Lust

Reads
232
Votes
0
Parts
6
Vote
Report
Penulis Hana Larasati

Gairah Terlarang

Waktu berjalan seperti hitungan mundur menuju ledakan besar yang tak terelakkan. Tiga puluh hari yang dijanjikan dalam dokumen itu mulai mendekati batas akhirnya. Aris, yang kini merasa sebagai raja baru di jagat bisnis Jakarta, tenggelam dalam euforia kesuksesan semu yang memabukkan. Ia menghamburkan uang untuk mobil-mobil sport mewah, jam tangan edisi terbatas, dan pesta-pesta di kelab eksklusif yang ia klaim sebagai "perluasan relasi strategis". Ia tidak menyadari bahwa setiap sen yang ia keluarkan sebenarnya adalah jerat sutra yang perlahan namun pasti mencekik lehernya sendiri.

Namun, di balik layar kemewahan itu, Maya sedang menjalani kehidupan ganda yang menguras jiwa dan raganya. Ia harus tetap menjadi istri yang manis, patuh, dan anggun di depan publik, sementara di balik pintu tertutup, ia adalah tawanan sekaligus sekutu Baron yang paling setia.

Suatu sore yang mendung, Baron memanggil Maya ke sebuah vila pribadi di pinggiran kota yang tersembunyi oleh rimbunnya pepohonan pinus. Vila itu jauh dari hiruk-pikuk Jakarta, sebuah tempat di mana hukum moral seolah tidak berlaku dan hanya gairah yang berdaulat.

"Kau memanggilku?" tanya Maya saat melangkah masuk ke ruang tengah yang luas, yang hanya diterangi oleh nyala api dari perapian batu alam yang besar.

Baron berdiri di sana, membelakanginya, menatap ke luar jendela ke arah hutan yang gelap. Ia mengenakan kemeja linen putih yang longgar, tidak dikancingkan sepenuhnya, memperlihatkan otot-punggungnya yang tegap. Di tangannya, ia memegang selembar laporan keuangan perusahaan Aris yang telah ia bedah hingga ke akar-akarnya.

"Suamimu benar-benar bodoh, Maya," Baron berbalik, suaranya berat dan bergema. "Dia melakukan ekspansi besar-besaran dengan dana yang sebenarnya bukan miliknya. Dalam tiga hari, aku akan menarik seluruh likuiditas melalui klausul 'ketidakstabilan performa', dan saat itulah dokumen yang kau paksa dia tanda tangani akan aktif secara otomatis. Kau akan menjadi pemilik tunggal seluruh asetnya. Dia akan keluar dari kantornya tanpa membawa apa pun kecuali pakaian di badannya."

Baron mendekati Maya, meletakkan laporan itu di meja marmer. Matanya menyapu sosok Maya yang mengenakan gaun sutra berwarna krem yang memeluk setiap lekuk tubuhnya dengan sempurna. "Tapi malam ini, aku tidak ingin bicara soal angka-angka yang membosankan itu. Aku ingin menagih bunga dari kesepakatan rahasia kita."

Baron tidak menunggu jawaban. Ia melangkah maju, menjebak Maya di antara tubuhnya dan meja marmer yang dingin. Tangan Baron yang besar merayap ke leher Maya, jemarinya membelai bekas kemerahan yang ia tinggalkan tempo hari, seolah sedang memeriksa tanda kepemilikannya.

"Kau membenciku, Maya? Atau kau membenci fakta bahwa kau merindukan sentuhanku lebih dari sentuhan pengecut itu?" bisik Baron tepat di bibir Maya.

Maya mencoba menahan napas, namun aroma maskulin Baron yang bercampur dengan bau kayu bakar menciptakan sensasi yang menghancurkan logika. "Aku membenci cara dunia ini bekerja, Baron. Tapi aku tidak bisa membohongi tubuhku."

Baron menarik Maya ke dalam pelukannya, menciumnya dengan intensitas yang lebih dalam dan lebih lapar dari sebelumnya. Ini bukan lagi sekadar transaksi, ini adalah pertempuran sensorik. Baron mengangkat Maya ke atas meja marmer yang keras, kakinya yang panjang menjuntai di sisi meja saat Baron menyelinap di antara kedua paha Maya.

Di bawah siraman cahaya jingga dari perapian, suasana menjadi sangat erotis. Baron melucuti pakaian Maya dengan perlahan, membiarkan kain sutra itu merosot jatuh seperti kulit yang terkelupas. Ia mulai menjelajahi tubuh Maya dengan bibirnya, memberikan perhatian mendetail pada titik-titik sensitif yang selama ini diabaikan Aris. Lidahnya menelusuri tulang selangka Maya, turun ke dadanya yang naik-turun dengan napas memburu, hingga ke perutnya yang rata.

