Hotel De Rio

Reads
68
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
Penulis Hana Larasati

Intrik Di Ruang Sunyi

Bianca mencengkeram kerah jaket taktis Dante, menariknya berdiri dengan satu sentakan kasar sementara matanya tetap waspada memindai kamera CCTV di ujung lorong kamera yang sudah ia atur untuk melakukan looping selama lima menit ke depan. Tanpa sepatah kata pun, ia menyeret Dante menuju sebuah pintu dekoratif di dinding marmer yang tampak seperti panel kayu biasa.

Dengan satu sentuhan sidik jari pada sensor tersembunyi, pintu itu terbuka, memperlihatkan sebuah ruang evakuasi rahasia yang kedap suara dan tanpa jendela. Ruangan itu sempit, hanya berisi rak-rak berisi peralatan medis darurat, beberapa pucuk senapan serbu, dan meja besi dingin. Begitu pintu tertutup dengan suara klik yang final, udara di dalam sana terasa memadat, dipenuhi oleh sisa-sisa adrenalin pertarungan dan aroma masa lalu yang memuakkan sekaligus memabukkan.

"Kau seharusnya sudah menjadi debu di Pegunungan Ural, Dante," desis Bianca. Ia mendorong Dante ke meja besi itu, tangannya langsung bergerak menggeledah tubuh pria itu dengan kasar, memastikan tidak ada penyadap atau senjata tersembunyi.

Dante hanya diam, membiarkan tangan Bianca meraba dada dan pahanya. Ia justru menyeringai, sebuah ekspresi yang memicu amarah sekaligus gairah dalam diri Bianca. "Aku kembali untuk menjemput apa yang tertinggal, Bianca. Termasuk kau."

Bianca berhenti menggeledah saat tangannya mencapai ritsleting jaket Dante. Matanya yang sedingin es bertemu dengan mata Dante yang membara. "Kau adalah ancaman bagi De Rio. Kau adalah ancaman bagi posisiku. Aku harus menghabisimu di sini."

"Kalau begitu, lakukan," bisik Dante. Ia meraih tangan Bianca yang memegang Glock, mengarahkan moncong pistol itu tepat ke jantungnya. "Tapi kita berdua tahu, kau tidak pernah bisa menembakku saat jarak kita sedekat ini."

Dante menarik pinggang Bianca dengan satu tangan yang kuat, membuat tubuh mereka bertabrakan dengan keras. Setelan jas hitam Bianca yang ketat terasa sangat kontras dengan jaket taktis Dante yang kasar. Dante merunduk, membenamkan wajahnya di ceruk leher Bianca, menghirup aroma parfum melati yang bercampur dengan bau mesiu.

Gairah yang mereka pendam selama dua tahun meledak seperti granat. Bianca melepaskan pistolnya ke atas meja dengan denting logam yang nyaring. Ia tidak lagi peduli pada misi atau loyalitasnya pada hotel. Tangannya merayap ke belakang kepala Dante, mencengkeram rambutnya dan menarik pria itu ke dalam ciuman yang liar sebuah pertempuran lidah yang penuh dengan rasa lapar dan dendam.

Dante mengangkat tubuh Bianca, mendudukkannya di atas meja besi yang dingin. Paha Bianca terbuka lebar, melingkar erat di pinggang Dante, sementara tangan Dante mulai merobek kancing jas Bianca satu per satu hingga kemeja sutra putih di dalamnya mengekspos lekuk dadanya yang naik-turun karena napas yang memburu.

"Kau masih agen terbaik yang pernah kumiliki," geram Dante di sela-sela ciumannya. Ia menurunkan ritsleting jaket taktisnya sendiri, memperlihatkan tubuh atletis penuh bekas luka peta penderitaan yang ia lalui selama Bianca mengira ia sudah mati.

Sentuhan Dante di kulit Bianca terasa seperti luka bakar. Di tengah ruangan yang dikelilingi senjata dan alat komunikasi, mereka melakukan penyatuan yang lebih mirip dengan pertempuran daripada percintaan. Setiap gerakan Dante adalah dominasi, dan setiap balasan Bianca adalah tantangan.

Pakaian mereka berserakan di lantai dingin, di antara sarung pistol dan sabuk amunisi. Di bawah sorotan lampu neon yang berkedip, Bianca merasakan kekuatan Dante yang menghujamnya, sebuah sensasi yang membuatnya melupakan setiap protokol keamanan yang ia bangun selama ini. Ia mencakar punggung Dante, meninggalkan jejak merah sebagai klaim kepemilikannya.

Dalam puncak gairah yang menyesakkan, Bianca menyadari satu hal Dante bukan kembali untuk menyelamatkannya. Dante kembali untuk menghancurkan segalanya, dan Bianca baru saja memberikan kunci gerbangnya melalui tubuhnya sendiri.

Di luar ruangan itu, jam besar De Rio berdentang sekali lagi, menandakan satu jam telah berlalu sejak jam nol. Namun di dalam ruang sunyi itu, waktu telah berhenti, dan pengkhianatan paling indah baru saja dimulai.


Other Stories
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...

Kuraih Mimpiku

Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...

Misteri Kursi Goyang

Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...

Autumn's Journey

Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...

Aroma Kebahagiaan Di Dapur

Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...

Cinta Dibalik Rasa

Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...

Download Titik & Koma