Sentuhan Yang Menggoda Takdir
Pagi di vila pegunungan itu dimulai dengan kabut tebal yang menyelimuti jendela, namun di dalam kamar utama, suasananya jauh lebih menyesakkan. Mahendra tidak membiarkan Kanaya melihat cahaya matahari. Ia menarik tirai beludru berat hingga ruangan itu tenggelam dalam kegelapan total, hanya menyisakan satu lampu tidur kecil dengan cahaya kuning redup.
"Duduklah di tepi ranjang, Naya," perintah Mahendra. Suaranya terdengar lebih jernih di tengah kesunyian pegunungan.
Kanaya patuh. Ia merasakan kasur itu sedikit melesap saat Mahendra duduk di belakangnya. Tanpa aba-aba, Mahendra melingkarkan sehelai kain sutra hitam yang dingin ke wajah Kanaya.
"Mas... apa yang kau lakukan?" bisik Kanaya, tangannya secara insting bergerak ingin menyentuh kain itu.
"Jangan disentuh," Mahendra menepis lembut tangan istrinya dan mengikat simpul di belakang kepalanya. "Malam ini, kau terlalu banyak menggunakan matamu untuk menilaiku. Sekarang, aku ingin kau menggunakan kulitmu. Aku ingin kau menggunakan pendengaranmu. Aku ingin kau merasakanku tanpa gangguan visual."
Dunia Kanaya seketika lenyap. Gelap gulita. Kehilangan indra penglihatan membuatnya merasa seolah-olah ia melayang di ruang hampa. Jantungnya berdegup kencang, suaranya terdengar seperti dentum genderang di telinganya sendiri.
Ia mendengar langkah kaki Mahendra menjauh, lalu suara gemericik air, dan aroma minyak esensial kayu cendana yang mulai memenuhi udara. Rasa cemas dan gairah bercampur menjadi satu, menciptakan ketegangan yang membuat setiap pori-porinya terbuka.
"Kau mendengarku, Naya?" Suara Mahendra terdengar dari arah yang tak terduga sangat dekat di sisi kirinya.
"Iya, Mas..."
Tiba-tiba, Kanaya tersentak. Sesuatu yang sangat dingin es batu menyentuh tengkuknya. Ia memekik kecil, namun segera setelah itu, ia merasakan panas yang luar biasa saat lidah Mahendra menyapu sisa air es di kulitnya. Kontras suhu yang ekstrem itu mengirimkan kejutan listrik ke seluruh sistem sarafnya.
"Fokus, Sayang," bisik Mahendra, napasnya terasa panas di kulit leher Kanaya yang basah.
Mahendra mulai bereksperimen dengan indra peraba Kanaya. Ia menggunakan berbagai tekstur: ujung bulu yang halus yang menggelitik perutnya, lalu tekanan kuat dari jemari Mahendra yang kasar di paha bagian dalam. Tanpa bisa melihat kapan dan di mana sentuhan itu akan mendarat, Kanaya berada dalam kondisi antisipasi yang konstan.
"Mas, kumohon..." rintih Kanaya saat ia merasakan tangan Mahendra mulai menjelajahi area yang lebih intim.
"Katakan padaku apa yang kau rasakan, Naya. Jangan hanya merintih. Deskripsikan padaku bagaimana rasanya saat kau tidak bisa melihatku," tuntut Mahendra.
Kanaya terengah, mencoba mencari kata-kata di tengah kabut gairah. "Rasanya... rasanya seolah-olah setiap inci kulitku sedang terbakar. Aku... aku bisa merasakan aliran darahku sendiri. Aku bisa merasakanmu lebih nyata dari biasanya."
Mahendra menarik Kanaya ke dalam dekapannya, membiarkan istrinya bersandar pada dadanya yang bidang. Meski matanya tertutup, Kanaya bisa merasakan kekuatan dan perlindungan dari tubuh pria itu. Namun di saat yang sama, ia sadar ia berada sepenuhnya dalam kendali Mahendra.
"Bagus," gumam Mahendra, suaranya penuh kepuasan. "Karena di dalam kegelapan ini, aku adalah satu-satunya duniamu. Kau tidak punya tempat lain untuk berpaling kecuali padaku."
Permainan sensorik itu berlanjut hingga larut malam. Mahendra dengan teliti memetakan setiap reaksi tubuh Kanaya, mempelajari setiap tarikan napas dan gemetar ototnya. Bagi Kanaya, ini bukan lagi sekadar hubungan fisik ini adalah penyerahan diri yang paling murni, di mana ia membiarkan Mahendra menjadi nakhoda atas seluruh sensasi yang ia miliki.
Other Stories
Bahagiakan Ibu
Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...
7 Misteri Korea
Saat liputan di Korea, pemandu Dimas dan Devi terbunuh, dan mereka jadi tertuduh. Bisakah ...
Teror Api Banaspati
test ...
Hanya Ibu
Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...
Bumi
Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...