Lust

Reads
231
Votes
0
Parts
6
Vote
Report
Penulis Hana Larasati

Di Bawah Kuasa Sang Predator

Mobil hitam yang membawa Maya berhenti di depan lobi sebuah penthouse eksklusif di jantung Jakarta. Sopir berpakaian seragam membukakan pintu tanpa suara, memberikan isyarat agar Maya masuk ke dalam lift pribadi yang langsung menuju lantai teratas. Di dalam kotak logam yang bergerak naik itu, Maya merasa seolah sedang menuju ruang eksekusi. Gaun sutra hitamnya terasa seperti kulit kedua yang menyesakkan, mengingatkannya pada pengkhianatan Aris yang masih terasa panas di dadanya.

Pintu lift terbuka, menyuguhkan pemandangan yang mematikan napas. Penthouse itu luas, minimalis, namun sangat maskulin. Aroma kayu oud dan tembakau mahal menyapa indra penciumannya. Di tengah ruangan, Baron duduk di sebuah kursi kulit besar, memegang gelas kristal berisi cairan ambar. Cahaya lampu yang redup hanya menyinari separuh wajahnya, mempertegas rahangnya yang kokoh dan tatapannya yang tajam seperti elang.

"Masuklah, Maya. Kau tepat waktu," suara Baron berat, bergetar dengan otoritas yang tidak bisa dibantah.

Maya melangkah maju, kakinya yang mengenakan stiletto bergetar pelan di atas lantai marmer. "Suami saya bilang... Anda ingin membicarakan kontrak."

Baron terkekeh, suara rendah yang bergema di ruangan yang sunyi. Ia berdiri, menunjukkan tubuhnya yang tinggi dan tegap di balik kemeja sutra gelap yang tidak dikancingkan sepenuhnya. "Suamimu sudah mendapatkan tandatanganku di atas kertas draf. Tapi kontrak yang sesungguhnya... itu ada di antara kita malam ini."

Baron mendekat. Maya ingin mundur, namun punggungnya sudah menyentuh pilar marmer yang dingin. Baron berhenti tepat di depannya, menjebak Maya dalam aroma tubuhnya yang dominan dan berbahaya. Jari-jarinya yang kasar namun hangat menyentuh dagu Maya, memaksa gadis itu mendongak.

"Kau gemetar," bisik Baron. Ia menyesap wiskinya, lalu tanpa peringatan, ia menempelkan gelas dingin itu ke leher Maya yang jenjang. Maya tersentak, napasnya memburu. "Apa Aris memberitahumu berapa harga yang ia pasang untuk keindahanmu ini?"

"Dia... dia melakukannya demi kami," Maya membela suaminya dengan suara yang hampir pecah.

"Dia melakukannya karena dia pengecut, Maya. Dia menukarmu dengan angka," Baron meletakkan gelasnya di meja samping, lalu tangannya beralih ke bahu Maya yang terbuka. Jemarinya menelusuri garis tali gaun sutra itu dengan gerakan yang sangat lambat, sangat sensual. "Dan aku? Aku adalah pria yang selalu mendapatkan apa yang kuinginkan."

Baron memiringkan kepalanya, mencium leher Maya. Sentuhan bibirnya tidak kasar, namun penuh dengan tuntutan yang memabukkan. Maya mencoba memejamkan mata, memikirkan Aris, namun sentuhan Baron justru memicu reaksi fisik yang berkhianat pada jiwanya. Tangan Baron merayap ke punggung Maya yang terbuka, telapak tangannya yang besar dan panas menekan kulit halus Maya, menarik tubuh gadis itu agar menempel pada tubuhnya yang keras.

"Jangan melawanku, Maya. Tubuhmu sudah tahu siapa pemenangnya malam ini," gumam Baron di sela-sela ciumannya yang kini berpindah ke belakang telinga Maya.

Tangan Baron yang berani menyelinap ke bawah ritsleting gaun sutra Maya, menurunkannya perlahan hingga kain itu merosot jatuh ke lantai marmer, meninggalkan Maya hanya dengan pakaian dalam tipis. Di bawah cahaya lampu yang temaram, Maya merasa telanjang dan sangat rentan. Baron menatapnya dengan rasa lapar yang tak tertutup-tutupi, sebuah tatapan yang membuat darah Maya berdesir panas.

Baron mengangkat Maya dengan satu gerakan kuat, membawanya menuju ranjang king-size yang luas dengan sprei satin gelap. Di sana, di atas kemewahan yang sunyi, Baron mulai menjelajahi wilayah yang baru saja ia "beli". Bibirnya mencium setiap inci kulit Maya, dari tulang selangka hingga ke perutnya, memberikan sensasi erotis yang luar biasa.

Maya mencengkeram sprei satin itu, desahannya mulai pecah saat lidah Baron memberikan stimulasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ini bukan lagi soal kontrak atau pengkhianatan Aris, ini adalah pertempuran sensorik di mana Baron memegang kendali penuh. Setiap sentuhan Baron terasa seperti api yang membakar sisa-sisa kesetiaan Maya, mengubah rasa sakit hatinya menjadi gairah yang primitif dan mendalam.

Di dalam kamar yang dingin itu, Maya menyadari bahwa Baron bukan hanya ingin memiliki tubuhnya, tapi ia ingin meruntuhkan seluruh martabat yang selama ini ia jaga. Dan saat Baron mulai menyatukan tubuh mereka dalam ritme yang liar dan penuh tenaga, Maya menjeritkan nama pria itu, sebuah pengakuan bahwa malam ini, ia telah kalah dalam permainan yang paling berbahaya.


Other Stories
Rahasia Desa Teluk Roban

Farhan selalu tak betah ketika libur akhir tahun harus kembali ke Desa Teluk Roban. Desa i ...

Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?

Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...

JEJAK SENI BUDAYA DI TANAH BADUY

Dua mahasiswa antropologi dengan pandangan yang bertolak belakang harus mengesampingkan eg ...

Free Mind

“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...

Seoul Harem

Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...

Plan B

Liburan tiga sahabat di desa terpencil berubah jadi mimpi buruk saat satu dari mereka meng ...

Download Titik & Koma