Bab 8 Adaptasi Jakarta
Satu bulan setelah resepsi yang penuh tawa dan aroma jengkol di Puncak, kehidupan baru Fafa dan Rayyan resmi berpindah ke sebuah apartemen kecil namun estetik di kawasan Jakarta Selatan. Jakarta masih sama: bising, macet, dan udaranya tidak sedingin Puncak. Namun bagi Fafa, apartemen ini terasa seperti sebuah planet baru di mana dia adalah "Ratu" dan Rayyan adalah "Subjek Penelitian" yang sangat membingungkan.
"Mas Rayyan! Kamu naruh sarung di atas dispenser lagi?" teriak Fafa dari arah dapur.
Rayyan, yang sedang asyik memeriksa silabus mengajar untuk sekolah barunya, hanya menyahut santai tanpa menoleh, "Itu namanya multitasking, Fa. Biar dispensernya nggak kedinginan, dan sarungnya gampang diambil kalau mau ke masjid."
Fafa muncul di ambang pintu kamar dengan tangan berkacak pinggang. "Nggak ada hubungannya, Mas! Itu namanya berantakan. Di sini bukan asrama putra yang bisa naruh barang seenak jidat."
Rayyan akhirnya menoleh, menatap istrinya dengan senyum jahil yang masih sama seperti saat mereka pertama kali bertemu di lapangan futsal becek. "Galaknya istriku kalau lagi pakai daster begini. Makin mirip Ummi kalau lagi marahin Abah."
Fafa berusaha menahan senyum. "Jangan ngerayu! Cepat pindahin, atau sarungnya aku rendam pakai kuah opor!"
Sebagai istri yang ingin berbakti, Fafa memutuskan untuk memasak makan malam spesial. Ia ingin membuktikan bahwa desainer grafis lulusan terbaik juga bisa menjadi "Koki Bintang Lima" di dapur. Menu pilihannya adalah: Soto Ayam Santan Tanpa Jengkol.
Masalahnya satu: Fafa jarang sekali menyentuh kompor selama kuliah. Dia lebih akrab dengan stylus pen daripada ulekan sambal.
"Mas, kalau di resep tertulis 'garam secukupnya', itu maksudnya segenggam atau seujung kuku?" tanya Fafa dengan wajah serius, seolah-olah sedang menanyakan hukum bacaan Gharib dalam Al-Qur'an.
Rayyan yang sedang membaca di sofa menjawab tanpa melihat, "Ikuti kata hati, Fa. Masakan itu soal rasa, bukan cuma soal takaran. Kayak cinta aku ke kamu, secukupnya... tapi cukup buat selamanya."
"Mas! Fokus!"
Fafa akhirnya memasukkan garam dengan perasaan ragu. Ditambah lagi dengan kunyit yang menurutnya "warnanya kurang kuning", jadi dia memasukkan satu rimpang penuh. Hasilnya? Kuah soto itu bukan lagi kuning keemasan, melainkan kuning neon yang nyaris bersinar dalam gelap.
Saat makan malam tiba, Rayyan menatap mangkuk sotonya dengan dahi berkerut. "Fa, ini soto ayam atau ramuan ramalan cuaca? Kok warnanya... sangat berani?"
"Itu namanya eksplorasi warna, Mas. Desainer kan harus kreatif," jawab Fafa sambil menyodorkan sendok. "Ayo, coba."
Rayyan menyuap sesendok kecil. Matanya mendadak membelalak. Dia terdiam selama lima detik tanpa mengunyah.
"Gimana, Mas? Kurang garam?"
Rayyan menelan soto itu dengan perjuangan heroik. "Fa... ini bukan kurang garam. Ini kayaknya air laut pun minder sama soto kamu.
Asinnya... sampai ke ginjal. Tapi, kunyitnya kerasa banget, Fa. Kayaknya kalau aku minum ini terus, kulitku bisa berubah jadi emas."
Fafa mencicipi masakannya sendiri dan langsung terbatuk. "Astaghfirullah! Kok asin banget?!"
