RANI
Orang-orang memanggilnya Rani. Nama lengkapnya Rani Retnaningsih—nama yang terdengar lembut, seindah rupa yang ia miliki.
Tubuhnya tidak tinggi, bahkan cenderung mungil. Namun ada keanggunan yang sulit diabaikan dari dirinya. Rambutnya keriting, tebal, dan panjang, jatuh alami berwarna cokelat gelap, sewarna dengan mata yang selalu tampak hangat saat menatap siapa pun. Kulitnya terang, membuat dirinya tampak bersinar dalam cahaya apa pun.
Rani bukan hanya cantik. Ia juga wangi. Ia menyukai parfum, dan ke mana pun ia melangkah, selalu tertinggal jejak aroma yang lembut. Tanpa perlu berusaha, banyak mata diam-diam tertambat padanya. Namun siapa sangka, di balik wajah cantik itu tersembunyi jiwa yang bertolak belakang—Rani adalah seorang tomboy. Ia lebih suka tertawa keras, bergerak bebas, dan tak terlalu peduli pada citra perempuan lembut seperti yang dibayangkan orang.
Meski begitu, hidup Rani penuh keberuntungan. Ia adalah anak sulung dari tiga bersaudara, dengan dua adik bernama Yadi dan Yeni. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang penurut dan berhati lembut. Perasaannya mudah tersentuh, dan kepeduliannya pada orang lain membuatnya dicintai banyak orang.
Bukan hanya orang tuanya yang memanjakannya, tetapi juga kakek dan neneknya. Terutama neneknya—sosok yang paling dekat di hati Rani.
Nenek itu bernama Onih.
Namun bagi Rani, ia hanya satu: Mimi.
Sejak kecil, Rani hampir selalu ikut ke mana pun Mimi pergi. Ada ikatan sunyi di antara mereka—seperti benang tak kasatmata yang selalu menarik Rani untuk berada di sisi sang nenek.
Termasuk ketika Mimi pulang ke Cianjur—kota kecil yang menyimpan jejak masa lalu keluarga mereka. Di sanalah Mimi dan ibu kandung Rani dilahirkan. Setiap perjalanan ke kota itu bukan sekadar kunjungan.
Itu adalah pulang.
Saat itu, tahun 1980-an, Rani berusia lima belas tahun. Suasana kota masih terasa klasik—sepeda onthel dan angkot tua melintas di jalan-jalan sempit, warung-warung kecil menjual jajanan tradisional, dan radio transistor menjadi hiburan sehari-hari. Seperti kebiasaan yang tak pernah berubah, Mimi selalu mengajaknya ikut setiap kali pergi berlibur. Kali ini tujuan mereka adalah rumah adik Mimi—Aki Lili—yang tinggal di pusat kota Cianjur, di Jalan Siliwangi, Gang Harmoni.
Aki Lili adalah lelaki tua yang ramah, dengan senyum yang selalu membuat rumah itu terasa hangat. Ia menyambut Rani seperti cucu kandungnya sendiri—penuh perhatian, penuh kasih.
Di tengah masa liburan itu, suatu hari Mimi dan Aki Lili harus pergi ke Jakarta untuk sebuah urusan. Mereka mengajak Rani ikut serta.
Namun Rani menggeleng pelan.
Ia memilih tinggal.
Ada sesuatu tentang Cianjur yang membuatnya betah—udara yang sejuk, jalan-jalan yang tenang, dan rasa damai yang sulit ia temukan di tempat lain.
Untungnya, Rani tidak pernah benar-benar sendirian.
Di sela hari-hari yang kadang terasa sunyi, ia masih punya dua sosok yang selalu siap menemaninya—Acep dan Nadin, anak-anak Aki Lili.
Usia mereka tak terpaut jauh dari Rani, membuat kebersamaan terasa alami, seperti teman sepermainan. Namun adat tetap dijunjung. Di mata orang-orang, mereka adalah Om dan Tante bagi Rani.
Maka dengan penuh hormat, Rani memanggil mereka Mang Acep dan Bi Nadin.
Dan di rumah kecil di Gang Harmoni itulah, liburan Rani dimulai—tanpa ia tahu, bahwa kota yang terasa tenang ini akan memberinya satu pertemuan…
yang kelak tinggal lama di hatinya.
Other Stories
Kukejar Impian Besarku
Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Cerita Guru Sarita
Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...
Testing
testing ...
Pasti Ada Jalan
Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...