Bab 6 — Roh Jahat
Langit berubah kelabu. Asap tipis dari dapur-dapur warga naik lurus sebelum pecah oleh angin lembah.
Ferry duduk di tepi ranjang. Pintu kamar terbuka. Dari luar terdengar suara langkah-langkah yang lebih sering dari biasanya. Baim berdiri dekat jendela, mencoba menangkap sinyal. Tidak ada.
“Jam berapa sekarang?” tanya Ferry.
“Enam dua puluh,” jawab Baim.
Terdengar langkah kaki di halaman. Bukan satu orang. Beberapa.
Tok tok tok.
Ferry bangkit dan membuka pintu. Baim mengikuti.
Mang Ujang berdiri di depan pintu. Tiga pria yang tadi ikut mencari berdiri di halaman.
“Mari,” kata Mang Ujang. Nada suaranya datar seperti tadi siang.
Ferry dan Baim keluar rumah. Lalu Baim mengunci pintu.
Mereka menuruni tangga teras.
Ferry berdiri sebentar, menatap wajah para pria di depan rumah itu. Tidak ada yang terlihat tergesa.
Mereka mulai berjalan. Mang Ujang di depan. Ferry dan Baim di belakangnya. Para warga mengikuti beberapa langkah di belakang mereka.
Jalan tanah yang tadi lengang kini tampak berbeda. Beberapa pintu rumah terbuka. Beberapa wanita tua berdiri di ambang pintu, melihat mereka lewat tanpa berkata apa-apa.
Seorang ibu menarik anak kecilnya masuk ke dalam rumah ketika rombongan itu lewat.
Lampu-lampu bohlam kuning menggantung di teras rumah, menciptakan lingkaran cahaya kecil di tanah. Langkah mereka terdengar jelas di jalan yang sunyi.
Ketika mereka melewati tikungan kecil, Ferry melihat sosok yang dikenalnya.
Pria pincang itu duduk di batu di pinggir jalan.
Rambutnya kusut. Pakaiannya sama seperti tadi siang. Ia mengangkat kepala ketika rombongan lewat.
Tatapannya langsung berhenti pada Ferry. Tangannya terangkat sedikit, seperti ingin menunjuk sesuatu. Bibirnya bergerak mengeluarkan suara serak yang tidak membentuk kata.
Salah satu warga di belakang Ferry berjalan mendekat dan menyentuh bahu pria itu. “Sudah,” katanya pelan.
Pria pincang itu diam, tapi matanya masih mengikuti Ferry sampai rombongan itu melewatinya.
Beberapa rumah lagi mereka lewati.
Di ujung jalan, sebuah bangunan kayu yang lebih besar dari rumah-rumah lain berdiri di tengah lapangan tanah terbuka. Balai desa.
Lampu-lampu sudah menyala di dalamnya. Beberapa sepeda motor terparkir di depan. Puluhan pasang sandal berjajar di tangga kayu. Suara orang berbicara pelan terdengar dari dalam.
Mang Ujang menaiki tangga lebih dulu. Ferry dan Baim mengikuti.
Mendekati pintu masuk, Ferry melihat para warga sudah berkumpul. Mereka duduk melingkar di lantai yang dilapisi tikar pandan.
Semua percakapan pelan itu mereda ketika Ferry dan Baim masuk. Tidak langsung sunyi, tapi satu per satu suara berhenti. Beberapa warga masih berbisik sebelum akhirnya diam.
Di tengah lingkaran itu, seorang pria sekitar empat puluh tahun duduk bersila. Matanya terpejam. Tangannya diletakkan di atas lutut. Dukun.
Di depannya, ada mangkuk kecil berisi air dan seikat daun yang diikat dengan benang merah.
Beberapa warga menundukkan kepala. Yang lain hanya duduk menatap tanpa ekspresi.
Mang Ujang mengangguk pada Ferry dan Baim.
Mang Ujang duduk. Ferry dan Baim ikut duduk.
“Mulai,” kata Mang Ujang pelan, lalu memberi isyarat pada seseorang di antara para warga.
Seorang pria tua berdiri. Tubuhnya kurus dan agak membungkuk. Rambutnya putih. Ia mengenakan baju lurik tua yang warnanya sedikit memudar. Ia duduk menghadap si dukun.
Warga bergerak merapat, membentuk lingkaran yang lebih utuh.
Dukun itu merapalkan sesuatu. Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh desis angin yang masuk dari celah dinding kayu.
Ia mencelupkan daun itu ke mangkuk, lalu mencipratkannya ke wajah pria tua di depannya.
Beberapa warga berbisik pelan. Seorang wanita di sudut ruangan menutup mulutnya dengan ujung kerudung.
Pria tua itu bergumam. Pelan.
Lalu semakin cepat. Tubuhnya mulai bergetar.
