Bab 9 Romantisme Yang Realistis
Minggu kedua di Jakarta Selatan. Fafa baru saja menyadari bahwa hidup dalam satu atap dengan Rayyan bukan hanya soal mendengarkan lantunan Al-Qur'an sebelum tidur atau berdiskusi soal masa depan. Hidup bersama Rayyan ternyata juga soal kompromi terhadap aroma sarung yang belum kering, perdebatan tentang merek sabun cuci piring, dan yang paling krusial: bunyi tit-tit-tit dari meteran listrik yang tidak mengenal waktu.
Pagi itu, Fafa sedang duduk di meja makannya yang mungil, menatap layar laptop dengan kening berkerut. Sebagai desainer lepas yang sedang merintis nama, ia baru saja mendapatkan pesanan desain seragam untuk sebuah komunitas pengajian elit di Jakarta Pusat. Namun, konsentrasinya buyar setiap kali melihat Rayyan—yang sedang libur mengajar—berjalan bolak-balik di depannya sambil membawa filter AC yang kotor.
"Mas, bisa nggak itu debunya jangan dikibas-kibas di depan laptop aku? Ini aset masa depan kita, Mas!" seru Fafa sambil menutup layarnya dengan gerakan protektif.
Rayyan berhenti, menatap filter AC itu lalu menatap istrinya. "Fa, udara Jakarta itu lebih jahat daripada lisan tetangga yang suka nanya 'kapan punya anak'. Kalau AC ini nggak dibersihin, paru-paru kita bisa jadi kolektor debu. Kamu mau kita bersin-bersin pas lagi setoran hafalan?"
Fafa menghela napas, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Iya, Mas Rayyan Al-Hafiz yang paling bersih. Tapi tolong, radiusnya dijaga."
Rayyan terkekeh. Ia meletakkan filter itu di balkon, lalu menghampiri Fafa. Ia menarik kursi di sebelah istrinya, aroma sabun mandi dan sedikit sisa wangi minyak telon (yang entah kenapa selalu Rayyan pakai karena katanya 'biar kayak bayi') menguar menenangkan.
"Pusing ya? Desainnya belum selesai?" tanya Rayyan lembut.
"Bukan desainnya, Mas. Tapi ini," Fafa menunjukkan buku catatan keuangannya.
"Ternyata hidup di Jakarta itu mahal ya. Token listrik cepat banget habis, air galon kayaknya bocor karena kita minumnya banyak banget, belum lagi biaya parkir apartemen. Aku mulai kangen sama Puncak, di mana air tinggal ambil dari gunung dan listrik... yah, Abah yang bayar."
Rayyan terdiam sejenak. Ia menggenggam tangan Fafa, sebuah gerakan yang selalu berhasil membuat detak jantung Fafa sedikit "melompat" dari ritme biasanya.
"Itu namanya dinamika hijrah, Fa. Kita kan sudah sepakat mau mandiri. Ingat nggak dulu pas kita di Puncak? Kamu bilang mau jadi desainer hebat yang bisa bangun rumah tahfidz sendiri? Ini langkah awalnya. Memang berat, tapi bukankah 'bersama kesulitan itu ada kemudahan'?"
Fafa menatap mata suaminya. Rayyan selalu punya cara untuk mengembalikan perspektifnya ke arah spiritual, bahkan di saat ia sedang pusing memikirkan tagihan iuran pemeliharaan lingkungan (IPL).
Siang harinya, untuk menghibur Fafa yang masih terlihat suntuk, Rayyan menawarkan diri untuk memasak makan siang. Fafa sempat ragu, mengingat insiden "Soto Kunyit Neon" minggu lalu (meskipun itu masakan Fafa, ia takut Rayyan memiliki bakat kuliner yang sama hancurnya).
"Mas benar mau masak? Nggak mau pesen ojek online aja?" tanya Fafa ragu.
"Tenang, Sayang. Mas ini lulusan terbaik dapur Pesantren Al-Ikhlas setelah Kang Udin. Menu hari ini: Nasi Goreng Tajwid," jawab Rayyan penuh percaya diri.
Fafa memutuskan untuk membiarkan suaminya beraksi. Dari ruang tengah, ia mendengar suara spatula beradu dengan wajan, juga suara Rayyan yang sedang bersenandung lirih melantunkan Surah Ar-Rahman. Pemandangan itu—melihat laki-laki yang sangat ia cintai, mengenakan celemek bunga-bunga miliknya, sambil melantunkan ayat suci di dapur—membuat Fafa merasa bahwa segala cicilan apartemen ini sepadan.
Tiga puluh menit kemudian, dua piring nasi goreng terhidang di meja. Penampilannya... cukup menjanjikan. Ada telur ceplok yang bentuknya agak abstrak, tapi aromanya sungguh menggoda.
"Kenapa namanya Nasi Goreng Tajwid, Mas?"
tanya Fafa sambil menyuap satu sendok.
