EDELWEIS DALAM PERJALANAN
Mobil melaju meninggalkan Cianjur saat matahari baru naik sepenggal.
Kabut masih menggantung di udara, dan sawah-sawah basah oleh embun pagi.
Rani duduk di bangku belakang, memeluk tas kecil di pangkuannya.
Di dalam tas itu—edelweis dari Kinkin.
Ia tidak banyak bicara.
Matanya menatap keluar jendela, mengikuti pepohonan, rumah-rumah, dan jalanan yang perlahan menjauh.
Setiap kilometer terasa seperti menarik satu helai benang dari hatinya.
Dan satu per satu, semuanya tertarik… pergi.
Di kursi depan, Mimi dan Aki Lili berbincang ringan. Suara mereka terdengar biasa saja—seolah tak pernah ada tangis, tak pernah ada kecemasan.
Tapi Rani tahu, ada hal-hal yang tidak perlu diucapkan agar tetap tinggal.
Sesekali, pikirannya kembali ke subuh tadi.
Ke jaket dingin.
Ke tangan yang gemetar.
Ke pelukan yang terlalu singkat.
Ke janji yang ditepati tepat sebelum ia pergi.
Rani memejamkan mata.
Ia menekan edelweis itu ke dadanya, dan air matanya jatuh.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengerti arti satu hal:
perpisahan yang baik…
justru terasa paling menyakitkan.
Kabut masih menggantung di udara, dan sawah-sawah basah oleh embun pagi.
Rani duduk di bangku belakang, memeluk tas kecil di pangkuannya.
Di dalam tas itu—edelweis dari Kinkin.
Ia tidak banyak bicara.
Matanya menatap keluar jendela, mengikuti pepohonan, rumah-rumah, dan jalanan yang perlahan menjauh.
Setiap kilometer terasa seperti menarik satu helai benang dari hatinya.
Dan satu per satu, semuanya tertarik… pergi.
Di kursi depan, Mimi dan Aki Lili berbincang ringan. Suara mereka terdengar biasa saja—seolah tak pernah ada tangis, tak pernah ada kecemasan.
Tapi Rani tahu, ada hal-hal yang tidak perlu diucapkan agar tetap tinggal.
Sesekali, pikirannya kembali ke subuh tadi.
Ke jaket dingin.
Ke tangan yang gemetar.
Ke pelukan yang terlalu singkat.
Ke janji yang ditepati tepat sebelum ia pergi.
Rani memejamkan mata.
Ia menekan edelweis itu ke dadanya, dan air matanya jatuh.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengerti arti satu hal:
perpisahan yang baik…
justru terasa paling menyakitkan.
Other Stories
Hanya Ibu
Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Hotel Tanpa Cermin
Kala memilih menetap sementara di sebuah hotel yang terasa berbeda dari tempat-tempat yang ...
Luka
LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...
Osaka Meet You
Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...