HARI YANG TAK SEPENUHNYA RINGAN
Esoknya di pagi hari, udara Cianjur terasa cerah. Matahari naik perlahan, tapi suasana rumah Aki Lili tidak seramah biasanya.
Sedan putih Bagas terparkir di halaman, masih berdebu sisa perjalanan kemarin.
Rani duduk di bangku kayu dekat teras bersama Bi Nadin. Mereka bicara ringan, tapi tawa Rani tak setulus biasanya.
Tak lama kemudian, Bagas datang. Kaus hitam, celana jeans, dan wajah yang terlalu datar untuk pagi yang seharusnya hangat.
“Kin,” panggilnya.
Kinkin yang sedang duduk di lantai, memetik gitar pelan, langsung berhenti.
“Iya, Gas?”
Bagas melempar kunci mobil ke arahnya.
“Cuciin mobil.”
Kinkin menangkapnya refleks.
“Sekarang?”
“Iya.”
Nada Bagas dingin.
“Debunya masih tebal.”
Rani menoleh.
Padahal mobilnya tak sekotor itu.
Bi Nadin menghela napas kecil, tapi tak berkata apa-apa.
Kinkin diam sebentar. Lalu mengangguk.
“Iya.”
Ia bangkit, berjalan ke sumur, mengambil ember.
Air disiramkan ke bodi mobil. Bunyi cipratan terdengar jelas di pagi yang sunyi.
Bagas bersandar di kap mobil.
“Jangan asal, Kin. Velgnya juga disikat.”
Nada itu bukan perintah biasa.
Ada sesuatu yang menekan di sana—
bukan karena mobilnya kotor, tapi karena hatinya sedang cemburu.
Rani memandang ke arah Kinkin.
Di matanya, ada rasa kasihan yang tak sempat ia sembunyikan.
Kinkin menangkap tatapan itu.
Untuk sesaat, ia berhenti menggosok.
Lalu… ia tersenyum kecil.
Senyum tipis. Tenang. Seolah berkata: nggak apa-apa.
Dan setelah itu, ia kembali menunduk.
Menggosok velg mobil lagi.
Air terus mengalir.
Kotoran luruh.
Tapi di hati Rani, ada sesuatu yang justru mengeras.
Sedan putih Bagas terparkir di halaman, masih berdebu sisa perjalanan kemarin.
Rani duduk di bangku kayu dekat teras bersama Bi Nadin. Mereka bicara ringan, tapi tawa Rani tak setulus biasanya.
Tak lama kemudian, Bagas datang. Kaus hitam, celana jeans, dan wajah yang terlalu datar untuk pagi yang seharusnya hangat.
“Kin,” panggilnya.
Kinkin yang sedang duduk di lantai, memetik gitar pelan, langsung berhenti.
“Iya, Gas?”
Bagas melempar kunci mobil ke arahnya.
“Cuciin mobil.”
Kinkin menangkapnya refleks.
“Sekarang?”
“Iya.”
Nada Bagas dingin.
“Debunya masih tebal.”
Rani menoleh.
Padahal mobilnya tak sekotor itu.
Bi Nadin menghela napas kecil, tapi tak berkata apa-apa.
Kinkin diam sebentar. Lalu mengangguk.
“Iya.”
Ia bangkit, berjalan ke sumur, mengambil ember.
Air disiramkan ke bodi mobil. Bunyi cipratan terdengar jelas di pagi yang sunyi.
Bagas bersandar di kap mobil.
“Jangan asal, Kin. Velgnya juga disikat.”
Nada itu bukan perintah biasa.
Ada sesuatu yang menekan di sana—
bukan karena mobilnya kotor, tapi karena hatinya sedang cemburu.
Rani memandang ke arah Kinkin.
Di matanya, ada rasa kasihan yang tak sempat ia sembunyikan.
Kinkin menangkap tatapan itu.
Untuk sesaat, ia berhenti menggosok.
Lalu… ia tersenyum kecil.
Senyum tipis. Tenang. Seolah berkata: nggak apa-apa.
Dan setelah itu, ia kembali menunduk.
Menggosok velg mobil lagi.
Air terus mengalir.
Kotoran luruh.
Tapi di hati Rani, ada sesuatu yang justru mengeras.
Other Stories
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Hanya Ibu
kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...
Kabinet Boneka
Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
First Snow At Laiden
Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...