After Honeymoon (17+)

Reads
132
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
Penulis Hana Larasati

Pinangan Yang Menjerat Rhea

Jika Kirana merasa seperti berada di dalam penjara kaca yang megah, maka Rhea merasa seperti sedang digiring menuju tiang gantungan dengan tangan terikat. Tiga minggu setelah pernikahan Kirana yang menghancurkan jiwa mereka, kini giliran Rhea yang harus berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang mengenakan kebaya pengantin brokat putih yang begitu ketat hingga ia merasa sesak,bukan karena kainnya, melainkan karena takdir yang menjerat lehernya.

Baskara, pria pilihan orang tuanya, adalah kebalikan total dari Aris yang ambisius. Baskara adalah seorang pria konservatif dari keluarga bangsawan lama yang memandang tradisi sebagai hukum tertinggi dan wanita sebagai perhiasan rumah tangga yang harus patuh, pendiam, dan terjaga martabatnya. Baginya, pernikahan bukanlah soal koneksi jiwa, melainkan soal menjaga keturunan dan kehormatan keluarga besar.

Malam itu, setelah resepsi yang terasa seperti ribuan tahun siksaan, Rhea duduk di tepi ranjang kayu jati berukir yang besar di rumah keluarga Baskara. Ruangan itu luas dan berat, dipenuhi aroma dupa cendana dan bunga melati yang menusuk hidung,sebuah wewangian yang seharusnya melambangkan kesucian, namun bagi Rhea terasa seperti bau mayat yang didandani.

Pintu jati itu berderit, suara yang memicu getaran hebat di jemari Rhea. Baskara masuk dengan langkah yang terukur dan berat. Ia melepaskan blangkonnya, meletakkannya di meja rias dengan gerakan yang sangat formal tanpa sedikit pun menatap ke arah Rhea.

"Ini adalah awal dari tanggung jawabmu sebagai istri, Rhea. Aku harap kau mengerti bahwa di rumah ini, martabat adalah segalanya," ujar Baskara dengan suara rendah yang penuh otoritas, namun terasa kosong tanpa gairah.

Baskara mendekat. Gerakannya kaku, seolah setiap sentuhannya telah diatur oleh protokol turun-temurun. Ia mulai melepaskan kancing kebaya Rhea satu per satu. Rhea mematung, kulitnya merinding bukan karena hasrat, melainkan karena penolakan instingtif yang membuat perutnya mual. Saat tangan Baskara yang besar dan hangat menyentuh bahunya, Rhea merasa seolah-olah kulitnya sedang disulut api yang kotor.

"Kau cantik, Rhea. Tapi kau terlihat... sangat jauh," gumam Baskara saat ia mendorong Rhea hingga berbaring di atas sprei katun yang kaku dan berbau setrika panas.

Baskara mulai melakukan apa yang ia anggap sebagai "kewajiban suami." Sentuhannya tidak kasar, namun sangat fungsional dan tanpa imajinasi. Ia bergerak seolah sedang menjalankan upacara ritual yang harus diselesaikan. Baginya, tubuh Rhea adalah wilayah baru yang harus ia kuasai sesuai hak hukum dan agama.

Rhea memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan kegelapan di balik kelopak matanya menjadi gerbang pelariannya. Di sana, di dalam ruang hampa pikirannya, ia segera membangun kembali sosok Kirana. Ia membayangkan tangan yang sedang meraba pahanya bukanlah tangan kaku Baskara, melainkan jemari Kirana yang lentur dan nakal. Ia membayangkan bibir yang sedang mencium lehernya adalah bibir Kirana yang selalu tahu persis di mana titik-titik lemah yang bisa membuatnya gila.

Siksaan fisik yang terasa asing itu mulai berubah menjadi sebuah simulasi erotis yang menyakitkan. Rhea membiarkan pikirannya melayang ke malam terakhir mereka di paviliun. Ia membayangkan Kirana sedang berlutut di depannya, menatapnya dengan mata sayu yang penuh pemujaan, memanggil namanya dengan suara parau yang selalu berhasil meruntuhkan pertahanannya.

Rasa lapar Rhea untuk Kirana begitu hebat hingga ia mulai melengkungkan tubuhnya di bawah Baskara. Ia mendesah keras,sebuah suara yang membuat Baskara merasa bangga karena mengira ia telah berhasil membangkitkan gairah istrinya. Baskara tidak pernah tahu bahwa desahan itu adalah jeritan kerinduan Rhea untuk wanita lain.

Kirana... Kirana... kumohon, datanglah... Nama itu bergaung seperti mantra suci di dalam kepala Rhea.

Rhea membayangkan kulit Kirana yang putih porselen, aroma mawar dari rambutnya yang basah, dan cara Kirana mencengkeram bahunya hingga meninggalkan bekas merah saat mereka mencapai puncak bersama. Fantasi itu begitu detail, begitu erotis, hingga Rhea merasakan panas yang membakar menjalar ke seluruh sarafnya. Ia menyerah pada bayang-bayang itu, membiarkan dirinya tenggelam dalam ekstasi semu yang ia ciptakan hanya untuk bisa bertahan hidup dari sentuhan pria di atasnya.

Setelah Baskara selesai dan segera tertidur dengan tenang karena merasa telah menunaikan tugasnya, Rhea tetap terjaga dalam remang lampu tidur yang kekuningan. Tubuhnya terasa lelah dan kotor, namun batinnya berteriak menuntut kebenaran. Dengan tangan gemetar di bawah selimut, ia merayap ke arah meja nakas, mengambil ponselnya yang ia sembunyikan di dalam lipatan kain cadangan.

Ada satu pesan masuk yang masuk beberapa menit lalu dari nomor yang tidak ia simpan namanya, namun ia hafal setiap digitnya.

"Aku tidak bisa bernapas di rumah ini, Rhea. Kamar ini terasa seperti makam, dan ranjang ini terlalu luas jika hanya ada aku dan bayangannya. Aku merindukan setiap inci sentuhanmu hingga rasanya ingin mati. -K"

Air mata Rhea jatuh mengenai layar ponselnya yang terang. Ia segera mengetik balasan dengan jemari yang bergetar hebat, detak jantungnya berpacu melawan kesunyian kamar yang menyesakkan.

"Dia baru saja menguasai tubuhku, tapi jiwaku tetap bersamamu di paviliun itu. Aku hanya merasakanmu, Kirana. Selalu hanya kau. Kita harus bertemu sebelum sandiwara ini membunuhku seutuhnya. Aku akan melakukan apa saja untuk bisa merasakan kulitmu lagi."

Rhea mematikan ponselnya dan memeluk dirinya sendiri dengan sangat erat, meringkuk di sisi ranjang yang paling jauh dari suaminya. Di dalam rumah besar yang penuh dengan tradisi dan kehormatan ini, Rhea menyadari bahwa ia telah menjadi seorang pendosa demi cinta. Namun, bagi Rhea, lebih baik terbakar dalam dosa bersama Kirana daripada mati membeku dalam kebenaran yang dipaksakan ini.


Other Stories
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...

Testing

testing ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

O

o ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Kesempurnaan Cintamu

Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...

Download Titik & Koma