Angin bergerak tipis. Lampu bohlam bergoyang sedikit.
Ferry menatap satu per satu wajah di sekelilingnya. Beberapa warga menundukkan kepala. Beberapa menatap ke tengah ruangan tanpa berkedip. Tidak ada yang terlihat cemas.
Pria tua itu tiba-tiba mengangkat kepalanya. Matanya terbuka lebar. “Dia melewati batas!”
Beberapa warga tersentak. Seseorang menarik napas keras.
Ferry membuka mulut. Sebelum ia sempat bicara, pria tua itu melanjutkan ucapannya.
“Dia sudah mati!” Tangannya bergerak seperti merobek sesuatu, lalu memasukkannya ke mulut. “Dimakan!”
Pria tua itu tertawa cekikikan.
Beberapa warga mundur satu-dua langkah.
Pria itu tiba-tiba memajukan kepalanya ke arah Ferry. Matanya melotot. “Pergi dari sini!”
Para warga serentak menggeser tubuh ke belakang. Mereka terlihat ketakutan.
“Cepat!” kata pria tua itu. “Sebelum roh penunggu memangsa lebih banyak korban!” Tubuhnya menegang, lalu mengeram keras.
“Terima kasih, Mbah,” kata Mang Ujang pada pria tua itu.
Pria tua itu mengeram lagi, tapi pelan.
Dukun yang berdiri di belakangnya menutup mata pria itu sambil merapalkan sesuatu. Tubuh pria itu perlahan lemas dan terjatuh—ditahan oleh sang dukun.
Mang Ujang menoleh ke Ferry dan Baim. “Demi kebaikan kalian berdua,” katanya tenang, “lebih baik kalian segera pergi dari desa ini.”
Hening beberapa detik.
Ferry menoleh sekilas ke orang-orang sekitar. Lalu ke pria tua. Lalu ke Mang Ujang. “Besok pagi kami pulang.”
Baim menoleh cepat ke Ferry.
Beberapa warga saling pandang. Salah satu dari mereka mengangguk pelan.
Beberapa wajah terlihat mengendur. Tidak ada yang tersenyum, tapi bahu-bahu yang tadi tegang sedikit turun.
Mang Ujang mengangguk pada warga yang kemudian segera membubarkan diri. Tikar digulung. Sandal-sandal kembali dipakai. Suara percakapan pelan muncul lagi seperti air yang kembali mengalir setelah batu diangkat. Seekor ayam berkokok dari kejauhan.
Ferry dan Baim masih berdiri di tempatnya.
Mang Ujang berdiri di dekat pintu balai.
“Silakan istirahat,” katanya. “Besok pagi kalian bisa langsung pulang ke kota.”
Ferry tidak menjawab. Ia hanya mengangguk sekali.
Ferry dan Baim keluar dari balai desa. Udara malam terasa lebih dingin. Bulan purnama menerangi langit malam.
Mang Ujang berjalan bersama mereka. Dua pria lain berjalan di belakang.
Tidak ada yang berbicara.
Mereka melewati tikungan kecil. Jalan tanah yang tadi ramai kini mulai kembali lengang. Pintu-pintu rumah yang sempat terbuka satu per satu mulai ditutup.
Seorang perempuan tua menarik bangku kayu ke dalam rumahnya.
Langkah mereka terdengar jelas di tanah yang lembap.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan penginapan.
“Besok pagi saya antar kalian sampai jalan utama,” kata Mang Ujang.
Baim mengangguk singkat.
Ferry menatap Mang Ujang beberapa detik, lalu berkata, “Terima kasih.”
Mang Ujang mengangguk kecil. Wajahnya tetap datar.
Ferry dan Baim naik ke teras. Baim membuka kunci pintu. Mereka berdua masuk.
Dari balik tirai, Ferry melihat siluet Mang Ujang dan dua pria lainnya yang masih di halaman. Beberapa detik kemudian, ketiga pria itu baru pergi.
Ferry menarik tirai sedikit, mengintip keluar. Jalanan di depan penginapan mereka kosong.
Ia memegang bahu Baim. “Kita masuk ke hutan itu malam ini.”
Baim menatap Ferry lekat-lekat. “Lu serius?”
Ferry mengangguk. “Kalau kita pulang besok,” katanya pelan, “Willy hilang selamanya.”
Hening turun di antara mereka.
Dari luar terdengar suara serangga dan angin yang menyentuh atap seng.
Baim menarik napas panjang. Lalu mengangguk.
Other Stories
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...
Menolak Jatuh Cinta
Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...
Rumah Nenek
Liburan memang menyenangkan. Piyan, yang berumur 9 tahun. Hanya mengerti, liburan itu adal ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Cinta Satu Paket
Renata ingin pasangan kaya demi mengangkat derajat dirinya dan ibunya. Berbeda dari sahaba ...