Tarian Di Atas Belati
Sirene polisi di bawah sana hanyalah kebisingan latar belakang bagi Bianca. Ia tahu protokol De Rio sistem keamanan hotel akan mengunci semua akses keluar-masuk dalam tiga menit setelah insiden di Lantai Berlian. Mereka terjebak. Dante menatap moncong Glock Bianca dengan ketenangan yang menjengkelkan, senyum miringnya masih bertengger di sana seolah-olah mereka sedang berdansa, bukan berada di tengah zona perang.
"Pilihannmu sulit, Bianca," bisik Dante, melangkah perlahan mengabaikan todongan pistol itu hingga dadanya yang hangat bersentuhan dengan ujung laras logam yang dingin. "Serahkan aku pada polisi, atau bantu aku mengambil satu hal terakhir dari brankas Tuan De Rio."
"Tuan De Rio akan membunuhku jika dia tahu kau ada di sini denganku," desis Bianca.
"Dia sudah berencana membunuhmu sejak kau gagal mencegah kebocoran data bulan lalu, Sayang. Kau hanya umpan yang menunggu waktu untuk dibuang."
Pernyataan Dante menghantamnya lebih keras daripada pukulan kartel tadi. Bianca tahu itu benar. Sebelum ia bisa menjawab, radio panggil di bahunya berderak. Suara berat dan dingin Tuan De Rio terdengar melalui frekuensi khusus.
"Bianca. Bawa tamu istimewa dari Suite 1201 ke ruang VIP bawah tanah. Segera. Jika kau gagal, tidak perlu repot-repot mencari jalan keluar."
Tamu istimewa yang dimaksud bukanlah anggota kartel, melainkan seorang informan kunci yang bersembunyi di dalam lemari besi kamar tersebut. Bianca menatap Dante. Sebuah rencana gila terbentuk di kepalanya.
"Kau ingin masuk ke ruang kerja pribadinya? Kita butuh pengalih perhatian," ujar Bianca. Ia menurunkan senjatanya. "Dan kau akan menjadi pengalih perhatianku."
Bianca menarik Dante masuk ke ruang ganti Suite yang mewah. Di sana, ia merobek sisa jas hitamnya yang basah, menyisakan dirinya hanya dalam balutan bodysuit renda hitam yang tadinya ia kenakan di balik seragam keamanannya. Ia menyambar sebuah gaun malam sutra merah dari lemari tamu gaun yang dirancang untuk memikat sekaligus menipu. Gaun itu memiliki belahan hingga ke pinggul, cukup untuk menyembunyikan pisau kecil di paha dalamnya.
"Kau akan berpura-pura menjadi tamu yang mabuk dan berbahaya," perintah Bianca sambil mengoleskan lipstik merah menyala ke bibirnya. Ia mendekati Dante, tangannya merayap di dada pria itu, sengaja mengacak-acak rambut Dante agar terlihat kacau.
Ketegangan di antara mereka kembali memanas. Di tengah urgensi pelarian, sentuhan Bianca di kulit Dante terasa seperti percikan api di atas bensin. Dante melingkarkan tangannya di pinggang ramping Bianca, menariknya hingga tubuh mereka menyatu tanpa celah. Sutra merah gaun Bianca terasa sangat tipis di bawah telapak tangan Dante yang kasar.
"Kau terlihat sangat mematikan dalam warna merah," gumam Dante. Ia mencium bahu Bianca yang terbuka, sebuah gigitan kecil yang membuat Bianca mendesah tertahan.
"Fokus, Dante," rintih Bianca, meski tangannya justru mencengkeram bahu Dante lebih erat.
Mereka bergerak menuju lift pribadi yang mengarah langsung ke pusat operasi Tuan De Rio di bawah tanah. Di dalam lift yang berdinding cermin itu, Bianca sengaja menciptakan adegan sensual yang provokatif. Ia membiarkan Dante memojokkannya ke sudut lift, bibir mereka bertautan dalam ciuman yang liar dan lapar, sementara tangan Bianca diam-diam meretas sistem keamanan lift menggunakan perangkat kecil yang ia sembunyikan di dalam genggaman tangannya.
Cermin lift memantulkan bayangan dua manusia yang sedang terbakar gairah sekaligus rencana pembunuhan. Pakaian Dante yang setengah terbuka dan gaun Bianca yang tersingkap menciptakan pemandangan yang sangat erotis di tengah desing mesin lift yang meluncur turun. Setiap sentuhan Dante adalah godaan untuk menyerah, namun setiap detak jantung Bianca adalah pengingat akan bahaya yang menanti di balik pintu lift.
Saat pintu terbuka di lantai bunker, Bianca segera memasang wajah dinginnya kembali. Ia keluar sambil merangkul lengan Dante yang tampak sempoyongan namun waspada. Penjaga di depan pintu ruang kerja Tuan De Rio sempat terpana melihat kecantikan Bianca yang kacau namun menggoda.
"Dia saksi dari Suite 1201. Tuan De Rio memintaku membawanya langsung," ucap Bianca dengan nada otoriter yang tak terbantah.
Penjaga itu ragu sejenak, namun tatapan tajam Bianca dan belahan gaunnya yang mengekspos paha indahnya membuat konsentrasi pria itu pecah. Saat penjaga itu berbalik untuk membukakan pintu, Dante bergerak dengan kecepatan kilat, mematahkan leher pria itu dalam satu gerakan sunyi.
Bianca segera masuk ke ruang kerja mewah tersebut. "Kita punya waktu dua menit sebelum tim keamanan utama tiba."
Namun, di tengah ruangan yang dipenuhi emas dan teknologi itu, Tuan De Rio sudah menunggu mereka di balik kursi putar besarnya, menodongkan pistol ke arah mereka. "Aku sudah menduga kau akan membawa tikus ini masuk ke sarangku, Bianca."
Other Stories
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
Persembahan Cinta
Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...