05. Tanpa Takut, Tanpa Menutup Hati
Setiap surat membuat Aruna tersentak, gelisah, dan sekaligus terharu.
Ia mulai kehilangan arah, ingin mendekat, tapi takut terlalu membuka diri, ingin menanyakan, tapi takut mengacaukan jarak yang sudah ada.
Kalau hari ini kamu lelah, tidak apa-apa berhenti sejenak.
Dunia tidak akan runtuh hanya karena kamu beristirahat.
- Tirta Sagara
Malam itu, aruna duduk di balkon kamar, memandangi lampu-lampu vila yang temaram, ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan hati.
Surat-surat dari Tirta seolah berbicara lebih banyak daripada kata-kata yang biasa ia dengar langsung.
Aruna menyadari satu hal yang sederhana tapi menyakitkan, cinta itu kadang tidak bisa diucapkan, tapi bisa dirasakan melalui hal-hal kecil, diam-diam, dengan ketulusan yang tak terlihat oleh mata semua orang.
Dan untuk pertama kalinya, Aruna bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia cukup berani untuk merasakan tanpa mengharapkan kata-kata?
Jam-jam berikutnya Aruna mulai lebih tenang dan menerima diri.
Matanya kembali tertumbuk pada secarik kertas yang terselip di bawah pintu kamar. Aruna mengernyit, mengenali tulisan yang rapi dan teratur, tanpa menunggu lama, ia membuka surat itu.
Aruna, aku tahu dunia ini kadang membuatmu rapuh, aku hanya ingin kamu tahu… aku selalu memperhatikanmu, meski dari jauh, aku tidak akan pergi begitu saja atau membuatmu merasa sendirian.
- Tirta sagara
Aruna menelan ludah, kata-kata itu… berbeda, bukan sekadar kata manis atau janji kosong, seperti yang sering ia dengar dari cowok-cowok sebelumnya, ada ketulusan, kesabaran, dan kehangatan yang tulus di setiap barisnya.
Surat berikutnya muncul di pagi hari, diam-diam ditaruh di meja makan.
Aku tahu kamu mencari rasa aman aruna, tidak sedikit orang-orang sering
mengecewakanmu, Aku hanya ingin kamu merasa nyaman, tanpa drama, tanpa harus khawatir ditinggalkan.
- Tirta sagara
Aruna menunduk, jantungnya berdebar. Perasaan yang selama ini asing baginya mulai muncul,semacam perasaan nyaman, tenang, dan aman, bukan rasa takut kehilangan atau rasa cemas seperti yang ia rasakan dengan cowok-cowok sebelumnya.
Tirta hadir tanpa memaksa, tanpa drama, hanya menunggu saat ia rapuh untuk mendekat.
Malam itu, Aruna menyadari satu hal, Tirta bukan sekadar orang lain yang bisa ia singgahi atau tinggalkan, ia berbeda, dan rasa nyaman yang ia rasakan saat membaca surat-surat dari Tirta… itu sesuatu yang tidak pernah ia temukan sebelumnya.
Aruna tersenyum tipis, hatinya perlahan terasa ringan, ia menyadari, mungkin, hubungan mereka tidak akan seperti yang lain.
Ini bukan tentang cinta yang terburu-buru, bukan tentang perlindungan sementara.
Ini tentang ketulusan, perhatian yang diam-diam, dan kenyamanan yang ia butuhkan tanpa harus mencari lagi ke tempat lain.
Dan untuk pertama kalinya, Aruna ingin membiarkan dirinya merasakan, tanpa takut, tanpa menutup hati.
Ia mulai kehilangan arah, ingin mendekat, tapi takut terlalu membuka diri, ingin menanyakan, tapi takut mengacaukan jarak yang sudah ada.
Kalau hari ini kamu lelah, tidak apa-apa berhenti sejenak.
Dunia tidak akan runtuh hanya karena kamu beristirahat.
- Tirta Sagara
Malam itu, aruna duduk di balkon kamar, memandangi lampu-lampu vila yang temaram, ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan hati.
Surat-surat dari Tirta seolah berbicara lebih banyak daripada kata-kata yang biasa ia dengar langsung.
Aruna menyadari satu hal yang sederhana tapi menyakitkan, cinta itu kadang tidak bisa diucapkan, tapi bisa dirasakan melalui hal-hal kecil, diam-diam, dengan ketulusan yang tak terlihat oleh mata semua orang.
Dan untuk pertama kalinya, Aruna bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia cukup berani untuk merasakan tanpa mengharapkan kata-kata?
Jam-jam berikutnya Aruna mulai lebih tenang dan menerima diri.
Matanya kembali tertumbuk pada secarik kertas yang terselip di bawah pintu kamar. Aruna mengernyit, mengenali tulisan yang rapi dan teratur, tanpa menunggu lama, ia membuka surat itu.
Aruna, aku tahu dunia ini kadang membuatmu rapuh, aku hanya ingin kamu tahu… aku selalu memperhatikanmu, meski dari jauh, aku tidak akan pergi begitu saja atau membuatmu merasa sendirian.
- Tirta sagara
Aruna menelan ludah, kata-kata itu… berbeda, bukan sekadar kata manis atau janji kosong, seperti yang sering ia dengar dari cowok-cowok sebelumnya, ada ketulusan, kesabaran, dan kehangatan yang tulus di setiap barisnya.
Surat berikutnya muncul di pagi hari, diam-diam ditaruh di meja makan.
Aku tahu kamu mencari rasa aman aruna, tidak sedikit orang-orang sering
mengecewakanmu, Aku hanya ingin kamu merasa nyaman, tanpa drama, tanpa harus khawatir ditinggalkan.
- Tirta sagara
Aruna menunduk, jantungnya berdebar. Perasaan yang selama ini asing baginya mulai muncul,semacam perasaan nyaman, tenang, dan aman, bukan rasa takut kehilangan atau rasa cemas seperti yang ia rasakan dengan cowok-cowok sebelumnya.
Tirta hadir tanpa memaksa, tanpa drama, hanya menunggu saat ia rapuh untuk mendekat.
Malam itu, Aruna menyadari satu hal, Tirta bukan sekadar orang lain yang bisa ia singgahi atau tinggalkan, ia berbeda, dan rasa nyaman yang ia rasakan saat membaca surat-surat dari Tirta… itu sesuatu yang tidak pernah ia temukan sebelumnya.
Aruna tersenyum tipis, hatinya perlahan terasa ringan, ia menyadari, mungkin, hubungan mereka tidak akan seperti yang lain.
Ini bukan tentang cinta yang terburu-buru, bukan tentang perlindungan sementara.
Ini tentang ketulusan, perhatian yang diam-diam, dan kenyamanan yang ia butuhkan tanpa harus mencari lagi ke tempat lain.
Dan untuk pertama kalinya, Aruna ingin membiarkan dirinya merasakan, tanpa takut, tanpa menutup hati.
Other Stories
Pulang Tanpa Diikuti
Sekar menghabiskan liburan panjang di rumah neneknya, sebuah rumah tua di desa yang menyim ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Persembahan Cinta
Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...
Reuni
Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...
Cicak Di Dinding ( Halusinada )
Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...
Makna Dibalik Kalimat (never Ending)
Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...