Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi

Reads
1.7K
Votes
15
Parts
24
Vote
Report
Tajwid cinta di tanah tinggi
Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi
Penulis Matchaa

Bab 12 Desain Yang Tercuri


Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, begitu pula ambisi para penghuninya. Bagi Fafa, memiliki butik sendiri adalah mimpi yang selama ini hanya ia gambar di pinggiran buku hafalan saat masih di Pesantren Al-Ikhlas. Kini, setelah bekerja keras sebagai desainer lepas, ia akhirnya berhasil menyewa sebuah ruang kecil di sebuah mal khusus busana Muslimah di kawasan pusat.

Butik itu mungil, namun ia beri nama yang penuh doa: "Fafa’s Tajwid Boutique".

Konsepnya unik: setiap desain baju yang ia buat memiliki makna filosofis dari hukum-hukum tajwid. Ada gamis "Ikhfa" yang memiliki detail lipatan tersembunyi, hingga kerudung "Mad Lazim" yang panjang dan menjuntai anggun.

"Mas, hari ini peluncuran koleksi 'Cahaya Maryam'. Aku deg-degan banget," ujar Fafa pagi itu sambil merapikan bros di jilbabnya.

Rayyan, yang sedang bersiap berangkat mengajar, mendekat dan memperbaiki posisi tas Fafa yang miring. "Tenang, Sayang. Kamu sudah ikhtiar maksimal. Hasilnya, biarkan Allah yang mengatur. Inget nggak kata Abah? Rezeki itu kayak makhraj huruf Ha dan Kha, posisinya mirip tapi nggak akan pernah tertukar tempatnya."

Fafa tersenyum. Kalimat-kalimat Rayyan selalu menjadi penenang di tengah badai kecemasan Jakarta. "Doakan ya, Mas."

"Selalu. Di setiap sujud terakhir," jawab Rayyan mantap.

Setibanya di mal, Fafa terkejut melihat kerumunan orang di depan butik pesaingnya yang terletak hanya tiga toko dari butiknya. Butik itu milik Bella, seorang desainer yang dikenal sering menjiplak ide namun memiliki koneksi luas.

Rasa penasaran membawa Fafa melirik ke arah pajangan butik Bella. Seketika, jantungnya seolah berhenti berdetak. Di sana, terpajang manekin mengenakan gaun yang sangat identik dengan koleksi "Cahaya Maryam" miliknya. Dari potongan lengannya, detail bordir di dada, hingga pemilihan warna champagne yang unik—semuanya adalah hasil kerja keras Fafa selama berbulan-bulan.

"Ini... ini nggak mungkin. Ini desainku!" bisik Fafa dengan tangan gemetar.

Ia segera masuk ke butik Bella. "Bella! Maksudnya apa ini? Kenapa desainmu sama persis dengan punyaku?"

Bella menoleh, menatap Fafa dengan pandangan meremehkan dari balik kacamata hitamnya. "Oh, Fafa. Kebetulan sekali ya? Mungkin kita punya inspirasi yang sama. Lagian, desain seperti ini kan umum. Kamu punya bukti kalau ini idemu?"

"Aku punya sketsanya! Aku punya catatan pembuatannya!" suara Fafa mulai meninggi.
"Sketsa bisa dibuat kapan saja, Sayang. Faktanya, aku yang rilis duluan pagi ini. Jadi, siapa yang menjiplak siapa?" Bella tersenyum licik sementara para jurnalis mode mulai memotret.

Fafa keluar dari butik itu dengan air mata yang hampir tumpah. Ia merasa dunia sangat tidak adil. Bagaimana bisa seseorang mencuri hasil jerih payahnya dan dengan bangga mengakuinya di depan publik?

Sepanjang siang, butik Fafa sepi. Orang-orang lebih tertarik ke butik Bella yang menawarkan harga lebih murah untuk desain yang sama. Fafa duduk terkurung di ruang ganti, menangis sesenggukan. Ia ingin sekali melabrak Bella lagi, membawa pengacara, atau setidaknya memaki-maki di media sosial.

Ia menelepon Rayyan dengan suara parau.

"Mas... aku mau tutup saja butiknya. Aku nggak kuat. Desainku dicuri, Mas."

Rayyan terdiam di seberang sana. Ia bisa merasakan kepedihan istrinya. "Fa, dengar Mas. Mas tahu itu sakit. Tapi ingat, harta yang berkah itu bukan soal siapa yang paling banyak pembelinya, tapi dari mana asalnya dan bagaimana cara mendapatkannya."

