Bab 10 – Batas Yang Terlewati (21+)
Kevin langsung menarik wajah Ledi dan mencium bibirnya—lebih dalam dari sebelumnya, tanpa ragu, tanpa jeda untuk berpikir ulang.
Tangan pria itu sudah berada di pinggang Ledi, menekan tubuhnya mendekat seolah jarak sekecil apa pun terlalu lama untuk ditoleransi.
Ledi membalas.
Ciuman itu tidak lagi seperti di bawah cahaya Eiffel yang terbuka dan penuh orang. Ini lebih panas. Lebih rakus.
Tidak ada lampu emas, tidak ada turis, tidak ada suara kamera. Hanya napas yang bertabrakan dan telapak tangan yang mencari tempat untuk menetap.
Kevin melepas ciuman sesaat, hanya untuk turun ke rahang, ke leher, lalu kembali ke bibir.
Ledi menarik napas pendek, jemarinya mencengkeram kerah jas Kevin.
Kevin bergerak maju.
Ledi mundur setengah langkah, lalu setengah lagi, hingga punggung lututnya menyentuh tepi kasur.
Kevin mendorong tubuh Ledi, ringan.
Ledi jatuh terduduk di kasur. Kevin tidak memberi jarak. Ia menciumi bibirnya lagi, melumat lebih dalam. Napas mereka terdengar berat dan tidak teratur.
Mantel jatuh lebih dulu ke lantai.
Gaun hitam meluncur ke karpet.
Kemeja Kevin menyusul.
Suara resleting terdengar pendek dan jelas.
Celana panjang jatuh di atas gaun.
Sepatu hak terlempar ke sisi ranjang dengan bunyi pelan.
Lampu kamar tetap menyala.
Kepala Ledi jatuh di atas bantal. Kedua tangannya terkumpul menjadi satu di atas kepala—tangan Kevin menahannya.
Jemari Kevin menekan gelang cokelat itu, kontras dengan seprai putih yang masih rapi beberapa menit lalu.
Terdengar bisik Ledi, hampir hilang di antara napas yang terengah, “Aw ... pelan-pelan ….”
Kevin tidak berhenti, tapi gerakannya melambat sepersekian detik—cukup untuk membuat Ledi menarik napas lebih panjang sebelum kembali ditarik ke pusaran yang sama.
Napas Ledi terdengar cepat. Napas Kevin lebih berat.
Bantal di bawah kepala Ledi terombang-ambing.
Lampu tidur memantulkan cahaya hangat di dinding.
Tirai tipis bergerak pelan karena hembusan pendingin ruangan.
Kevin melirik ke bawah sekilas—seringai lebar terukir di wajahnya.
Tangan Kevin berpindah dari pergelangan Ledi ke seprai. Jari-jarinya mencengkeram kain putih itu kuat, membuat lipatan yang tadinya halus menjadi kusut.
Tangan Ledi menyentuh bahu Kevin, lalu punggungnya, lalu menekan tanpa sadar.
Suara di luar kamar tidak terdengar. Paris seolah hilang. Hanya ada kasur yang bergeser sedikit dari posisinya. Hanya ada napas yang semakin tak teratur.
Hanya ada satu momen yang bergerak terlalu jauh untuk ditarik kembali.
***
Beberapa saat kemudian, sunyi turun perlahan.
Napas yang tadi tersengal mulai teratur kembali.
Ledi berbaring menatap langit-langit. Kevin berbaring di sampingnya, dekat. Selimut putih menutupi tubuh mereka hingga bahu. Dada mereka masih naik-turun pelan. Kulit mereka masih hangat.
Kevin menyentuh rambut Ledi, menyibakkan helai yang menempel di pipi. Ujung jarinya bergerak pelan, lalu turun menyusuri garis pelipis.
Ledi tidak menoleh.
Kevin mencondongkan wajahnya dan mencium kening Ledi. Sentuhan itu lebih pelan dari yang tadi. Tidak tergesa.
Ledi memejamkan mata beberapa saat, lalu membukanya lagi. Langit-langit kamar tampak putih dan datar. Tidak ada yang berucap.
***
Ledi duduk perlahan dari ranjang, menarik selimut ke dadanya sebelum bangkit. Kakinya menyentuh lantai yang dingin.
Ia memungut pakaiannya tanpa menatap Kevin, lalu berjalan ke arah kamar mandi.
Pintu kamar mandi tertutup. Air mengalir di baliknya.
Ledi berdiri di bawah pancuran, membiarkan air menyentuh bahunya. Ia memejamkan mata, mencoba mengatur napasnya kembali.
Ketika ia keluar dengan handuk melilit tubuhnya, kamar terasa lebih terang.
Beberapa meter depannya, Kevin berdiri di sisi ranjang, sudah mengenakan celana.
Pandangan Ledi mengikuti arah tatapan Kevin. Pada noda merah di atas seprai.
Kevin menatap noda itu selama beberapa saat, lalu mengangguk kecil. “Kirain ….”
Kalimat itu menggantung.
Ledi tidak bertanya apa yang pria itu kira.
Senyum tipis muncul di sudut bibir Kevin. Ia menatap Ledi sekali lagi. Kali ini, tatapannya berbeda dari sebelumnya—lebih pasti.
Air dari rambut Ledi menetes ke bahunya.
Kevin memakai kemejanya kembali. “Kamu di sini aja malam ini.”
Ledi tak menjawab, tangannya meremas handuk.
“Aku ambilin koper kamu,” lanjut Kevin.
Other Stories
Bapakku Bukan Pengkhianat
Udin, seorang laki-laki biasa, berharap kehidupannya baik-baik saja saat para pengkhianat ...
Mimi & Peri
Mimi, seorang gadis pecinta alam dari pesisir Bali, menghabiskan liburan sekolahnya di Flo ...
Kamera Sekali Pakai
Seorang perempuan menghabiskan liburan singkat di sebuah kota wisata, berharap jarak dapat ...
Hati Diatas Melati ( 17+ )
Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Deru Suara Kagum
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...