SORE DALAM PERJALANAN
Suatu sore, Bagas mengajak Rani, Mang Acep, dan Bi Nadin jalan-jalan ke Puncak Pass, Bogor. Kinkin ikut serta. Perjalanan dari Cianjur ke Bogor memang tidak terlalu jauh, jadi ajakan itu terasa spontan tapi menyenangkan.
Mereka tetap berangkat meskipun sore itu bertepatan dengan waktu kepulangan Mimi dan Aki Lili dari Jakarta menuju Cianjur.
Bagas yang menyetir. Di kursi depan, Mang Acep duduk di sampingnya.
Di bangku belakang, Rani duduk bersama Bi Nadin dan Kinkin. Mereka menaiki sedan putih milik Bagas—mobil yang selalu tampak bersih, mengilap, dan mencolok di jalanan kecil Cianjur.
Begitu mobil itu bergerak, tawa mulai terdengar. Obrolan ringan mengalir, kadang konyol, kadang hangat. Mang Acep melontarkan lelucon receh, Bi Nadin menimpali dengan godaan, Rani tertawa lepas.
Di antara semua itu, Kinkin tetap paling tenang. Ia lebih banyak diam, tapi senyumnya muncul di saat yang pas. Tatapannya lewat kaca jendela, seolah menikmati perjalanan tanpa perlu banyak kata.
Rani sering melirik ke arahnya tanpa sadar.
Mereka berlima sedang bahagia—bukan karena tujuan, tapi karena kebersamaan.
Dan di dalam sedan putih itu, di antara jalanan berkelok dan angin sore Cianjur, ada perasaan ringan yang jarang muncul…
perasaan pulang, meski sedang pergi.
Mereka tetap berangkat meskipun sore itu bertepatan dengan waktu kepulangan Mimi dan Aki Lili dari Jakarta menuju Cianjur.
Bagas yang menyetir. Di kursi depan, Mang Acep duduk di sampingnya.
Di bangku belakang, Rani duduk bersama Bi Nadin dan Kinkin. Mereka menaiki sedan putih milik Bagas—mobil yang selalu tampak bersih, mengilap, dan mencolok di jalanan kecil Cianjur.
Begitu mobil itu bergerak, tawa mulai terdengar. Obrolan ringan mengalir, kadang konyol, kadang hangat. Mang Acep melontarkan lelucon receh, Bi Nadin menimpali dengan godaan, Rani tertawa lepas.
Di antara semua itu, Kinkin tetap paling tenang. Ia lebih banyak diam, tapi senyumnya muncul di saat yang pas. Tatapannya lewat kaca jendela, seolah menikmati perjalanan tanpa perlu banyak kata.
Rani sering melirik ke arahnya tanpa sadar.
Mereka berlima sedang bahagia—bukan karena tujuan, tapi karena kebersamaan.
Dan di dalam sedan putih itu, di antara jalanan berkelok dan angin sore Cianjur, ada perasaan ringan yang jarang muncul…
perasaan pulang, meski sedang pergi.
Other Stories
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Dream Analyst
Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...
Seratus Juta Untuk Sebuah Restu
Sudah tiga tahun Nadia tidak pulang saat libur lebaran. Bukan karena sibuk. Bukan karena l ...
Weird Husband
Kanaya bersinar di ballroom Grand Hyatt Jakarta, mengenakan gaun emerald dan kalung berlia ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...