BAGAS
Sore itu, Rani berdiri di halaman rumah Aki Lili, menyiram tanaman dengan gerakan yang lebih lambat dari biasanya. Matanya sesekali melirik ke arah rumah besar di seberang. Ia tidak berharap apa pun—setidaknya begitu yang ia katakan pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba, suara pintu mobil terdengar. Rani refleks menoleh. Bagas baru saja turun dari mobilnya. Kaos hitam melekat di tubuhnya yang ramping berisi, rambut ikalnya sedikit berantakan seolah baru diterpa angin, kulitnya sawo matang tersentuh cahaya sore.
Tanpa sadar, pandangan mereka bertemu.
Rani tercekat. Tangannya berhenti menyiram. Air mengalir begitu saja ke tanah.
Bagas mengangkat alisnya sedikit, lalu tersenyum—senyum tipis yang tidak sepenuhnya santai, tapi juga tidak dingin.
“Hai,” katanya.
Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk sampai ke telinga Rani.
Rani merasa dadanya mengencang. Ia ragu sepersekian detik sebelum akhirnya membalas, “Hai…”
Hanya satu kata. Tapi rasanya seperti baru saja melangkahi garis yang selama ini ia jaga dari jauh.
Bagas berjalan beberapa langkah mendekat ke pagar.
“Kamu… Rani, kan?”
Rani mengangguk, jantungnya berdetak terlalu cepat.
“Aku Bagas.”
Seolah-olah Rani tidak tahu.
Tapi ia tetap tersenyum kecil. “Aku tahu.”
Dan untuk pertama kalinya, jarak yang selama ini hanya diisi pandangan, mulai terisi suara.
Bagas bersandar di pagar, satu tangannya masuk ke saku celana. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi seperti sedang mencari kata yang pas.
“Kamu… sering di sini, ya?” ucapnya akhirnya.
Rani mengangguk kecil. “Lagi liburan. Aku nginep di rumah Aki Lili.”
“Oh.” Bagas tersenyum tipis. “Pantes kelihatan santai.”
Rani terkekeh pelan. “Soalnya di rumah biasanya nggak bisa sesantai ini.”
Hening sebentar. Angin sore menyapu halaman.
“Liburannya lama?” tanya Bagas.
“Sebulan.”
“Wah, lama juga.”
Rani mengangguk. “Makanya lagi pengen menikmati aja.”
Bagas menatap Rani sesaat.
“Bagus sih… liburan itu bikin orang kelihatan beda.”
Rani tersenyum malu. “Beda gimana?”
“Lebih… hidup.”
Rani terdiam, lalu tertawa kecil.
Dan di antara pagar, angin sore, dan jarak yang mulai menipis, Rani merasa liburan itu baru saja berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar hari-hari kosong.
Tiba-tiba, suara pintu mobil terdengar. Rani refleks menoleh. Bagas baru saja turun dari mobilnya. Kaos hitam melekat di tubuhnya yang ramping berisi, rambut ikalnya sedikit berantakan seolah baru diterpa angin, kulitnya sawo matang tersentuh cahaya sore.
Tanpa sadar, pandangan mereka bertemu.
Rani tercekat. Tangannya berhenti menyiram. Air mengalir begitu saja ke tanah.
Bagas mengangkat alisnya sedikit, lalu tersenyum—senyum tipis yang tidak sepenuhnya santai, tapi juga tidak dingin.
“Hai,” katanya.
Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk sampai ke telinga Rani.
Rani merasa dadanya mengencang. Ia ragu sepersekian detik sebelum akhirnya membalas, “Hai…”
Hanya satu kata. Tapi rasanya seperti baru saja melangkahi garis yang selama ini ia jaga dari jauh.
Bagas berjalan beberapa langkah mendekat ke pagar.
“Kamu… Rani, kan?”
Rani mengangguk, jantungnya berdetak terlalu cepat.
“Aku Bagas.”
Seolah-olah Rani tidak tahu.
Tapi ia tetap tersenyum kecil. “Aku tahu.”
Dan untuk pertama kalinya, jarak yang selama ini hanya diisi pandangan, mulai terisi suara.
Bagas bersandar di pagar, satu tangannya masuk ke saku celana. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi seperti sedang mencari kata yang pas.
“Kamu… sering di sini, ya?” ucapnya akhirnya.
Rani mengangguk kecil. “Lagi liburan. Aku nginep di rumah Aki Lili.”
“Oh.” Bagas tersenyum tipis. “Pantes kelihatan santai.”
Rani terkekeh pelan. “Soalnya di rumah biasanya nggak bisa sesantai ini.”
Hening sebentar. Angin sore menyapu halaman.
“Liburannya lama?” tanya Bagas.
“Sebulan.”
“Wah, lama juga.”
Rani mengangguk. “Makanya lagi pengen menikmati aja.”
Bagas menatap Rani sesaat.
“Bagus sih… liburan itu bikin orang kelihatan beda.”
Rani tersenyum malu. “Beda gimana?”
“Lebih… hidup.”
Rani terdiam, lalu tertawa kecil.
Dan di antara pagar, angin sore, dan jarak yang mulai menipis, Rani merasa liburan itu baru saja berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar hari-hari kosong.
Other Stories
Bangkit Dari Luka
Almira Brata Qeenza punya segalanya. Kecuali satu hal, yaitu kasih sayang. Sejak kecil, ia ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...
Awan Favorit Mamah
Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...
Diary Anak Pertama
Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...