Bab 7 — Solidaritas
Ferry duduk di ranjang Willy. Baim duduk di ranjangnya sendiri.
“Kita tunggu sepi,” kata Ferry.
Ia mematikan lampu kamar. Ruangan tenggelam dalam gelap yang lembut, hanya diterangi cahaya tipis dari lampu teras.
Setelah lama menunggu, Ferry berjalan menuju jendela depan. Ia mengintip.
Satu rumah di seberang, lampu tengahnya masih menyala.
Ia kembali ke Baim.
“Sekarang,” kata Ferry pelan.
Mereka mengenakan jaket tipis. Sepatu sneakers sudah di kaki sejak tadi.
Ferry menyalakan senter ponselnya, sementara Baim membuka pintu belakang sepelan mungkin. Engsel kayu mengeluarkan bunyi kecil. Udara lembap masuk ke rumah.
Ferry mematikan senternya.
Mereka keluar tanpa menutup pintu rapat.
Halaman belakang dipenuhi rumput tumbuh liar setinggi lutut, basah oleh embun. Tanahnya lembek ketika diinjak.
Baim menunjuk satu arah. Ferry mengangguk. Mereka berjalan sepelan mungkin.
Tak lama kemudian, mereka sampai ke jalur setapak yang biasa dilewati menuju air terjun.
Ferry menoleh ke arah rumah warga yang terdekat. Lalu menoleh ke arah jalan menuju air terjun.
Ia mengembuskan napas dalam, lalu menyalakan lampu ponselnya lagi.
Cahaya itu menyapu tanah di depan mereka: akar-akar pohon yang menyembul seperti urat, tanah yang lembap, dan sesekali batu kecil yang menonjol dari permukaan.
Mereka berjalan tanpa bicara. Udara di antara pepohonan terasa lebih dingin.
Suara desa memudar di belakang mereka. Yang tersisa hanya bunyi serangga dan daun kering yang sesekali terinjak.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di depan batu besar. Air terjun yang siang tadi terdengar jelas kini hanya menjadi gemuruh yang tertahan oleh malam.
Ferry berhenti sebentar di depan batu itu. Ia mematikan lampu. Beberapa detik mereka berdiri diam.
Mereka saling memandang. Lalu saling mengangguk.
Ferry dan Baim menyalakan senter ponsel dan melangkah melewati batu besar.
Beberapa langkah pertama tidak terasa berbeda. Tanah masih dipenuhi akar pohon yang menyembul seperti urat. Semak menggesek sisi celana mereka setiap kali lewat. Air terjun masih terdengar di belakang.
Ferry berjalan di depan. Sesekali, ia mematikan senter ponselnya, membiarkan mata menyesuaikan diri dengan cahaya bulan yang menembus sela daun. Batang-batang pohon tampak pucat di antara bayangan panjang.
Ferry berhenti sebentar dan menoleh ke belakang.
Batu besar yang tadi mereka lewati masih terlihat samar—gumpalan gelap di antara batang pohon. Di baliknya, suara air terjun terdengar lebih jauh.
Ia melangkah lagi.
Jalur di depan mereka makin menyempit. Rumput tumbuh lebih tinggi, beberapa bagian hampir menutup tanah. Daun-daun basah menempel pada sepatu mereka.
Serangga berbunyi lebih keras, seperti dinding suara yang menutup semua yang lain.
Sesuatu bergerak di semak di kiri mereka. Keduanya berhenti bersamaan.
Ferry mematikan senter. Jantungnya berdegup kencang. Cahaya bulan menyisakan garis pucat di antara batang pohon.
Beberapa detik hanya bunyi napas mereka yang terdengar.
Seekor kadal besar melintas cepat di antara daun kering.
Ferry menggeleng. Baim mengembuskan napas pendek.
Mereka menyalakan kembali senter ponsel, lalu kembali melangkah.
Beberapa meter kemudian, bunyi air terjun hampir tidak terdengar lagi.
Ferry berhenti. Lalu menoleh ke belakang.
Baim ikut menoleh.
Batu besar tidak terlihat lagi. Yang ada hanya hutan lebat. Dan untuk sesaat, Ferry mencoba mengingat jalan pulang.
Ketika Baim menatapnya, Ferry mengangguk. Mereka pun kembali melangkah.
Pelan-pelan.
Hati-hati.
Ferry menunduk. Tanah yang ia injak terasa padat. Tidak ada daun kering. Seperti ada yang sering lewat dan menyingkirkannya dari jalur.
Beberapa langkah kemudian, sesuatu tersangkut di semak.
