SENYUM RANI
Rani melangkah masuk ke kamar dengan hati yang masih terasa ringan. Pintu ia tutup pelan, seolah tak ingin mengusik perasaan hangat yang masih tertinggal di dadanya.
Ia duduk di tepi ranjang, menghela napas perlahan. Baru saat itu ia sadar—bibirnya sejak tadi tak berhenti tersenyum.
“Dasar…” gumamnya pelan pada diri sendiri.
Ia menjatuhkan tubuh ke kasur, menatap langit-langit kamar yang polos, sementara pikirannya justru penuh. Wajah Bagas muncul begitu saja—senyum tipisnya, cara bicaranya yang santai, tatapan matanya yang tenang.
Rani memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan itu. Tapi semakin ia menolak, semakin jelas semuanya terulang di kepalanya. Cara Bagas berdiri di pagar sore tadi. Cara ia memanggil namanya. Cara suaranya terdengar begitu dekat.
Ia berbalik menghadap samping, memeluk bantal.
Senyumnya masih tinggal di sana.
“Kenapa sih harus dia…” bisiknya pelan.
Liburan ini awalnya hanya tentang rumah Aki Lili, tentang suasana yang tenang, tentang hari-hari yang ingin ia lewati tanpa banyak pikir. Tapi sekarang, ada satu nama yang menyelip di antara semuanya.
Rani membuka mata lagi. Pandangannya jatuh ke jendela kamar yang sedikit terbuka. Angin malam masuk perlahan, membawa udara dingin dan suara jangkrik dari luar.
Ia menarik napas dalam-dalam.
Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari satu hal:
Liburan ini tidak lagi hanya soal tempat.
Tapi soal seseorang.
Dan untuk pertama kalinya pula, Rani menunggu esok hari bukan karena ingin jalan-jalan…
melainkan karena ingin melihat seseorang.
Ia duduk di tepi ranjang, menghela napas perlahan. Baru saat itu ia sadar—bibirnya sejak tadi tak berhenti tersenyum.
“Dasar…” gumamnya pelan pada diri sendiri.
Ia menjatuhkan tubuh ke kasur, menatap langit-langit kamar yang polos, sementara pikirannya justru penuh. Wajah Bagas muncul begitu saja—senyum tipisnya, cara bicaranya yang santai, tatapan matanya yang tenang.
Rani memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan itu. Tapi semakin ia menolak, semakin jelas semuanya terulang di kepalanya. Cara Bagas berdiri di pagar sore tadi. Cara ia memanggil namanya. Cara suaranya terdengar begitu dekat.
Ia berbalik menghadap samping, memeluk bantal.
Senyumnya masih tinggal di sana.
“Kenapa sih harus dia…” bisiknya pelan.
Liburan ini awalnya hanya tentang rumah Aki Lili, tentang suasana yang tenang, tentang hari-hari yang ingin ia lewati tanpa banyak pikir. Tapi sekarang, ada satu nama yang menyelip di antara semuanya.
Rani membuka mata lagi. Pandangannya jatuh ke jendela kamar yang sedikit terbuka. Angin malam masuk perlahan, membawa udara dingin dan suara jangkrik dari luar.
Ia menarik napas dalam-dalam.
Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari satu hal:
Liburan ini tidak lagi hanya soal tempat.
Tapi soal seseorang.
Dan untuk pertama kalinya pula, Rani menunggu esok hari bukan karena ingin jalan-jalan…
melainkan karena ingin melihat seseorang.
Other Stories
Deru Suara Kagum
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...
My 24
Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...
FILOSOFI SAMPAH (Catatan Seorang Pemulung)
Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...
Suara Dari Langit
Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...