TAMU DATANG DARI MASA LALU
Rumah Rani di Cirebon sore itu terasa lebih rapi dari biasanya.
Ibu menyiapkan kue-kue di meja ruang tamu. Ayah mengganti sarung kursi. Ada semacam ketegangan yang manis di udara.
“Katanya teman lamamu dari Cianjur mau datang,” ujar Ibu.
Rani mengangguk.
“Iya, Bu.”
Mobil berhenti di depan pagar menjelang magrib.
Bagas datang bersama kedua orangtuanya.
Mereka turun dengan pakaian rapi. Mobilnya besar. Bersih. Terlihat jelas mereka keluarga berada.
Rani menyambut mereka dengan sopan. Duduk rapi. Menyajikan teh. Semua berjalan seperti kunjungan keluarga biasa—sampai akhirnya pembicaraan itu keluar juga.
Ayah Bagas berdehem kecil.
“Kami datang dengan niat baik,” katanya pelan.
“Anak kami… ingin melamar Rani.”
Waktu seperti berhenti sebentar.
Rani menunduk.
Ia masih mengenakan seragam SMA.
Tangannya dingin di pangkuan.
Ibu Rani melirik Ayah—ada rasa tidak enak yang tak terucap.
Mereka tahu betul: keluarga ini sudah jauh-jauh datang dari Cianjur.
Rani menarik napas, lalu berbicara dengan suara setenang yang ia bisa.
“Terima kasih, Pak, Bu… Bagas,” katanya.
“Saya sangat menghargai niat baik ini.”
Ia mengangkat wajah.
“Tapi saya masih sekolah. Hidup saya baru mulai. Dan… saya belum siap untuk janji sebesar itu.”
Ruangan hening.
Ayah Rani menggeser duduknya, gelisah.
Ibu Rani menunduk, jemarinya saling meremas.
“Maafkan anak kami,” ucap Ibu Rani akhirnya, pelan.
“Kami tidak bermaksud mengecewakan. Tapi Rani masih terlalu muda.”
Ayah Bagas tersenyum kecil, bijak.
“Kami mengerti.”
Lalu Bagas yang bicara.
“Tidak apa-apa, Pak, Bu.”
Semua menoleh padanya.
Bagas memandang Rani—tenang, tanpa marah.
“Saya datang bukan untuk memaksa. Saya datang karena saya serius.”
Ia menarik napas.
“Dan meskipun Rani menolak… perasaan saya tidak berubah.”
Hening.
Rani tak sanggup menatapnya lama-lama.
Di dalam dadanya, ada rasa bersalah… dan rasa terharu yang bercampur.
Bagas berdiri, membungkuk sedikit ke arah orang tua Rani.
“Terima kasih sudah menerima kami.”
Dan saat mereka pamit, Rani tahu satu hal:
Bagas pulang dengan penolakan…
tapi juga dengan cinta yang masih utuh.
Ibu menyiapkan kue-kue di meja ruang tamu. Ayah mengganti sarung kursi. Ada semacam ketegangan yang manis di udara.
“Katanya teman lamamu dari Cianjur mau datang,” ujar Ibu.
Rani mengangguk.
“Iya, Bu.”
Mobil berhenti di depan pagar menjelang magrib.
Bagas datang bersama kedua orangtuanya.
Mereka turun dengan pakaian rapi. Mobilnya besar. Bersih. Terlihat jelas mereka keluarga berada.
Rani menyambut mereka dengan sopan. Duduk rapi. Menyajikan teh. Semua berjalan seperti kunjungan keluarga biasa—sampai akhirnya pembicaraan itu keluar juga.
Ayah Bagas berdehem kecil.
“Kami datang dengan niat baik,” katanya pelan.
“Anak kami… ingin melamar Rani.”
Waktu seperti berhenti sebentar.
Rani menunduk.
Ia masih mengenakan seragam SMA.
Tangannya dingin di pangkuan.
Ibu Rani melirik Ayah—ada rasa tidak enak yang tak terucap.
Mereka tahu betul: keluarga ini sudah jauh-jauh datang dari Cianjur.
Rani menarik napas, lalu berbicara dengan suara setenang yang ia bisa.
“Terima kasih, Pak, Bu… Bagas,” katanya.
“Saya sangat menghargai niat baik ini.”
Ia mengangkat wajah.
“Tapi saya masih sekolah. Hidup saya baru mulai. Dan… saya belum siap untuk janji sebesar itu.”
Ruangan hening.
Ayah Rani menggeser duduknya, gelisah.
Ibu Rani menunduk, jemarinya saling meremas.
“Maafkan anak kami,” ucap Ibu Rani akhirnya, pelan.
“Kami tidak bermaksud mengecewakan. Tapi Rani masih terlalu muda.”
Ayah Bagas tersenyum kecil, bijak.
“Kami mengerti.”
Lalu Bagas yang bicara.
“Tidak apa-apa, Pak, Bu.”
Semua menoleh padanya.
Bagas memandang Rani—tenang, tanpa marah.
“Saya datang bukan untuk memaksa. Saya datang karena saya serius.”
Ia menarik napas.
“Dan meskipun Rani menolak… perasaan saya tidak berubah.”
Hening.
Rani tak sanggup menatapnya lama-lama.
Di dalam dadanya, ada rasa bersalah… dan rasa terharu yang bercampur.
Bagas berdiri, membungkuk sedikit ke arah orang tua Rani.
“Terima kasih sudah menerima kami.”
Dan saat mereka pamit, Rani tahu satu hal:
Bagas pulang dengan penolakan…
tapi juga dengan cinta yang masih utuh.
Other Stories
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Turut Berduka Cinta
Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...
My Love
Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...
After Meet You
kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...