"Nggak apa-apa," Rayyan tertawa sambil
mengambil gelas air putih besar. "Katanya kalau masakan asin itu tandanya pengen nikah lagi. Eh, maksudnya pengen nikah banget. Tapi kan kita sudah nikah. Mungkin kamu pengen kita nikah ulang tiap bulan?"
"Mas Rayyan!" Fafa melempar serbet ke arah suaminya, yang langsung ditangkap Rayyan dengan tangkas.
Minggu-minggu pertama rumah tangga mereka adalah rangkaian komedi situasi. Rayyan, yang terbiasa hidup komunal di pesantren, sering lupa bahwa sekarang dia tinggal di hunian modern yang terbatas. Dia punya hobi aneh: menjemur handuk di kursi kerja Fafa atau lupa mematikan keran air karena terbiasa dengan kolam pesantren yang airnya meluap-luap.
Puncaknya adalah saat Rayyan membawa "oleh-oleh" dari kunjungannya ke Puncak untuk menjenguk Abah.
"Fa, lihat! Kang Udin kasih kita stok jengkol mentah dua karung!" seru Rayyan dengan wajah sangat bahagia, seolah baru saja memenangkan undian umroh.
Fafa menatap dua karung besar di depan pintu apartemennya dengan tatapan horor. "Mas... kita tinggal di apartemen lantai sepuluh. Kalau kita masak itu, satu lantai bakal ngira ada kebocoran gas beracun!"
"Tenang, Fa. Ini jengkol kualitas premium. Kata Kang Udin, kalau direbus pakai daun salam sepuluh lembar dan kopi bubuk, baunya hilang, rasanya tinggal kenangan," jelas Rayyan penuh percaya diri.
Akhirnya, karena tidak tega melihat wajah antusias suaminya, Fafa mengalah. Mereka berdua "berperang" di dapur kecil mereka. Rayyan bertugas mengupas, Fafa bertugas merebus.
"Mas, tangan kamu jadi bau jengkol! Jangan dekat-dekat aku dulu!" teriak Fafa saat Rayyan mencoba membantu mengikat rambutnya yang lepas.
"Lho, ini aroma perjuangan, Fa. Dulu kamu jatuh cinta sama aku juga gara-gara aroma ini, kan?"
"Fitnah! Aku jatuh cinta karena Mas pinter ngaji, bukan karena Mas duta jengkol!"
Malam itu, apartemen mereka benar-benar penuh dengan aroma jengkol. Meskipun mereka sudah menyalakan exhaust fan maksimal dan menyemprotkan pengharum ruangan aroma lavender, yang tercipta justru aroma aneh: Lavender Jengkol.
Namun, di balik segala kekonyolan dan perdebatan soal sarung serta jengkol, ada momen-momen yang membuat Fafa bersyukur luar biasa.
Tepat jam tiga pagi, Rayyan selalu bangun lebih dulu. Dia tidak pernah menyiram Fafa dengan air (meskipun dulu sering mengancam begitu). Dia akan mengusap kening Fafa dengan lembut, membisikkan doa, dan menunggu sampai istrinya benar-benar terjaga.
"Ayo, Makmumku. Kita setoran hafalan sebelum Subuh," ajak Rayyan.
Di atas sajadah yang berdampingan, di tengah keheningan Jakarta yang baru sejenak beristirahat, mereka melantunkan ayat-ayat suci bergantian. Di saat itulah, segala kekesalan Fafa tentang handuk basah atau masakan asin menguap begitu saja.
Di atas sajadah yang berdampingan, di tengah keheningan Jakarta yang baru sejenak beristirahat, mereka melantunkan ayat-ayat suci bergantian. Di saat itulah, segala kekesalan Fafa tentang handuk basah atau masakan asin menguap begitu saja.
Suara Rayyan saat melantunkan Surah Ar-Rahman selalu berhasil membuat Fafa merinding. Suara itu membawa memori kembali ke teras masjid di Puncak, ke masa di mana mereka masih saling malu-malu dan berdebat soal sandal.
