Candu Dan Racun
Setelah malam di kelab itu, Jakarta terasa seperti penjara yang berkilauan bagi Sari. Kata-kata Valen terus bergema di kepalanya, meracuni setiap memori manis yang ia bangun bersama Gerry. Sari mencoba menarik diri, ia tidak lagi menjawab pesan-pesan singkat Gerry, ia datang ke kantor hanya untuk bekerja secara profesional, dan ia kembali mengenakan kemeja tertutup yang kaku,sebuah upaya sia-sia untuk membangun kembali benteng yang sudah runtuh.
Namun, Gerry bukan pria yang terbiasa ditolak. Baginya, penarikan diri Sari hanyalah tantangan baru yang membuat gairahnya semakin liar.
Suatu sore, saat kantor sudah hampir kosong, Gerry mengunci pintu studio utama tempat Sari sedang merapikan peralatan. Suara kunci yang berputar pelan di lubangnya terdengar seperti vonis mati bagi pertahanan Sari.
"Kau pikir dengan memakai baju tertutup itu, kau bisa menghapus apa yang terjadi di lantai tiga puluh dua?" Gerry berjalan mendekat, langkahnya pelan dan mengancam seperti pemangsa.
"Aku hanya ingin bekerja, Gerry. Aku sadar posisiku sekarang. Aku hanya asistenmu, bukan... bukan salah satu koleksimu," jawab Sari, suaranya bergetar saat ia mencoba menghindari tatapan Gerry.
Gerry mencengkeram lengan Sari, menariknya hingga dada mereka bersentuhan. "Koleksi? Kau pikir aku menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengajarimu hanya karena kau 'koleksi'?" Gerry tertawa sinis, namun tangannya merayap turun ke pinggang Sari, meremasnya dengan posesif. "Valen hanya cemburu karena dia tahu kau memiliki sesuatu yang tidak dia miliki, jiwa yang masih bisa merasakan."
Intrik mulai merayap ketika Gerry menunjukkan sebuah amplop cokelat. Di dalamnya ada foto-foto Sari yang diambil Gerry di ruang gelap,foto-foto yang sangat artistik namun sangat intim, memperlihatkan kerentanan dan gairah Sari yang telanjang.
"Aris, manajer agensi, ingin melihat hasil kerjamu. Jika dia melihat ini, dia akan tahu betapa 'berbakatnya' asistenku," bisik Gerry. Ini adalah ancaman halus, sebuah manipulasi emosional yang membuat Sari merasa terjebak. "Atau... kau bisa berhenti berpura-pura suci dan kembali ke tempatmu yang seharusnya. Di bawah kendaliku."
Kemarahan Sari meledak, namun kemarahan itu justru memicu gairah yang gelap. Ia menampar wajah Gerry dengan keras. Suara tamparan itu menggema di studio yang sunyi. Gerry tidak marah, ia justru tersenyum miring, menyeka sudut bibirnya yang sedikit berdarah, lalu mendorong Sari ke atas meja pajangan properti yang beralaskan kain sutra hitam.
"Itu keberanian yang aku suka," geram Gerry.
Penyatuan kali ini adalah sebuah medan perang. Tidak ada kata-kata manis. Hanya ada gesekan kulit yang panas dan keringat yang bercampur dengan rasa benci dan cinta yang membingungkan. Gerry melucuti kemeja Sari dengan kasar, membiarkan kancing-kancingnya berhamburan di lantai studio. Di bawah lampu studio yang tajam dan dingin, setiap lekuk tubuh Sari terlihat begitu jelas.
Sari mencoba melawan, namun setiap sentuhan Gerry di titik sensitifnya membuat tubuhnya berkhianat. Ia mencakar bahu Gerry, menggigit leher pria itu hingga meninggalkan bekas, sementara Gerry menghujamnya dengan ritme yang menuntut penyerahan total. Ini adalah hubungan yang toksik, Sari tahu Gerry sedang menghancurkannya, namun ia tidak bisa berhenti menginginkan rasa sakit yang nikmat itu.
Di tengah desahannya yang menyakitkan, Sari menyadari bahwa Gerry telah menanamkan racun yang paling berbahaya, sebuah candu fisik yang membuatnya tidak bisa lagi hidup tanpa sentuhan pria itu, meskipun ia tahu pria itu mungkin akan membuangnya besok.
Intrik semakin memuncak ketika Sari menyadari bahwa foto-foto itu bukan hanya ancaman, tapi juga tiket masuknya ke dunia model yang lebih gelap. Gerry ingin Sari menjadi wajah baru di agensi, namun dengan syarat Sari harus tetap menjadi "milik pribadinya" di balik layar.
Malam itu, Sari pulang dengan tubuh yang memar dan hati yang hancur, namun dengan mata yang kini berkilat penuh rencana. Jika Gerry ingin bermain dengan api, Sari akan memastikan mereka berdua terbakar bersama.
Other Stories
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
Gm.
menakutkan. ...
Balada Cinta Kamaliah
Badannya jungkir balik di udara dan akhirnya menyentuh tanah. Sebuah bambu ukuran satu m ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...
Mentari Dalam Melody
Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...