Bab 9 — Yang Tertinggal
Ferry masih membekap mulut Baim.
Beberapa detik kemudian, setelah bunyi langkah kaki para pengejar benar-benar hilang, Ferry melepasnya.
Ia lalu menggeser tubuh Baim menjauh dari tiang penyangga. “Naik,” bisik Ferry.
Mereka merangkak naik kembali ke daratan.
Baim hampir tidak mampu berdiri tegak. Ferry menariknya.
Ferry menyalakan senter ponselnya sebentar.
Luka di sisi tubuh Baim sudah menembus kain yang dililit Ferry tadi. Darah merembes keluar, menghitam di kain yang basah.
Baim menarik napas pendek. “Jalan.”
Mereka bergerak menyusuri tepi sungai. Batu-batu licin memaksa mereka melangkah perlahan. Ferry memapah Baim dengan satu tangan, sementara tangan satunya menggenggam pisau.
Beberapa meter kemudian tanah kembali naik menuju hutan.
Baim mulai tertinggal setengah langkah. Napasnya terdengar berat, tidak teratur.
“Sedikit lagi,” kata Ferry pelan.
Baim tidak menjawab.
Mereka terus berjalan sampai Ferry merasa suara sungai cukup jauh di belakang. Di sini hutan terasa lebih sunyi. Tidak ada cahaya senter.
Baim tiba-tiba berhenti. Tangan kirinya mencengkeram bahu Ferry.
Ferry menoleh. “Kenapa?”
Baim tidak langsung menjawab. Ia menunduk, menarik napas dalam. “Fer.”
Ferry menatap wajahnya.
Baim menggeleng pelan. “Lu lebih cepat sendirian.”
Ferry menggeleng.
Baim menarik napas lagi, lebih pendek. “Daripada kita mati berdua.”
Ferry tidak beranjak.
Baim mendorong bahu Ferry. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat Ferry mundur setengah langkah.
“Cari bantuan. Gua tunggu di sini.”
Ferry memerhatikan luka di sisi tubuh Baim. Darah masih merembes melalui kain yang diikatnya.
Baim menyandarkan tubuhnya di pohon besar. “Pergi.”
Ferry masih diam. Beberapa detik berlalu.
Ferry meraih ranting dan dedaunan besar di sekitar, lalu menutupkannya ke tubuh Baim. Tidak seluruh tubuh, hanya sebagian dada dan kaki.
Ferry berhenti sebentar, lalu memandanginya.
“Jangan lama,” kata Baim pelan.
Ferry mengangguk, lalu berbalik dan berjalan menjauh.
Langkahnya cepat pada awalnya, lalu melambat. Ia menunduk setiap kali melewati semak, menghindari ranting yang bisa patah.
Dari kejauhan terdengar langkah kaki. Bukan satu orang. Banyak.
Ferry berjongkok, bersembunyi di balik pohon besar. Dari posisinya, ia bisa melihat pohon tempat persembunyian Baim.
Beberapa detik tidak ada apa-apa.
Cahaya senter muncul di antara batang pohon.
Ferry merunduk lebih rendah.
Tiga pria keluar dari kegelapan. Senter mereka bergerak menyapu tanah.
Salah satu dari mereka berhenti dekat tempat Baim bersandar. Cahaya senter jatuh pada daun-daun yang menutupi tubuhnya.
Pria itu menendang dedaunan itu dengan ujung sepatu hingga terbuka.
Baim masih hidup. Dadanya naik turun pelan.
Pria itu menoleh sedikit ke arah temannya. Tidak ada yang berbicara.
Ia berjongkok. Tangan kirinya menekan bahu Baim ke batang pohon. Tangan kanannya menggorok leher Baim.
Tubuh Baim menegang. Lalu diam.
Ferry membekap mulutnya sendiri.
Tangan pria itu menyusuri saku kemeja Baim. Lalu berpindah ke saku celana. Tangannya berhenti. Ia menarik sebuah ponsel.
Kemudian ia berdiri sambil menatap layar sebentar. Cahaya senter memantul di permukaan kaca.
Tanpa komentar, ia memasukkan ponsel itu ke sakunya sendiri. “Tinggal satu lagi.”
Mereka meninggalkan tubuh Baim yang sudah tak bernyawa tanpa tergesa.
Cahaya senter terakhir bergerak di antara batang pohon. Lalu menghilang.
Ferry masih berjongkok di balik pohon. Tubuhnya tidak bergerak.
Beberapa detik berlalu. Lalu lebih lama lagi.
Akhirnya Ferry berdiri. Lalu melangkah tanpa arah pasti.
Beberapa menit kemudian ia berhenti sebentar, lalu berlari lagi.
Ia berhenti di balik pohon besar. Ia menutup mata sebentar. Lalu membukanya lagi. Napasnya terdengar keras di telinganya sendiri.
Sebuah tangan menyentuh bahunya dari belakang.
Ferry membeku. Seluruh tubuhnya menegang. Jari-jarinya mencengkeram gagang pisau yang ia pegang sejak tadi.
Other Stories
Perpustakaan Berdarah
Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Ilusi Yang Sama
Jatuh cinta pada wanita yang selalu tersakiti, Rian bertekad menjadi pria yang berbeda. Na ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...