Ranjang Yang Dingin
Pesta pernikahan itu megah, namun bagi Kirana, setiap tawa tamu undangan terdengar seperti paku yang dipukulkan ke peti matinya. Gaun pengantin sutra putih yang harganya ratusan juta rupiah itu terasa seperti baju zirah yang mencekik napasnya. Di pelaminan, ia berdiri di samping Aris,pria dengan senyum penuh kemenangan yang lebih mirip penguasa yang baru saja menaklukkan wilayah baru daripada seorang suami.
Saat jam menunjukkan tengah malam, drama sesungguhnya dimulai di balik pintu Suite Honeymoon yang kedap suara.
Aris melonggarkan dasinya dengan gerakan yang fungsional, seolah-olah ia sedang bersiap untuk rapat bisnis yang melelahkan. Ia tidak menatap mata Kirana, ia menatap pantulan Kirana di cermin besar, menilai aset yang baru saja ia beli dengan mahar fantastis.
"Kau terlihat cantik hari ini, Kirana. Tapi aku lebih suka kau tanpa kain mahal ini," ujar Aris datar, tanpa ada kelembutan dalam suaranya.
Kirana berdiri mematung di sisi tempat tidur king-size yang ditaburi kelopak mawar merah,sebuah ironi yang menyakitkan. Aris mendekat, tangannya yang dingin dan kaku mulai membuka ritsleting gaun Kirana. Saat kain itu merosot jatuh, Kirana merasa telanjang dalam arti yang paling menyedihkan. Tidak ada percikan api, tidak ada gairah. Hanya rasa hampa.
Aris mendorong Kirana ke atas ranjang. Sentuhannya berat dan menuntut. Saat bibir Aris menyentuh lehernya, Kirana merasakan gelombang mual yang hebat. Namun, ia tahu ia tidak bisa melawan. Ia memejamkan matanya erat-erat, dan di sanalah, di balik kegelapan kelopak matanya, ia memanggil "pelindungnya".
Rhea.
Kirana mulai membangun dinding fantasi di kepalanya. Ia membayangkan tangan yang menyentuh pahanya bukanlah tangan Aris yang kasar, melainkan jemari Rhea yang panjang dan lentur. Ia membayangkan napas yang menderu di telinganya adalah suara Rhea yang membisikkan janji terlarang mereka.
"Kenapa kau begitu kaku?" geram Aris, merasa frustrasi karena istrinya tampak seperti patung marmer.
Kirana memaksa dirinya untuk berakting. Ia melengkungkan punggungnya, namun bukan untuk Aris. Ia melakukannya karena dalam bayangannya, Rhea sedang berlutut di antara kedua kakinya, menatapnya dengan tatapan lapar yang memabukkan.
Aris melanjutkan tugasnya dengan ritme yang mekanis. Kirana menggigit bibir bawahnya, membiarkan rasa sakit fisik dari cengkeraman Aris berubah menjadi stimulasi erotis dalam fantasinya. Ia membayangkan lidah Rhea yang hangat sedang menjelajahi setiap inci kulitnya, menggantikan rasa dingin yang ditinggalkan Aris. Ia membayangkan penyatuan ini terjadi di paviliun belakang, di bawah siraman cahaya bulan, bukan di bawah lampu kristal hotel yang menyilaukan.
Di tengah gairah sepihak Aris, Kirana justru mencapai puncak kenikmatan yang ganjil. Desahannya yang pecah adalah untuk bayangan Rhea yang ia peluk dalam benaknya. Ia menjeritkan sebuah nama di dalam hati, sebuah rahasia yang ia kunci rapat di balik giginya yang terkatup.
Begitu Aris selesai dan berbalik memunggunginya untuk tidur, ruangan itu kembali sunyi. Kirana berbaring di samping pria yang kini secara hukum memiliki tubuhnya, namun hatinya tertinggal di paviliun itu. Ia menyentuh kulitnya sendiri yang masih basah oleh keringat Aris, merasa kotor sekaligus rindu.
Di bawah selimut satin yang dingin, Kirana menyandarkan kepalanya, air mata menetes di sudut matanya. Ia menyadari bahwa mulai malam ini, setiap malam dalam pernikahannya akan menjadi sebuah sandiwara erotis yang melelahkan,sebuah pertempuran antara realitas yang menyiksa dan obsesi yang menghidupkan.
Other Stories
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...
Ayudiah Dan Kantini
Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...
Anak Singkong
Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...
2r
Fajri tak sengaja mendengar pembicaraan Ryan dan Rafi, ia terkejut ketika mengetahui kalau ...
Misteri Kursi Goyang
Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...