Potongan plastik merah. Tidak besar. Tapi terlalu lurus untuk sekadar sampah yang terbawa angin.
Ferry menyorotnya sebentar. Lalu kembali berjalan.
Beberapa meter kemudian, sebuah tali rafia melintang rendah di antara dua batang bambu kecil. Tanah di sekitarnya seperti pernah diinjak banyak kaki.
Ferry berhenti. Matanya bergerak ke kiri-kanan.
Mereka terus berjalan.
Di tanah, ada bekas roda yang sudah mengering—garis tipis memanjang di antara akar pohon. Bukan bekas roda mobil.
Ferry mengangkat ponselnya lebih tinggi. Batang bambu berjajar di semak, ujungnya terikat potongan plastik merah yang bergoyang pelan tertiup angin.
Baim berhenti. “Fer,” bisiknya nyaris tak terdengar.
Ferry tidak menjawab. Matanya menyapu depan. Udara membawa bau tajam, pahit, bercampur dengan tanah basah.
Di kejauhan, sesuatu berdengung pelan. Timbul-tenggelam. Seperti mesin yang tertahan jauh di balik pepohonan.
Ferry menajamkan telinga—mencari sumber suara.
Beberapa detik berlalu.
Ferry menunjuk ke satu arah. Baim mengangguk.
Baim ingin menyentuh tombol ponsel—Ferry menggeleng.
Tanpa senter, mereka berjalan menuju sumber suara.
Beberapa langkah kemudian, Baim tersangkut akar pohon yang melintang. Tubuhnya hampir terjatuh ke depan. Ferry cepat meraih lengan dan menahannya.
Baim mengangguk kecil. “Thanks.”
Ferry melepaskan pegangannya.
Mereka kembali melangkah.
Hutan di sekitar terasa lebih rapat. Batang pohon berdiri tanpa jarak, menutup cahaya bulan yang tadi masih sempat menembus sela daun.
Ferry melangkah lebih pelan, matanya turun naik antara tanah dan bayangan di depan.
Ia tiba-tiba berhenti.
Di tanah, di antara rumput yang tertekan, sesuatu tampak lebih pucat dari tanah di sekitarnya. Ia berjongkok perlahan.
Sebuah kemeja.
Ferry tidak langsung menyentuhnya. Cahaya bulan menimpa kain itu tipis-tipis. Kemeja kotak-kotak itu masih ia kenali.
Tanah di sekitarnya tidak rata. Rumput tertekan ke satu arah, dan di tanah lembap terlihat garis panjang seperti sesuatu pernah diseret melewati jalur itu. Bekas pijakan sepatu berantakan di sekitarnya, tidak seperti orang berjalan biasa.
Jantung Ferry berdegup kencang.
Baim mendekat selangkah.
Ferry mengangkat kemeja itu dari tanah. Kainnya lembap dan dingin. Bagian kerahnya robek seperti pernah ditarik keras.
Tangan Ferry berhenti di udara. Dadanya menegang. “Wil…” gumamnya hampir tak terdengar.
Ia meraba saku dada. Jarinya menyentuh sesuatu yang tipis. Menariknya keluar. Sobekan kertas.
Cahaya bulan cukup untuk memperlihatkan tulisannya. Huruf-huruf itu tidak utuh, tapi Ferry langsung mengenalinya. Undangan pernikahan.
Ia terdiam.
Baim menatap wajah Ferry, lalu kemeja di tangannya. Rahang Baim mengeras. “Itu ....”
Ferry tidak menjawab. Tangannya masih memegang sobekan kertas itu.
Baim menoleh ke arah lain. Tubuhnya menegang. “Fer.”
Ferry mengangkat kepala.
Baim menunjuk ke arah itu.
Di sana, cahaya bulan jatuh di deretan tanaman setinggi pinggang. Daunnya bergerigi, rapat, berjajar rapi dalam barisan panjang.
Ferry menahan napas. “Ganja,” bisiknya.
Ia tidak langsung mendekat. Ia mengeluarkan ponselnya perlahan. Lalu berjalan ke arah ladang tersebut.
Kakinya tersandung sesuatu. Kawat itu menegang. Kaleng-kaleng di ujungnya beradu. Klang. Klang. Suaranya memantul pendek di antara batang-batang pohon.
Ferry menoleh kiri-kanan, panik.
Lalu memotret ladang itu sekali.
Di kejauhan, cahaya tiba-tiba muncul di antara pepohonan.
Sinar senter.
Other Stories
Kucing Emas
Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...
Kesempurnaan Cintamu
Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Takdir Cinta
Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...
Melepasmu Untuk Sementara
Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...
Itsbat Cinta
Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...