Sentuhan Yang Membangkitkan Luka
Malam itu, Obsidian terasa lebih sesak dan pengap. Asap cerutu mahal bercampur dengan aroma parfum desainer yang menyengat. Liora berdiri di balik tirai beludru merah panggung utama, memandang kerumunan pria dari kegelapan. Ia telah menjadi primadona mereka memanggilnya "The Black Lily". Namun, jantungnya mendadak berhenti berdetak saat matanya menangkap sosok di meja VIP paling depan.
Rendy.
Pria itu duduk di sana dengan sombong, menyesap sampanye seolah-olah ia tidak pernah menghancurkan hidup seseorang. Ia tidak mengenali Liora di balik riasan mata smokey yang tajam dan tatanan rambut yang berbeda, namun keberadaannya di sana memicu gemetar hebat di jemari Liora. Trauma itu kembali rasa dingin, rasa sesak, dan aroma vilanya yang memuakkan.
"Jangan hancur sekarang," sebuah suara berat berbisik di tengkuknya.
Rio berdiri di sana, mengawasi arah pandang Liora. Ia melihat Rendy, dan rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang. Rio menarik Liora ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajah gadis itu di dadanya yang bidang. "Kau tidak perlu keluar jika kau tidak siap."
"Tidak," bisik Liora, suaranya kini mengandung baja. "Aku ingin dia melihatku. Aku ingin dia melihat apa yang dia ciptakan."
Liora keluar ke panggung. Ia menari dengan intensitas yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Tatapannya tertuju langsung pada Rendy, menembus pria itu dengan kebencian yang dibungkus dalam gairah yang mematikan. Rendy tampak terpaku, terpesona oleh kecantikan Liora tanpa menyadari bahwa ia sedang menatap korbannya yang telah bangkit. Namun, setelah pertunjukan usai, Rendy mencoba merangsek ke belakang panggung, menuntut waktu pribadi dengan sang penari.
Rio menghadangnya dengan tatapan yang bisa membunuh. Ketegangan itu berakhir dengan Rendy diusir kasar oleh para pengawal, namun Liora sudah terlanjur jatuh ke dalam lubang hitam memorinya.
Rio membawa Liora kembali ke apartemen atas. Di sana, di dalam kamar yang hanya diterangi cahaya remang dari lampu jalanan Jakarta, Liora meledak. Ia mulai merobek gaunnya sendiri, menangis dengan isakan yang menyayat hati.
"Sentuh aku, Rio! Buat aku lupa pada tangannya! Buat aku merasa bahwa tubuh ini adalah milikku lagi!" teriak Liora.
Rio tidak langsung menerjang. Ia mendekat dengan kelembutan yang menyiksa, menangkap kedua tangan Liora yang gemetar. "Aku tidak ingin kau melakukannya karena marah, Liora. Aku ingin kau melakukannya karena kau menginginkanku."
"Aku menginginkanmu," bisik Liora, matanya yang basah menatap Rio dengan kejujuran yang telanjang.
Rio melepaskan kaosnya, memamerkan tubuhnya yang penuh dengan tato dan bekas luka peta dari kehidupan yang keras. Ia menarik Liora ke dalam pelukan yang protektif namun penuh hasrat. Saat bibir mereka bertemu, itu bukan lagi sekadar latihan. Itu adalah penyatuan dua jiwa yang sama-sama hancur.
Rio membaringkan Liora di atas tempat tidur dengan sangat perlahan, seolah gadis itu adalah kristal yang paling berharga. Ia menciumi setiap inci kulit Liora, mulai dari pundak hingga memar kebiruan yang masih tersisa di pahanya, mengganti memori rasa sakit itu dengan panas lidahnya yang memabukkan.
Sentuhan Rio terasa seperti api yang membersihkan. Saat jemari Rio yang kasar namun terampil menjelajahi pusat sensasi Liora, gadis itu melengkungkan tubuhnya, mendesah keras menyebut nama pria itu. Tidak ada paksaan di sini. Setiap gerakan Rio adalah pertanyaan, dan setiap desahan Liora adalah jawaban "ya".
Rio memasuki Liora dengan satu sentakan yang dalam dan mantap. Liora memejamkan mata, namun kali ini bukan untuk bersembunyi dari kegelapan, melainkan untuk menikmati gelombang kenikmatan yang menyapu kesadarannya. Rio bergerak di atasnya dengan ritme yang kuat dan ritmis, tangannya mencengkeram jemari Liora, mengunci mereka dalam penyatuan yang mutlak.
Dalam setiap tumbukan, Liora merasa beban di pundaknya meluruh. Gairah itu meledak-ledak, lebih panas dari api perapian mana pun. Rio menatap mata Liora sepanjang waktu, memastikan gadis itu tetap terjaga, tetap ada bersamanya. Keringat mereka bercampur, napas mereka menjadi satu harmoni yang liar.
Saat mereka mencapai puncak bersama-sama, Liora menjeritkan nama Rio, mencengkeram punggung pria itu hingga kuku-kukunya meninggalkan bekas. Di dalam pelukan Rio, di tengah gairah yang paling erotis dan jujur, Liora akhirnya merasa ia telah merebut kembali tubuhnya. Ia bukan lagi milik Rendy, bukan lagi milik masa lalunya. Malam itu, ia terlahir kembali dalam pelukan sang pemilik kegelapan.
Other Stories
Devil's Bait
Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...
Love Falls With The Rain In Mentaya
Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...
Di Bawah Atap Rumah Singgah
Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...
Mozarela Bukan Cinderella
Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...
Hanya Ibu
kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...
Keeper Of Destiny
Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...