fokus untuk menghiburnya. Kebanyakan orang hanya sibuk bertanya kenapa ia sedih. Tapi Arya… Pria itu datang membawa senyum.

Ia tak sadar dirinya tersenyum.

“Kok senyum?”

“Masa kamu bisa nge-jokes? Coba!” Sekar menantang, sengaja meremehkan.

“Dih, nantangin?” Arya pura-pura tersinggung. Ia menegakkan badan.

“Nih, kaamu tau nggak kenapa laut warnanya biru?”

Sekar mengerutkan kening. “Hmm, secara ilmiah sih karena spektrum biru punya energi lebih tinggi, bisa nembus air lebih dalam, warna lain udah abis keserap. Tapi jawabannya bukan itu, kan?”

Arya langsung terkekeh. “Iya lah, itu juga aku tau. Bukan itu!” katanya gemas, menahan tawa.

“Kenapa laut warnanya biru… soalnya ikan-ikan di laut ngomongnya blu blu blu…” Arya hampir tergelak sendiri.

“Dih! Apaan sih… Cringe tau nggak…” Tapi sudut bibirnya tak tahan ikut naik, menahan geli.

“Ketawa aja lagi, nggak usah ditahan!” Arya menggoda. Sekar menepis pandangannya, pipinya terasa panas, entah karena matahari yang menyelip di celah dedaunan atau karena sesuatu yang lain.

“Dih… apaan…” Momen itu buyar ketika pramusaji datang. Arya segera bangkit membantu, mengambilkan pesanan Sekar, lalu miliknya. Sekar hanya menatap, terbungkus rasa kikuk aneh, sebelum akhirnya meneguk minumannya untuk meredam denyut asing di dadanya.

“So… kapan misteri itu terpecahkan?” Arya membuka percakapan lagi, menyeruput mochaccino dengan suara ringan.

“Misteri apaan? Gunung Merapi? Mak Lampir kali ah,” tukas Sekar, menyilangkan tangan, menahan geli.

“Nomor telepon kamu… sama pekerjaan kamu.” Arya berdeham, lalu maju sedikit, menirukan Sekar yang dulu kabur naik motor. “Kalau emang bener kata kamu kita jodoh, nanti juga ditakdirin ketemu lagi… terus boleh simpen nomorku, aku juga bakal kasih tau kerjaanku.”

Gaya Arya sukses membuat Sekar terkikik. “Apaan sih, norak!”

“Aku reporter, ini kartu namaku.” Sekar meletakkan gelas, lantas menarik dan merogoh ranselnya, mengeluarkan kartu nama. Arya mengambilnya dengan ekspresi puas, menelusuri tulisan Sekar Diajeng Wardani seolah itu golden ticket. Sekar tersenyum bangga mendapati raut muka Arya yang takjub. Sekar berkilah, menunduk dengan alasan mengambil gelas. Tidak ingin Arya tahu, dia menyombong. Walaupun sejatinya inilah hal yang paling membahagiakan bagi Sekar, saat menunjukkan profesi pilihannya kepada orang lain. Ia sangat mencitai pekerjaannya.

Bukan kebetulan.

Sejak kecil Sekar sudah tergila-gila pada misteri. Gara-gara sebuah minggu sore yang biasa, ketika jemarinya salah menekan remote televisi, ia terjebak menonton serial anime detektif SMA yang mengurai kasus pembunuhan berlapis-lapis. Betapa memikat melihat seorang remaja perempuan menelusuri celah-celah kecil yang nyaris luput, lalu dengan kepala dingin menyingkap kebenaran yang getir. Sejak hari itu Sekar menancapkan tekad: ia akan menjadi detektif. Seorang pemburu kebenaran, pemutus teka-teki, penyeimbang karma semesta.

Namun hidup menertawai rencana manusia. Saat Sekar remaja, negeri ini terguncang oleh tragedi. Seorang aktivis muda tewas oleh racun KCN. Polisi terlalu cepat menetapkan tersangka, Sang Asisten. Bukti muncul terlalu rapi, terlalu mudah. Amukan publik yang lapar akan keadilan—begitu menurut mereka, terus menaiki tangga berita. Media pun menggonggong, memburu rating, menodai nama tersangka, menyiarkan aib dan mengundang kebencian. Hidup Sang Asisten hancur sebelum vonis dijatuhkan. Mentalnya retak, rumahnya dilempari, nyawanya pun hampir lenyap ditelan amuk massa. Padahal ia baru tersangka, belum tentu terdakwa, apalagi terpidana.

