Bab 5 Polusi Ibu Kota
Jakarta menyambut Fafa dengan segala kebisingannya yang khas: klakson yang bersahutan, polusi yang membuat kulit "glowing"-nya sedikit protes, dan rutinitas sekolah yang terasa jauh lebih hambar dibandingkan hari-hari penuh tantangan di Puncak. Sudah dua minggu sejak Fafa meninggalkan Pesantren Al-Ikhlas, dan hidupnya kembali ke setelan pabrik—hampir.
Satu-satunya yang berbeda adalah sebuah mushaf saku berwarna ungu yang kini tidak pernah absen dari tas sekolahnya. Di tengah hiruk-pikuk kantin SMA yang penuh dengan gosip terbaru, Fafa sering tertangkap basah sedang memojok, bibirnya komat-kamit mengulang hafalan Surah Maryam.
"Fa, kamu beneran kesambet jin penunggu pesantren ya?" goda Sarah sambil meletakkan segelas es teh di depan Fafa. "Biasanya jam segini kita lagi bahas diskon flash sale, sekarang kamu malah asyik sama tajwid."
Fafa menutup mushafnya perlahan. "Bukan kesambet, Sar. Cuma lagi mencoba menjaga amanah. Lagian, menghafal itu ternyata lebih bikin tenang daripada mantengin keranjang belanjaan yang nggak pernah dibayar."
"Halah, bilang aja lagi kangen sama 'Mas-Mas Sarung' itu, kan?" Sarah menyenggol bahu Fafa dengan tatapan menyelidik.
Wajah Fafa mendadak merah secerah sirup stroberi. "Ih, apa sih! Nggak ada hubungannya!"
Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Fafa tahu Sarah benar. Setiap kali ia membaca ayat-ayat Al-Qur'an, suara berat Rayyan seolah terngiang di telinganya, mengoreksi hukum Mad yang terlalu panjang atau Ghunnah yang kurang mantap. Ia merindukan ejekan tentang jengkol. Ia merindukan cara Rayyan tertawa saat melihatnya panik.
Hari Sabtu itu, Fafa sedang malas-malasan di rumah. Ia baru saja selesai membantu Ibunya membuat kue saat Ayah memanggilnya dari ruang tamu dengan nada suara yang terdengar... mencurigakan.
"Fafa! Sini sebentar, ada tamu yang mau ketemu," teriak Ayah.
Fafa keluar dengan daster rumahan dan kerudung instan yang dipasang asal-asalan.
"Siapa, Yah? Kalau kurir paket, suruh taruh di pagar aja..."
Langkahnya terhenti tepat di ambang pintu ruang tamu. Jantungnya serasa baru saja melakukan bungee jumping tanpa tali pengaman.
Di sana, duduk di sofa kulit favorit Ayah, adalah seorang pemuda. Dia tidak memakai sarung hari ini. Dia mengenakan kemeja flanel kotak-kotak yang rapi, celana jin gelap, dan sepatu sneakers bersih. Namun, peci hitam di kepalanya tetap bertengger dengan gagah, dan senyum jahil itu masih tetap sama.
"Assalamualaikum, Ukhti Jengkol. Lama nggak ketemu," sapa pemuda itu.
"Mas... Mas Rayyan?" Fafa melongo, tangannya masih memegang sisa tepung di baju. "Ngapain di sini? Eh, maksudnya, kok nggak kasih kabar?"
Rayyan tertawa kecil, suara yang sangat Fafa rindukan. "Tadi saya sudah minta izin Ayah kamu lewat telepon. Katanya boleh mampir kalau lagi ada urusan di Jakarta. Ternyata rumah kamu lebih luas dari lapangan futsal pesantren ya?"
Ayah Fafa berdehem, sambil tersenyum penuh arti. "Ayah tinggal ke belakang dulu ya, ada telepon kerjaan. Rayyan, diminum tehnya. Fafa, itu tepung di hidung tolong dihapus dulu, nggak estetik."
Fafa buru-buru mengusap hidungnya dengan perasaan malu yang luar biasa. Ia segera lari ke dalam untuk berganti pakaian yang lebih pantas (dan lebih wangi), lalu kembali ke ruang tamu dengan jantung yang masih berdisko.
"Jadi, beneran Mas ke Jakarta cuma buat urusan?" tanya Fafa setelah mereka duduk dengan jarak yang sangat aman—sekitar dua bantal sofa.
