Pengkhianatan Di Bawah Siraman Sprinkler
Tuan De Rio tertawa rendah, suara yang terdengar seperti gesekan logam berkarat. Di tangannya, sebuah pistol kaliber .45 mengarah tepat ke dahi Bianca. Di sekeliling mereka, layar monitor raksasa menampilkan kekacauan di lantai atas api yang mulai melahap tirai beludru dan pasukan khusus yang mulai merangsek masuk.
"Kau selalu menjadi aset terbaikku, Bianca. Tapi aset yang memiliki hati... biasanya berakhir di tempat sampah," ujar De Rio dingin.
Namun, Bianca tidak bergeming. Ia melirik Dante yang berdiri satu langkah di sampingnya. Dalam keheningan yang mencekam itu, komunikasi tanpa kata terjadi di antara dua mantan agen ini. Dante sedikit menggeser tumpuan berat badannya sebuah kode untuk serangan pengalih.
"Hati bukan kelemahanku, De Rio," desis Bianca. "Itu adalah motivasiku."
Tepat saat jari De Rio mulai menekan pelatuk, Dante menendang meja kaca di depannya hingga hancur berkeping-keping. Suara pecahan kaca yang memekakkan telinga menjadi aba-aba bagi Bianca. Ia meluncur di atas lantai marmer yang licin, gaun merahnya tersingkap memperlihatkan pisau yang terselip di pahanya.
DUARR!
Tembakan De Rio meleset, menghantam dinding di belakang. Dante menerjang dua pengawal pribadi yang muncul dari balik pintu rahasia. Ruang kerja mewah itu seketika berubah menjadi medan jagal. Bianca mencapai kaki De Rio, menyabetkan pisaunya ke arah tendon pria tua itu, lalu dengan gerakan akrobatik ia berdiri dan menghantamkan sikunya ke rahang De Rio hingga pistolnya terlepas.
Sistem pemadam api otomatis (sprinkler) mendadak pecah akibat peluru nyasar Dante yang mengenai sensor langit-langit. Dalam hitungan detik, ruangan itu diguyur hujan buatan yang deras.
Air membasahi segalanya. Gaun sutra merah Bianca kini benar-benar melekat di tubuhnya, menjiplak setiap lekuk dan garis pakaian dalamnya, sementara rambutnya yang basah kuyup menempel di lehernya yang jenjang. Dante berhasil melumpuhkan kedua pengawal dan kini berdiri di tengah ruangan, dadanya naik-turun dengan napas memburu, air menetes dari ujung rambutnya ke otot-otot perutnya yang keras.
De Rio tersungkur, pingsan setelah kepalanya membentur sudut meja. Namun, adrenalin yang memuncak dan perasaan terdesak menciptakan dorongan yang tak tertahankan di antara Bianca dan Dante. Di tengah kepungan maut yang semakin mendekat, mereka justru menemukan satu sama lain di bawah guyuran air dingin.
Dante menarik Bianca ke arah meja biliar besar di sudut ruangan. Ia tidak berkata apa-apa ia hanya mencengkeram pinggang Bianca dan mengangkatnya ke atas meja hijau yang kini basah kuyup.
"Kita bisa mati dalam lima menit, Bianca," geram Dante, suaranya parau oleh nafsu yang bercampur dengan bau mesiu dan air.
"Kalau begitu, buat lima menit ini berharga," balas Bianca, menarik kerah jaket Dante yang basah hingga bibir mereka bertemu dalam penyatuan yang kasar dan penuh emosi.
Pakaian mereka yang basah menyulitkan namun justru menambah sensasi erotis yang liar. Dante menyibakkan gaun merah Bianca yang sudah koyak, sementara tangan Bianca dengan terampil membuka kancing celana Dante di bawah derasnya air sprinkler. Tidak ada kelembutan di sini ini adalah hubungan badan yang liar, dipicu oleh ketakutan akan kematian dan gairah yang telah lama terpendam.
Di atas meja biliar itu, di bawah siraman air yang dingin, Bianca merasakan panas tubuh Dante yang menghujamnya. Setiap gerakan mereka diiringi suara desing peluru dari lantai atas yang samar-samar terdengar. Bianca menjeritkan kenikmatannya ke arah langit-langit, kuku-kukunya mencakar bahu Dante, menyatu dalam ritme yang buas seolah-olah mereka ingin meninggalkan jejak abadi di tubuh masing-masing sebelum semuanya meledak.
Keintiman itu terasa begitu nyata, begitu mentah. Di tengah hancurnya imperium De Rio, Bianca menemukan otoritasnya kembali bukan sebagai penjaga keamanan, tapi sebagai wanita yang memiliki kendali penuh atas gairahnya.
Begitu puncak itu tercapai, Dante memeluk Bianca erat selama beberapa detik, napas mereka menjadi satu harmoni di tengah hujan dalam ruangan. Namun, suara ledakan dari pintu utama bunker menyadarkan mereka.
"Waktunya pergi, Sayang," bisik Dante, meraih senjatanya kembali.
Bianca berdiri, merapikan gaun merahnya yang kini menyerupai kulit kedua. Ia mengambil cakram keras berisi data rahasia dari komputer De Rio. "Ayo hancurkan tempat ini sepenuhnya."
Other Stories
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Pesan Dari Hati
Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...
Air Susu Dibalas Madu
Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan
Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...
Jam Dinding
Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...