Hingga seorang wartawan senior, dengan sabar dan keberanian yang jarang, membongkar semuanya. Menghadirkan bukti, menyeret nama sebenarnya. Tersangka baru terungkap, trik licik untuk menjebak orang tak bersalah terbongkar. Nama si tersangka akhirnya dibersihkan, meski reputasinya sudah lebih dulu terkubur. Tak ada permintaan maaf.

Hari itu cita-cita Sekar berubah. Ia tak lagi ingin menjadi detektif, melainkan jurnalis. Seorang penjaga gerbang informasi, pengurai kebohongan, pemberi terang. Menjadi suara bagi yang terjerat dusta. Ia ingin bekerja bersama wartawan senior—idolanya.

Sayang, maut datang duluan; wartawan itu tutup usia saat Sekar masih berkutat di bangku kuliah. Namun sebagian mimpinya tercapai juga. Kini ia bekerja di divisi yang sama. Menjadi wartawan di tempat yang pernah menyiarkan pembelaan untuk korban jebakan itu. Menyusun liputan investigasi, menggenggam kendali atas narasi yang membentuk opini publik.

“Wah… keren! Kamu kerja di Berita Ternama? Aku suka banget nonton Lacak!” Arya menatap Sekar sungguh-sungguh.

“Serius?” Sekar menatapnya tak percaya.

“Serius lah! Programnya bagus, kaya nonton film, tapi nyata. Kamu di program apa?”

“Kantorku nggak dibagi per program, lebih ke kategori. Aku di bagian kriminal dan hukum. Salah satu program yang aku pegang ya Lacak. Jadi tim penulisan naskah.”

Arya mendengarkan lekat, hampir menahan napas. Sekar mengelus cangkir, merendahkan nada, menyembunyikan fakta bahwa ia lebih dari sekadar penulis, ia otak di balik program yang Arya gemari. Pemilik konsep, peracik investigasi yang membuat program itu lahir. Tapi Sekar tak butuh pujian.

Arya mengangkat alis. “Wow… aku nggak nyangka. Tunggu, kamu reporter yang viral itu kan? Yang bikin pejabat ngamuk pas konferensi pers?” Tertera adegan dibenaknya saat Sekar mencuri perhatian seluruh awak media. Siatuasi saat itu begitu pelik, seorang tokoh politik yang sedang mencalonkan diri, menggunakan kekuasaannya demi kesenangan pribadi. Berita pun mencuat. Dia mengadakan konferensi pers. Tapi hanya mengundang media yang menguntungkannya, berpihak padanya. Korban pelecehan menjadi bahan utama investigasi Sekar saat itu. Tidak mungkin Sekar melewatkan kesempatan, namun apa daya, nama media tempat Sekar bekerja tidak terdapat di daftar.

Ia tak kehabisan akal, justru menyelinap masuk. Berpura-pura menjadi pegawai hotel—tempat konferenesi pers diadakan. Saat berhasil masuk, ia menarik perhatian seluruh awak dengan lontaran pertanyaan yang memojokkan. Ia bahkan, menggunakan kamera media lain demi liputannya. Apa itu Kode Etik Jurnalistik? Pria tua di depannya lebih tidak bermoral. Atas kejadian tersebut, Sekar tidak hanya menapat perhatian publik. Ia juga menjadi target ancaman. Untungnya, bekal bela diri sejak dini yang dipaksa oleh Ayahnya, mampu membuat Sekar melindungi dirinya. Mengingat itu semua, membuat Sekar bangga atas dirinya sendiri. Ia hanya menaik-turunkan alis. Arya menutup mulutnya dengan dua tangan, matanya membesar.

“OH! EM! JI!” Arya tak dapat menahan emosi.

“Kenapa sih?” Sekar tidak sungguh kaget. Hanya berlagak.

“Aku nggak nyangka ketemu jackpot gini. Orang di balik program favoritku ternyata reporter yang sempat bikin politik panas. Kamu keren!” Arya mengacungkan jempol. Sekar hanya menyeruput kopinya, sembari menaikkan alis. Pura-pura cuek.

“Biasa aja… risiko kerjaan. Tapi thanks.”

“Aku save nomor kamu ya.”