"Urusan penting," jawab Rayyan serius. "Urusan mengecek apakah hafalan Surah Maryam kamu sudah sampai ayat terakhir atau malah sudah menguap kena polusi Jakarta."
Fafa mendengus, rasa percaya dirinya kembali. "Wah, meremehkan ya! Aku sudah sampai ayat enam puluh, tahu!"
"Oh ya? Coba, saya tes sekarang. Kalau lancar, saya kasih hadiah. Kalau nggak lancar, Mas bakal kasih hukuman yang lebih berat dari makan jengkol," tantang Rayyan, kembali ke mode "Ustadz Jahil".
Di ruang tamu yang sejuk oleh AC itu, terjadilah pemandangan unik. Rayyan menyimak dengan saksama sementara Fafa melantunkan ayat-ayat suci. Sesekali Rayyan menginterupsi untuk mengoreksi makhraj, namun kali ini ada nada kelembutan yang lebih terasa.
"Bagus. Lancar," puji Rayyan setelah Fafa selesai.
"Hadiahnya... saya bawakan titipan dari Ummi."
Rayyan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya. Saat dibuka, isinya adalah sebotol sambal teri kacang buatan Ummi dan... sebuah gantungan kunci berbentuk sandal jepit kecil berwarna ungu.
Fafa tertawa geli melihat gantungan kunci itu. "Masih aja bahas sandal!"
"Itu biar kamu ingat, sejauh mana pun kamu melangkah, pastikan langkahnya di jalan yang benar. Dan pastikan sandalnya nggak tertukar lagi, kecuali kalau mau tertukar sama sandal saya selamanya," ucap Rayyan pelan, namun penuh makna.
Sore harinya, mereka duduk di teras belakang rumah Fafa yang penuh tanaman hias. Suasana sedikit lebih santai. Rayyan menatap pohon mangga di pojok taman dengan pandangan menerawang.
"Fa, sebenarnya saya ke sini bukan cuma mau tes hafalan," mulai Rayyan.
Fafa menahan napas. "Terus?"
"Abah sama Ummi tanya, setelah kamu lulus SMA nanti, rencana kamu apa?"
"Aku mau ambil desain grafis, Mas. Kayak yang pernah aku bilang," jawab Fafa jujur.
Rayyan mengangguk. "Bagus. Kejarlah cita-cita kamu. Tapi, boleh saya minta satu hal?"
"Apa itu?"
"Tolong simpan satu slot di masa depan kamu buat saya. Saya nggak minta sekarang, karena kita berdua masih harus banyak belajar. Saya harus selesaikan kuliah di Mesir bulan depan, dan kamu harus selesaikan sekolahmu. Tapi saya ingin kita punya tujuan yang sama. Menuju rida-Nya, bersama-sama."
Fafa terpaku. Langit Jakarta yang biasanya terlihat abu-abu karena polusi, entah kenapa sore itu terlihat seperti kanvas yang penuh dengan warna merah muda. Tidak ada kata-kata gombal yang berlebihan, hanya sebuah komitmen yang jujur dan tulus dari seorang lelaki yang menjaga hatinya.
"Mas... Mas mau kuliah ke Mesir?" tanya Fafa dengan nada sedikit sedih.
"Cuma tiga tahun, Fa. Itu waktu yang cukup buat kamu jadi desainer hebat dan buat saya jadi orang yang lebih pantas buat berdiri di depan Ayah kamu lagi, bukan sebagai tamu, tapi sebagai... ya, kamu tahu sendirilah," Rayyan nyengir, mengembalikan suasana agar tidak terlalu tegang.
Fafa tersenyum, kali ini senyum yang paling tulus. "Oke. Tiga tahun ya, Mas. Selama itu, aku bakal selesaikan hafalan 30 juz aku."
"Janji?" Rayyan mengangkat jari kelingkingnya dari jauh.
"Janji. Dan Mas jangan sampai lupa jalan pulang ke Jakarta ya!"
Rayyan tertawa. "Mana mungkin lupa, kalau di Jakarta ada 'bidadari jengkol' yang nungguin."
Malam itu, saat Rayyan berpamitan pulang, Fafa menatap punggung pemuda itu yang perlahan menghilang. Ia menyadari bahwa cinta dalam Islam bukan tentang siapa yang paling cepat mengungkapkan, tapi tentang siapa yang paling sabar dalam menjaga dan mendoakan.
