Jam Nol Di De Rio
Hotel De Rio berdiri kokoh di pusat distrik bisnis Jakarta, sebuah monumen kemewahan dengan arsitektur neoklasik yang menantang langit. Di siang hari, lobi hotel ini adalah panggung bagi para pebisnis kelas atas yang bertukar jabat tangan formal. Namun, saat jam besar di ballroom berdentang dua belas kali, bangunan ini melepaskan kulit formalitasnya. De Rio tidak lagi sekadar hotel ia menjadi sebuah organisme hidup yang bernapas dalam kegelapan, melayani nafsu yang tak terucap dari mereka yang memegang kunci kekuasaan.
Bianca berdiri di ruang kendali pusat sebuah bunker teknologi tinggi yang tersembunyi di balik dinding marmer lantai mezanin. Ruangan itu dingin, hanya diterangi oleh puluhan layar monitor yang menampilkan setiap inci hotel, kecuali kamar-kamar pribadi yang kerahasiaannya adalah hukum tertinggi.
Malam ini, Bianca mengenakan setelan jas hitam custom-made yang memeluk lekuk tubuh atletisnya dengan presisi yang mematikan. Rambut hitamnya diikat kencang ke belakang, menonjolkan tulang pipi yang tajam dan mata yang sedingin es. Di balik jasnya, di pinggul kanan, terselip sebuah Glock 19. Di paha kirinya, tersembunyi pisau kerambit yang siap menyayat siapa pun yang berani mengganggu alur bisnis "surga terlarang" ini.
"Target di Suite 909 sudah dalam posisi," suara asistennya melalui earpiece memecah kesunyian.
Layar monitor menunjukkan seorang menteri muda yang sedang naik daun berjalan melewati koridor lantai sembilan. Ia tidak sendirian. Dua wanita dengan gaun sutra minimalis mendampinginya, tangan mereka merayap di bawah jas sang menteri. Tugas Bianca adalah memastikan "investasi" ini berjalan mulus. Sang menteri harus merasa aman, puas, dan yang terpenting terjebak dalam jeratan rahasia yang nantinya bisa digunakan oleh pemilik De Rio sebagai tuas kekuasaan.
Bianca menyipitkan mata. Radar sensor pergerakan di layar kiri bawah berkedip merah. Seseorang baru saja masuk melalui lift servis lantai bawah tanah jalur yang hanya diketahui oleh staf keamanan dan pemasok logistik rahasia.
"Ada penyusup. Sektor 4B. Biarkan dia masuk ke koridor remang lantai lima. Aku sendiri yang akan menanganinya," perintah Bianca dengan suara rendah yang berwibawa.
Ia melangkah keluar, gerakannya seringan kucing hutan. Sepatu hak tingginya tidak mengeluarkan suara di atas karpet Persia yang tebal. Saat ia mencapai koridor lantai lima yang pencahayaannya sengaja diredupkan, ia melihat bayangan pria tinggi yang bergerak dengan kemahiran seorang profesional. Pria itu memakai tactical gear hitam dan penutup wajah.
Bianca tidak membuang waktu. Sebelum pria itu sempat mengeluarkan senjatanya, Bianca melayangkan tendangan memutar yang mengenai rusuk sang penyusup. Pria itu terlempar ke dinding, namun dengan cepat ia membalas dengan pukulan lurus. Bianca menghindar, menangkap lengan pria itu, dan menggunakan berat tubuhnya untuk membantingnya ke lantai.
Terjadi pergulatan jarak pendek yang brutal di lorong yang sempit. Bianca mengunci leher pria itu dengan kakinya, sementara tangan pria itu mencengkeram pinggang Bianca, mencoba melepaskan kunciannya. Dalam jarak sedekat itu, Bianca bisa merasakan panas tubuh lawannya dan aroma parfum yang sangat familiar perpaduan antara kayu cendana dan bubuk mesiu.
"Kau masih menggunakan teknik Crav Maga yang sama, Bianca. Terlalu mudah ditebak," suara pria itu berat dan serak, keluar dari balik penutup wajah.
Jantung Bianca berdegup kencang, bukan karena pertarungan, tapi karena pengenalan. Ia menarik penutup wajah pria itu dengan kasar. Di bawah cahaya lampu redup, terpampang wajah pria yang seharusnya sudah mati dua tahun lalu dalam sebuah misi gagal di perbatasan.
"Dante?" bisik Bianca, napasnya memburu dan bersentuhan dengan wajah pria di bawahnya.
Ketegangan di koridor itu mendadak berubah. Ancaman kematian yang tadinya nyata kini tertutup oleh gelombang gairah yang tiba-tiba meledak dari masa lalu yang belum tuntas. Dante menatap mata Bianca, tangannya yang tadinya mencoba mencekik kini beralih membelai rahang tajam Bianca dengan ibu jari yang kasar.
Posisi mereka yang saling mengunci di lantai koridor yang sunyi menciptakan erotisme yang berbahaya. Bianca bisa merasakan Glock-nya menekan di antara tubuh mereka, namun ia tidak peduli. Aroma keringat dan bahaya bercampur menjadi afrodisiak yang tak tertahankan.
"Kau bekerja untuk monster, Sayang," gumam Dante, suaranya kini lebih lembut namun tetap mengancam. "Tapi kau terlihat jauh lebih sensual saat menjadi pengkhianat."
Bianca tahu ia harus memborgol pria ini atau menembak kepalanya. Namun, saat bibir Dante menyentuh lehernya dengan kasar, Bianca justru memejamkan mata, membiarkan insting agennya kalah oleh gairah yang sudah lama ia kunci rapat di balik pintu emas De Rio. Jam nol baru saja dimulai, dan malam ini, hukum hotel tidak lagi berlaku bagi sang penjaganya sendiri.
Other Stories
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...
Cicak Di Dinding ( Halusinada )
Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Ryan Si Pemulung
Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...
Percobaan
percobaan ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...