Plan B

Reads
6.4K
Votes
688
Parts
12
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 5 — Pencarian

Ferry yang masih tidur mendengar pintu kamarnya digedor berulang kali.

Ia membuka mata. Cahaya pagi masuk tipis dari sela tirai. Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kayu, belum sepenuhnya sadar.

Pintu digedor lagi.

“Fer,” suara Baim terdengar dari luar. Lebih rendah dari biasanya.

Ferry bangkit. Kakinya menyentuh lantai yang dingin. Ia berjalan ke pintu dan membukanya.

Baim berdiri di depan, kaosnya masih kusut. Wajahnya tidak setenang biasanya. “Willy nggak ada,” katanya.

Ferry tidak langsung menjawab. “Maksudnya?”

“Dia nggak pulang dari semalam.”

Ferry melangkah keluar. Pintu kamar sebelah terbuka. Kedua ranjang single di dalam terlihat dari ambang.

Bantal dan selimut di salah satu ranjang tertata rapi. Tas Willy masih di sudut ruangan. Ritsletingnya tertutup.

Ferry berdiri beberapa detik, memandangi ruang itu tanpa masuk.

“Lu dengar dia pulang?” tanya Baim.

Ferry menggeleng, lalu berjalan ke teras.

Halaman masih basah oleh embun. Tanah padat bercampur kerikil. Tidak ada yang bergerak di depan rumah kayu itu.

“Wil!” panggil Baim.

Suara itu terdengar lebih jelas di udara pagi yang tipis. Tidak ada jawaban.

Ferry menuruni satu anak tangga. Ia melihat ke arah jalan di depan penginapan yang membelah desa. Beberapa pintu rumah sudah terbuka. Asap tipis naik dari dapur. Seekor ayam melintas pelan.

“Willy!” kali ini Ferry yang memanggil.

Tidak ada suara langkah menjawab.

Mereka berjalan menyusuri sisi rumah, ke belakang. Tanah lebih lembap.

Ferry memperhatikan sekitar, mencari sesuatu yang menandakan orang lewat—daun patah, puntung rokok, bekas pijakan. Yang terlihat hanya jejak-jejak lama yang tidak bisa dibedakan.

“Ke air terjun?” tanya Baim.

Ferry mengangguk kecil. “Kayaknya iya.”

“Gua kunci pintu dulu,” kata Baim.

Baim kembali ke teras dan mengunci pintu. Lalu menemui Ferry yang menunggu di jalan.

Mereka melewati dua rumah pertama di sisi kiri.

Seorang perempuan tua sedang menyapu halaman. Ia berhenti sebentar ketika Ferry dan Baim lewat, lalu kembali menyapu tanpa bertanya apa-apa.

“Wil!” panggil Baim. Suara itu menyentuh dinding-dinding kayu, lalu hilang.

Di depan, seorang anak laki-laki membawa ember kecil berhenti di tengah jalan tanah. Ia menatap mereka beberapa detik, lalu menepi.

Mereka berjalan lebih cepat hingga sampai di ujung deretan rumah. Di sana, jalur setapak mulai terlihat—tanahnya lebih lembap, ditutup akar-akar pohon yang menyembul seperti urat.

Ferry mengenali jalur itu dari kemarin. Ia melangkah masuk tanpa menoleh lagi ke belakang.

Suara desa memudar pelan. Digantikan bunyi daun kering yang terinjak dan serangga pagi yang berdesing halus.

“Wil!”

Hanya gema pendek yang menjawab.

Mereka berjalan sampai batu besar yang kemarin menjadi penanda. Ferry berhenti di sana. Ia menatap kolam dangkal di bawah air terjun. Permukaannya tenang. Tidak ada riak selain jatuhnya air.

Willy tidak ada.

Ferry memutar tubuhnya, menatap sisi kiri air terjun—arah yang kemarin ditunjuk Mang Ujang sebagai batas.

Di sana, semak lebih rapat. Rumput lebih tinggi. Jalur kecil tampak samar.

Ferry berjalan dua langkah ke arah itu. Tanah di bawahnya terasa lebih lunak. Ia melihat satu ranting patah yang ujungnya masih segar. Di bawahnya, tanah sedikit tertekan.