Liburan sekolah itu mungkin sudah lama usai, namun bagi Fafa, liburan itu adalah titik balik yang mengubah dunianya. Dari sandal yang tertukar, menjadi hati yang terpaut pada janji suci.
Satu-satunya yang berbeda adalah sebuah mushaf saku berwarna ungu yang kini tidak pernah absen dari tas sekolahnya. Di tengah hiruk-pikuk kantin SMA yang penuh dengan gosip terbaru, Fafa sering tertangkap basah sedang memojok, bibirnya komat-kamit mengulang hafalan Surah Maryam.
"Fa, kamu beneran kesambet jin penunggu pesantren ya?" goda Sarah sambil meletakkan segelas es teh di depan Fafa. "Biasanya jam segini kita lagi bahas diskon flash sale, sekarang kamu malah asyik sama tajwid."
Fafa menutup mushafnya perlahan. "Bukan kesambet, Sar. Cuma lagi mencoba menjaga amanah. Lagian, menghafal itu ternyata lebih bikin tenang daripada mantengin keranjang belanjaan yang nggak pernah dibayar."
"Halah, bilang aja lagi kangen sama 'Mas-Mas Sarung' itu, kan?" Sarah menyenggol bahu Fafa dengan tatapan menyelidik.
Wajah Fafa mendadak merah secerah sirup stroberi. "Ih, apa sih! Nggak ada hubungannya!"
Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Fafa tahu Sarah benar. Setiap kali ia membaca ayat-ayat Al-Qur'an, suara berat Rayyan seolah terngiang di telinganya, mengoreksi hukum Mad yang terlalu panjang atau Ghunnah yang kurang mantap. Ia merindukan ejekan tentang jengkol. Ia merindukan cara Rayyan tertawa saat melihatnya panik.
Hari Sabtu itu, Fafa sedang malas-malasan di rumah. Ia baru saja selesai membantu Ibunya membuat kue saat Ayah memanggilnya dari ruang tamu dengan nada suara yang terdengar... mencurigakan.
"Fafa! Sini sebentar, ada tamu yang mau ketemu," teriak Ayah.
Fafa keluar dengan daster rumahan dan kerudung instan yang dipasang asal-asalan.
"Siapa, Yah? Kalau kurir paket, suruh taruh di pagar aja..."
Langkahnya terhenti tepat di ambang pintu ruang tamu. Jantungnya serasa baru saja melakukan bungee jumping tanpa tali pengaman.
Di sana, duduk di sofa kulit favorit Ayah, adalah seorang pemuda. Dia tidak memakai sarung hari ini. Dia mengenakan kemeja flanel kotak-kotak yang rapi, celana jin gelap, dan sepatu sneakers bersih. Namun, peci hitam di kepalanya tetap bertengger dengan gagah, dan senyum jahil itu masih tetap sama.
"Assalamualaikum, Ukhti Jengkol. Lama nggak ketemu," sapa pemuda itu.
"Mas... Mas Rayyan?" Fafa melongo, tangannya masih memegang sisa tepung di baju. "Ngapain di sini? Eh, maksudnya, kok nggak kasih kabar?"
Rayyan tertawa kecil, suara yang sangat Fafa rindukan. "Tadi saya sudah minta izin Ayah kamu lewat telepon. Katanya boleh mampir kalau lagi ada urusan di Jakarta. Ternyata rumah kamu lebih luas dari lapangan futsal pesantren ya?"
Ayah Fafa berdehem, sambil tersenyum penuh arti. "Ayah tinggal ke belakang dulu ya, ada telepon kerjaan. Rayyan, diminum tehnya. Fafa, itu tepung di hidung tolong dihapus dulu, nggak estetik."
Fafa buru-buru mengusap hidungnya dengan perasaan malu yang luar biasa. Ia segera lari ke dalam untuk berganti pakaian yang lebih pantas (dan lebih wangi), lalu kembali ke ruang tamu dengan jantung yang masih berdisko.
"Jadi, beneran Mas ke Jakarta cuma buat urusan?" tanya Fafa setelah mereka duduk dengan jarak yang sangat aman—sekitar dua bantal sofa.
"Urusan penting," jawab Rayyan serius. "Urusan mengecek apakah hafalan Surah Maryam kamu sudah sampai ayat terakhir atau malah sudah menguap kena polusi Jakarta."
Fafa mendengus, rasa percaya dirinya kembali. "Wah, meremehkan ya! Aku sudah sampai ayat enam puluh, tahu!"
