EMPAT
Langkahku terasa berat saat menuruni anak tangga Bukit Padar. Aku meraba tas selempangku, memastikan kamera kuning itu masih di sana. Benda itu sekarang terasa lebih berat."Kamu pucat, Nad," ujar Arif saat kami sampai di dermaga bawah. Dia melompat ke atas kapal dengan lincah, lalu mengulurkan tangan padaku.Aku menyambut tangannya. Rasanya… datar. Begitu kapal melaju, aku langsung memejamkan mata."Kita langsung istirahat di pondok saja ya?" tanya Arif. Dia duduk di sudut kapal, membelakangi kapten kapal yang sedang sibuk mengemudi.Aku hanya mengangguk lemah. Sepanjang perjalanan pulang, aku tidak mengeluarkan kamera. Aku takut melihat angka di jendela kecil itu berkurang lagi.Sesampainya di resort, suasana terasa berbeda. Angin sore bertiup lebih kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon kamboja hingga bunganya yang putih berguguran di jalan setapak.Saat kami melewati lobi, aku melihat Rio, pelayan tadi pagi, sedang berbicara dengan manajer resort. Mereka berhenti bicara dan menatapku saat aku lewat. Tatapan mereka... aneh. Seperti tatapan orang yang melihat sesuatu yang menyedihkan, namun takut untuk menolong."Kenapa mereka melihatku seperti itu, Rif?" bisikku."Mungkin mereka kagum dengan gaun kuningmu," sahut Arif santai.Begitu masuk ke dalam pondok, aku langsung melemparkan tas selempangku ke sofa kayu. Aku butuh air. Aku berjalan ke arah dispenser di pojok ruangan, namun langkahku terhenti saat melewati cermin besar di samping lemari.Aku berhenti. Memundurkan langkah.Di dalam cermin, aku melihat diriku sendiri. Gaun kuningku kusam oleh debu. Arif berdiri tepat di sebelahku. Tapi ada yang aneh. Setiap kali aku mencoba menatap wajah Arif di dalam cermin, penglihatanku mendadak kabur. Wajahnya seperti bergoyang, seperti pantulan di atas permukaan air yang tidak tenang. Sementara wajahku sendiri terlihat sangat jelas, hingga ke pori-pori kulitku yang berkeringat."Rif… kok wajahmu di cermin kelihatan kabur ya?" Suaraku tercekat.Arif mendekat. Wajahnya di dunia nyata terlihat sangat tajam dan nyata. "Mungkin cerminnya kotor, Nad. Atau matamu yang kelelahan karena matahari tadi. Jangan dipikirkan."Dia meletakkan tangannya di bahuku. Aku merasakan tekanannya. Aku menoleh kembali ke cermin. Aku melihat bahu gaun kuningku sedikit tertekan ke bawah, tapi tangan Arif di sana tampak seperti bayangan transparan yang sulit difokuskan.Aku memejamkan mata, memijat pelipisku. Pasti dehidrasi, pikirku. Pendakian tadi benar-benar menguras tenagaku.Aku melarikan diri ke kamar mandi. Di bawah guyuran air dingin, aku mencoba menjernihkan pikiran. Keluar dari kamar mandi, aku melihat Arif sedang duduk di balkon, membelakangiku. Dia tampak sedang melihat-lihat peta."Nad, foto aku sekali lagi," pintanya tiba-tiba tanpa menoleh."Sekarang? Cahayanya sudah redup, Rif.""Sekarang. Di depan jendela itu," dia menunjuk jendela besar yang menghadap ke laut yang mulai gelap.Aku mengambil kamera kuning itu. Penggulungnya kuputar ‘krak, krak, krak’. Aku membidik. Di dalam jendela bidik kamera yang sempit, Arif terlihat sempurna. Tidak kabur seperti di cermin tadi. Dia berdiri di sana dengan kemeja birunya yang ikonik.Klik. Delapan belas.Tanganku gemetar saat menurunkan kamera. Angka itu berkurang lagi."Sudah," bisikku."Terima kasih, Nadia. Sekarang, istirahatlah," ucapnya lembut.Aku merebahkan diri di ranjang. Arif duduk di kursi pojok. Bayangannya memanjang di lantai kayu. Aku memperhatikannya sampai mataku terasa berat. Namun, sesaat sebelum aku tertidur, aku merasakan kakiku menendang sesuatu di bawah tempat tidur.Sebuah tas ransel hitam. Tas milik Arif.Tas itu terbuka sedikit. Dan dari dalamnya, aku melihat sesuatu yang berkilau. Aku turun dari ranjang, merangkak sedikit untuk mengambil benda itu. Sebuah botol obat kecil berwarna putih.Aku mengambilnya, dan saat aku membaca labelnya, seluruh badanku mendadak kaku.
Other Stories
Itsbat Cinta
Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...
Nala
Nala tumbuh dalam keluarga sederhana yang perlahan berubah sejak kepergian Ayahnya. Gadis ...
Mozarela Bukan Cinderella
Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...
Mauren, Lupakan Masa Lalu
“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...
Losmen Kembang Kuning
Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...