“Fer,” suara Baim lebih pelan sekarang.

Ferry tidak langsung menjawab. Ia menatap ke dalam celah pepohonan itu, mencoba menangkap gerakan sekecil apa pun.

Tidak ada.

Ia melangkah satu langkah lagi, melewati batas batu besar.

Udara terasa berbeda. Lebih tertutup.

Tangan Baim menyentuh lengannya. “Jangan dulu.”

Ferry berhenti.

Ia mendengar suara air terjun di belakangnya, lebih jauh dari sebelumnya. Ia menoleh sebentar, memastikan arah kembali.

Beberapa detik berlalu tanpa kata.

Lalu Ferry mundur satu langkah. Dan satu lagi. Sampai kembali sejajar dengan batu besar.

Mereka berdiri berdampingan, menghadap hutan yang lebih dalam.

“Dia pasti lewat sini,” kata Ferry pelan.

Baim tidak menjawab.

Ferry memutar tubuhnya. “Kita balik.”

Mereka berjalan keluar dari jalur setapak, kembali melewati akar-akar pohon yang sama, kembali ke deretan rumah yang mulai ramai oleh aktivitas pagi.

Desa tampak seperti tadi—biasa, bergerak pelan.

Willy tetap tidak terlihat.

“Mang,” kata Ferry saat mendekati Mang Ujang yang sedang memperbaiki mobilnya. “Teman kami belum pulang.”

Mang Ujang berhenti bekerja, lalu berdiri. Tangannya masih memegang kunci Inggris. Ia bersandar pada pintu pengemudi. Permukaan pintu itu tampak lebih mengilap dibanding bodi lain yang kusam.

“Dia ke mana?”

“Tidak tahu,” jawab Baim. “Semalam keluar sebentar. Katanya mau ngerokok.”

“Kami sudah ke air terjun, tapi tidak ada,” kata Ferry.

Seorang pria berjalan mendekat. Lalu satu lagi. Mereka adalah orang yang kemarin berdiri di belakang si pincang.

“Mungkin temannya tersesat,” kata warga pertama.

“Tolong bantu mencari teman kami, Mang,” kata Ferry sambil menatap Mang Ujang. Lalu ia menatap kedua warga lainnya. “Tolong kami, Pak.”

Mang Ujang mengangguk pelan. Ia menurunkan kunci Inggris ke atas kap mobil. Bunyi logam menyentuh besi terdengar singkat. “Kita cari sekarang.”

Kedua warga itu langsung berbalik memanggil yang lain. Tidak berteriak, tapi cukup keras untuk terdengar ke rumah-rumah sekitar.

Beberapa pria keluar dari rumah masing-masing. Ada yang masih mengenakan sarung dilipat setengah. Ada yang baru memakai baju.

“Terakhir di mana?” tanya salah satu warga.

“Di penginapan,” jawab Ferry. “Semalam.”

Mang Ujang mengangguk. “Kita bagi dua. Satu ke ke jalur air terjun. Satu lagi di sekitar rumah.”

Ferry dan Baim langsung berjalan menuju jalur setapak lagi. Beberapa warga mengikuti di belakang mereka.

Desa mulai terdengar berbeda. Suara panggilan terdengar dari berbagai arah. “Willy!”

Nama itu terus terdengar di antara suara ayam dan gesekan daun.

Sampai di batu besar, Ferry menunjuk ke arah kiri. “Dia mungkin ke sana.”

Dua warga melangkah mendekat, melihat tanah yang lebih lunak. Salah satu berjongkok, menyentuh ranting patah yang tadi dilihat Ferry.

“Bisa juga babi hutan,” kata pria itu.

Ferry tidak menjawab.

Mang Ujang berdiri tidak jauh dari batas batu. Ia tidak melangkah lebih dalam. Hanya mengamati.

“Kita masuk sedikit,” kata Ferry.

Salah satu warga menggeleng. “Kita tidak boleh melewati batas ini.”

Ferry menatapnya. “Teman saya mungkin ada di dalam.”

Hening.

