Pacar Sewaan

Reads
8.1K
Votes
2.6K
Parts
22
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 14 – Hilang

Pagi pertama sejak pulang dari Paris, Ledi bangun lebih siang dari biasanya. Setelah duduk, ia meraih ponsel di samping bantal.

Tidak ada notifikasi.

Ia membuka WhatsApp. Nama Kevin masih ada di bagian atas. Tidak ada pesan setelah “It’s okay. Terima aja.”.

Ledi menatap kalimat itu cukup lama.
Jarinya mulai mengetik: “Udah sampai kantor?”

Ia membaca ulang kalimat itu, lalu menghapusnya. Layar kembali kosong.

Ia berbaring dan meletakkan ponsel di atas dada. Menunggu.
***

Siang hari, kamar terasa lebih panas dari biasanya.

Ledi duduk di tepi ranjang. Ponsel di tangannya. Ia mengetik pesan: “Hari ini sibuk?”

Pesan terkirim. Satu centang. Dua centang.

Tidak ada balasan.

Beberapa jam kemudian, layar menyala.
Status pesan berubah menjadi dibaca.

Tidak ada respons. Tidak ada alasan. Tidak ada penjelasan. Hanya hening yang menyiksa.

***

Malam turun perlahan. Ledi berbaring miring menghadap dinding.

Mungkin dia lagi capek. Mungkin dia lagi banyak kerjaan, bisik Ledi dalam hati.

Ia membuka Instagram Kevin. Tidak ada postingan baru.

Ia membuka galeri di ponsel. Foto-foto Paris berderet: Menara Eiffel di senja hari, selfie bersama Kevin di depan piramida Louvre. Semuanya terlihat nyata. Semuanya terasa masih dekat.

Ledi memperbesar satu foto. Wajahnya tersenyum. Kevin berdiri di belakang, memeluknya dengan erat.

Ledi menurunkan ponsel perlahan, meletakkannya di atas kasur.

Beberapa menit berlalu, ponselnya bergetar.

Wajahnya terlihat gembira. Tangannya segera mengambil ponsel itu.

Transfer masuk: Rp1.000.000. Pengirim: Bima.

Pesan WA masuk. “Maaf baru bisa ganti sekarang.” Beberapa detik kemudian, pesan lain menyusul. “Tadinya mau ngasih langsung pas ketemuan.”

Ledi teringat warung kecil dan jempol Bima yang menghapus sisa nasi di sudut bibirnya.

***

Pagi. Hari kedua setelah pulang.

Ledi duduk di kursi plastik kecil dekat jendela. Ia menulis pesan: “Kapan ketemuan lagi?”

Pesan terkirim. Tidak langsung dibaca.

Ledi menatap layar yang tetap sunyi. Jarinya kembali bergerak. “Kalau aku salah, bilang ya.”

Ia membaca ulang kalimat itu. Rasanya terlalu memohon. Terlalu merendahkan diri. Ia pun menghapusnya.

Ia mengetik lagi. “Aku nggak nuntut apa-apa kok.”

Hapus.

Layar kosong lagi.

Napasnya terdengar lebih berat dari biasanya.
Akhirnya ia mengetik pelan: “Kamu baik-baik aja?”

Pesan terkirim. Satu centang. Dua centang.

Belum dibaca.

Siang harinya, Ledi duduk di lantai, punggungnya bersandar pada sisi ranjang, kepalanya menunduk.

Malam terakhir di Paris terlintas kembali.

“Kevin, jangan di—”

“Tenang.”

Apa yang salah sama aku? tanya Ledi dalam hati.

Ledi membuka galeri di ponsel, membuka foto-foto mereka saat bersama. Ia memperbesar wajah Kevin. Mencari sesuatu. Tanda ragu. Tanda bosan. Tidak ada.

Siang harinya, status pesan berubah menjadi dibaca. Tapi tetap tidak ada balasan.

Pukul 17:10, Ledi menekan tombol panggil.

Berdering ... tapi tidak diangkat.

Ia menunggu beberapa menit. Menelpon lagi. Tetap tidak diangkat.

Tidak ada pesan masuk. Tidak ada “Maaf lagi rapat.” Tidak ada “Nanti ya.” Tidak ada apa pun.

***

Malam. Lampu kamar menyala putih. Pedagang nasi goreng lewat di depan kosan.

Ledi duduk di kursi, membuka aplikasi m-banking. Saldo tertera jelas: seratus dua juta lebih sedikit.

Ia kembali membuka chat Kevin, lalu scroll ke atas.

Foto-foto Paris. Voice note singkat: “My lady.”

Ledi mengetik pesan, “Kita baik-baik aja kan?”

Pesan terkirim.

Satu centang.

Lama.

Dua centang.

Tidak dibalas.

***

Pagi. Hari ketiga.

Ledi membuka WA Kevin. Foto profilnya hilang—hanya ada gambar default abu-abu. Last seen-nya juga tidak muncul.

Ia membuka Instagram—akun Kevin tidak bisa ditemukan.

Ia membuka daftar kontak, menekan tombol “panggil.”

Terdengar suara wanita. “Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.”

Ledi menurunkan ponsel perlahan.

Boneka beruang berpita biru tergeletak di sampingnya.

Gelang cokelat masih melingkar di pergelangan tangan.

Ledi menatap seprai kasurnya.

Kamar terasa lebih sempit dari sebelumnya.


Other Stories
Chromatic Goodbye

"Kalau aku tertawa, apa bentuk dan warnanya?" "Cokelat gelap dan keemasan. Kayak warna dar ...

Egler

Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...

Sweet Haunt

Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...

Kala Kisah Tentang Cahaya

Kala, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya, MbahRum. tumbuh dalam keterbatasan ...

Dari 0 Hingga 0

Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...

Dari Luka Menjadi Cahaya

Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...

Download Titik & Koma