Dua Tangkai Edelweis

Reads
2.1K
Votes
274
Parts
23
Vote
Report
Penulis Runi Ariany

LAMARAN?

Rumah Rani di Cirebon sore itu terasa lebih rapi dari biasanya.

Ibu menyiapkan kue-kue di meja ruang tamu. Ayah mengganti sarung kursi. Ada semacam ketegangan yang manis di udara.

“Tenang saja ya,” ujar Ibu.

Rani mengangguk.
“Iya, Bu.”

Mobil berhenti di depan pagar menjelang magrib.

Bagas datang bersama kedua orangtuanya.

Mereka turun dengan pakaian rapi. Mobilnya besar. Bersih. Terlihat jelas mereka keluarga berada.

Rani menyambut mereka dengan sopan. Duduk rapi. Menyajikan teh. Semua berjalan seperti kunjungan keluarga biasa—sampai akhirnya pembicaraan itu keluar juga.

Ayah Bagas berdehem kecil.

“Kami datang dengan niat baik,” katanya pelan.
“Anak kami… ingin melamar Rani.”

Waktu seperti berhenti sebentar.

Rani menunduk.

Ia masih duduk di bangku SMA.

Tangannya dingin di pangkuan.

Ibu Rani melirik Ayah—ada rasa tidak enak yang tak terucap.
Mereka tahu betul: keluarga ini sudah jauh-jauh datang dari Cianjur.

Rani menarik napas, lalu berbicara dengan suara setenang yang ia bisa.

“Terima kasih, Pak, Bu… Bagas,” katanya.
“Saya sangat menghargai niat baik ini.”

Ia mengangkat wajah.

“Tapi saya masih sekolah. Hidup saya baru mulai. Dan… saya belum siap untuk janji sebesar itu.”

Ruangan hening.

Ayah Rani menggeser duduknya, gelisah.
Ibu Rani menunduk, jemarinya saling meremas.

“Maafkan anak kami,” ucap Ibu Rani akhirnya, pelan.
“Kami tidak bermaksud mengecewakan. Tapi Rani masih terlalu muda.”

Ayah Bagas tersenyum kecil, bijak.
“Kami mengerti.”

Lalu Bagas yang bicara.

“Tidak apa-apa, Pak, Bu.”

Semua menoleh padanya.

Bagas memandang Rani—tenang, tanpa marah.

“Saya datang bukan untuk memaksa. Saya datang karena saya serius.”

Ia menarik napas.

“Dan meskipun Rani menolak… perasaan saya tidak berubah.”

Hening.

Rani tak sanggup menatapnya lama-lama.

Di dalam dadanya, ada rasa bersalah… dan rasa terharu yang bercampur.

Bagas berdiri, membungkuk sedikit ke arah orang tua Rani.

“Terima kasih sudah menerima kami.”

Dan saat mereka pamit, Rani tahu:

Bagas pulang dengan penolakan…
tapi juga dengan cinta yang masih utuh.





Other Stories
Ngidam

Clara mengira ngidam anehnya—memegang milik pria lain—akan membuat suaminya murka. Nam ...

Sayonara ( Halusinada )

Raga berlari di tengah malam, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Ia kelalahan hingga te ...

Mendua

Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...

Losmen Kembang Kuning

Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...

Nina Bobo ( Halusinada )

JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...

Reuni

Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...

Download Titik & Koma