ARAH YANG BERGESER
Rani melangkah pulang dengan botol minuman di tangannya, tapi pikirannya tertinggal di warung tadi.
Percakapan kecil dengan Kinkin terus berputar di kepalanya—cara ia tersenyum, nada suaranya yang lembut, dan tatapan matanya yang terasa jujur.
Setiap langkah terasa ringan, tapi hatinya justru penuh.
Ada Bagas, yang sejak awal sudah lebih dulu menarik perhatiannya.
Lalu ada Kinkin, yang datang tanpa banyak gaya, tapi diam-diam membuat ruang baru di pikirannya.
Rani menghela napas panjang.
“Kenapa jadi begini…” gumamnya pelan.
Liburan yang awalnya hanya tentang mengisi waktu, kini berubah menjadi sesuatu yang rumit.
Dan di antara jalan kecil, rumah-rumah sederhana, serta angin sore Cianjur, Rani sadar satu hal:
hatinya mulai belajar bingung.
Rani akhirnya mengerti satu hal: cara Bagas memperlakukan Kinkin bukan semata soal kuasa, melainkan soal pamer. Itu caranya menarik perhatian—menunjukkan siapa dirinya, berharap Rani semakin terkesan.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Rani tidak suka melihatnya.
Ada sesuatu di sikap Bagas yang membuat dadanya terasa tidak nyaman. Ia mungkin tomboy, terbiasa terlihat kuat dan santai, tapi hatinya tidak pernah keras. Di balik caranya yang cuek, Rani menyimpan perasaan yang lembut.
Dan setiap kali Bagas bersikap semena-mena pada Kinkin, yang muncul di hati Rani bukan kagum…
melainkan iba.
Ia melihat Kinkin bukan sebagai bayangan Bagas, tapi sebagai seseorang yang sedang berusaha bertahan di dunia yang tidak selalu adil.
Sejak saat itu, arah perasaan Rani mulai bergeser—
pelan, nyaris tak terasa, tapi pasti.
Percakapan kecil dengan Kinkin terus berputar di kepalanya—cara ia tersenyum, nada suaranya yang lembut, dan tatapan matanya yang terasa jujur.
Setiap langkah terasa ringan, tapi hatinya justru penuh.
Ada Bagas, yang sejak awal sudah lebih dulu menarik perhatiannya.
Lalu ada Kinkin, yang datang tanpa banyak gaya, tapi diam-diam membuat ruang baru di pikirannya.
Rani menghela napas panjang.
“Kenapa jadi begini…” gumamnya pelan.
Liburan yang awalnya hanya tentang mengisi waktu, kini berubah menjadi sesuatu yang rumit.
Dan di antara jalan kecil, rumah-rumah sederhana, serta angin sore Cianjur, Rani sadar satu hal:
hatinya mulai belajar bingung.
Rani akhirnya mengerti satu hal: cara Bagas memperlakukan Kinkin bukan semata soal kuasa, melainkan soal pamer. Itu caranya menarik perhatian—menunjukkan siapa dirinya, berharap Rani semakin terkesan.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Rani tidak suka melihatnya.
Ada sesuatu di sikap Bagas yang membuat dadanya terasa tidak nyaman. Ia mungkin tomboy, terbiasa terlihat kuat dan santai, tapi hatinya tidak pernah keras. Di balik caranya yang cuek, Rani menyimpan perasaan yang lembut.
Dan setiap kali Bagas bersikap semena-mena pada Kinkin, yang muncul di hati Rani bukan kagum…
melainkan iba.
Ia melihat Kinkin bukan sebagai bayangan Bagas, tapi sebagai seseorang yang sedang berusaha bertahan di dunia yang tidak selalu adil.
Sejak saat itu, arah perasaan Rani mulai bergeser—
pelan, nyaris tak terasa, tapi pasti.
Other Stories
Separuh Dzarah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...
The Museum
Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...
Cinta Satu Paket
Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...
Cicak Di Dinding ( Halusinada )
Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...
Melodi Nada
Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...