Bab 5
Pembaca Tidak Pernah Netral
(POV: Antika)
Awalnya hanya satu pesan.
Masuk pukul 01.14 WIB, ketika Antika sudah menutup laptop dan memutuskan tidak membaca apa pun lagi malam itu. Lampu kamar kos dimatikan setengah. Kipas berputar malas. Dunia seharusnya berhenti di situ—tanpa kelanjutan, tanpa tuntutan.
Ponselnya bergetar.
Bukan notifikasi komentar.
Bukan mention.
Bukan admin.
DM.
Akun tanpa foto profil. Nama generik. Terlalu bersih untuk terasa nyata.
Kalian sering nulis di kafe itu, ya.
Antika menatap layar terlalu lama.
Tidak panik.
Belum.
Ia membuka profil pengirim. Tidak ada unggahan. Tidak ada bio. Tidak ada jejak. Akun kosong yang terasa terlalu disengaja, seperti sengaja dibuat untuk melihat tanpa terlihat.
Ia mengetik balasan.
Menghapusnya.
Mengetik lagi.
Menghapus lagi.
Akhirnya, ia memilih diam.
Satu menit berlalu.
Pesan kedua masuk.
Meja nomor empat. Colokannya cuma satu.
Dada Antika mengeras. Ia duduk tegak. Lampu kamar dinyalakan penuh. Ruangan sempit itu tiba-tiba terasa lebih kecil, seolah dindingnya ikut mendengar.
Ia membuka aplikasi TitikDanKoma, berharap statistik bisa mengalihkan pikirannya. Grafik masih tinggi. Komentar terus mengalir.
— “Bab terakhir bikin aku kepikiran.”
— “Ini kerasa terlalu dekat.”
— “Aku ngerasa kenal penulisnya.”
Kalimat terakhir itu lebih mengganggu daripada makian mana pun.
Ia membuka chat Komaruzaman.
Antika:
Lu dapet DM aneh?
Balasan datang cepat.
Terlalu cepat.
Komaruzaman:
Barusan. Isinya detail.
Jari Antika berhenti di atas layar.
Antika:
Kita ketemu.
Beberapa detik kemudian.
Komaruzaman:
Sekarang.
Mereka tidak bertemu di kafe.
Bukan karena takut—tapi karena sama-sama sadar: tempat itu sudah menjadi bagian dari cerita. Terlalu simbolik. Terlalu mudah ditebak.
Mereka bertemu di minimarket 24 jam. Duduk di bangku plastik luar, di bawah lampu putih yang kejam. Tidak ada suasana. Tidak ada kehangatan. Hanya terang yang memaksa segalanya terlihat apa adanya.
Komaruzaman menunjukkan ponselnya.
Tulisan kalian berubah sejak bab ketiga.
Dua gaya. Dua napas.
Antika menunjukkan ponselnya.
Aku suka bagian waktu tokohnya ragu.
Kayak lagi nulis diri sendiri.
Komaruzaman menghela napas panjang.
“Mereka mulai baca di luar teks.”
“Mereka selalu begitu,” jawab Antika. “Kita aja yang lupa.”
“Kali ini beda,” kata Komaruzaman. “Mereka bukan cuma menafsir. Mereka mengamati.”
Udara malam tidak dingin, tapi tubuh Antika merespons seolah iya. Ia menyilangkan tangan, seperti itu bisa menjadi batas.
“Apa kita kebablasan?” tanyanya pelan.
Komaruzaman menatap jalanan kosong. Motor sesekali lewat. Bunyi knalpot memutus hening.
“Kita jujur,” katanya akhirnya. “Dan kejujuran bikin pembaca merasa diundang.”
“Aku nggak pernah ngajak mereka sejauh ini.”
“Cerita yang hidup selalu mengajak,” balas Komaruzaman. “Entah penulisnya mau atau nggak.”
Antika terdiam.
Pesan baru masuk.
Tenang aja. Aku cuma pembaca.
Kalimat itu tidak menenangkan sama sekali.
“Apa pilihan kita?” tanya Antika.
Komaruzaman menyebutkannya seperti daftar yang tidak ingin ia baca keras-keras.
“Kita bisa lanjut. Dan berharap perhatian ini turun.”
“Atau?”
“Kita klarifikasi. Bilang ini fiksi, murni.”
“Dan mereka bakal makin penasaran,” balas Antika.
Komaruzaman mengangguk. “Betul.”
“Pilihan terakhir?”
Komaruzaman menoleh. “Kita berhenti.”
Kata itu menggantung.
“Sekarang?” tanya Antika.
“Sekarang,” jawab Komaruzaman. “Tanpa pengumuman. Tanpa penjelasan.”
Antika menelan ludah.
“Mereka bakal marah.”
“Mereka selalu marah,” kata Komaruzaman datar. “Tapi mereka juga cepat pindah.”
Antika membuka kembali kolom komentar. Satu komentar baru muncul.
— “Aku harap penulisnya baik-baik aja.”
Itu yang membuat matanya panas.
“Aku nulis buat bertahan hidup,” kata Antika pelan. “Awalnya.”
Komaruzaman menatapnya. “Dan sekarang?”
“Sekarang aku ngerasa hidup gue mulai jadi bahan bacaan.”
Komaruzaman mengangguk. “Itu garis yang nggak boleh dilewatin.”
Namun berhenti ternyata tidak sesederhana itu.
Hari berlalu tanpa DM lanjutan.
Dua hari.
Tiga.
Kolom komentar tetap bergerak, tapi nadanya berubah. Lebih tenang. Lebih spekulatif. Orang-orang mulai membicarakan kemungkinan akhir, teori tentang maksud tersembunyi, tentang “keputusan artistik” yang katanya berani.
Antika membaca semuanya dengan jarak yang aneh.
Seperti melihat hidupnya sendiri dari balik kaca tebal.
Seseorang membuat utas panjang membedah gaya bahasa.
Seseorang lain menyusun timeline kemungkinan konflik personal di balik cerita.
Ada yang mulai menebak-nebak identitas, menyandingkan potongan kalimat dengan unggahan lama di tempat lain.
Antika pertama kali menyadari ada yang benar-benar salah ketika seorang pembaca menuliskan ini:
Aku tahu ini fiksi, tapi rasanya penulisnya sedang meminta ditolong.
Komentar itu tidak kasar.
Tidak menyerang.
Justru terlalu peduli.
Ia menutup laptop.
Tangannya gemetar ringan—bukan karena takut, tapi karena marah yang tidak menemukan sasaran.
Malam itu, Komaruzaman mengirim pesan.
Komaruzaman:
Kita harus nutup ini.
Antika membaca kalimat itu lama.
Antika:
Dengan apa?
Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.
Komaruzaman:
Satu bab terakhir.
Jelas.
Tenang.
Tanpa ambigu.
Antika tahu apa artinya.
Penjelasan.
Penjinakan.
Versi aman.
Ia mengetik, lalu menghapus.
Antika:
Kalau kita nutupnya rapi, mereka akan merasa benar.
Balasan Komaruzaman datang lebih cepat dari biasanya.
Komaruzaman:
Kalau kita nggak nutup, mereka akan terus masuk.
Itu argumen yang masuk akal.
Dan justru karena itu, Antika membencinya.
Mereka bertemu sekali lagi.
Other Stories
Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )
Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...
Mission Escape
Apa yang akan lo lakukan jika Nyokap lo menjadikan lo sebagai ‘bahan gosip’ ke tetangg ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
7 Misteri Di Korea
Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...