Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi

Reads
1.7K
Votes
15
Parts
24
Vote
Report
Tajwid cinta di tanah tinggi
Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi
Penulis Matchaa

Bab 14 Badai Di Butik


Jika jarak adalah hukum Mad yang memanjangkan rindu, maka bagi Fafa, bulan ketiga LDR (Long Distance Relationship) ini sudah masuk kategori Mad Lazim Mutsaqqal Kilmi—panjangnya maksimal dan bebannya berat sekali. Jakarta terasa lebih gerah tanpa candaan Rayyan, dan apartemen mereka terasa seperti museum sunyi yang hanya dihiasi suara detak jam dinding dan sesekali bunyi kulkas yang menderu.

Namun, ujian sesungguhnya bagi Fafa bukan hanya soal kesepian di sepertiga malam. Sebuah tantangan besar muncul di butiknya. "Fafa’s Tajwid Boutique" yang sedang naik daun tiba-tiba mendapat tawaran kolaborasi dari sebuah departemen ritel raksasa. Kedengarannya seperti mimpi jadi nyata, namun ada satu syarat yang membuat jantung Fafa berdegup tidak keruan: Ia harus memproduksi 5.000 potong gaun dalam waktu dua bulan, atau kontrak itu hangus dan ia harus membayar denda penalti yang cukup besar karena telah menandatangani MoU awal.

"Lima ribu potong? Mas, aku biasanya cuma sanggup seratus sebulan!" keluh Fafa lewat sambungan telepon yang timbul tenggelam.

Di ujung sana, Rayyan sedang berada di lereng bukit, berusaha menyeimbangkan ponselnya di dahan pohon mangga legendarisnya demi mendapatkan sinyal. "Fa... (kresek)... percaya... (kresek)... Allah nggak akan kasih beban... (suara angin)... lebih dari... kemampuan..."

"Mas! Sinyalnya kayak hubungan kita, putus-nyambung!" teriak Fafa frustrasi. "Aku butuh saran Mas, bukan butuh suara radio rusak!"

"Sabar, Fa... (sinyal kembali stabil sejenak)... Dengar, ambil napas. Istikharah dulu. Jangan ambil keputusan pas lagi panik. Kalau kamu rasa sanggup dengan bantuan vendor luar, jalan. Tapi kalau kamu rasa itu bakal ngorbanin kualitas dan ibadah kamu, lepasin. Rezeki nggak akan lari ke Bella kalau itu memang jatah kamu."

Telepon terputus. Baterai Rayyan habis atau sinyalnya menyerah pada kabut. Fafa terduduk di lantai butiknya yang penuh dengan tumpukan kain. Ia merasa sendirian di tengah belantara beton Jakarta.

Keesokan harinya, seorang vendor konveksi besar datang menemui Fafa. Ia menawarkan harga produksi yang sangat murah dengan janji kecepatan kilat. "Mbak Fafa tenang saja, lima ribu potong sebulan itu kecil bagi kami. Soal bahan, kita pakai yang mirip-mirip saja, nggak ada yang tahu bedanya sutra asli sama yang campuran kalau sudah jadi baju."

Fafa terdiam. Jika ia menerima vendor ini, ia akan kaya mendadak. Kontrak ritel raksasa itu aman. Tapi, ia teringat pada filosofi "Tajwid Cinta"-nya. Izhhar berarti jelas, jujur, tidak ada yang disembunyikan. Bagaimana ia bisa menjual baju dengan konsep Islami jika di dalamnya ada unsur penipuan bahan?

"Saya pikir-pikir dulu ya, Pak," ujar Fafa ragu.

Malam itu, Fafa menangis di atas sajadahnya. Ia rindu Rayyan yang biasanya akan memijat bahunya sambil membacakan kutipan-kutipan lucu dari kitab kuning untuk menghiburnya. Ia rindu suara tawa Rayyan yang bilang, "Jangan takut miskin, Fa. Kita pernah bahagia cuma pakai sandal jepit butut, kan?"

Dua hari sebelum tenggat waktu kontrak, saat Fafa sudah hampir menyerah dan bersiap membayar denda, sebuah mobil pick-up butut berhenti di depan butiknya di mal. Dari dalam mobil, turunlah sosok yang sangat Fafa kenali: Kang Udin.

"Assalamualaikum, Mbak Fafa! Ini ada kiriman dari 'Markas Besar' Puncak!" seru Kang Udin dengan celemeknya yang masih terpasang, entah kenapa ia membawanya sampai ke Jakarta.

"Kang Udin? Kok di sini? Bawa apa?"

