Permainan Cermin
Kembali ke Jakarta berarti kembali ke rutinitas penthouse mewah yang modern dan dingin. Namun, sore itu, Kanaya menemukan perubahan besar di kamar utama mereka. Mahendra telah memanggil kontraktor interior khusus saat mereka di vila. Kini, dinding di depan tempat tidur dan seluruh langit-langit di atasnya telah dilapisi oleh cermin-cermin kristal besar yang jernih, nyaris tanpa celah.
Kanaya berdiri di tengah ruangan, merasa seperti sedang diawasi oleh ribuan versi dirinya sendiri. "Mas... apa ini tidak terlalu berlebihan?"
Mahendra muncul dari ruang ganti, mengancingkan manset kemejanya. "Aku ingin kau melihat apa yang aku lihat, Naya. Selama ini kau selalu menutup mata saat kita bersama. Kau bersembunyi di balik kegelapan atau di balik kelopak matamu sendiri."
Ia berjalan mendekat, berdiri di belakang Kanaya sehingga pantulan mereka berdua memenuhi dinding. Mahendra jauh lebih tinggi, bahunya lebar, menciptakan kontras dengan sosok Kanaya yang tampak rapuh dalam balutan gaun rumah sutra tipisnya.
"Malam ini, aturannya sederhana," bisik Mahendra, tangannya merayap ke leher Kanaya, membelai safir biru yang masih melingkar di sana. "Kau dilarang memejamkan mata. Aku ingin kau menyaksikan setiap inci reaksi tubuhmu saat aku menyentuhmu. Aku ingin kau menghadapi gairahmu sendiri."
Malam pun tiba, dan lampu-lampu kota Jakarta di luar jendela besar mereka memberikan pencahayaan yang dramatis. Mahendra tidak mematikan lampu kamar ia justru menyalakan lampu sorot kecil yang diarahkan ke ranjang.
Saat Mahendra mulai melucuti pakaiannya, Kanaya mencoba berpaling.
"Lihat ke cermin, Naya," perintah Mahendra dengan nada mutlak.
Kanaya terpaksa menatap pantulannya. Ia melihat jemari Mahendra yang panjang dan kuat bergerak di atas kulitnya yang pucat. Ia melihat bagaimana wajahnya sendiri mulai memerah, bagaimana dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Itu adalah pengalaman yang sangat asing menjadi penonton bagi kenikmatannya sendiri.
"Lihat bagaimana kau menginginkanku," gumam Mahendra. Ia menarik rambut Kanaya perlahan, memaksa wajah istrinya tetap menghadap ke depan, ke arah dinding perak itu.
Dalam pantulan itu, Kanaya melihat pemandangan yang provokatif. Ia melihat suaminya yang perkasa sedang menaklukkannya dengan presisi seorang ahli. Ia melihat tangannya sendiri yang mencengkeram sprei sutra, dan kakinya yang melingkar erat di pinggang Mahendra. Segala sesuatu yang biasanya bersifat privat dan tertutup, kini terpampang nyata.
Ada rasa malu yang hebat, namun di balik itu, ada lonjakan adrenalin yang luar biasa. Melihat dirinya sendiri dalam posisi yang begitu rentan namun penuh gairah membuat sensor saraf Kanaya bekerja dua kali lipat lebih keras. Ia tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri lagi pantulan di cermin itu menunjukkan seorang wanita yang haus akan sentuhan suaminya.
"Apa yang kau lihat, Naya? Katakan padaku," tuntut Mahendra, suaranya serak karena hasrat yang tertahan.
"Aku melihat... aku melihat diriku sendiri... yang hancur karena kau, Mas," rintih Kanaya, matanya terpaku pada pantulan mereka yang saling bertautan di langit-langit.
"Bukan hancur," koreksi Mahendra sambil mencium bahunya dengan posesif. "Kau sedang terlahir kembali. Kau sedang melihat jati dirimu yang sebenarnya, tanpa topeng istri sempurna yang kau pakai di luar sana."
Di bawah pantulan cermin yang dingin, Kanaya merasakan panas yang membakar. Ia mulai memahami bahwa Mahendra bukan hanya ingin menguasai tubuhnya, tapi ingin menghancurkan dinding ego yang selama ini Kanaya bangun. Malam itu, cermin-cermin itu tidak hanya memantulkan kulit dan gerak, tapi juga memantulkan keinginan terdalam Kanaya yang selama ini ia tekan di sudut gelap jiwanya.
Other Stories
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Erase
Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
Suara Dari Langit
Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...