Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi

Reads
1.7K
Votes
15
Parts
24
Vote
Report
Tajwid cinta di tanah tinggi
Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi
Penulis Matchaa

Bab 17 Sekolah Ayah Siaga


Keputusan sudah bulat. Atas saran dokter dan desakan halus (baca: perintah manis) dari Ummi, Fafa dan Rayyan memutuskan untuk menghabiskan trimester terakhir kehamilan di Pesantren Al-Ikhlas, Puncak. Jakarta yang penuh polusi dan kebisingan dirasa kurang cocok untuk jiwa Fafa yang sedang sensitif, apalagi butiknya kini sudah memiliki manajer kepercayaan yang bisa dipantau lewat layar tablet.

Kembali ke Puncak dalam kondisi hamil besar membuat Fafa merasa seperti pulang ke pelukan alam. Namun, bagi Rayyan, kepulangan ini berarti satu hal: ia harus masuk ke "Sekolah Ayah Siaga" yang dipimpin langsung oleh Abah Kyai.

"Rayyan," panggil Abah suatu pagi saat mereka sedang duduk di serambi masjid setelah jamaah Subuh. Udara sangat dingin, hingga napas mereka mengeluarkan uap putih. "Menjadi ayah itu bukan cuma soal mencari nafkah. Itu soal menjadi makhraj yang benar bagi anakmu. Kalau makhraj-nya salah di awal, seumur hidup bacaannya akan pincang."

Rayyan mendengarkan dengan takzim. "Maksud Abah, saya harus mulai mengajari anak saya mengaji sejak dalam kandungan?"

"Lebih dari itu," Abah menepuk bahu Rayyan.

"Kamu harus mengajari anakmu melalui sikapmu kepada ibunya. Ibu adalah madrasah pertama. Kalau gurunya merasa tenang dan bahagia, muridnya—si jabang bayi itu—akan tumbuh dengan jiwa yang kokoh."

Fafa, di sisi lain, sedang menikmati statusnya sebagai "Ratu Pesantren". Para santriwati sering membawakannya bunga liar yang dipetik dari lereng bukit, dan Ummi tidak pernah lelah membuatkan jamu tradisional yang rasanya ajaib tapi manjur buat kebugaran.

Namun, yang namanya ngidam tidak mengenal tempat. Suatu sore, saat kabut tebal turun menutupi seluruh area pesantren, Fafa tiba-tiba menarik ujung sarung Rayyan.

"Mas... aku mau makan es krim," bisik Fafa.
Rayyan melihat ke luar jendela. Jarak pandang hanya dua meter karena kabut. "Fa, di luar dinginnya tujuh belas derajat celcius. Kita di puncak gunung. Masak mau makan es krim? Nanti kamu pilek, Mas yang dipelototin Ummi."

"Bukan es krim supermarket, Mas. Aku mau es krim yang lewat pakai motor, yang bunyinya ting-ting-ting itu. Tadi aku dengar suaranya di bawah gerbang."

Rayyan menghela napas. "Fa, itu suara tukang bakso mungkin?"

"Bukan! Itu es krim! Mas... anak kita mau es krim itu. Lihat, dia nendang-nendang nih," Fafa mengarahkan tangan Rayyan ke perutnya yang membuncit.

Begitu merasakan tendangan halus di telapak tangannya, luluhlah pertahanan Rayyan. Dengan jaket tebal, syal, dan senter di tangan, ia nekat menembus kabut menuju gerbang bawah.

Masalahnya, suara ting-ting-ting itu seperti suara gaib yang berpindah-pindah. Rayyan harus berlari kecil di jalanan menanjak yang licin, hampir saja ia terpeleset ke parit kalau tidak ingat pada sandal jepit hijaunya yang legendaris.

Setelah perjuangan heroik selama tiga puluh menit, Rayyan kembali dengan wajah pucat dan hidung merah merona. Di tangannya ada sebuah gelas plastik berisi es puter santan.

"Dapet, Mas?" tanya Fafa antusias.

"Dapet... (hosh)... tapi ini bukan tukang es krim, Fa. Ini tukang es puter yang kebetulan lewat karena motornya mogok di depan gerbang," jawab Rayyan sambil mengatur napas.

