Cinta Di Ibukota

Reads
44
Votes
0
Parts
5
Vote
Report
cinta di ibukota
Cinta Di Ibukota
Penulis Hana Larasati

Sari Yang Baru (metamorfosis Dari Abu)

Jakarta pagi itu tidak lagi terlihat seperti monster bagi Sari. Dari jendela apartemen barunya yang terletak di jantung Sudirman, ia menatap barisan mobil yang merayap di bawah sana seperti barisan semut yang patuh. Tidak ada lagi koper tua, tidak ada lagi aroma melati desa yang naif. Udara di sekelilingnya kini berbau parfum niche yang tajam dan dingin, serta aroma kopi espresso yang pekat.

Sari berdiri di depan cermin besar tanpa sehelai benang pun. Ia menelusuri garis tubuhnya dengan jemari yang kini memiliki kuku-kuku panjang terawat. Ada bekas luka kecil di pinggulnya, tanda dari kegilaan malam terakhirnya bersama Gerry sebelum ia memutuskan untuk memutus semua rantai itu. Ia tidak lagi melihat tubuhnya sebagai "mahkota" yang harus dijaga untuk seorang suami, melainkan sebagai senjata yang telah ia asah di tengah kerasnya rimba beton.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Aris, manajer agensi yang kini menjadi sekutu bisnisnya,setelah Sari dengan cerdik menggunakan foto-foto "intim" hasil karya Gerry untuk mengancam balik dan menuntut kontrak model utama tanpa perantara Gerry.

"Pameran foto Gerry dibuka malam ini. Kau adalah bintang utamanya, Sari. Kau siap menghadapi 'penciptamu'?"

Sari tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang tidak akan pernah dikenali oleh ibunya di desa.

Galeri seni itu dipenuhi oleh kaum elit Jakarta. Cahaya lampu sorot hanya tertuju pada satu set foto besar yang diberi judul “The Loss of Innocence”. Di sana, wajah Sari terpampang dalam berbagai pose yang sangat provokatif, erotis, namun penuh duka. Gerry berdiri di tengah ruangan, memegang gelas sampanye, dikerumuni oleh para kolektor yang memuji kejeniusannya dalam menangkap "kerusakan" seorang gadis desa.

Lalu, pintu galeri terbuka.

Sari melangkah masuk. Ia mengenakan gaun couture berwarna hitam pekat yang tampak seperti kulit kedua. Potongan dadanya sangat rendah, dan belahan roknya menyingkap paha jenjangnya di setiap langkah. Kehadirannya membungkam ruangan. Ia tidak lagi terlihat seperti subjek foto yang rapuh, ia terlihat seperti pemilik galeri tersebut.

Mata Gerry terkunci pada Sari. Gelas di tangannya hampir terlepas. Ada rasa lapar yang akrab di matanya, namun bercampur dengan rasa takjub yang menyakitkan. Sari berjalan lurus ke arah Gerry, mengabaikan bisikan orang-orang di sekitarnya.

"Foto yang bagus, Gerry," ujar Sari, suaranya tenang dan berwibawa. "Kau selalu tahu cara menangkap bagian tubuhku yang paling... rapuh."

Gerry menarik Sari sedikit menjauh, ke sebuah sudut gelap di balik salah satu sekat pameran. Aroma tubuh mereka kembali bertemu, memicu memori sensorik tentang malam-malam liar di studio.

"Sari... kau terlihat luar biasa. Kembali padaku malam ini. Kita bisa merayakan kesuksesan ini di tempat biasa," bisik Gerry, tangannya dengan lancang mencoba merayap ke pinggang Sari, mencari kehangatan yang dulu selalu ia kuasai.

Sari tidak menghindar, namun ia menangkap tangan Gerry dan menekannya kuat ke dinding. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Gerry, membiarkan napasnya yang hangat membuat pria itu tegang.

"Kau salah paham, Gerry," bisik Sari dengan nada yang sangat sensual namun sedingin es. "Kau pikir kau yang membentukku? Kau pikir kau yang menghancurkanku? Kau hanyalah alat yang kugunakan untuk membakar masa laluku yang membosankan."

Sari melepaskan tangan Gerry dengan kasar. Ia menatap foto dirinya yang paling besar di dinding,foto di mana ia terlihat sedang menangis di bawah cengkeraman Gerry. Dengan gerakan yang sangat lambat dan provokatif, Sari mengambil gelas sampanye dari tangan Gerry, menyesapnya sedikit, lalu menyiramkan sisanya ke lantai, tepat di bawah kaki Gerry.

"Jakarta tidak lagi membutuhkan fotografer untuk mengenalku, Gerry. Jakarta kini mengenalku karena namaku sendiri," lanjut Sari.

Ia berbalik, membiarkan punggungnya yang indah terekspos sepenuhnya saat ia berjalan meninggalkan Gerry yang terpaku. Di pintu keluar, Valen berdiri menatapnya dengan pandangan yang tidak lagi merendahkan, melainkan penuh ketakutan. Sari melewatinya begitu saja, tidak lagi merasa perlu bersaing.

Sari melangkah keluar menuju trotoar Jakarta yang sibuk. Angin malam menerpa wajahnya. Ia tahu, di desa sana, ia mungkin dianggap telah mati dalam dosa. Namun di sini, di bawah cahaya neon yang tidak pernah tidur, Sari merasa lebih suci daripada sebelumnya. Karena kini, ia memiliki dirinya sendiri. Ia bukan lagi asisten, bukan lagi koleksi, dan bukan lagi eksperimen.

Sari adalah Jakarta. Dingin, indah, dan tak terjangkau.

Ia masuk ke dalam mobil limosin yang sudah menunggunya. Saat pintu tertutup, ia memejamkan mata, menikmati sunyi yang mahal. Ia telah menukar kesuciannya dengan kekuatan, dan baginya, itu adalah transaksi terbaik yang pernah ia lakukan dalam hidupnya.


Other Stories
Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Romance Reloaded

Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...

Ibu, Kuizinkan Engkau Jadi Egois Malam Ini

Setiap akhir tahun, ia pulang dengan harapan ibunya ada di rumah. Yang berulang justru dap ...

Queen, The Last Dance

Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...

Jatuh Untuk Tumbuh

Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...

Download Titik & Koma