"Fa," panggil Rayyan setelah mereka selesai berdoa.
"Iya, Mas?"
"Makasih ya, sudah mau bersabar sama kebiasaan-kebiasaan aneh Mas. Mas tahu, Mas bukan suami yang serapi laki-laki kantoran di drama Korea yang kamu tonton. Mas cuma laki-laki sarungan yang masih sering lupa naruh barang."
Fafa menggenggam tangan Rayyan, mencium punggung tangannya dengan takzim. "Nggak apa-apa, Mas. Mas nggak perlu jadi aktor Korea. Karena aktor Korea nggak bisa mimpin salat tahajud seindah Mas. Dan aktor Korea nggak akan mau bantuin aku ngupas jengkol sampai tangannya bau."
Rayyan tersenyum lebar, lalu ia mengeluarkan sebuah benda dari balik saku kokonya. Sebuah gantungan kunci baru. Kali ini bukan sandal jepit, tapi miniatur rumah kecil dengan tulisan: "Baitii Jannatii - Tanpa Jengkol (Kalau Bisa)".
"Mas dapet dari mana ini?" Fafa tertawa.
"Bikin sendiri pas jam istirahat di sekolah. Biar kamu selalu ingat, sejauh mana pun kita pergi, rumah kita adalah tempat paling nyaman buat jadi diri sendiri. Meskipun baunya kadang-kadang ajaib."
Fafa tertawa renyah, menyandarkan kepalanya di bahu Rayyan. Di luar jendela, lampu-lampu Jakarta mulai meredup menyambut fajar. Mereka menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal menyatukan dua hati, tapi soal menyatukan dua kebiasaan yang berbeda menjadi satu irama tajwid yang harmonis.
Dan tentang jengkol dua karung itu? Akhirnya mereka memutuskan untuk membagikannya ke tetangga apartemen dan satpam di bawah. Ternyata, berbagi jengkol adalah cara tercepat untuk mendapatkan teman baru di ibu kota.
"Mas Rayyan! Kamu naruh sarung di atas dispenser lagi?" teriak Fafa dari arah dapur.
Rayyan, yang sedang asyik memeriksa silabus mengajar untuk sekolah barunya, hanya menyahut santai tanpa menoleh, "Itu namanya multitasking, Fa. Biar dispensernya nggak kedinginan, dan sarungnya gampang diambil kalau mau ke masjid."
Fafa muncul di ambang pintu kamar dengan tangan berkacak pinggang. "Nggak ada hubungannya, Mas! Itu namanya berantakan. Di sini bukan asrama putra yang bisa naruh barang seenak jidat."
Rayyan akhirnya menoleh, menatap istrinya dengan senyum jahil yang masih sama seperti saat mereka pertama kali bertemu di lapangan futsal becek. "Galaknya istriku kalau lagi pakai daster begini. Makin mirip Ummi kalau lagi marahin Abah."
Fafa berusaha menahan senyum. "Jangan ngerayu! Cepat pindahin, atau sarungnya aku rendam pakai kuah opor!"
Sebagai istri yang ingin berbakti, Fafa memutuskan untuk memasak makan malam spesial. Ia ingin membuktikan bahwa desainer grafis lulusan terbaik juga bisa menjadi "Koki Bintang Lima" di dapur. Menu pilihannya adalah: Soto Ayam Santan Tanpa Jengkol.
Masalahnya satu: Fafa jarang sekali menyentuh kompor selama kuliah. Dia lebih akrab dengan stylus pen daripada ulekan sambal.
"Mas, kalau di resep tertulis 'garam secukupnya', itu maksudnya segenggam atau seujung kuku?" tanya Fafa dengan wajah serius, seolah-olah sedang menanyakan hukum bacaan Gharib dalam Al-Qur'an.
Rayyan yang sedang membaca di sofa menjawab tanpa melihat, "Ikuti kata hati, Fa. Masakan itu soal rasa, bukan cuma soal takaran. Kayak cinta aku ke kamu, secukupnya... tapi cukup buat selamanya."
