Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi

Reads
1.7K
Votes
15
Parts
24
Vote
Report
Tajwid cinta di tanah tinggi
Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi
Penulis Matchaa

Bab 2 Operasi Jengkol Tersembunyi

Pagi kedua di Pesantren Al-Ikhlas, Fafa terbangun dengan perasaan aneh. Bukan karena suara azan Subuh yang syahdu atau dinginnya udara Puncak yang menelusup hingga ke tulang, melainkan karena aroma. Ya, aroma khas yang semalam membuatnya mimpi dikejar-kejar jengkol raksasa: aroma jengkol goreng.

​"Ya Allah, ini benar-benar ujian iman," bisik Fafa pada dirinya sendiri, menarik selimut sampai menutupi hidungnya.

​Azizah, teman sekamarnya yang sudah selesai tahajud dan sedang mengulang hafalan, tersenyum kecil. "Katanya Abah, jengkol itu sumber energi, Fa. Biar otak kita kuat menghafal."

Fafa hanya bisa mendengus. "Sumber energi penghilang nafsu makan iya."

​Setelah salat Subuh berjamaah, rutinitas pagi santri dimulai. Kelas hafalan Al-Qur'an adalah agenda utama. Fafa berusaha keras fokus, namun perutnya terus berbunyi keroncongan, seolah-olah sedang mengadakan konser tunggal menolak jengkol. Ia merindukan sereal gandumnya, roti bakar keju, bahkan mie instan rasa kari ayam yang biasa ia makan diam-diam di kamarnya.

Kerinduan pada makanan 'duniawi' itu memicu sebuah ide gila di benaknya: Operasi Jengkol Tersembunyi.

​"Maksudnya, kita butuh mie instan. Sushi. Atau minimal, roti bakar cokelat keju. Aku sudah nggak sanggup lagi berhadapan dengan jengkol!" Fafa berbisik dengan nada dramatis.

​Maryam, yang selalu mengikuti ide-ide Fafa, langsung semangat. "Tapi gimana caranya, Fa? Kan nggak boleh bawa makanan dari luar."


​"Itulah gunanya otak, Maryam. Kita akan melakukan misi penyelundupan," kata Fafa dengan mata berbinar-binar.

​Rencana pun disusun. Sore itu, saat jam pelajaran Bahasa Arab, Fafa pura-pura sakit perut. Dia meminta izin untuk pergi ke klinik pesantren yang letaknya agak jauh dari gedung utama. Dengan berbekal uang saku yang lumayan banyak dan daftar belanjaan 'haram' dari teman-temannya, Fafa berhasil lolos dari pengawasan dan menuju warung di luar gerbang pesantren.


Jantungnya berdebar kencang saat membeli berbungkus-bungkus mie instan, wafer cokelat, dan biskuit. Ia menyembunyikan semua barang itu di dalam tas belanja yang dilapisi oleh sayuran kangkung (seolah-olah dia membeli sayur untuk dapur umum).

​"Sukses! Misi Operasi Jengkol Tersembunyi Fase Satu: Pembelian, berhasil!" bisik Fafa saat ia melangkah kembali ke pesantren, merasa seperti agen rahasia.

Malam harinya, setelah semua santri sudah tidur pulas, Fafa dan timnya memulai Fase Dua:

Eksekusi. Mereka menyalakan lilin kecil di pojok kamar mandi asrama, tempat yang dirasa paling aman untuk memasak mie instan.

​"Ingat, jangan sampai ada suara. Dan jangan sampai ada yang tahu!" bisik Fafa sambil membuka bungkus mie instan dengan hati-hati.

Uap panas mulai mengepul dari panci kecil yang mereka pinjam dari dapur umum. Aroma mie instan yang gurih dan pedas memenuhi kamar mandi. Fafa menghirupnya dalam-dalam, merasa seperti orang yang baru bertemu oase di padang pasir.

​"Ini dia surga dunia," gumam Maryam, matanya berbinar melihat mie yang mulai matang.

Saat mereka baru akan menyuap suapan pertama, tiba-tiba... Tok! Tok! Tok!

​Suara ketukan keras di pintu kamar mandi membuat jantung Fafa serasa berhenti berdetak.

​"Assalamualaikum! Ada apa ini? Bau apa ini?" Suara yang familiar itu. Suara Rayyan.


Fafa, Azizah, dan Maryam saling pandang dengan panik. Mie instan di tangan mereka langsung terasa dingin.

​"Aduh, mati kita," bisik Fafa.

​Rayyan mengetuk lagi, lebih keras. "Assalamulaikum! Kalau tidak ada yang buka, saya dobrak ya!"


Dengan tangan gemetar, Fafa membuka pintu. Di depannya, berdiri Rayyan dengan sarung yang disampirkan dan kemeja koko putih, memegang senter. Di belakangnya, ada salah satu guru pengawas asrama.