Maya mencengkeram bahu Baron yang keras, kuku-kukunya tanpa sadar menekan kulit pria itu saat Baron memberikan stimulasi yang luar biasa pada pusat gairahnya. Setiap gerakan Baron adalah perintah, dan setiap desahan Maya adalah kepatuhan. Penyatuan mereka di atas meja marmer itu terasa sangat primitif dan liar. Kontras antara marmer yang sedingin es dan tubuh Baron yang membara menciptakan sensasi elektrik yang membuat Maya hampir kehilangan kesadaran.

"Sebut namaku," geram Baron di sela-sela ritme yang semakin cepat dan penuh tenaga.

"Baron... oh, Tuhan... Baron!" jerit Maya, kepalanya mendongak ke belakang saat ia mencapai puncak ekstasi yang menghancurkan. Di saat itu, ia menyadari bahwa ia telah menjadi budak dari kenikmatan ini, namun di saat yang sama, ia merasa lebih berkuasa daripada pria mana pun di Jakarta.

Maya kembali ke rumah malam itu dengan tubuh yang lemas namun batin yang mengeras seperti baja. Ia menemukan Aris sedang berdiri di ruang kerja yang gelap, hanya diterangi oleh cahaya dari monitor laptopnya. Aris dikelilingi oleh tumpukan berkas dan botol wiski yang sudah setengah kosong.

"Ada apa, Aris? Kenapa belum tidur?" tanya Maya dingin, sambil merapatkan jubah sutranya untuk menyembunyikan memar-memar gairah yang baru saja ia dapatkan.

Aris menoleh, wajahnya tampak kuyu, matanya merah dan penuh dengan kecurigaan yang merayap. "Aku baru saja mengecek sistem internal perusahaan, Maya. Ada instruksi pengalihan dana ke rekening pribadi atas namamu yang baru saja aktif sore tadi. Rekening yang tidak pernah kutahu keberadaannya. Apa yang sedang terjadi?"

Jantung Maya berdegup kencang, namun ia tetap tenang, sebuah pelajaran berharga yang ia ambil dari Baron. "Itu prosedur dari konsorsium Baron, Aris. Dia bilang itu untuk 'jaminan operasional' agar dana triliunan itu tetap terlindungi dari audit eksternal. Bukankah kau sendiri yang bilang kita harus mengikuti aturannya agar kita tetap di puncak?"

"Aturan? Atau kau sedang bekerja sama dengannya untuk menyingkirkanku?" Aris melangkah mendekat, suaranya naik menjadi teriakan yang penuh keputusasaan. "Aku melihat pelacak mobilmu sore tadi! Kau pergi ke arah Bogor, ke sebuah wilayah vila terpencil. Dengan siapa kau bertemu di sana, Maya? Apa Baron memberimu kontrak baru yang tidak kutahu?"

Maya tertawa sinis, sebuah tawa yang menusuk ego Aris hingga ke dasarnya. "Berhentilah bersikap paranoid, Aris! Jika bukan karena aku yang 'menjaga' hubungan dengan Baron, kau sudah membusuk di penjara karena hutang-hutangmu sejak bulan lalu! Kau sendiri yang mendorongku ke tangannya, sekarang kau ingin menginterogasiku?"

Aris terdiam, nafasnya memburu, wajahnya merah padam antara rasa malu, cemburu, dan ketergantungan. Benih keraguan telah tertanam dan kini tumbuh menjadi pohon berduri di benaknya. Ia mulai menyadari bahwa kontrak triliunan itu mungkin bukan jalan menuju surga, melainkan pintu gerbang menuju neraka yang disiapkan oleh istrinya sendiri bersama pria yang paling ia takuti.

"Besok adalah hari penandatanganan penyerahan aset tahap akhir," gumam Aris, matanya kini menatap Maya dengan ketakutan yang mendalam. "Jika kau mengkhianatiku, Maya... aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan mudah."

Maya hanya menatapnya dengan pandangan kosong sambil berjalan melewati suaminya menuju kamar. "Tidurlah, Aris. Esok akan menjadi hari yang sangat panjang. Dan aku sudah merencanakan semuanya... sangat mendetail."

Di balik pintu kamar yang terkunci, Maya memegang dadanya yang masih berdegup kencang. Permainan ini sudah mencapai puncaknya. Sang umpan akan segera menelan sang nelayan, dan Aris tidak akan pernah menyangka bahwa kehancurannya akan datang dari tangan wanita yang pernah ia hargai seharga satu malam gairah.


Other Stories
Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Bangkit Dari Luka

Almira Brata Qeenza punya segalanya. Kecuali satu hal, yaitu kasih sayang. Sejak kecil, ia ...

Kelabu

Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...

Menjelang Siang

Swastika, yang merasa lelah dengan permasalahan di kampus, memutuskan untuk berkungjung ke ...

Metafora Diri

Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...

Rembulan Digenggam Malam

Pernah nggak kamu kamu membayangkan suatu hari kamu bangun di 1 Januari, terus kamu diberi ...

Download Titik & Koma