Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi

Reads
1.7K
Votes
15
Parts
24
Vote
Report
Tajwid cinta di tanah tinggi
Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi
Penulis Matchaa

Bab 18 Tangis Yang Membawa Surga


Lampu koridor rumah sakit bersalin di kota terasa begitu putih dan dingin, sangat kontras dengan hangatnya kabut di Pesantren Al-Ikhlas yang baru saja mereka tinggalkan satu jam lalu.

Fafa sudah berada di ruang persalinan.

Wajahnya yang biasa merona kini pucat pasi, peluh sebesar biji jagung membasahi dahi dan sela-sela jilbab instannya. Setiap kali gelombang kontraksi datang, ia meremas tangan Rayyan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Mas... sakit banget..." rintih Fafa. Suaranya nyaris hilang, tertelan oleh rasa sakit yang datang berkala seperti ombak pasang.

Rayyan, yang sejak tadi tidak beranjak dari sisi kepala Fafa, terus membisikkan doa. Namun, kejujuran harus diakui: Rayyan pun ketakutan. Melihat wanita yang sangat dicintainya harus berjuang antara hidup dan mati membuat keberaniannya seolah menguap. Tapi ia ingat nasihat Abah: “Jadilah tiang yang kokoh saat makmummu sedang goyah.”

"Bismillah, Fa. Tarik napas dari hidung, keluarkan pelan-pelan. Ingat Idgham Bighunnah, masuk dengan dengungan kesabaran," bisik Rayyan, mencoba membawa suasana pesantren ke ruang medis yang kaku itu.

Fafa sempat mendelik dalam rasa sakitnya. "Mas... sempet-sempetnya... bahas tajwid... hugh!"

Memasuki pembukaan delapan, suasana menjadi semakin intens. Dokter dan perawat mulai bersiap. Ummi dan Ibu Fafa menunggu di luar dengan tasbih yang tak berhenti berputar.
"Ayo, Bu Fatimah. Saat mulesnya datang, mengejan yang kuat ya. Seperti mau buang air besar, jangan di leher, tapi di perut," instruksi dokter dengan tenang.

Fafa mencoba sekuat tenaga. Namun, kelelahan mulai menjalar. Ia merasa tenaganya habis. "Mas, aku nggak kuat... aku mau menyerah saja..."

Mendengar itu, Rayyan mendekatkan wajahnya ke telinga Fafa. Ia tidak lagi membisikkan tajwid, tapi sebuah janji. "Fa, lihat Mas. Ingat saat kamu pertama kali datang ke Puncak dengan sepatu hak tinggi yang kena lumpur? Ingat saat kamu bersikeras menghafal Al-Kahfi meski aku ejek? Kamu itu pejuang, Fa. Sedikit lagi. Anak kita mau lihat wajah Ibunya yang paling cantik. Ayo, Bismillah!"

Rayyan kemudian mulai melantunkan Surah Maryam dengan nada Nahawand yang mendayu namun penuh kekuatan. Getaran suara Rayyan seolah menjadi energi tambahan bagi Fafa. Di tengah rasa sakit yang luar biasa, Fafa merasakan ketenangan yang aneh menyelimuti hatinya. Ia memejamkan mata, mengumpulkan seluruh sisa energinya, dan...

"Allahu Akbar!" seru Fafa dalam satu dorongan panjang.

Detik berikutnya, sebuah suara yang paling merdu di seluruh dunia memecah ketegangan ruangan itu.

Oeeek... Oeeek... Oeeek...

Seisi ruangan mendadak seperti diterangi cahaya. Dokter mengangkat seorang bayi kecil yang masih kemerahan. Rayyan terpaku. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah tanpa bisa dibendung. Ia melihat makhluk kecil itu diletakkan di atas dada Fafa untuk proses inisiasi menyusui dini.

Fafa, meski tubuhnya lunglai tak berdaya, tersenyum lebar. Air mata bahagia membasahi pipinya. "Mas... dia laki-laki?"

Rayyan mengangguk cepat, suaranya tercekat di tenggorokan. "Iya, Fa. Laki-laki. Ganteng banget... mirip kamu."