"Mas! Fokus!"
Fafa akhirnya memasukkan garam dengan perasaan ragu. Ditambah lagi dengan kunyit yang menurutnya "warnanya kurang kuning", jadi dia memasukkan satu rimpang penuh. Hasilnya? Kuah soto itu bukan lagi kuning keemasan, melainkan kuning neon yang nyaris bersinar dalam gelap.
Saat makan malam tiba, Rayyan menatap mangkuk sotonya dengan dahi berkerut. "Fa, ini soto ayam atau ramuan ramalan cuaca? Kok warnanya... sangat berani?"
"Itu namanya eksplorasi warna, Mas. Desainer kan harus kreatif," jawab Fafa sambil menyodorkan sendok. "Ayo, coba."
Rayyan menyuap sesendok kecil. Matanya mendadak membelalak. Dia terdiam selama lima detik tanpa mengunyah.
"Gimana, Mas? Kurang garam?"
Rayyan menelan soto itu dengan perjuangan heroik. "Fa... ini bukan kurang garam. Ini kayaknya air laut pun minder sama soto kamu.
Asinnya... sampai ke ginjal. Tapi, kunyitnya kerasa banget, Fa. Kayaknya kalau aku minum ini terus, kulitku bisa berubah jadi emas."
Fafa mencicipi masakannya sendiri dan langsung terbatuk. "Astaghfirullah! Kok asin banget?!"
"Nggak apa-apa," Rayyan tertawa sambil
mengambil gelas air putih besar. "Katanya kalau masakan asin itu tandanya pengen nikah lagi. Eh, maksudnya pengen nikah banget. Tapi kan kita sudah nikah. Mungkin kamu pengen kita nikah ulang tiap bulan?"
"Mas Rayyan!" Fafa melempar serbet ke arah suaminya, yang langsung ditangkap Rayyan dengan tangkas.
Minggu-minggu pertama rumah tangga mereka adalah rangkaian komedi situasi. Rayyan, yang terbiasa hidup komunal di pesantren, sering lupa bahwa sekarang dia tinggal di hunian modern yang terbatas. Dia punya hobi aneh: menjemur handuk di kursi kerja Fafa atau lupa mematikan keran air karena terbiasa dengan kolam pesantren yang airnya meluap-luap.
Puncaknya adalah saat Rayyan membawa "oleh-oleh" dari kunjungannya ke Puncak untuk menjenguk Abah.
"Fa, lihat! Kang Udin kasih kita stok jengkol mentah dua karung!" seru Rayyan dengan wajah sangat bahagia, seolah baru saja memenangkan undian umroh.
Fafa menatap dua karung besar di depan pintu apartemennya dengan tatapan horor. "Mas... kita tinggal di apartemen lantai sepuluh. Kalau kita masak itu, satu lantai bakal ngira ada kebocoran gas beracun!"
"Tenang, Fa. Ini jengkol kualitas premium. Kata Kang Udin, kalau direbus pakai daun salam sepuluh lembar dan kopi bubuk, baunya hilang, rasanya tinggal kenangan," jelas Rayyan penuh percaya diri.
Akhirnya, karena tidak tega melihat wajah antusias suaminya, Fafa mengalah. Mereka berdua "berperang" di dapur kecil mereka. Rayyan bertugas mengupas, Fafa bertugas merebus.
"Mas, tangan kamu jadi bau jengkol! Jangan dekat-dekat aku dulu!" teriak Fafa saat Rayyan mencoba membantu mengikat rambutnya yang lepas.
"Lho, ini aroma perjuangan, Fa. Dulu kamu jatuh cinta sama aku juga gara-gara aroma ini, kan?"
"Fitnah! Aku jatuh cinta karena Mas pinter ngaji, bukan karena Mas duta jengkol!"
Malam itu, apartemen mereka benar-benar penuh dengan aroma jengkol. Meskipun mereka sudah menyalakan exhaust fan maksimal dan menyemprotkan pengharum ruangan aroma lavender, yang tercipta justru aroma aneh: Lavender Jengkol.