Fafa mencicipi sesendok. "Hmm... enak banget. Makasih ya, Mas. Tapi kok... tiba-tiba aku jadi pengen makan bakso juga ya?"

Rayyan hampir saja pingsan di tempat. "Fa, kalau abis es terus bakso, itu bukan ngidam, itu namanya prasmanan!"

Mendekati bulan kesembilan, intensitas latihan fisik Fafa ditingkatkan. Ummi melarang Fafa terlalu banyak berbaring. "Siti Maryam saja berjuang sendiri di bawah pohon kurma, Fafa. Kamu harus kuat," ujar Ummi sambil mengajak Fafa jalan santai keliling kolam ikan pesantren setiap pagi.

Sementara Fafa berlatih fisik, Rayyan dilatih mental. Abah menyuruh Rayyan menghafal doa-doa khusus persalinan dan memintanya untuk mengkhatamkan Al-Qur'an satu kali lagi khusus dihadiahkan untuk si bayi.

"Mas, aku takut," bisik Fafa suatu malam saat mereka sedang duduk di teras, menatap bintang-bintang Puncak. "Gimana kalau nanti aku nggak kuat? Gimana kalau aku bukan ibu yang baik?"

Rayyan menggenggam tangan Fafa, lalu membacakan sebuah ayat dengan suara yang sangat rendah dan menenangkan. Suaranya berpadu dengan suara jangkrik dan gemericik air kolam.

"Fa, ingat saat kita pertama kali ketemu? Kamu itu gadis paling keras kepala yang pernah Mas kenal. Kamu bisa hafal Al-Kahfi dalam waktu singkat cuma gara-gara tantangan jengkol. Kalau tantangan sekecil itu saja kamu libas, apalagi tantangan ini. Allah sudah desain tubuhmu untuk ini. Dan Mas... Mas nggak akan lepas tangan kamu sedikit pun."

Malam itu, tepat saat bulan purnama menggantung sempurna di atas Gunung Gede, Fafa merasakan mules yang berbeda dari biasanya. Bukan sekadar kontraksi palsu yang sering membuatnya "nge-prank" Rayyan minggu lalu.

"Mas... Mas bangun..." Fafa mengguncang bahu Rayyan yang sedang tidur pulas setelah seharian membantu Kang Udin memanen sayur.

Rayyan langsung terduduk tegak, matanya masih setengah terpejam tapi otaknya sudah mode siaga. "Kenapa, Fa? Jengkol lagi? Bakso? Atau mau es krim?"

"Air ketubannya pecah, Mas!" seru Fafa dengan nada panik bercampur semangat.
Detik itu juga, Rayyan yang biasanya tenang langsung berubah menjadi kekacauan yang terorganisir. Ia mencoba memakai celana panjang tapi malah memasukkan kedua kakinya ke satu lubang yang sama. Ia mencari kunci mobil tapi malah memegang sikat gigi.

"Sabar, Mas! Tarik napas!" teriak Fafa, yang malah terlihat lebih tenang daripada suaminya.
Rayyan menarik napas panjang. "Bismillah. Oke. Tas perlengkapan sudah. Mushaf sudah. Sandal... mana sandal hijau Mas?!"

"Mas! Dalam kondisi begini masih sempat-sempatnya cari sandal!"

Akhirnya, dengan bantuan Kang Udin yang mendadak jadi sopir darurat, mereka meluncur menuju rumah sakit bersalin di kota terdekat. Di sepanjang jalan yang berkelok dan berkabut, Rayyan tidak berhenti melantunkan Surah Yusuf. Tangannya digenggam erat oleh Fafa yang mulai merintih kesakitan.

"Jangan berhenti ngajinya, Mas... enak dengerinnya," lirih Fafa.

"Iya, Sayang. Mas di sini. Teruslah zikir, Fa. Satu kontraksi, satu pahala jihad," bisik Rayyan di telinga istrinya.



Other Stories
Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Bukan Cinta Sempurna

Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...

Devil's Bait

Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...

Just, Open Your Heart

Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...

Pesan Dari Hati

Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Download Titik & Koma