"Ih, kok mirip aku? Kan laki-laki," protes Fafa lemah, masih sempat-sempatnya mendebat suaminya.

Azan Pertama dan Nama yang Melangit
Setelah dibersihkan, Rayyan diminta untuk mengazani putranya. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Rayyan menggendong bayi itu. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga kanan si kecil.

"Allahu Akbar, Allahu Akbar..."

Suara azan Rayyan bergema di ruangan itu, membawa getaran spiritual yang dalam. Para perawat terdiam sejenak, ikut merasakan kesakralan momen tersebut. Rayyan merasa setiap kalimat yang ia ucapkan adalah janji pengabdian untuk mendidik anak ini menjadi pembela agama.

Setelah azan dan ikamah selesai, Abah Kyai dan Ayah Fafa masuk ke ruangan dengan wajah berseri-seri.

"Selamat, Rayyan, Fafa," ujar Abah sambil mengelus kepala cucunya. "Sudah ada namanya?"

Rayyan melirik Fafa, lalu kembali menatap bayi di pelukannya. "Namanya Ahmad Rayyan Al-Fatih, Bah. Kami ingin dia memiliki akhlak terpuji seperti Rasulullah, memiliki pintu surga bagi orang yang berpuasa (Rayyan), dan menjadi sang pembuka jalan kebaikan seperti Al-Fatih."
Fafa mengangguk setuju dari atas tempat tidur. "Dan semoga dia nggak hobi naruh handuk sembarangan kayak Bapaknya, Bah."

Tawa pecah di ruangan tersebut, meredakan sisa-sisa ketegangan persalinan.
Komedi Pasca-Melahirkan: Bau Jengkol yang Kembali

Dua hari kemudian, Fafa sudah diperbolehkan pulang ke rumah kayu di pesantren untuk masa nifas. Di sana, Kang Udin sudah menyiapkan pesta penyambutan kecil-kecilan. Tebak apa menu utamanya?

"Mbak Fafa! Ini saya masakkan sop ayam kampung tanpa lemak! Tapi, buat Mas Rayyan, saya khusus gorengkan jengkol teri pedas supaya semangat begadang jagain bayinya!" seru Kang Udin bangga.

Fafa yang sedang menggendong Al-Fatih langsung menutup hidung bayinya. "Kang Udin! Jangan dekat-dekat dedek Al-Fatih kalau bawa jengkol! Nanti makhraj azannya jadi bau jengkol!"
Rayyan hanya bisa tertawa pasrah sambil menyantap jengkol kiriman Kang Udin. "Tenang, Fa. Ini namanya nutrisi tambahan buat Ayah Siaga. Biar kalau Al-Fatih nangis jam dua pagi, Mas bangunnya lebih cepat karena semangat jengkol."

Malam pertama mereka sebagai orang tua di Puncak dilewati dengan penuh haru. Al-Fatih menangis setiap dua jam sekali, membuat Rayyan dan Fafa harus bekerja sama dalam "Operasi Popok dan Asi.

Di tengah keheningan malam Puncak yang dingin, Rayyan duduk di samping Fafa yang sedang menyusui. Ia menatap istri dan anaknya dengan rasa syukur yang tak terhingga.

"Fa," bisik Rayyan.

"Ya, Mas?"

"Dulu, tajwid kita cuma soal bacaan Al-Qur'an. Sekarang, tajwid kita bertambah. Ada hukum Wajib buat jaga amanah ini, ada hukum Sunnah buat saling membantu, dan ada hukum Haram kalau Mas sampai telat ganti popok anak kita."

Fafa tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di bahu Rayyan. Al-Fatih kecil tampak tertidur pulas, tidak tahu bahwa ia sedang dirawat oleh sepasang orang tua yang cintanya tumbuh di antara tebing gunung dan hukum-hukum tajwid.



Other Stories
Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...

Erase

Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Cicak Di Dinding ( Halusinada )

Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...

Hikayat Cinta

Irna tumbuh dalam keyakinan bahwa cinta adalah sesuatu yang harus ditemukan—pada seseora ...

Mendua

Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...

Download Titik & Koma