Namun, di balik segala kekonyolan dan perdebatan soal sarung serta jengkol, ada momen-momen yang membuat Fafa bersyukur luar biasa.
Tepat jam tiga pagi, Rayyan selalu bangun lebih dulu. Dia tidak pernah menyiram Fafa dengan air (meskipun dulu sering mengancam begitu). Dia akan mengusap kening Fafa dengan lembut, membisikkan doa, dan menunggu sampai istrinya benar-benar terjaga.
"Ayo, Makmumku. Kita setoran hafalan sebelum Subuh," ajak Rayyan.
Di atas sajadah yang berdampingan, di tengah keheningan Jakarta yang baru sejenak beristirahat, mereka melantunkan ayat-ayat suci bergantian. Di saat itulah, segala kekesalan Fafa tentang handuk basah atau masakan asin menguap begitu saja.
Di atas sajadah yang berdampingan, di tengah keheningan Jakarta yang baru sejenak beristirahat, mereka melantunkan ayat-ayat suci bergantian. Di saat itulah, segala kekesalan Fafa tentang handuk basah atau masakan asin menguap begitu saja.
Suara Rayyan saat melantunkan Surah Ar-Rahman selalu berhasil membuat Fafa merinding. Suara itu membawa memori kembali ke teras masjid di Puncak, ke masa di mana mereka masih saling malu-malu dan berdebat soal sandal.
"Fa," panggil Rayyan setelah mereka selesai berdoa.
"Iya, Mas?"
"Makasih ya, sudah mau bersabar sama kebiasaan-kebiasaan aneh Mas. Mas tahu, Mas bukan suami yang serapi laki-laki kantoran di drama Korea yang kamu tonton. Mas cuma laki-laki sarungan yang masih sering lupa naruh barang."
Fafa menggenggam tangan Rayyan, mencium punggung tangannya dengan takzim. "Nggak apa-apa, Mas. Mas nggak perlu jadi aktor Korea. Karena aktor Korea nggak bisa mimpin salat tahajud seindah Mas. Dan aktor Korea nggak akan mau bantuin aku ngupas jengkol sampai tangannya bau."
Rayyan tersenyum lebar, lalu ia mengeluarkan sebuah benda dari balik saku kokonya. Sebuah gantungan kunci baru. Kali ini bukan sandal jepit, tapi miniatur rumah kecil dengan tulisan: "Baitii Jannatii - Tanpa Jengkol (Kalau Bisa)".
"Mas dapet dari mana ini?" Fafa tertawa.
"Bikin sendiri pas jam istirahat di sekolah. Biar kamu selalu ingat, sejauh mana pun kita pergi, rumah kita adalah tempat paling nyaman buat jadi diri sendiri. Meskipun baunya kadang-kadang ajaib."
Fafa tertawa renyah, menyandarkan kepalanya di bahu Rayyan. Di luar jendela, lampu-lampu Jakarta mulai meredup menyambut fajar. Mereka menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal menyatukan dua hati, tapi soal menyatukan dua kebiasaan yang berbeda menjadi satu irama tajwid yang harmonis.
Dan tentang jengkol dua karung itu? Akhirnya mereka memutuskan untuk membagikannya ke tetangga apartemen dan satpam di bawah. Ternyata, berbagi jengkol adalah cara tercepat untuk mendapatkan teman baru di ibu kota.
Other Stories
Liburan Di Pulau Terpilih
Setelah putus cinta yang menghancurkan, Anna Mariana mencoba menjalani hari-harinya dalam ...
Bumi
Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...
Tatapan Yang Tidak Pernah Sampai
Cerpen ini mengisahkan satu tatapan singkat yang menumbuhkan dunia imajinasi, harapan, dan ...
Gm.
menakutkan. ...
Nyanyian Hati Seruni
Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...
Balon Kuning Di Ujung Jalan
Liburan ke rumah teman masa SD sangat menyenangkan apalagi diperkenalkan berbagai permaina ...