After Honeymoon (17+)

Reads
132
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
Penulis Hana Larasati

Ritual Kematian Dan Kelahiran Kembali

Rencana itu disusun di antara bisikan di telepon rahasia dan pertemuan singkat di parkiran pusat perbelanjaan yang ramai. Mereka memilih sebuah hotel tua di pinggiran kota, tempat yang luput dari radar elit Jakarta. Hotel itu tidak memiliki lobi berlapis marmer atau pelayan berseragam, ia hanya memiliki dinding yang mengelupas dan kesunyian yang mereka dambakan.

Malam itu, hujan turun seperti air bah, seolah alam ingin mencuci dosa-dosa yang akan mereka lakukan,atau mungkin, mencuci identitas lama mereka.

Kirana tiba lebih dulu. Ia meninggalkan rumahnya tanpa membawa apa pun kecuali pakaian di badannya dan dokumen penting yang ia curi dari brankas Aris sebagai jaminan kebebasannya. Ketika Rhea mengetuk pintu kamar 302, Kirana membukanya dengan tangan yang dingin. Begitu pintu terkunci, mereka jatuh ke dalam pelukan yang begitu dahsyat hingga suara benturan tubuh mereka terdengar di ruangan yang sempit itu.

"Kita mati malam ini, Rhea," bisik Kirana, suaranya parau oleh tangis dan adrenalin. "Istri Aris Pramoedya mati di sini. Istri Baskara tidak akan pernah keluar dari pintu ini."

Rhea melepaskan mantelnya yang basah, matanya menyala oleh api yang belum pernah Kirana lihat sebelumnya. "Maka mari kita rayakan kematian itu."

Rhea menuntun Kirana menuju kamar mandi kecil yang uap panasnya sudah memenuhi ruangan. Di bawah lampu kuning yang remang-remang, Rhea mulai melucuti pakaian Kirana. Tidak ada ketergesaan seperti di perpustakaan. Kali ini, setiap gerakan adalah ritual. Rhea melepaskan kancing kemeja Kirana satu per satu, menciumi setiap inci kulit yang terekspos, seolah-olah ia sedang menghapus tanda kepemilikan Aris dengan bibirnya.

Mereka melangkah masuk ke dalam bak mandi yang penuh dengan air panas. Di dalam ruang sempit itu, kulit mereka yang telanjang saling bergesekan, menciptakan sensasi elektrik yang membakar. Rhea mengambil sabun dan mulai menggosok bahu Kirana, lalu turun ke dadanya, dan lebih rendah lagi.

"Biarkan air ini membawa semua sisa mereka pergi," gumam Rhea. Ia merapatkan tubuhnya ke punggung Kirana, payudara mereka bersentuhan, dan tangan Rhea merayap ke depan, menyentuh pusat sensitivitas Kirana dengan kemahiran yang membuat Kirana mendesah panjang hingga uap di ruangan itu seolah ikut bergetar.

Keintiman di bawah kucuran air itu menjadi sangat erotis dan emosional. Kirana berbalik, memeluk leher Rhea, dan mereka berciuman di bawah guyuran air panas. Lidah mereka bertaut, berbagi rasa manis dan pahit dari pengorbanan yang mereka lakukan. Tangan Kirana tidak tinggal diam, ia menjelajahi tubuh Rhea, merasakan otot-otot Rhea yang menegang di bawah sentuhannya.

Setelah tubuh mereka memerah karena air panas dan gairah, Rhea mengangkat Kirana keluar dari bak mandi. Tanpa mengeringkan tubuh, mereka merangkak ke atas ranjang dengan sprei putih yang kasar. Kelembapan air dan panas tubuh mereka menciptakan suasana yang sangat sensual.

Di atas ranjang itu, mereka melakukan penyatuan yang paling panjang dan mendalam. Tidak ada lagi bayang-bayang pria yang menghantui pikiran mereka. Rhea bergerak di atas Kirana dengan dominasi yang penuh cinta, menatap mata Kirana dalam-dalam, memastikan bahwa setiap inci kenikmatan yang Kirana rasakan adalah murni darinya.

Kirana menjeritkan nama Rhea berulang kali, suaranya memenuhi kamar hotel yang sunyi. Kuku-kukunya mencakar sprei, lalu berpindah ke punggung Rhea, meninggalkan jejak merah sebagai simbol bahwa mulai detik ini, tubuh ini hanya tunduk pada satu penguasa. Puncak yang mereka capai malam itu terasa seperti ledakan bintang,sebuah ekstasi yang membawa mereka keluar dari raga, menjauh dari penderitaan berbulan-bulan yang lalu.

Mereka terbaring lemas, saling mendekap di tengah kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu jalan dari luar jendela. Keringat dan sisa air mandi membuat mereka seolah menyatu menjadi satu makhluk.

"Apa yang akan kita lakukan besok?" tanya Kirana pelan, sambil mengusap rambut Rhea yang basah.

Rhea mencium kening Kirana. "Besok kita akan pergi ke tempat di mana fajar tidak lagi terasa seperti ancaman. Kita akan menghilang, Kirana. Menjadi hantu bagi mereka, tapi menjadi nyata bagi satu sama lain."

Malam itu, di kamar hotel kecil yang pengap, Kirana dan Rhea tidak hanya bercinta. Mereka telah melakukan upacara pemakaman bagi masa lalu mereka dan menyambut kelahiran sebuah hidup yang baru,hidup yang hanya dibangun di atas satu hukum, keinginan mereka sendiri.


Other Stories
Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Dante Fair Tale

Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...

Bayangan Malam

Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...

Separuh Dzarah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...

After Meet You

kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...

Download Titik & Koma