Nala

Reads
25
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Penulis Nabila Sungkar

Hanya Satu Nama Disebut

Tiga minggu libur sekolah kali ini berjalan cepat tanpa terasa. Pagi hari Nala membantu Mama menggoreng ayam dan menyiapkan boks-boks makanan. Siang hingga malam ia belajar, diselingi bercanda atau mengobrol dengan Kak Mila dan Gala. Begitu terus setiap hari.

.
.
.

Satu bulan sudah Nala menjadi anak kelas 6 SD. Hari ini adalah hari seleksi sekolah untuk mengikuti lomba sains tingkat nasional. Tahun lalu Nala berhasil lolos mewakili sekolah. Tahun ini, ia berharap bisa lagi.

Ada lima siswa yang mendaftar. Nala salah satunya. Ipeh juga. Walau kesehariannya lebih sering membaca komik, otak jenius Ipeh tak bisa dipungkiri. Di angkatan mereka, Nala dan Ipeh hampir selalu menjadi dua nama teratas dalam pelajaran sains.

Ipeh berdiri santai di samping Nala.
“Tarik napas, buang napas,” katanya sambil menepuk pundak Nala pelan.

Nala menurut. Tarik napas. Buang napas.

“Kamu deg-degan nggak?” tanya Nala.

“Enggak,” jawab Ipeh mantap, sambil tetap membuka buku tentang antariksa. “Soalnya aku belajar banget pas liburan. Jadi aku ngerasa siap.”

Itu pertama kalinya Nala melihat Ipeh memegang buku selain komik.
Jawaban itu justru membuat Nala semakin tegang. Ia sadar, bukan hanya dirinya yang melakukan persiapan maksimal.

Nala memejamkan mata. Dalam benaknya terngiang suara Ayah:

Berusaha itu wajib dilakukan. Kalau hasil, wajib disyukuri—apa pun hasilnya. Jadi tenang saja.

Ia sudah belajar sebisanya. Sekarang tinggal satu langkah terakhir.

Pak Husein dan Bu Dwi berdiri di depan kelas.
“Silakan masuk dan duduk di kursi sesuai nama kalian,” kata Pak Husein.

Nala mendapat tempat duduk paling belakang. Dari sana, ia bisa melihat punggung keempat peserta lain.

Ia menggeleng kecil, lalu memejamkan mata sejenak—berusaha menyingkirkan distraksi dan hal-hal yang tak penting dalam pikirannya.

Waktu berjalan.

Satu jam tiga puluh menit kemudian, Ipeh berdiri. Ia meletakkan lembar jawabannya dalam posisi tertutup di atas meja, lalu melangkah keluar. Mata Nala mengikuti gerakkan Ipeh. Tepat di ambang pintu, Ipeh menoleh sebentar. Dengan gerakan bibir dan tangan yang dikepal, Nala bisa membaca satu kata “Semangat.”

Nala tersenyum kecil dan kembali menunduk pada soal.

Sepuluh menit kemudian, Adit menyusul keluar.
Tak lama, Sisil.
Lalu Rara.

Kini Nala sendirian di ruangan bersama Pak Husein dan Bu Dwi.

“Lima menit lagi,” kata Bu Dwi.

Ada satu soal yang membuat Nala ragu. Jawabannya terasa menggantung di ujung ingatan, tapi belum benar-benar muncul.

“Dua menit lagi.”

Nala menunduk, menulis secepat yang ia bisa. Ia mengerahkan ingatan dan logikanya, berusaha sekuat tenaga, hingga detik terakhir.

.
.
.

Satu minggu kemudian, hasil seleksi diumumkan.

Pagi itu seluruh siswa berbaris rapi di lapangan untuk upacara. Matahari bersinar terang, menyengat kulit, membuat dahi basah oleh keringat. Nala berdiri di barisan belakang, kedua tangannya saling menggenggam.

Pengumuman dimulai.

“Untuk lomba Bahasa Inggris, yang akan mewakili sekolah adalah Shabrina Berlina.”

Sama seperti tahun lalu.
Tepuk tangan menggema di lapangan.

Nala menunduk sedikit. Di dalam hatinya, satu kalimat terus berulang, seperti doa yang tak mau berhenti.

Sains. Nala Kemala Putri.
Sains. Nala Kemala Putri.
Sains. Nala Kemala Putri.

“Selanjutnya, untuk mata pelajaran Sosial, yang akan mewakili sekolah tahun ini adalah Rashena Purnamasari.”

Berbeda dari tahun lalu. Tepuk tangan kembali terdengar.

Sains. Nala Kemala Putri.
Sains. Nala Kemala Putri.

“Untuk mata pelajaran Matematika, yang terpilih adalah Rashad Mahardhika.”

Juga bukan nama yang sama seperti tahun sebelumnya.

Nala menarik napas panjang. Dadanya terasa sempit, tapi ia tetap berdiri tegak.

“Dan yang terakhir, untuk lomba Sains. Yang akan mewakili sekolah adalah… Nur Hanifah.”

Nama itu menggantung sesaat di udara.
Ipeh.

Ipeh yang berdiri di barisan paling depan langsung menoleh, matanya mencari. Ketika pandangan mereka bertemu, senyum Ipeh merekah—lebar, jujur, tanpa rasa bersalah. Memang tak ada yang salah.

Nala membalas senyum itu. Bibirnya bergerak pelan, tanpa suara.

Selamat.”

Other Stories
Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...

Di Bawah Langit Al-ihya

Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...

Balada Cinta Kamilah

Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...

Lust

​Bagi Maya, pernikahannya dengan Aris adalah segalanya. Ia memercayai Aris lebih dari si ...

Free Mind

KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...

Misteri Kursi Goyang

Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...

Download Titik & Koma