"Oh ya? Coba, saya tes sekarang. Kalau lancar, saya kasih hadiah. Kalau nggak lancar, Mas bakal kasih hukuman yang lebih berat dari makan jengkol," tantang Rayyan, kembali ke mode "Ustadz Jahil".
Di ruang tamu yang sejuk oleh AC itu, terjadilah pemandangan unik. Rayyan menyimak dengan saksama sementara Fafa melantunkan ayat-ayat suci. Sesekali Rayyan menginterupsi untuk mengoreksi makhraj, namun kali ini ada nada kelembutan yang lebih terasa.
"Bagus. Lancar," puji Rayyan setelah Fafa selesai.
"Hadiahnya... saya bawakan titipan dari Ummi."
Rayyan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya. Saat dibuka, isinya adalah sebotol sambal teri kacang buatan Ummi dan... sebuah gantungan kunci berbentuk sandal jepit kecil berwarna ungu.
Fafa tertawa geli melihat gantungan kunci itu. "Masih aja bahas sandal!"
"Itu biar kamu ingat, sejauh mana pun kamu melangkah, pastikan langkahnya di jalan yang benar. Dan pastikan sandalnya nggak tertukar lagi, kecuali kalau mau tertukar sama sandal saya selamanya," ucap Rayyan pelan, namun penuh makna.
Sore harinya, mereka duduk di teras belakang rumah Fafa yang penuh tanaman hias. Suasana sedikit lebih santai. Rayyan menatap pohon mangga di pojok taman dengan pandangan menerawang.
"Fa, sebenarnya saya ke sini bukan cuma mau tes hafalan," mulai Rayyan.
Fafa menahan napas. "Terus?"
"Abah sama Ummi tanya, setelah kamu lulus SMA nanti, rencana kamu apa?"
"Aku mau ambil desain grafis, Mas. Kayak yang pernah aku bilang," jawab Fafa jujur.
Rayyan mengangguk. "Bagus. Kejarlah cita-cita kamu. Tapi, boleh saya minta satu hal?"
"Apa itu?"
"Tolong simpan satu slot di masa depan kamu buat saya. Saya nggak minta sekarang, karena kita berdua masih harus banyak belajar. Saya harus selesaikan kuliah di Mesir bulan depan, dan kamu harus selesaikan sekolahmu. Tapi saya ingin kita punya tujuan yang sama. Menuju rida-Nya, bersama-sama."
Fafa terpaku. Langit Jakarta yang biasanya terlihat abu-abu karena polusi, entah kenapa sore itu terlihat seperti kanvas yang penuh dengan warna merah muda. Tidak ada kata-kata gombal yang berlebihan, hanya sebuah komitmen yang jujur dan tulus dari seorang lelaki yang menjaga hatinya.
"Mas... Mas mau kuliah ke Mesir?" tanya Fafa dengan nada sedikit sedih.
"Cuma tiga tahun, Fa. Itu waktu yang cukup buat kamu jadi desainer hebat dan buat saya jadi orang yang lebih pantas buat berdiri di depan Ayah kamu lagi, bukan sebagai tamu, tapi sebagai... ya, kamu tahu sendirilah," Rayyan nyengir, mengembalikan suasana agar tidak terlalu tegang.
Fafa tersenyum, kali ini senyum yang paling tulus. "Oke. Tiga tahun ya, Mas. Selama itu, aku bakal selesaikan hafalan 30 juz aku."
"Janji?" Rayyan mengangkat jari kelingkingnya dari jauh.
"Janji. Dan Mas jangan sampai lupa jalan pulang ke Jakarta ya!"
Rayyan tertawa. "Mana mungkin lupa, kalau di Jakarta ada 'bidadari jengkol' yang nungguin."
Malam itu, saat Rayyan berpamitan pulang, Fafa menatap punggung pemuda itu yang perlahan menghilang. Ia menyadari bahwa cinta dalam Islam bukan tentang siapa yang paling cepat mengungkapkan, tapi tentang siapa yang paling sabar dalam menjaga dan mendoakan.
Liburan sekolah itu mungkin sudah lama usai, namun bagi Fafa, liburan itu adalah titik balik yang mengubah dunianya. Dari sandal yang tertukar, menjadi hati yang terpaut pada janji suci.
Other Stories
Menantimu
Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...
Kepentok Kacung Kampret
Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...
After Meet You
kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...
Cinta Satu Paket
Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...
Dua Bintang
Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...