"Karena di dalamnya ada hukum-hukum tertentu. Ada Idgham (peleburan) antara bumbu bawang dan cabai yang pas, ada Ikhfa (penyamaran) rasa terasi yang bikin nagih, dan yang paling penting, ada Mad (panjang) yang bikin kenyangnya awet sampai Maghrib," jelas Rayyan sambil nyengir.
Fafa tertawa lepas. Rasa masakannya ternyata luar biasa enak. Rayyan memang pandai mengolah rasa, mungkin karena ia terbiasa hidup dengan keterbatasan bahan di asrama dulu.
"Mas... ini beneran enak banget. Lebih enak dari nasi goreng kafe di bawah," puji Fafa tulus.
Rayyan tersenyum puas. "Alhamdulillah. Nanti kalau bisnis desain kamu sudah besar, dan Mas sudah jadi kepala sekolah, kita tetap harus makan nasi goreng ini ya. Biar kita nggak lupa kalau kita pernah berjuang bareng dari dapur sekecil ini."
Malam yang Syahdu dan Token yang Berkhianat
Malam harinya, Jakarta diguyur hujan deras. Suara rintik air yang menghantam kaca jendela apartemen menciptakan suasana yang sangat intim. Fafa dan Rayyan duduk di atas karpet bulu di ruang tengah, menyandarkan punggung pada sofa. Mereka baru saja menyelesaikan salat Isya berjamaah dan tadarus harian.
"Fa, kalau nanti tabungan kita sudah cukup, Mas mau ajak kamu umroh. Tapi bukan umroh yang biasa," kata Rayyan tiba-tiba.
"Maksudnya?"
"Mas mau kita umroh ala backpacker. Kita jalan bareng, lihat bagaimana saudara-saudara Muslim kita di sana berjuang. Mas mau kita nggak cuma manja di hotel mewah, tapi benar-benar ngerasain perjalanan ibadah yang sebenarnya."
Fafa tersenyum, membayangkan dirinya berjalan bergandengan tangan dengan Rayyan di depan Ka'bah. "Aku mau, Mas. Asal sandalnya jangan tertukar lagi ya pas di Masjidil Haram."
Rayyan tertawa dan baru saja hendak membalas godaan Fafa ketika tiba-tiba...
KLIK!
Seluruh ruangan menjadi gelap gulita. Hening. AC mati, lampu padam, dan yang terdengar hanyalah suara hujan yang semakin deras di luar.
"Mas... tokennya habis?" tanya Fafa dalam kegelapan.
Rayyan menghela napas panjang. "Kayaknya iya. Padahal Mas pikir masih cukup sampai besok pagi."
Mereka berdua terdiam sejenak dalam kegelapan. Tidak ada ponsel yang menyala (karena sedang di-charge dan baterainya kritis). Tiba-tiba, Fafa tertawa kecil, diikuti oleh tawa renyah Rayyan.
"Gini banget ya, Mas, drama pengantin baru di Jakarta," ujar Fafa.
"Nggak apa-apa, Fa. Anggap saja ini simulasi alam barzakh, biar kita makin rajin ibadah," jawab Rayyan asal, yang langsung dihadiahi cubitan di lengannya oleh Fafa.
Rayyan kemudian menyalakan senter dari korek api gas yang ia temukan di meja. Dalam cahaya remang-remang itu, ia menatap Fafa. "Fa, makasih ya sudah mau sabar. Mas tahu ini nggak semudah yang kita bayangkan pas di Puncak dulu. Tapi Mas janji, selama ada Mas, kamu nggak akan pernah kegelapan sendirian."
Fafa merasa matanya sedikit memanas. Di tengah kegelapan apartemen karena lupa isi token, ia justru merasakan cahaya yang paling terang di hatinya. Ternyata, kebahagiaan itu memang sederhana: cukup ada seseorang yang mau menertawakan kemalangan bersamamu, dan mengajakmu berdoa di tengah kegelapan.
"Ya sudah, Mas. Daripada kita gelap-gelapan begini, mending kita ke bawah. Beli token sekalian beli martabak ya?" ajak Fafa.
"Ide bagus! Tapi pakai payung satu berdua ya, biar kayak di film-film, tapi versi halalnya," Rayyan berdiri dan mengulurkan tangannya.
Mereka pun turun ke lobi, berjalan menembus hujan Jakarta dengan satu payung yang sempit. Bahu mereka basah, tapi hati mereka sangat kering dari rasa sedih. Bab 9 ini mungkin diawali dengan keluhan soal debu dan biaya hidup, tapi diakhiri dengan pemahaman bahwa dalam tajwid cinta, ada yang namanya Waqaf—berhenti sejenak untuk mengambil napas—agar perjalanan menuju ayat selanjutnya menjadi lebih indah.
Other Stories
Tersesat
Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...
Di Bawah Panji Dipenogoro
Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...
Cinta Dua Rasa
Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...
Nyanyian Hati Seruni
Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...
Mereka Yang Tak Terlihat
Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...