Mang Ujang melangkah mendekat ke batu besar. Ia berdiri sejajar dengan Ferry, tapi tidak melewatinya. “Masuk sedikit saja,” katanya. “Jangan terlalu jauh.”

Para warga saling pandang.

Dua warga akhirnya melangkah melewati batu besar. Ferry ikut. Baim di belakangnya.

Hutan langsung terasa lebih rapat. Tanah lebih lembek. Cahaya terputus-putus oleh daun yang saling bertumpuk.

Mereka menyebut nama Willy beberapa kali.

Tidak ada jawaban.

Beberapa langkah lagi.

“Cukup,” kata Mang Ujang dari belakang.

Ferry menoleh. Mang Ujang masih berdiri dekat batu besar. Tidak masuk lebih jauh.

“Kita tidak akan dapat apa-apa dengan cara seperti ini,” lanjut Mang Ujang.

Ferry menatap ke arah lebih dalam. Jalur kecil yang tadi ia lihat belum tersentuh. “Dia mungkin di sana.”

Mang Ujang menggeleng pelan. “Kalau teman kalian memang ke sana,” ia mengembuskan napas berat. “Kita harus mencarinya dengan cara lain.”

Ferry dan Baim saling pandang.

***

Di halaman rumah Mang Ujang, para warga berkumpul lagi. Mang Ujang berdiri di tengah lingkaran kecil itu.

“Kalau sampai sore belum pulang,” katanya, “kita harus adakan ritual.”

Ferry merasakan napasnya sedikit lebih berat. “Kenapa tidak sekarang?”

Mang Ujang menjawab tanpa mengubah nada. “Harus dilakukan malam hari.”

Ferry mengamati para warga yang saling pandang.

“Bapak-Ibu sekalian,” kata Mang Ujang, “nanti jam tujuh kita berkumpul lagi di balai desa.”

Para warga bergerak ke berbagai arah. Suara percakapan kecil saling bertumpuk.

“… jangan telat .…”

“… bawa obor juga .…”

Seseorang tertawa pendek. Pintu rumah ditutup. Seekor ayam berlari menyeberang halaman. Obrolan-obrolan kecil itu menyebar seperti riak, lalu perlahan menjauh ke halaman-halaman rumah di sekitar.

Mang Ujang menatap Ferry dan Baim bergantian. “Kalian silakan istirahat dulu. Mudah-mudahan sebentar lagi teman kalian pulang.”

Ferry dan Baim saling pandang, lalu Baim mengangguk.

Ferry menoleh ke arah jalur setapak yang tadi mereka lewati, lalu berjalan pulang di samping Baim.

Saat mereka melangkah, pria pincang itu tiba-tiba muncul menghalangi mereka. Tangannya terangkat, seperti mengusir mereka. Ia mengeluarkan suara serak, lebih keras dari sebelumnya.

Dua warga langsung memegangi lengannya. “Sudah,” kata salah satu dari mereka. Mereka membawanya menjauh dari Ferry. Dan ia terus mengeluarkan suara yang tidak jelas.

Ferry menatap pria itu. Ada sesuatu yang mendesak di matanya.

Di belakang Ferry, mobil tujuh penumpang milik Mang Ujang terparkir miring di tepi halaman.

Mata pria pincang itu bergeser dari wajah Ferry ke arah mobil itu.

Tangannya terangkat, menunjuk ke arah kap mobil. Jarinya bergetar di udara, seolah hendak menyentuh sesuatu yang terlalu jauh. Lalu lengannya ditekan turun oleh warga di sampingnya.

Ferry berdiri beberapa detik lebih lama. Di sekelilingnya, warga sudah kembali ke urusan masing-masing. Suara obrolan terdengar lagi. Desa itu berjalan seperti biasa. Namun Willy tetap tidak ada.


Other Stories
Cerita Guru Sarita

Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...

Dengan Ini Saya Terima Nikahnya

Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...

(bukan) Tentang Kita

Tak sanggup menanggung rada sakit akibat kehilangan, Arga, seorang penulis novel romantis ...

Jatuh Untuk Tumbuh

Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...

Buah Mangga

buah mangga enak rasanya ...

Kidung Vanili

Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...

Download Titik & Koma