Epilog Dibalik Bayang-bayang
Satu minggu kemudian. Pantai tersembunyi di pesisir selatan.
Matahari terbenam dengan warna jingga yang tenang, sangat kontras dengan api yang melahap Hotel De Rio. Bianca duduk di teras sebuah vila kayu yang terisolasi, mengenakan kemeja putih Dante yang longgar tanpa pakaian dalam di baliknya. Angin laut memainkan ujung kemejanya, memperlihatkan kulit paha yang kini bebas dari bekas memar.
Dante muncul dari dalam vila membawa dua gelas wiski. Ia berdiri di belakang Bianca, melingkarkan lengannya di perut wanita itu, menariknya rapat hingga Bianca bisa merasakan napas hangat Dante di tengkuknya.
"Dunia mengira kita sudah mati di reruntuhan itu," bisik Dante, bibirnya menelusuri garis rahang Bianca yang tajam.
"Itu adalah rencana terbaik yang pernah kita buat," balas Bianca, berbalik dalam pelukan Dante. Ia menatap mata pria itu, mata yang kini tidak lagi menyimpan rahasia intelijen, melainkan hanya gairah yang murni.
Bianca menarik kerah kemeja yang dikenakannya sendiri, memperlihatkan dadanya yang naik turun dengan ritme yang menggoda. Ia mengambil gelas wiski dari tangan Dante, menyesapnya sedikit, lalu mencium bibir pria itu, membiarkan rasa alkohol yang kuat berpindah ke mulut Dante.
"Lalu, apa misi kita sekarang, Agen Dante?" tanya Bianca dengan nada rendah yang sensual, tangannya merayap turun ke pinggang Dante.
Dante mengangkat tubuh Bianca, membiarkan kaki wanita itu melilit pinggangnya, membawanya menuju ranjang yang menghadap langsung ke arah laut lepas. "Misinya adalah memastikan kita tidak pernah kedinginan lagi seperti di De Rio."
Di bawah cahaya bulan yang mulai naik, mereka kembali menyatu. Bukan karena tugas, bukan karena adrenalin pelarian, tapi karena kebebasan yang akhirnya mereka miliki. Hotel De Rio mungkin telah rata dengan tanah, namun di atas puing-puing pengkhianatan itu, Bianca telah membangun surga pribadinya sendiri surga yang tidak lagi terlarang, karena dialah sang penguasanya.
Other Stories
Bali Before Sun Set
Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...
Kutukan Yang Kupanggil Cinta
Sekar Diajeng Wardhani tidak percaya cinta. Bagi perempuan seperti dia, hubungan hanya per ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Lombok; Tanah Surga
Perjalanan ini bukan hanya perjalanan yang tidak pernah diduga akan terjadi. Tetapi menjad ...
Balada Cinta Kamaliah
Badannya jungkir balik di udara dan akhirnya menyentuh tanah. Sebuah bambu ukuran satu m ...
Mentari Dalam Melody
Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...