Transaksi Berdarah Di Lantai Berlian
Gema desahan di ruang rahasia itu belum sepenuhnya hilang saat alarm senyap di pergelangan tangan Bianca bergetar hebat. Cahaya biru kecil berkedip di smartwatch-nya kode merah. Lantai 12. Lantai "Berlian", tempat di mana privasi dihargai lebih mahal daripada nyawa manusia.
Bianca segera mendorong dada Dante, napasnya masih terengah, sementara keringat berkilauan di kulitnya yang masih hangat akibat penyatuan liar tadi. Tanpa kata, ia meraih kemeja sutranya yang robek dan jas hitamnya. Dengan gerakan taktis yang efisien, ia menyambar Glock 19-nya dari atas meja besi, menyisipkannya kembali ke sarung pinggang.
"Tetap di sini jika kau ingin hidup," desis Bianca sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
Dante, yang sudah kembali mengenakan celana taktisnya namun masih bertelanjang dada, menyeringai gelap. Ia mengambil sebilah pisau komando dari rak senjata Bianca. "Kau tahu aku tidak pernah suka menunggu di bangku cadangan, Sayang."
Bianca mengabaikannya dan melesat keluar. Di lorong Lantai 12, udara terasa berbeda bau ozon dari senjata yang menggunakan peredam suara menyengat hidung intelijennya. Di Suite 1201, transaksi antara kartel narkoba Sinaloa dan seorang broker senjata Eropa Timur seharusnya berlangsung mulus. Namun, layar monitor di lorong menunjukkan mayat dua pengawal pribadi tergeletak di atas karpet merah persia, darah mereka meresap ke dalam serat kain yang mahal.
PRANG!
Pintu Suite pecah saat seorang pria bersenjata terlempar keluar. Bianca segera mengambil posisi berlindung di balik pilar marmer. Ia menarik napas dalam, menstabilkan detak jantungnya yang tadi masih berpacu karena Dante, kini berganti menjadi adrenalin murni.
"Ini keamanan De Rio! Letakkan senjata kalian atau aku akan membersihkan tempat ini!" teriak Bianca, suaranya dingin dan mutlak.
Jawaban yang ia terima adalah rentetan peluru MP5 yang menghancurkan vas bunga kristal di sampingnya. Bianca membalas. Dor! Dor! Dua tembakan presisi mengenai dahi penyerang yang mencoba maju. Ia bergerak dengan keanggunan seorang predator, berguling di lantai koridor sambil terus melepaskan tembakan.
Tiba-tiba, ledakan kecil terjadi di ujung koridor, mematikan sistem sprinkler. Air mulai menyembur, membasahi segalanya. Dalam sekejap, jas hitam Bianca melekat erat di tubuhnya, menonjolkan lekuk tubuh yang baru saja dinikmati Dante. Rambutnya basah, menempel di wajahnya yang penuh konsentrasi.
Di tengah kekacauan, Dante muncul dari bayang-bayang tangga darurat, bergerak seperti hantu. Ia menikam seorang penembak jitu dari belakang dan merebut senjatanya. Mereka kini bertarung berdampingan, sebuah tarian kematian yang sensual di bawah guyuran air.
Bianca menerjang masuk ke dalam Suite yang hancur. Di sana, ia berhadapan dengan kepala keamanan kartel, seorang pria raksasa dengan tato di sekujur lehernya. Pria itu mencoba menerjang Bianca. Mereka terlibat dalam pertarungan tangan kosong yang brutal di atas tempat tidur berlapis emas yang kini berlumuran darah.
Pria itu mencengkeram leher Bianca, menekannya ke kasur yang empuk. Bianca merasakan oksigennya menipis, namun ia menggunakan kakinya untuk melilit pinggang pria itu, sebuah gerakan yang ironisnya mirip dengan posisinya bersama Dante beberapa menit lalu, namun kali ini tujuannya adalah mematahkan tulang punggung lawan. Dengan satu sentakan pinggul yang kuat, Bianca berhasil membalikkan posisi. Ia menghujamkan sikunya ke jakun pria itu, lalu menusukkan jarum bius dari cincin rahasianya ke leher sang penyerang.
Pria itu tumbang. Bianca berdiri, dadanya naik turun dengan hebat. Pakaiannya yang basah kuyup nyaris transparan, memperlihatkan bra hitamnya dan kulitnya yang memerah akibat perkelahian.
Dante masuk ke ruangan, senapan tersampir di bahunya. Ia menatap Bianca dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan lapar yang tidak bisa disembunyikan meski di tengah medan perang.
"Kau terlihat sangat berantakan, Bianca. Dan itu membuatku ingin mengulang malam ini di tengah mayat-mayat ini," bisik Dante sambil melangkah mendekat, mengabaikan suara sirene polisi yang mulai terdengar di kejauhan bawah sana.
Bianca menodongkan pistolnya tepat ke dada Dante. "Jangan melangkah lagi. Transaksinya gagal. De Rio akan jatuh malam ini, dan aku tidak akan membiarkanmu menjadi orang yang memegang pemicunya."
Di luar, lampu-lampu biru merah polisi mulai memantul di kaca-kaca jendela Suite. Hotel De Rio, sang surga terlarang, kini bersiap untuk terbakar habis, dan Bianca berada di tengah-tengahnya terjebak antara tugasnya, pengkhianatannya, dan pria yang baru saja memberikan gairah paling liar dalam hidupnya.
Other Stories
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Ijr
hrj ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...
Bayangan Malam
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Bahagiakan Ibu
Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...