​Wajah Rayyan terlihat serius,​"Kami cuma... lapar, Kang," sahut Maryam dengan suara pelan.

​Rayyan mengangkat sebungkus mie instan yang masih mentah di meja. "Mie instan? Bukannya kalian tadi sudah makan semur jengkol tiga porsi?"

​Fafa mengangkat wajahnya. "Kan saya sudah bilang, Kang! Jengkol itu cuma numpang lewat! Nggak nempel di lambung!"

Guru pengawas yang berdiri di belakang Rayyan hanya bisa geleng-geleng kepala. "Fatimah, kamu ini ada-ada saja. Kenapa tidak bilang kalau tidak suka jengkol? Kan bisa diganti dengan tahu tempe."

​"Kan... kan saya malu, Ustaz," jawab Fafa pelan.


​Rayyan menyunggingkan senyum tipis. "Sudah, Ustaz. Biar saya yang urus ini. Ini kan sudah larut malam, Ustaz sebaiknya istirahat."

​Setelah guru pengawas pergi, Rayyan masuk ke kamar mandi, mengambil mie instan yang sudah matang itu. "Wah, ini kayaknya enak. Sini, saya bantuin dihabiskan."

Fafa dan teman-temannya melongo. "Enak saja! Itu punya kami, Kang!" protes Fafa.

​"Loh, kan ini barang selundupan.

Barang selundupan itu kalau ketahuan berarti disita negara," kata Rayyan santai sambil menyuap mie. "Hmm, lumayan. Besok saya usulkan menu ini ke Kang Udin. Tapi yang rasa jengkol, ya."

Fafa hanya bisa memejamkan mata. Rencana mulia Operasi Jengkol Tersembunyi mereka berakhir dengan tragis, dan mie instan mereka malah disantap oleh si "Ustadz Jahil" Rayyan.

Keesokan paginya, Fafa sudah pasrah menghadapi konsekuensi. Dia pikir akan kena hukuman berat, seperti membersihkan toilet atau mencabut rumput di lapangan futsal. Namun, Rayyan memiliki ide yang lain.

​"Begini, Fafa," kata Rayyan setelah kelas hafalan usai, memanggil Fafa ke teras masjid.

"Saya tahu kamu keberatan dengan jengkol, dan saya juga tahu kamu melanggar aturan. Tapi saya percaya kamu punya niat baik."


Fafa mendengarkan dengan skeptis. "Jadi, hukuman saya apa, Kang?"

​"Hukuman kamu... adalah setoran hafalan Surah Al-Kahfi," ujar Rayyan dengan senyum misterius.

"Tapi ada syaratnya."


​"Syarat apa lagi?"

​"Kalau kamu bisa setor Al-Kahfi dengan lancar minggu depan, tanpa ada satu pun kesalahan tajwid, saya akan minta Kang Udin membuatkan menu khusus buat kamu. Bebas jengkol selama seminggu," Rayyan menawarkan. "Tapi kalau kamu gagal..."

​"Gagal apa?" Fafa bertanya, mulai penasaran.

​"Kalau kamu gagal, kamu harus makan semur jengkol porsi jumbo setiap hari selama seminggu. Dan... kamu harus manggil saya 'Akhi Rayyan' dengan manis selama seminggu juga," Rayyan mengedipkan matanya.

Fafa memutar bola matanya. "Manggil 'Akhi Rayyan' dengan manis? Kamu gila, Kang?"

​"Jadi, bagaimana? Deal ?" Rayyan mengulurkan tangannya.


Fafa menatap tangan Rayyan, lalu menatap langit. Antara ingin menolak mentah-mentah atau menerima tantangan ini demi harga diri dan lambungnya. Akhirnya, ia menghela napas.

​"Oke, deal ! Tapi jangan harap saya manggil kamu manis. Nggak bakalan!" Fafa menyambar tangan Rayyan dengan cepat, lalu segera menariknya kembali seolah tersengat listrik.

Rayyan hanya tersenyum puas. "Siap-siap saja, Fafa. Hafalan Al-Kahfi itu panjang, lho. Jangan sampai kepikiran mie instan terus, nanti tajwid-nya malah jadi tajwid cinta."









Other Stories
Curahan Hati Seorang Kacung

Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...

Cerita Pendekku

Firman salah satu tipe orang yang belum berani mengunkapkan perasaan yang dimiliki kepada ...

Bukan Cinta Sempurna

Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...

2r

Fajri tak sengaja mendengar pembicaraan Ryan dan Rafi, ia terkejut ketika mengetahui kalau ...

Uap Dari Panas Bumi

Liburan seharusnya menjadi pelarian paling menyenangkan bagi Aluna. Setelah berbulan-bulan ...

Autumns Journey

Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...

Download Titik & Koma