"Bukan bawa jengkol, tenang saja," Kang Udin tertawa. "Ini kiriman tenaga kerja. Ummi dan Abah dengar Mbak Fafa lagi butuh bantuan. Kami bawa sepuluh santriwati senior yang jago jahit dari SMK Pesantren. Mereka bakal bantu Mbak Fafa di workshop sementara. Tenaganya gratis, bayarnya pakai doa saja, sama jangan lupa kasih makan siang yang enak!"

Fafa menutup mulutnya, air mata haru mengalir. Di belakang Kang Udin, tampak sepuluh gadis muda dengan jilbab rapi tersenyum malu-malu. Mereka adalah "pasukan khusus" yang dikirim oleh keluarga Rayyan.

Dan yang paling mengejutkan adalah sebuah paket kecil yang dititipkan Kang Udin. Di dalamnya ada sebuah surat pendek dengan tulisan tangan Rayyan yang berantakan:
> "Fa, Mas nggak bisa pulang untuk bantu jahit. Tapi Mas kirimkan doa-doa yang Mas kumpulkan di setiap sujud di bawah pohon mangga. Mas juga kirimkan 'pasukan jahit' Abah. Kerjakan dengan jujur, jangan pakai bahan palsu. Mas lebih bangga punya istri penjahit jujur daripada bos butik yang menipu. Semangat, Ummi! Sandal hijau Mas masih setia menunggu pasangannya di Jakarta."


Keajaiban Kerja Keras dan Keikhlasan
Selama satu bulan penuh, workshop kecil Fafa berubah menjadi "Pesantren Jahit". Suasana yang biasanya penuh tekanan kompetisi berubah menjadi hangat. Para santriwati bekerja sambil melantunkan selawat dan murottal. Aroma mesin jahit bersaing dengan aroma masakan Kang Udin yang sesekali memasak di pojokan workshop.

Fafa merasa seperti kembali ke Puncak. Ia memimpin produksi dengan ketelitian luar biasa. Ia menolak vendor murah itu dan memilih membeli bahan asli meski keuntungannya menipis.

"Mbak Fafa, ini bajunya kalau dilihat dari dekat, jahitannya rapi banget ya. Kayak ada energinya," ujar salah satu staf ritel saat melakukan sidak kualitas.

Fafa tersenyum. "Itu energi selawat, Mbak."
Hasilnya luar biasa. Produksi selesai tepat waktu. Kualitasnya dipuji habis-habisan. Fafa tidak hanya menyelamatkan kontraknya, tapi ia juga berhasil memberdayakan para santriwati dari pesantrennya sendiri.


Setelah badai pekerjaan itu reda, Fafa pulang ke apartemen dengan tubuh lelah namun hati yang sangat luas. Ia membuka pintu dan mendapati lampu ruang tengah menyala. Harum masakan ayam jahe menusuk hidungnya.
Di atas meja makan, ada sebuah piring soto dengan kuah kuning yang—kali ini—warnanya sangat sempurna. Bukan kuning neon, tapi kuning menggoda.

"Assalamualaikum," sebuah suara berat menyambutnya dari arah dapur.

Fafa terpaku. Rayyan berdiri di sana, tanpa ponsel di pohon mangga, tanpa sinyal yang putus-nyambung. Ia memakai sarung favoritnya dan apron bunga-bunga Fafa.

"Mas Rayyan? Kok... bukannya masih sisa dua bulan lagi?"

Rayyan mendekat, menghapus debu di dahi Fafa dengan jempolnya. "Amanah di sana sudah stabil lebih cepat. Abah bilang, hadiah buat ketua kurikulum yang sukses adalah pulang ke 'makmum'-nya lebih awal. Lagian, Mas denger ada bos butik yang hampir menyerah, jadi Mas harus pulang buat kasih 'sanksi' tajwid."

Fafa langsung memeluk suaminya erat, menumpahkan segala rindu dan lelah yang ia pendam. "Mas... jangan pergi lama-lama lagi. Sinyal pohon mangga itu nggak enak."

Rayyan tertawa renyah. "Iya, iya. Mas juga kapok. Di sana nggak ada yang marah-marahin Mas kalau naruh handuk sembarangan. Rasanya hampa banget hidup Mas kalau nggak diomelin kamu."

"Mas," panggil Fafa di sela suapannya.

"Ya, Sayang?"

"Nanti kalau kita punya anak, aku mau dia sabar kayak Mas, tapi pinter gambar kayak aku."
Rayyan tersenyum penuh arti. "Apapun itu, yang penting sandalnya nggak gampang tertukar. Ayo, habiskan sotonya"


Other Stories
315 Kilometer [end]

Yatra, seorang pegawai kantoran di Surabaya, yang merasa jenuh dengan kehidupan serba hedo ...

Penulis Misterius

Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...

Rumah Rahasia Reza

Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...

Melinda Dan Dunianya Yang Hilang

Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...

Suffer Alone In Emptiness

Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...

Download Titik & Koma