Cahaya Di Balik Obsesi
Pagi setelah malam penyatuan itu, Obsidian terasa berbeda. Tidak ada lagi suara dentum musik, hanya kesunyian yang berat di apartemen lantai atas. Liora berdiri di balkon, membiarkan angin pagi yang lembap menerpa kulitnya yang masih menyimpan sisa-sisa aroma Rio. Di lehernya, tanda merah keunguan menjadi bukti bisu betapa liarnya malam tadi sebuah klaim yang ia izinkan sepenuh hati.
Namun, drama belum berakhir. Rendy, yang tidak terima diusir secara hina, menggunakan koneksi keluarganya untuk mendatangkan aparat ke klub tersebut pagi itu. Dari atas, Liora melihat barisan mobil hitam mengepung pintu besi Obsidian.
Rio masuk ke kamar dengan tenang, meskipun matanya berkilat waspada. Ia memegang sebuah paspor dan tas kecil berisi uang tunai. "Rendy tidak akan berhenti sampai dia menghancurkanku untuk membungkammu, Naya. Dia menganggapmu sebagai barang hilang yang harus ia rebut kembali."
Liora berbalik, matanya tajam. "Aku bukan barang siapa pun."
"Aku tahu," Rio mendekat, membelai pipi Liora dengan ibu jarinya. "Itu sebabnya kau harus pergi. Bukan karena aku tidak bisa melindungimu, tapi karena jika kau tetap di sini, kau akan selalu menjadi 'burung dalam sangkar' Obsidian. Aku ingin kau benar-benar bebas."
"Tanpamu?" suara Liora bergetar.
Rio tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menarik Liora ke dalam dekapannya, sebuah ciuman yang penuh keputusasaan dan api yang belum padam. Ketegangan antara ancaman di luar dan gairah di dalam ruangan itu menciptakan adrenalin yang mematikan. Sebelum Liora pergi, sebelum dunia luar merenggut momen terakhir mereka, Rio mendorong Liora ke arah meja kayu besar di tengah ruangan, menyapu semua dokumen ke lantai.
"Sekali lagi," geram Rio, suaranya parau oleh nafsu dan kesedihan. "Sekali lagi, agar kau tidak pernah lupa siapa yang membangkitkanmu."
Rio mengangkat tubuh Liora, mendudukkannya di pinggiran meja yang dingin, menciptakan kontras yang membakar saat kulit hangat Liora bersentuhan dengan permukaan kayu. Kali ini tidak ada kelembutan yang hati-hati. Ini adalah perpisahan yang liar. Rio merobek kemeja yang dikenakannya, memperlihatkan otot-otot yang menegang saat ia menyusup di antara paha Liora yang terbuka lebar.
Liora melingkarkan kakinya erat di pinggang Rio, menarik pria itu hingga tak ada lagi celah. Ia menginginkan rasa sakit yang nikmat ini, ia menginginkan kekuatan Rio yang mendominasi. Saat Rio memasukinya dengan dorongan yang dalam dan eksplosif, Liora mendongak ke langit-langit, menjeritkan gairah yang bercampur dengan air mata.
Mereka bercinta dengan ritme yang buas, seiring dengan suara gedoran di pintu besi jauh di bawah sana. Setiap hentakan Rio adalah janji, dan setiap cengkeraman kuku Liora di punggung Rio adalah tanda perpisahan. Ruangan itu dipenuhi suara napas yang memburu dan kulit yang beradu dengan keras. Gairah itu terasa sangat erotis karena mereka tahu ini mungkin adalah kali terakhir mereka bisa saling memiliki.
Di puncak yang mengguncang, Rio membenamkan wajahnya di leher Liora, menghirup aroma gadis itu seolah ingin menyimpannya di dalam paru-parunya selamanya. Liora merasakan getaran hebat di tubuh Rio saat pria itu melepaskan segalanya di dalam dirinya, menyatukan mereka dalam klimaks yang mematikan.
Satu jam kemudian, melalui jalan rahasia di belakang klub, Liora keluar ke jalanan utama. Ia mengenakan kemeja hitam Rio dan celana jeans, rambutnya berantakan namun matanya penuh dengan cahaya baru. Di tangannya, ia memegang kunci menuju masa depan yang ia bangun sendiri.
Ia menoleh ke arah Obsidian untuk terakhir kalinya. Ia melihat polisi sedang merazia tempat itu, namun ia tahu Rio adalah rubah yang terlalu cerdik untuk tertangkap. Rio telah memberinya lebih dari sekadar perlindungan ia telah memberinya kekuatan untuk berdiri di atas kakinya sendiri.
Liora melangkah pergi, meninggalkan bayang-bayang gadis sembilan belas tahun yang hancur. Ia berjalan menuju matahari terbit, bukan lagi sebagai korban, bukan lagi sebagai "dayang", melainkan sebagai wanita yang telah melewati api dan keluar sebagai pemenang. Ia membawa luka-lukanya sebagai medali keberanian, dan ia tahu, suatu hari nanti, di suatu tempat di dunia yang luas ini, ia akan bertemu kembali dengan sang pemilik mata Obsidian itu.
Other Stories
Cerita Guru Sarita
Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...
Kota Ini
Plak! Terdengar tamparan keras yang membuat Jesse terperanjat dari tempat tidurnya. "S ...
Ophelia
Claire selalu bilang, kematian Ophelia itu indah, tenang dan lembut seperti arus sungai. T ...
Senja Terakhir Bunda
Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...
Kutukan Yang Kupanggil Cinta
Sekar Diajeng Wardhani tidak percaya cinta. Bagi perempuan seperti dia, hubungan hanya per ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...