“Eh, jangan yang itu. Itu nomor kantor. Nih, save nomor pribadi aja, kita kan kenalnya di luar kerjaan.” Sekar mengeja. Ponsel tak lama berdering. Bertukar nomor ponsel selesai.

Arya belum selesai mengulik. “Kalo boleh tau, kenapa milih jadi reporter?"

“Cita-cita dari kecil. Awalnya, aku mau jadi detektif. Karena nonton anime The Great Detective: Ayumi....”

“Oh! Aku tau anime itu… Aku juga suka nontonnya pas waktu kecil, malah aku koleksi semua komiknya!" potong Arya antusias.

"Trus kamu nggak ikutan jadi detektif?”

“Enggak lah, cuman suka aja. Bukan berarti pengen kan?”

“Aku malah pengen jadi detektif gara-gara film itu.”

“Terus, kenapa nggak jadi detektif aja?” tanya Arya sembari menikmati pesanannya yang sebentar lagi tak bersisa. Lain dengan Sekar, baru melakukan gigitan pertama pada Tirapitonya yang lama terabaikan.

“Pas SMA, gara-gara kasus Bu Ratih, aktivis buruh yang meninggal keracunan. Kamu pasti tau.”

Arya mengangguk serius.

“Asistennya sempat jadi tersangka. Terus Wulandary Herman ngebuktiin dia nggak bersalah lewat investigasi. Sejak itu aku kagum banget sama wartawan."

Sekar menatap meja, menahan nostalgia. “Aku ngefans banget sama beliau. Karena itu juga, cita-citaku geser. Lagian, wartawan lebih masuk akal daripada detektif."

Arya menatapnya dalam. “Terus, sekarang kamu bekerja di stasiun tivi yang sama dengan beliau... kamu pasti seneng banget dong?”

“Sayangnya, sebelum aku lulus, dia udah meninggal. Padahal impian aku, kerja satu tim sama dia.” Arya menatap Sekar dengan dalam, seolah mengamati retakan tipis di balik kulit gadis itu.

“Tapi, paling nggak cita-citamu tercapai. Banyak orang di luar sana bahkan nggak punya cita-cita. Mereka cuma bertahan hidup.”

Sekar terbelalak. “Kok… kita sepemikiran ya?”

Arya menyungging senyum hangat. “Oh ya? Kamu juga mikir gitu?”

Sekar mengangguk, takjub menemukan pantulan cermin pada seseorang yang nyaris asing. Ia merasakan Arya tak hanya memancarkan pesona lelaki, tapi juga kejujuran polos yang tak biasa ia temui.

“Iya… miris liatnya. Kuliah apa, kerja apa,”

“Makanya perlu orang kayak kamu, Dani... Lewat media, kamu bisa bikin suara kamu didengar, kasih efek positif.”

Sekar menggigit bibir, menahan dadanya yang seperti diremas. “Iya, aku tau…" benak Sekar menolak fenomena sosial yang bergentayangan. Ia tak memahami, untuk apa seseorang menghabiskan waktu, tenaga dan uang, tapi memilih jalur karir yang bertolak. Bukankah itu merugikan? "Well, uangmu nggak usah aku balikin kan?” Lanjut Sekar menggigit hidangan.

Arya hanya tertawa pelan. “Udah aku bilang nggak usah. Kamu yang sok gengsi.”

Sekar menghela napas, lalu menatap nakal. “Ah, tau gitu tadi aku sekalian pesan makan. Belum makan siang, nih.”

“Mau aku pesenin? Steak? Pasta? Turkey?” Arya langsung berdiri.

“Hmmm…" Sekar menopang dagu, ragu sejenak. Lalu mengangkat wajahnya ke pandangan Arya. "US Prime Beef Tenderloin, baked potato, sayurnya brokoli, sausnya garlic mushroom.”

“Minum?”

“Strawberry Lemonade.”Arya melesat ke kasir. Sekar mengikutinya dengan pandangan, senyumnya mengambang penuh arti.

“Senang berkenalan dengan kamu, Arya. Kita lihat sejauh mana kamu sanggup bertahan…” bisik Sekar nyaris tak terdengar, menatap punggung Arya yang menjauh. Ia tak sadar, dialah yang kini mulai terjebak dalam permainan yang diciptakan oleh dirinya sendiri.

Other Stories
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...

Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...

Dream Analyst

Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

The Truth

Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Download Titik & Koma