06. Aruna Dan Tirta Yang Tak Akan Usai
Aruna menunduk, menahan air mata yang menggenang penuh dimatanya, Tirta menatap Aruna , menunggu, tapi tidak menekan, ia tahu Aruna membutuhkan waktu.
Aruna perlahan meraih tangan Tirta, dan untuk pertama kalinya, jarak yang tercipta selama hampir empat hari itu terasa hilang.
" Aku juga tidak akan membiarkan, dan kalau suatu hari aku yang melukainya, aku ingin dia cukup kuat untuk pergi dariku." Tirta mengelus pelan punggung tangan Aruna.
Kalimat itu sederhana.
Tapi disitulah papanya Aruna melihat.
Laki-laki ini tidak ingin memiliki anaknya, ia ingin berjalan bersamanya.
Restu itu tidak diucapkan dengan pelukan,
Hanya anggukan kecil.
Tapi cukup.
Malam itu, mereka duduk bersama, bercerita, Tidak ada drama berlebihan, hanya ketulusan yang dirasakan setiap kata, setiap senyuman, dan setiap detik yang mereka habiskan bersama.
Saat semua tertidur, Tirta kembali ke terasnya, membuka buku catatan terakhirnya. Dengan tangan gemetar bangga, lega, ia menulis kalimat penutup yang selama ini ia simpan di hati,
“Aruna bukan kenangan yang berhenti, dia hanya cerita yang belum selesai dibaca.”
Tirta membaca ulang lagi apa yang sudah ia tulis tentang Aruna, tentang perempuan yang pernah menjadi alasan untuk bertahan, tentang jarak, tentang surat, sungguh ia belajar banyak dari relasi ini, sampai dihalaman terakhir.
Ia sadar sesuatu yang jujur.
Ia tidak lagi menulis dari luka.
Ia menghapus judul bab itu,
Mengganti dengan satu kalimat sederhana,
" Yang Masih Berjalan."
Ia tidak mengabadikannya sebagai masa lalu.
Tidak menjadikannya sebagai simbol penderitaan.
Tidak sebagai tokoh yang selesai.
Ia menulisnya sebagai seseorang yang masih hidup, masih belajar, masih memilih setiap hari.
Karena cinta yang sehat tidak selesai dihalaman terakhir.
Tirta menutup bukunya perlahan.
Di luar, dunia tidak berubah.
Tapi didalam dirinya, ada ruang yang akhirnya dihuni.
Ia tahu ini bukan akhir cerita.
Ini lanjutan.
Di luar, angin malam berhembus lembut, seolah membawa pesan bahwa perjalanan mereka belum benar-benar berakhir, tapi kini mereka bisa melanjutkannya bersama, tanpa takut atau ragu.
Vila yang tadinya hanya menjadi latar liburan tempat menyalurkan isi hati, kini menjadi saksi ketulusan dan awal baru bagi mereka.
Cerita ini tidak berkata:
" Cinta akan menyelamatkan segalanya."
Tapi:
" Manusiawi yang belajar merawat diri, akan menemukan cinta yang tidak melukai."
Itu...jauh lebih jujur.
Aruna perlahan meraih tangan Tirta, dan untuk pertama kalinya, jarak yang tercipta selama hampir empat hari itu terasa hilang.
" Aku juga tidak akan membiarkan, dan kalau suatu hari aku yang melukainya, aku ingin dia cukup kuat untuk pergi dariku." Tirta mengelus pelan punggung tangan Aruna.
Kalimat itu sederhana.
Tapi disitulah papanya Aruna melihat.
Laki-laki ini tidak ingin memiliki anaknya, ia ingin berjalan bersamanya.
Restu itu tidak diucapkan dengan pelukan,
Hanya anggukan kecil.
Tapi cukup.
Malam itu, mereka duduk bersama, bercerita, Tidak ada drama berlebihan, hanya ketulusan yang dirasakan setiap kata, setiap senyuman, dan setiap detik yang mereka habiskan bersama.
Saat semua tertidur, Tirta kembali ke terasnya, membuka buku catatan terakhirnya. Dengan tangan gemetar bangga, lega, ia menulis kalimat penutup yang selama ini ia simpan di hati,
“Aruna bukan kenangan yang berhenti, dia hanya cerita yang belum selesai dibaca.”
Tirta membaca ulang lagi apa yang sudah ia tulis tentang Aruna, tentang perempuan yang pernah menjadi alasan untuk bertahan, tentang jarak, tentang surat, sungguh ia belajar banyak dari relasi ini, sampai dihalaman terakhir.
Ia sadar sesuatu yang jujur.
Ia tidak lagi menulis dari luka.
Ia menghapus judul bab itu,
Mengganti dengan satu kalimat sederhana,
" Yang Masih Berjalan."
Ia tidak mengabadikannya sebagai masa lalu.
Tidak menjadikannya sebagai simbol penderitaan.
Tidak sebagai tokoh yang selesai.
Ia menulisnya sebagai seseorang yang masih hidup, masih belajar, masih memilih setiap hari.
Karena cinta yang sehat tidak selesai dihalaman terakhir.
Tirta menutup bukunya perlahan.
Di luar, dunia tidak berubah.
Tapi didalam dirinya, ada ruang yang akhirnya dihuni.
Ia tahu ini bukan akhir cerita.
Ini lanjutan.
Di luar, angin malam berhembus lembut, seolah membawa pesan bahwa perjalanan mereka belum benar-benar berakhir, tapi kini mereka bisa melanjutkannya bersama, tanpa takut atau ragu.
Vila yang tadinya hanya menjadi latar liburan tempat menyalurkan isi hati, kini menjadi saksi ketulusan dan awal baru bagi mereka.
Cerita ini tidak berkata:
" Cinta akan menyelamatkan segalanya."
Tapi:
" Manusiawi yang belajar merawat diri, akan menemukan cinta yang tidak melukai."
Itu...jauh lebih jujur.
Other Stories
Kepingan Hati Alisa
Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Bad Close Friend
Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...
Kau Bisa Bahagia
Airin Septiana terlahir sebagai wanita penyandang disabilitas. Meski keadaannya demikian, ...
Deska
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Pahlawan Revolusi
tes upload cerita jgn di publish ...