"Tapi ini nggak adil, Mas! Dia sukses pakai hasil kerjaku!"

"Kelihatannya sukses, tapi di mata Allah, dia sedang menabung kerugian," suara Rayyan terdengar sangat tenang namun tegas. "Jangan balas dengan amarah yang sama. Kamu punya Allah. Kalau kamu membalas dengan fitnah atau makian, apa bedanya kamu sama dia? Gunakan tajwid hatimu. Waqaf dulu, berhenti dari kemarahan, ambil napas, lalu lanjut dengan sabar."

Fafa terdiam. Kata-kata "Tajwid Hati" itu meresap ke dalam dadanya.

Sore harinya, Rayyan datang ke butik tanpa memberi tahu. Ia tidak membawa pengacara atau massa santri untuk demo, melainkan membawa satu kotak martabak manis ukuran jumbo dengan topping keju yang melimpah.

"Assalamualaikum, Bos Butik yang paling cantik," sapa Rayyan sambil masuk ke butik yang sepi itu.

Fafa menghapus sisa air matanya. "Mas... kok ke sini?"

"Mas mau merayakan sesuatu," ujar Rayyan sambil membuka kotak martabak.

"Merayakan apa? Merayakan kegagalanku?"

"Bukan. Merayakan kemenangan kamu melawan godaan buat marah-marah di Instagram tadi siang," Rayyan menyodorkan sepotong martabak. "Ayo makan. Orang sabar itu butuh kalori ekstra."

Fafa tak bisa menahan tawa kecilnya. "Mas ini, di saat begini masih saja bercanda."

"Fa, dengerin. Kalau dia curi desain kamu, dia cuma bisa curi gambarnya. Dia nggak bisa curi keberkahan tangan kamu yang menggambarnya sambil baca selawat. Dia nggak bisa curi ide-ide baru yang bakal Allah kasih ke kamu sebagai ganti kesabaran ini."

Tiba-tiba, seorang pelanggan masuk. Seorang ibu-ibu paruh baya yang terlihat sangat elegan. Ia melihat-lihat koleksi Fafa, lalu beralih melihat gaun yang mirip di butik Bella.

"Mbak, jujur ya, tadi saya ke toko sebelah. Desainnya mirip. Tapi pas saya pegang kainnya dan lihat jahitannya, beda jauh. Di sini jahitan rapi sekali, kayak dikerjakan pakai hati. Saya mau pesan sepuluh pasang buat seragam pengajian keluarga saya," ujar ibu tersebut.

Fafa dan Rayyan saling pandang.

"Tuh kan, apa Mas bilang? Kualitas itu kayak hukum Izhhar, jelas dan nggak bisa disembunyiin," bisik Rayyan sambil terus mengunyah martabak.

Malam itu, saat mereka menutup butik, Fafa merasa bebannya terangkat. Ia menyadari bahwa di Jakarta, persaingan memang kejam, tapi prinsip-prinsip yang ia pelajari di Tanah Tinggi Puncak adalah kompas yang tidak akan membiarkannya tersesat.

"Mas," panggil Fafa saat mereka berjalan menuju parkiran.

"Ya, Ummi?"

"Besok-besok kalau ada yang curi desainku lagi, aku harus gimana?"

Rayyan merangkul bahu Fafa. "Biarkan saja. Anggap saja itu sedekah ide. Toh, sumur kreativitasmu kan nggak akan kering selama kamu tetap dekat sama Sang Pencipta. Tapi kalau dia curi sandal kamu... nah, itu baru Mas yang turun tangan."

Fafa tertawa lepas. Perasaan cemas yang menghantui sejak pagi kini sirna. Ia belajar bahwa kesuksesan bukan hanya tentang angka penjualan, tapi tentang ketenangan hati saat menghadapi ujian.




Other Stories
Reuni Mantan

Arif datang ke vila terpencil bersama para mantan Sarah lainnya. Ketika seorang pembunuh m ...

Keikhlasan Cinta

6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...

Mimi & Peri

Mimi, seorang gadis pecinta alam dari pesisir Bali, menghabiskan liburan sekolahnya di Flo ...

Di Bawah Langit Al-ihya

Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...

Beyond Two Souls

Saat libur semester, Fabian secara tiba-tiba bertemu Keira, reuni yang tidak direncanakan ...

Just, Open Your Heart

Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...

Download Titik & Koma